Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Di ruang rapat lantai atas, Jati langsung berdiri dari kursinya hingga membuat para direksi tersentak kaget.
Wajahnya yang semula tenang seketika menggelap, memancarkan aura kemarahan yang begitu pekat setelah mendengar suara bergetar istrinya di telepon.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada bawahannya, Jati melangkah lebar meninggalkan ruang rapat, langsung masuk ke dalam lift khusus eksekutif dan melesat menuju lobi.
Sementara itu di lobi bawah, Rini yang merasa berada di atas angin melihat Gayuh mematikan teleponnya, langsung berteriak dengan nada penuh kebencian.
"Satpam! Satpam! Sini kamu!" teriak Rini sambil menunjuk-nunjuk ke arah Gayuh.
Dua orang petugas keamanan berbadan tegap langsung berlari menghampiri meja resepsionis.
"Seret wanita gembel ini keluar dari gedung J-Corp! Dia sudah berani membuat keributan dan mengaku-ngaku kenal dekat dengan Pak Jati!"
Kedua satpam yang tidak tahu apa-apa itu langsung mencengkeram kedua lengan Gayuh dengan kasar, membuat tas bekal di tangannya hampir saja terjatuh.
Cengkeraman kuat itu seketika menarik otot punggung Gayuh, memicu rasa perih yang luar biasa dari luka jahitannya yang belum sembuh total.
"Lepaskan aku!! Mas Jati!!" jerit Gayuh kesakitan, mencoba berontak dengan sisa tenaganya sembari memanggil nama suaminya.
Mendengar Gayuh yang masih berani berteriak memanggil nama Jati di depan umum, Rini yang penuh dengan amarah langsung melangkah maju melompati batas meja resepsionis.
Rasa iri dan dongkol karena merasa posisinya sebagai "calon istri halusinasi" direndahkan membuat wanita itu gelap mata.
PLAAKK!!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi mulus Gayuh hingga wajahnya terlempar ke samping.
Sudut bibir Gayuh sedikit berdarah, dan rona merah bekas tamparan langsung tercetak jelas di kulit porselennya.
Gayuh meringis, memejamkan mata menahan perih ganda di pipi dan punggungnya.
Semua orang di lobi menahan napas, menyaksikan kekerasan itu dengan tatapan ngeri.
TING!
Pintu lift eksekutif terbuka dengan sentakan keras. Sosok Jati keluar dari sana seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Pemandangan pertama yang tertangkap oleh matanya adalah sang istri yang sedang dicengkeram dua satpam, dengan pipi yang memar akibat tamparan wanita resepsionis itu.
"HENTIKAN!!" teriak Jati dengan suara menggelegar bagai petir di siang bolong, menggema di setiap sudut lobi J-Corp yang luas.
Suara bariton yang sarat akan murka dan otoritas mutlak itu seketika menghentikan pergerakan semua orang.
Atmosfer di lobi mendadak menjadi begitu dingin dan mencekam, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri tegak.
Langkah kaki Jati berderap cepat bagaikan badai yang siap menghancurkan apa saja di depannya.
Tanpa banyak bicara, dengan gerakan yang teramat cepat dan bertenaga, Jati langsung menendang satpam yang mencengkeram lengan Gayuh hingga petugas keamanan bertubuh tegap itu tersungkur ke lantai marmer lobi.
"Berani-beraninya kamu menyakiti istriku!!" raung Jati dengan urat-urat yang menegang di sekitar leher dan wajahnya.
Tatapan matanya merah menyala penuh murka, siap menghabisi siapa pun yang menyentuh wanita miliknya.
Seketika itu juga, dua satpam tersebut langsung berlutut di lantai dengan tubuh bergetar hebat demi menyadari kesalahan fatal mereka.
Seluruh isi lobi mendadak senyap, sedingin es. Fakta bahwa wanita yang mereka tertawakan adalah "Istri" dari sang penguasa J-Corp bagaikan hantaman gada berat yang menghancurkan kesombongan mereka.
Jati tidak memedulikan sekelilingnya lagi. Ia langsung meraih tubuh Gayuh ke dalam pelukannya dengan sangat lembut, seolah takut menyakiti tubuh istrinya yang masih rapuh.
Jemari kokohnya mengusap lembut pipi Gayuh yang kini memerah dan membengkak akibat tamparan keras tadi.
"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku terlambat turun," bisik Jati, suaranya bergetar menahan amarah sekaligus rasa bersalah yang teramat dalam.
Rini yang tadinya begitu angkuh seketika mendekam ketakutan di balik meja resepsionis.
Seluruh persendiannya lemas hingga ia langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam ke lantai, tidak berani menatap sepasang mata Jati yang mematikan.
Air mata penyesalan dan ketakutan mulai mengalir deras membasahi riasan tebalnya.
Gayuh yang berada di dekapan Jati mencoba mengatur napasnya yang sesak.
Dengan sisa kekesalannya, ia mengarahkan telunjuknya lurus ke arah wanita di balik meja itu.
"Dia tadi mengatakan kalau Mas Jati calon suaminya," ucap Gayuh dengan suara yang parau namun terdengar jelas di tengah keheningan lobi, menunjuk tepat ke arah Rini.
Mendengar aduan dari bibir istrinya, Jati perlahan membalikkan tubuhnya.
Aura dingin yang mencekam seketika menguar dari tubuh sang CEO, mengunci pandangannya pada Rini yang kini sudah menangis tersedu-sedu di lantai.
Jati melangkah satu kali ke depan, membuat bayangan tubuhnya yang tinggi besar sepenuhnya mengurung Rini yang sedang bersimpuh ketakutan.
Tatapan matanya begitu dingin, sedingin es yang mampu membekukan darah siapa pun.
"Iya, Rini?" tanya Jati dengan nada suara yang sangat rendah, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan daripada bentakan.
"Sejak kapan saya mendaftarkan nama kamu di dalam silsilah keluarga Aditama?"
"S-saya hanya bercanda, Pak Jati. Saya tidak tahu kalau beliau adalah..." kalimat Rini terputus, lidahnya kelu dan tubuhnya gemetar hebat hingga tidak mampu menyelesaikan kata-katanya.
Jati memalingkan wajahnya dengan jijik, tidak sudi melihat air mata buaya wanita di hadapannya.
Ia mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada manajer operasional lobi yang sudah berdiri gemetar di dekat lift sejak tadi.
"Kalian menuju ke HRD sekarang dan ambil gaji kalian terakhir. Detik ini juga, kamu dipecat dari J-Corp secara tidak hormat. Dan pastikan nama Rini masuk dalam blacklist seluruh anak perusahaan J-Group," titah Jati tanpa ampun.
"Pak Jati, saya mohon! Saya minta maaf. Saya butuh pekerjaan ini, Pak!" tangis Rini pecah, ia mencoba maju untuk menggapai ujung celana Jati namun langsung dihalangi oleh staf keamanan lain.
"Saya tidak suka dengan orang yang sok seperti kamu, Rini. Kamu tidak hanya menghina istri saya, tapi kamu juga sudah merusak citra perusahaan saya dengan kesombonganmu," ucap Jati tajam dan mutlak.
Melihat Rini yang ditarik pergi dengan histeris, pandangan Jati beralih kepada dua satpam yang mencengkeram lengan Gayuh.
Kedua satpam itu kini tertunduk pasrah, siap menerima nasib dipecat seperti Rini.
Namun sebelum Jati sempat membuka mulutnya untuk menjatuhkan hukuman, tangan lembut Gayuh perlahan menyentuh lengan suaminya, meremasnya pelan untuk meredam sisa amarah sang CEO.
"Mas... Kedua satpam ini, Mas pindah ke bagian OB (Office Boy) saja," ucap Gayuh lembut, menatap Jati dengan mata indahnya yang penuh permohonan.
"Kasihan mereka. Mereka hanya menjalankan tugas karena terprovokasi oleh omongan Rini tadi."
Jati menoleh ke arah istrinya, menatap pipi yang memerah itu dengan rasa tidak tega.
Jati menghela napas panjang, mencoba menekan ego dan amarahnya demi menuruti keinginan wanita yang paling dimuliakannya ini.
"Dengar itu?" ucap Jati akhirnya, suaranya beralih ketat menatap kedua satpam di hadapannya.
"Istri saya masih memiliki kebaikan hati untuk menyelamatkan nasib kalian. Mulai besok, lepas seragam kalian dan melapor ke bagian umum untuk pemindahan tugas."
Mendengar keputusan itu, kedua satpam tersebut seolah mendapatkan mukjizat.
Mereka langsung sujud syukur di atas lantai marmer, lalu buru-buru bangkit dan menganggukkan kepala mereka berkali-kali ke arah Gayuh dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terima kasih, Nyonya Aditama! Terima kasih banyak atas kebaikan hati Anda. Kami benar-benar minta maaf atas kelancangan kami tadi," ucap kedua satpam itu serempak, membungkuk penuh rasa hormat dan penyesalan yang mendalam kepada Gayuh.