NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LEO

...FLASHBACK ON...

Di sebuah kuil tua yang berdiri di atas perbukitan, suasana terasa begitu hening.

Puluhan lilin merah menyala berjajar, menerangi ruangan dengan cahaya hangat yang redup. Asap hio mengepul perlahan, memenuhi udara dengan aroma khas yang menenangkan. Di bagian paling depan berdiri sebuah patung Buddha berwarna keemasan.

Di sana...

Viana berlutut dengan kedua telapak tangan menyatu di depan dada. Matanya terpejam. Bibirnya bergerak pelan, memanjatkan doa yang selama ini selalu sama.

"Jika benar setiap pertemuan yang hilang dapat dipertemukan kembali..."

"Tolong... Pertemukan aku dengan mereka."

Air mata perlahan mengalir di kedua pipinya.

"Aku tahu Transmigrasi dan Reinkarnasi itu ada. Dan aku tidak peduli mereka terlahir sebagai siapa. Aku juga tidak peduli wajah mereka berubah. Aku hanya merindukan kebiasaannya.

" Kalaupun mereka sudah tidak mengingatku..."

"Tidak apa-apa."

Viana menggigit bibirnya pelan. Dadanya terasa sesak.

"Aku benar-benar merindukan mereka. Merindukan Leo, Luna, dan yang lainnya.

"Aku rindu..."

"Sangat rindu."

Ia menundukkan kepalanya semakin dalam.

"Tolong izinkan aku bertemu mereka sekali lagi. Sekali saja..."

"Itu sudah lebih dari cukup."

Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Hanya suara bara lilin yang sesekali berderak pelan.

Viana perlahan membuka matanya. Ia memberi hormat untuk terakhir kalinya, lalu berdiri.

Dengan langkah pelan, gadis itu berjalan meninggalkan ruang utama kuil. Suara lonceng angin berayun lembut tertiup embusan angin sore.

Begitu tiba di halaman, Viana buru-buru mengusap kedua matanya yang masih sembab.

"Anak muda." Sebuah suara lembut menghentikan langkahnya.

Viana menoleh. Seorang biksu tua berdiri beberapa meter darinya.

Kepalanya plontos, wajahnya dipenuhi kerutan usia, tetapi sorot matanya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan.

"Kenapa menangis?" tanyanya lembut.

"Tidak apa-apa." Viana tersenyum tipis. Biksu itu ikut tersenyum.

"Kalau memang tidak apa-apa... air matamu tidak akan sebanyak itu."

Viana terdiam. Beberapa detik kemudian, ia mengembuskan napas pelan.

"Aku sudah lama kehilangan dua orang yang sangat penting. Tapi... sampai sekarang aku masih belum bisa merelakan mereka."

Biksu tua itu mengangguk pelan.

"Lalu hari ini... aku kembali berharap bisa bertemu mereka."

Biksu itu memejamkan mata sejenak, seolah memahami seluruh isi hati gadis di hadapannya.

"Kalau memang takdir mengizinkan... Orang-orang yang memiliki ikatan kuat... akan selalu menemukan jalan untuk bertemu kembali."

Viana mengangkat kepalanya.

"Benarkah?"

Biksu itu hanya tersenyum.

"Entah sebagai sahabat. Entah sebagai keluarga. Atau bahkan... sebagai orang asing yang tanpa sengaja saling menyapa."

"Tetapi..."

"Jika waktunya belum tiba... Sekeras apa pun kau mencarinya, kau tetap tidak akan menemukannya."

"Kalau begitu... Aku akan menunggu," seru Viana sedikit semangat.

Biksu tua itu mengangguk pelan.

"Menunggu juga merupakan bagian dari perjalanan. Dan terkadang... Keajaiban datang saat seseorang sudah hampir menyerah."

Viana menatap langit sore yang mulai berubah jingga.

"Aku... sebenarnya bukan berasal dari kehidupan ini."

"Dulu aku mati. Bersama dua sahabatku..." Suara Viana terdengar lirih. "Kami tewas dalam sebuah perang beberapa tahun yang lalu."

"Ketika membuka mata... kami justru terbangun di tubuh tiga siswi SMA yang bahkan tidak kami kenal."

Biksu tua itu tetap tenang. Tak ada sedikit pun raut terkejut di wajahnya. Viana melanjutkan.

"Kami seperti... hidup menggunakan kehidupan orang lain." Viana menundukkan kepalanya.

"Aku harap, mereka juga mengalami hal yang sama."

Hening.

Angin sore berembus pelan, membuat ujung jubah biksu tua itu berkibar. Beberapa saat kemudian, pria tua itu tersenyum tipis.

"Di dunia ini, ada banyak hal yang tidak dapat dijelaskan oleh logika manusia."

"Sebagian orang menyebutnya kebetulan. Sebagian lagi menyebutnya keajaiban. Dan sebagian lainnya menyebutnya takdir."

"Jadi..." Viana mengangkat kepalanya perlahan. "Bhante percaya?"

"Aku tidak tahu apakah semua yang kau ceritakan benar atau tidak," jawabnya lembut.

"Tapi aku percaya bahwa setiap jiwa memiliki jalannya sendiri. Jika memang kalian diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi... maka pasti masih ada sesuatu yang belum selesai dari kehidupan kalian sebelumnya."

Ucapan itu membuat Viana terdiam cukup lama.

"Benar... Masih banyak hal yang harus kami selesaikan." Perlahan, ia kembali menatap patung Buddha yang berada di dalam kuil.

"Aku akan menemukan mereka."

Biksu tua itu hanya tersenyum.

"Kalau memang mereka ditakdirkan bertemu denganmu lagi... percayalah. Takdir akan selalu menemukan jalannya sendiri."

...****************...

Seorang gadis muda menyusuri lorong-lorong pemakaman yang dipenuhi batu nisan.

Ia mengenakan kaus berwarna merah muda yang dipadukan dengan celana panjang putih sederhana. Sebuah kacamata hitam bertengger di wajahnya, bukan sekadar pelindung dari terik matahari, melainkan untuk menyembunyikan mata sembabnya.

Angin berembus pelan, menggerakkan ujung rambut panjang Viana. Di kedua tangannya, Viana menggenggam dua buket bunga matahari. Bunga favoritnya.

Tatapannya terus bergerak ke segala arah. Bukan karena mencari jalan, melainkan berusaha menghindari sosok-sosok menyeramkan yang hanya bisa dilihat oleh dirinya seorang.

Sesekali Viana menelan ludah. Beberapa arwah tampak berdiri diam di samping makam mereka masing-masing. Ada yang hanya menundukkan kepala. Ada pula yang menatapnya tanpa berkedip.

Meski rasa takut terus menghantui, Viana tetap memaksakan langkahnya hingga akhirnya berhenti di depan dua makam yang berdampingan.

Perlahan, ia berjongkok. Kedua buket bunga matahari itu diletakkannya dengan hati-hati di atas nisan milik Leo dan Luna. Jemarinya mengusap pelan permukaan batu nisan tersebut.

"Kalian berdua di mana...?" Suara Viana terdengar lirih.

Senyumnya masih terukir. Namun suaranya mulai bergetar.

"Kalian tahu? Aku kangen tubuh lamaku." Ia terkekeh kecil di sela tangisnya.

"Walaupun... sekarang aku memang lebih cantik. Tapi..."

"...dulu masih ada Luna." Air mata itu akhirnya jatuh.

Viana menundukkan kepala.

"Aku juga kangen Leo... Dia selalu ikut ke mana pun aku pergi. Dia tidak pernah membiarkan ku pergi sendirian seperti sekarang. Tapi aku juga tidak menyalahkan Aleta dan Aura. Karena mereka tahu, aku suka kebebasan dan aku bisa sendiri."

"Sedangkan Leo... Dia tahu aku mandiri. Tapi dia tetap memperlakukan ku seperti anak kecil. Dan dia menyebutku, 'wanita kecil ku'. Aku benci ketika aku tidak menyukai panggilan itu. Sekarang aku malah merindukannya."

"Aku masih ingat, kalau aku lapar... dia yang pertama nyariin makanan. Dia bahkan rela menerobos hujan yang lebat, seolah tidak peduli dengan kesehatannya sendiri hanya untuk mencari makanan yang ku mau."

"Kalau aku marah... dia juga yang pertama nenangin. Semua makanan yang ku suka dia belikan untuk membujukku."

"Kalau aku keras kepala... dia tetap ngikutin dari belakang sambil ngomel."

Viana tertawa pelan. Tawa yang bercampur isak.

"Aneh ya..."

"Dulu dia selalu ada. Sampai aku nggak pernah sadar... kalau ternyata kehadirannya begitu berarti."

"Sekarang, hanya sebongkah nisan dingin dan kenangan yang tak akan pernah bisa diulang."

Dari kejauhan, seorang pria tampak berjalan menyusuri deretan batu nisan. Di tangannya tergenggam satu buket bunga matahari.

Sementara di belakangnya, seorang pria lain yang tampak seperti asisten pribadi mengikuti sambil memayungi atasannya dengan payung hitam.

Pria itu mengenakan kemeja putih polos yang lengan bajunya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana panjang hitam. Pakaiannya sederhana, tetapi pembawaannya memancarkan aura yang sulit diabaikan. Tenang, berwibawa, dan... mahal.

Langkahnya berhenti tepat beberapa meter dari makam Leo dan Luna. Tatapannya jatuh pada seorang gadis yang sedang menangis sesenggukan di depan kedua nisan itu. Alisnya sedikit berkerut.

"Siapa?" Suara beratnya memecah keheningan. Viana perlahan menoleh. Begitu mata mereka saling bertemu...

Deg!

"Viana?"

"Ravian?"

Ravian berjalan mendekat.

"Apa yang kau–"

Ucapan Viana terhenti saat matanya menangkap buket bunga matahari di tangan Ravian.

Pria itu ikut menatap dua buket bunga yang sudah lebih dulu tergeletak di atas makam Leo dan Luna.

"Aku datang untuk memberi bunga."

Nada suaranya terdengar begitu lembut. Perlahan, ia meletakkan buket bunga mataharinya atas makam Viona.

Setelah itu, ia memberi isyarat kecil kepada asistennya. Pria tersebut langsung memahami maksud atasannya dan memilih mundur beberapa meter untuk memberi mereka ruang.

"Kamu..." gumam Viana dengan suara bergetar.

Ravian tersenyum hangat. Ia berjongkok agar tinggi mereka sejajar. Senyum hangat terukir di wajahnya, sebelum telunjuknya pelan menoel ujung hidung Viana. Gerakan sederhana yang begitu akrab bagi Viana—kebiasaan Leo setiap kali ingin menggodanya.

"How are you, Viona? My little girl," ucap Ravian yang sukses membuat jantung Viana terasa berhenti sejenak.

Deg!

Air mata Viana kembali menggenang.

"Le... Leo?"

"Yeah..."

Suara Ravian terdengar pelan. Senyumnya tidak berubah sedikit pun.

"Are you serious?" tanya Viana, nyaris tak percaya. Ravian mengangguk.

"Awalnya aku pikir hanya aku yang terlahir kembali. Tapi setelah—" Kalimatnya terpotong.

Viana tiba-tiba menerjang ke depan dan memeluknya sekuat tenaga.

"I miss you!"

Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi. Ravian membalas pelukan itu dengan lembut. Salah satu tangannya mengusap pelan kepala Viana.

"I miss you too."

Saat masih larut dalam pelukan hangat itu...

Ting!

Suara notifikasi ponsel Viana tiba-tiba memecah suasana. Viana perlahan melepaskan pelukannya. Ravian tersenyum kecil. Dengan ibu jarinya, ia mengusap pelan sisa air mata di pipi Viana.

"Kalau sudah begini... kamu udah mau jadi pacarku?" Nada suaranya terdengar santai, tetapi sorot matanya menyimpan harapan.

"Eumm..."

Viana hanya tersenyum malu. Pipinya mulai memerah. Melihat ekspresi itu, Ravian ikut tersenyum. Seolah-olah sudah mengetahui jawabannya.

"Belum deh."

Tak!

Senyum di wajah Ravian luntur seketika. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya.

"Kenapa?" tanyanya heran.

"Aku nggak mau pacarin calon tunangan orang."

"Keira?" Ravian langsung menggeleng. "Aku sama dia udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Pertunangan kami resmi batal. Bukan ditunda lagi."

Viana menganga. Bukan karena isi ucapannya. Melainkan karena Ravian berbicara sangat panjang.

"Kok kamu ngomongnya banyak banget hari ini?"

Ravian terdiam beberapa detik.

Viana terkekeh pelan.

"Kenapa batal?"

"Karena kami memang nggak cocok. Lagian... Sekalian jadi pelajaran buat dia. Dulu, dia selalu menolak Ravian yang asli dengan sangat kasar. Tanpa memikirkan perasaan dan kesehatan mental Ravian."

"Tapi... dia kan udah berubah," ucap Viana.

Ravian mengangkat bahu santai.

"Ya... Anggap aja itu karmanya."

"Ish... Kamu mah."

"Nah. Jadi..." Ravian kembali tersenyum. "Udah mau jadi pacarku?"

Viana menggigit bibir bawahnya pelan.

"Eumm... Bentar, aku tanya Aleta dulu."

"Loh? Kok Aleta?" Ravian mengernyit.

Viana tidak langsung menjawab. Ia membuka ponselnya untuk membaca notifikasi yang sejak tadi berbunyi.

Matanya langsung membelalak. Mulutnya juga menganga. Ravian yang penasaran langsung mendekat. Viana tanpa sadar memperlihatkan layar ponselnya. Di sana hanya terdapat satu pesan singkat.

Aleta sayanghh: Pulang. Ada Luna (Keira).

Deg!

Keduanya saling berpandangan. Wajah Ravian berubah drastis.

......FLASHBACK OFF ......

1
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
LOHHH
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!