NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:449
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Adrenalin di Balik Dedaunan

​"Mencuri mangga?"

​Gani mengulangi dua kata itu perlahan, mengeja setiap suku katanya seolah ia sedang mempelajari bahasa alien. Alisnya bertaut hingga nyaris menyatu di tengah dahi. Ia menatap gadis berpenampilan seperti bidadari kebun di hadapannya, mencari tanda-tanda bahwa ini hanyalah lelucon sarkastik.

​Namun, senyum Kirana tetap bertengger manis, dihiasi binar mata yang memancarkan kenakalan absolut. Tidak ada jejak keraguan sedikit pun di wajah pucatnya.

​"Kau mendengarnya dengan sangat jelas, Tuan Kota," jawab Kirana santai, menopang dagu dengan sebelah tangannya. "Mangga madu Pak Kades. Pohonnya ada di halaman belakang rumahnya, cabangnya menjorok ke luar tembok bata. Buahnya sedang ranum-ranumnya, kuning kemerahan dan baunya bisa tercium sampai ke pos ronda."

​Gani menghembuskan napas kasar, memijat pangkal hidungnya. "Kau sudah gila. Semalam kau bilang kau tidak tertarik pada tindakan kriminal, dan sekarang kau menyuruhku mencuri? Ini pencurian, Kirana. Pasal 362 KUHP. Dan lebih parah lagi, mencuri dari Kepala Desa?"

​"Oh, berhentilah mengutip pasal hukum padaku," Kirana memutar bola matanya, tampak bosan dengan protes prosedural Gani. "Ini bukan mencuri brankas bank atau memalsukan dokumen miliaran rupiah. Ini cuma mangga. Di desa ini, anak-anak memanjat pohon mangga tetangga adalah bentuk interaksi sosial. Anggap saja ini tradisi."

​"Aku bukan anak-anak," desis Gani, harga dirinya kembali tersulut saat mengingat sindiran halus Kirana tentang 'memalsukan dokumen'—sebuah kebetulan yang menusuk tepat di titik traumanya tentang Raka. "Aku ini pria berumur tiga puluh tahun. Mantan CEO. Dan kau ingin aku memanjat pohon seperti kera sirkus untuk mengambil buah yang harganya tidak sampai lima puluh ribu per kilo di pasar?"

​"Tepat sekali!" Kirana menepuk meja dengan riang, sama sekali tidak terpengaruh oleh aura permusuhan Gani. "Pria berumur tiga puluh tahun, mantan CEO, yang semalam bersiap gantung diri di pohon beringin karena merasa hidupnya sudah tidak ada harganya. Jadi, apa bedanya? Reputasimu sudah hancur, kan? Setidaknya, dengan mencuri mangga, kau melakukan sesuatu yang produktif hari ini."

​Kata-kata gadis itu telak. Menusuk dan merobek sisa-sisa tameng ego Gani tanpa ampun.

​Gani terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menatap nanar rantang hijau berisi ayam goreng lengkuas di depannya. Perutnya kembali berbunyi, seolah mengingatkan bahwa di hadapan kelaparan, gelar 'Mantan CEO' sama sekali tidak bisa dikunyah.

​"Makanlah dulu," suara Kirana melembut, menggeser piring seng berisi nasi putih itu lebih dekat ke arah Gani. "Pencurian ini butuh stamina ekstra. Lagipula, Pak Kades biasanya tidur siang setelah zuhur. Kita akan mengeksekusi rencananya sekitar jam dua siang, saat matahari sedang terik-teriknya dan jalanan desa sepi."

​Dikalahkan oleh perutnya sendiri dan logika absurd gadis di hadapannya, Gani akhirnya meraih sendok. Begitu suapan pertama nasi hangat dan ayam goreng itu menyentuh lidahnya, Gani memejamkan mata. Bumbu ketumbar, bawang putih, dan rasa gurih yang autentik meledak di dalam mulutnya. Saraf-saraf pengecapnya yang selama berbulan-bulan mati rasa oleh kopi hitam dan obat tidur, seolah dihidupkan kembali secara paksa.

​Ia makan dengan rakus, melupakan tata krama table manner yang selama ini selalu ia jaga di restoran-restoran mewah Jakarta. Kirana hanya memperhatikannya dalam diam, membiarkan pria yang hancur itu menemukan kembali secercah kenikmatan biologis sebagai manusia.

​Tepat pukul dua siang, matahari memanggang desa Karangbanyu tanpa ampun. Hawa panas merambat naik dari jalanan aspal yang mengelupas, menciptakan fatamorgana tipis di kejauhan. Sesuai prediksi Kirana, desa itu tampak seperti kota mati. Penduduk memilih bergelung di bawah kipas angin di dalam rumah atau tertidur di gubuk-gubuk sawah.

​Gani berjalan mengendap-endap di balik bayangan pohon asam di pinggir jalan desa, merasa seperti orang paling bodoh di muka bumi. Ia mengenakan kaus oblong hitam dan celana jin usangnya, dengan selembar kain sarung yang diikatkan Kirana secara paksa di pinggangnya.

​"Untuk apa kain sarung ini?" protes Gani sepuluh menit yang lalu sebelum mereka berangkat.

​"Sebagai kantong penyimpanan, tentu saja. Kau pikir kau akan mengantongi mangga sebesar kepalan tangan di saku jin ketatmu itu?" sahut Kirana dengan nada menggurui.

​Kini, di sinilah Gani berada. Berjalan jongkok mengikuti Kirana yang bergerak lincah menyusuri jalan setapak di belakang deretan rumah warga. Gadis itu sepertinya sangat hapal setiap jengkal desa ini, tahu persis di mana titik buta dari jendela-jendela rumah warga.

​Setelah lima belas menit berjalan memutar, mereka akhirnya tiba di belakang sebuah bangunan besar berpagar bata setinggi dua meter. Itu adalah rumah Pak Kades. Di bagian belakang tembok tersebut, sebuah pohon mangga raksasa berdiri menjulang. Dahan-dahannya yang sarat dengan daun hijau lebat dan buah-buahan yang menggoda menjorok melewati tembok, seolah menantang siapa pun yang lewat untuk memetiknya.

​"Itu dia," bisik Kirana, matanya berbinar menatap ke atas. Tangannya menunjuk ke arah segerombolan mangga yang kulitnya sudah berwarna semburat jingga kemerahan. "Target utama kita."

​Gani mendongak. Pohon itu tingginya mungkin sekitar delapan meter. Dahan terendah yang bisa dijangkau dari luar tembok berada pada ketinggian hampir tiga meter dari permukaan tanah.

​Insting arsitekturnya kembali menyala tanpa diminta. Ia memindai tekstur kulit pohon yang kasar, mencari pijakan alami. Ia memperhitungkan sudut kemiringan dahan utama, mengkalkulasi beban tubuhnya sendiri melawan daya tahan kayu.

​"Dahan itu terlalu tinggi," Gani menganalisis dengan nada datar, lengan disilangkan di dada. "Satu-satunya cara adalah aku harus berpijak pada sela-sela batu bata tembok ini, menarik diriku naik, lalu melompat meraih dahan terendah. Risiko tergelincir sangat tinggi. Belum lagi suara gesekan sepatuku di tembok akan terdengar ke dalam."

​Kirana menatapnya dengan mulut setengah terbuka, lalu tertawa tanpa suara. "Kau mau mencuri mangga atau sedang presentasi proyek konstruksi? Lakukan saja, Gani. Jangan terlalu banyak berpikir. Otakmu yang terlalu banyak berpikir itulah yang membawamu ke pohon beringin semalam."

​Sindiran itu kembali telak. Gani mendecakkan lidah, merasa tertantang. Ia melepaskan sepatunya, membiarkan telapak kakinya yang terbiasa dengan karpet tebal kini bersentuhan langsung dengan tanah kering yang berbatu.

​"Kau berjaga di sini. Kalau ada yang datang, berikan isyarat," perintah Gani, mencoba mengambil alih kendali operasi kecil ini agar egonya tidak terlalu terluka.

​Kirana memberi hormat layaknya prajurit, meski senyum mengejeknya tetap mengembang. "Siap, Komandan. Jangan lupa, ambil yang warnanya paling merah."

​Gani menarik napas panjang. Ia mendekati tembok bata. Permukaannya kasar dan panas oleh sengatan matahari. Ia menempelkan telapak kakinya di salah satu celah bata yang sedikit menonjol, mencari keseimbangan. Tangannya menggapai ujung atas tembok. Dengan satu tarikan napas dan erangan tertahan, Gani mengangkat tubuhnya.

​Otot-otot lengannya menegang keras. Sudah bertahun-tahun ia tidak melakukan aktivitas fisik seberat ini selain mengangkat barbel kecil di pusat kebugaran elit yang ber-AC. Keringat seketika membasahi punggungnya. Jari-jarinya terasa perih tergores permukaan tembok yang kasar.

​Begitu dadanya sejajar dengan ujung tembok, Gani tidak membuang waktu. Ia mengayunkan kaki kanannya, bertumpu sejenak di atas tembok, lalu dengan gerakan impulsif yang nyaris ceroboh, ia melompat menerkam dahan mangga terdekat.

​Grep!

​Daun-daun mangga bergemerisik hebat saat dahan itu mengayun menahan berat tubuh Gani. Kulit kayu yang kasar menggesek dada dan lengannya. Semut-semut rangrang yang merasa wilayahnya diinvasi mulai berlarian panik di atas kulitnya.

​"Bagus! Sekarang naik sedikit lagi!" bisik Kirana dari bawah, suaranya dipenuhi antusiasme yang tertahan.

​Gani mengabaikan rasa perih akibat gigitan semut. Ia memeluk dahan itu erat, lalu perlahan menarik dirinya naik hingga ia bisa duduk berjongkok di atas persimpangan dahan utama, tersembunyi dengan sempurna di balik kanopi daun yang rimbun.

​Jantungnya berdetak kencang. Dug. Dug. Dug. Namun anehnya, ini bukan detak jantung panik yang selalu ia rasakan saat terbangun dari mimpi buruk tentang pengadilan. Ini bukan detak jantung keputusasaan saat ia mengalungkan tali di lehernya. Ini adalah ledakan adrenalin murni. Sebuah letupan kegembiraan primitif yang sudah lama terkubur di bawah tumpukan ambisi dan gengsi.

​Untuk sesaat, dari atas pohon ini, Gani melihat desa Karangbanyu dari sudut pandang yang berbeda. Hamparan atap genteng tanah liat, petak-petak sawah hijau di kejauhan, dan langit biru tanpa batas. Semuanya terlihat sangat... hidup.

​"Gani! Cepat! Apa yang kau lamunkan di atas sana?" desisan panik Kirana membuyarkan lamunan estetikanya.

​Gani segera mengalihkan pandangannya pada buah-buah mangga di sekelilingnya. Ia meraih mangga terbesar yang letaknya paling dekat, memutarnya sedikit hingga tangkainya patah, lalu memasukkannya ke dalam lipatan sarung di pinggangnya. Aroma manis mangga ranum yang bercampur dengan getah segar langsung menguar.

​Satu. Dua. Tiga. Gani bergerak cukup lincah untuk seorang pemula, memetik mangga-mangga madu itu dengan rakus. Empat. Lima. Enam. Beban di perutnya mulai terasa berat, namun ia merasa seperti sedang mengumpulkan kepingan emas bajak laut. Ada semacam euforia konyol yang menguasai otaknya.

​Tepat ketika tangannya terjulur untuk memetik mangga ketujuh yang ukurannya sebesar kepalan tangan petinju, sebuah suara bantingan pintu terdengar nyaring dari arah rumah Pak Kades.

​Brak!

​"Heh! Kucing garong mana yang bikin ribut di atas pohonku?!"

​Suara bariton yang menggelegar itu membuat darah Gani nyaris membeku di pembuluhnya. Pak Kades, dengan mengenakan kaus kutang putih dan sarung kotak-kotak yang kedodoran, berjalan keluar menuju halaman belakang sambil membawa sapu lidi. Kumis tebalnya melintang menakutkan, matanya yang tajam memindai dahan-dahan pohon mangga.

​Gani menahan napas. Paru-parunya seolah berhenti bekerja. Ia menekan tubuhnya sedekat mungkin pada batang pohon utama, berharap warna kaus hitamnya menyatu dengan bayangan dedaunan.

​Di bawah, di luar tembok, Kirana juga membeku. Matanya terbelalak lebar menatap ke arah Gani yang terjebak di atas.

​"Turun kau! Jangan kira aku tidak tahu ada orang di atas sana! Daunnya rontok semua, heh!" teriak Pak Kades lagi, kali ini sambil memukul-mukulkan batang sapunya ke batang pohon bagian bawah. Getarannya terasa hingga ke dahan tempat Gani bersembunyi.

​Pikiran Gani berpacu jutaan kilometer per jam. Skenario terburuk berputar di kepalanya bak film dokumenter tragedi. Mantan arsitek ternama ibu kota, yang kini berstatus buronan tak resmi dari para kreditor, tertangkap basah mencuri mangga di kampung halamannya sendiri. Beritanya pasti akan masuk ke koran lokal, atau lebih buruk lagi, menjadi bahan gosip abadi di warung kopi Bibi Ratna. Harga dirinya yang tersisa akan hancur lebur tanpa sisa.

​Ia melirik ke bawah, mencari sosok Kirana untuk meminta petunjuk. Namun, gadis itu justru melakukan sesuatu yang paling gila dan tidak terduga.

​Kirana meraih sebuah batu kerikil dari tanah, lalu melemparnya sekuat tenaga melawati tembok, mengarah tepat ke atap seng kandang ayam milik Pak Kades yang terletak di sudut halaman belakang.

​Trang!!

​Suara nyaring hantaman batu pada seng itu langsung diikuti oleh kepanikan massal belasan ekor ayam. Suara keok-keok panik memenuhi udara, disusul kepakan sayap yang menabrak jaring kawat.

​Pak Kades terlonjak kaget. Perhatiannya langsung teralih dari pohon mangga. "Hei! Musang sialan! Berani-beraninya mengganggu ayam jawaraku!" pria paruh baya itu berbalik, berlari dengan kecepatan mengejutkan menuju kandang ayamnya.

​"Sekarang! Lompat!" teriak Kirana dari luar tembok, membuang semua kehati-hatian.

​Tanpa berpikir dua kali, Gani melepaskan pegangannya pada dahan. Ia meluncur turun, sepatu pantofelnya sudah tidak ia pedulikan. Ia menjatuhkan diri melewati tembok, mendarat dengan tidak estetik di atas tumpukan daun kering dan semak belukar. Lututnya menghantam tanah dengan keras, membuat giginya bergemeretak, sementara mangga-mangga di dalam sarungnya berbenturan satu sama lain menekan perutnya.

​"Aduh, sialan..." rintih Gani pelan, memegangi lututnya.

​Sebuah tangan kecil dan dingin tiba-tiba meraih lengannya, menariknya berdiri dengan paksa.

​"Ayo lari! Sebelum dia sadar ayamnya cuma dikagetkan batu!" seru Kirana.

​Gani bangkit. Keduanya langsung mengambil langkah seribu. Mereka berlari menerobos ilalang, menyusuri kembali jalan setapak yang membelah kebun singkong. Gani berlari sambil memegangi ikatan sarungnya agar mangga-mangga curian itu tidak berjatuhan, sementara sebelah tangannya yang lain menenteng sepatunya.

​Angin sore menerpa wajah mereka. Gani bisa mendengar teriakan samar Pak Kades dari kejauhan, menyumpah-nyumpah dalam bahasa Jawa kasar setelah menyadari tidak ada musang di kandang ayamnya, lalu kembali menyumpah saat melihat dahan mangganya sudah gundul di satu sisi.

​Mereka terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Namun, setelah sekitar tiga ratus meter, Gani menyadari bahwa langkah Kirana mulai melambat drastis.

​Gani menoleh. Gadis itu tertinggal beberapa langkah di belakangnya. Wajah Kirana yang tadinya cerah kini berubah sangat pucat, seputih kertas. Napasnya terengah-engah hebat, dangkal dan cepat, seolah ia sedang mencoba menghirup udara melalui sedotan kecil. Ia memegangi dadanya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya bertumpu pada lutut.

​Insting Gani segera mengambil alih. Rasa panik yang murni—bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk gadis itu—menggantikan euforia pelariannya. Gani mengerem langkahnya, berbalik, dan segera menghampiri Kirana.

​"Hei... kau tidak apa-apa?" tanya Gani, nada suaranya berubah panik. Ia memegang bahu Kirana, merasakan tubuh gadis itu sedikit bergetar.

​Kirana mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Gani memberinya waktu. Ia mencoba menarik napas panjang, menelan ludah, lalu perlahan-lahan menegakkan tubuhnya.

​"A-aku... tidak apa-apa," jawab Kirana putus-putus. Ia memaksakan sebuah senyum, meski bibirnya tampak sedikit membiru. "Hanya... sudah lama... tidak lari secepat ini."

​Gani mengerutkan dahi dalam-dalam. Matanya memindai wajah Kirana. Reaksi ini bukan sekadar kelelahan normal karena berlari tiga ratus meter. Ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang mengingatkan Gani pada kilatan mendung di mata Kirana semalam saat membahas soal 'waktu'.

​Namun, sebelum Gani sempat mendesaknya dengan pertanyaan, Kirana tiba-tiba menunjuk ke arah perut Gani yang membesar karena sarung.

​"Kau terlihat..." Kirana menarik napas panjang lagi, mencoba menstabilkan suaranya, "...kau terlihat seperti ibu hamil yang sedang dikejar penagih utang dengan sarung kedodoran itu."

​Gani menunduk, melihat penampilannya sendiri. Kaus hitam berdebu, tanpa alas kaki, lutut celana jinnya kotor oleh tanah, dan sarung yang menggelembung besar di perutnya berisi enam buah mangga curian. Penampilannya benar-benar kacau balau, jauh dari citra elit yang selama ini ia agungkan.

​Selama beberapa detik, Gani hanya menatap dirinya sendiri. Lalu, sesuatu yang sangat aneh terjadi di dalam rongga dadanya.

​Sudut bibirnya berkedut. Urat di pelipisnya mengendur. Dan sebelum ia menyadarinya, sebuah tawa pelan lolos dari tenggorokannya. Tawa itu awalnya hanya berupa hembusan napas mendengus, namun perlahan membesar, menjadi gelak tawa bariton yang tulus.

​Gani tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak di tengah kebun singkong, menertawakan absurditas penampilannya, menertawakan ketakutannya yang konyol pada sapu lidi Pak Kades, dan menertawakan fakta bahwa ia baru saja mempertaruhkan harga dirinya demi enam buah mangga.

​Melihat pria itu tertawa, Kirana ikut tertawa. Napas gadis itu masih belum teratur, namun tawanya mengalir riang, menyatu dengan tawa Gani.

​Di bawah langit sore Karangbanyu yang mulai menguning, di antara derik serangga dan desir angin kebun, seorang pria yang kemarin bersiap menjemput maut kini tengah tertawa lepas karena berhasil mencuri mangga.

​Kekakuan es yang membekukan jiwa Gani selama tiga bulan terakhir, retak untuk pertama kalinya. Retakan kecil itu memang belum menyembuhkan traumanya secara utuh, namun ia membiarkan secercah cahaya harapan masuk.

​Sambil menyeka air mata akibat tertawa, Gani menatap Kirana yang sedang bersandar pada batang pohon singkong. Gadis itu menatapnya balik dengan senyum lembut yang membuat waktu terasa berhenti berputar.

​"Baiklah, Tuan Tiran Kecil," ucap Gani, napasnya masih tersengal, namun nada suaranya kini terdengar jauh lebih ringan, "Permintaan pertama selesai. Enam permintaan lagi. Apa kau siap membuatku lebih gila dari ini?"

​Kirana menyunggingkan senyum misteriusnya. "Oh, bersiaplah, Gani. Kita bahkan belum masuk ke bagian yang paling menyenangkan."

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!