Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
Malam di kediaman Wiratama kini memiliki melodi baru, suara tangisan bayi yang sesekali memecah keheningan koridor marmer yang dingin. Namun, bagi Kinanti, suara itu bukanlah sebuah anugerah kehidupan, melainkan sebuah pengingat akan kemenangannya yang mutlak.
Ia berdiri di depan cermin besar di kamar utamanya, mengenakan gaun malam berbahan sutra hitam, mematut diri seolah-olah tidak ada badai yang baru saja ia ciptakan.
Di lantai bawah, Arjuna berada di pelukan pengasuh profesional berseragam putih bersih. Segala kebutuhan bayi itu dipenuhi dengan kualitas terbaik, dari botol susu anti-kolik yang mahal hingga pakaian dari serat bambu organik.
Namun, di dalam rumah itu, tidak ada aroma minyak telon yang hangat atau pelukan ibu yang tulus. Semuanya steril, profesional, dan mekanis.
Arkan masuk ke dalam kamar dengan langkah terseret. Wajahnya yang dulu angkuh kini tampak seperti puing-puing bangunan yang terbakar. Ia menatap Kinanti melalui pantulan cermin.
"Arjuna baru saja meminum susunya. Dia sudah tenang," ujar Arkan dengan suara yang nyaris mati.
"Bagus. Pastikan pengasuhnya tidak lalai. Aku tidak ingin ada satu pun kesalahan dalam perawatan anak itu," jawab Kinanti tanpa menoleh. Ia menyemprotkan parfumnya, aroma bunga sedap malam yang tajam memenuhi ruangan. "Besok malam, kita akan mengadakan perjamuan kecil. Hanya keluarga dekat dan beberapa kolega bisnis penting."
Arkan mengerutkan kening. "Perjamuan? Untuk apa?"
"Untuk memperkenalkan putra mahkota Wiratama, tentu saja. Dunia harus tahu bahwa kita memiliki pewaris. Dan yang paling penting, mereka harus tahu bahwa aku adalah ibunya," Kinanti berbalik, menatap Arkan dengan mata yang berkilat tajam. "Aku ingin kamu memasang wajah bahagia, Arkan. Jangan sampai ada satu pun tamu yang mencium bau penyesalan di wajahmu."
"Kin, ini gila. Bayi itu baru saja keluar dari rumah sakit. Dan Alana... dia mungkin sedang kelaparan di suatu tempat!" suara Arkan mulai meninggi karena frustrasi.
Kinanti berjalan mendekat, merapikan kerah kemeja Arkan dengan gerakan yang sangat lambat namun mengancam. "Alana memilih uang sepuluh juta itu dan pergi, Arkan. Dia menjual haknya. Jika kamu ingin mengkhawatirkannya, silakan keluar dari rumah ini tanpa membawa apa-apa. Tapi jika kamu ingin tetap menjadi ayah dari bayi di bawah, pasang senyummu dan jadilah suami yang sempurna besok malam."
~~
Sementara itu, di sebuah sudut pasar yang mulai menutup di pinggiran kota Jawa Tengah, Alana sedang duduk di depan teras kosnya yang sempit.
Ia menatap bungkusan nasi sayur yang dibelinya dengan uang hasil pencairan cek Kinanti. Rasanya hambar. Bahkan air mineral yang ia minum terasa seperti empedu di tenggorokannya.
Payudaranya terasa nyeri dan membengkak, sebuah reaksi alami tubuh seorang ibu yang baru saja melahirkan. Namun, tidak ada mulut kecil yang menghisap nutrisi itu. Alana merintih kesakitan, menekan dadanya sendiri dengan tangan yang gemetar.
"Arjuna... maafkan Mama," isaknya pecah di tengah kegelapan malam.
Ia teringat wajah Kinanti yang begitu tenang saat merampas bayinya. Ia teringat Arkan yang hanya diam membisu seperti pengecut. Kebencian mulai tumbuh, lebih besar dari rasa sakit fisiknya. Uang sepuluh juta yang diberikan Kinanti kini terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya.
Alana mengambil sebuah buku tulis lusuh yang ia beli di pasar. Di halaman pertama, ia menuliskan sebuah nama dengan huruf besar, KINANTI. Di bawahnya, ia mencoret-coret nama itu dengan tinta hitam hingga kertasnya nyaris robek.
"Kalian pikir aku akan menghilang? Kalian pikir aku akan membiarkan kalian hidup tenang dengan anakku?" Alana berbicara pada kegelapan. "Aku akan menyimpan uang ini. Aku akan bekerja. Aku akan menunggu saat yang tepat. Aku mungkin jatuh sekarang, tapi aku akan memastikan kalian jatuh lebih dalam dariku."
Namun, saat ia mencoba berdiri, rasa perih di bekas luka persalinannya kembali menyerang. Ia terjatuh kembali di atas kasur lantai yang keras, menyadari bahwa untuk saat ini, ia hanyalah seorang pecundang yang bahkan tidak sanggup membeli obat pereda nyeri yang layak.
Keesokan malamnya, rumah Wiratama disulap menjadi istana cahaya. Karpet merah dibentangkan, dan aroma bunga lili yang mahal menyebar ke seluruh ruangan. Para tamu undangan dari kalangan elit mulai berdatangan, mengenakan perhiasan yang berkilau di bawah lampu kristal.
Kinanti berdiri di samping Arkan, menggendong Arjuna yang terbungkus kain sutra putih. Ia tersenyum sangat manis kepada setiap tamu, menerima ucapan selamat seolah-olah ia benar-benar baru saja melewati perjuangan melahirkan.
"Selamat, Kinanti! Dia sangat mirip dengan Arkan," ujar salah satu rekan sosialitanya. "Kamu tampak sangat segar, seperti tidak habis melahirkan saja."
"Rahasia perawatan yang tepat, Jeng," jawab Kinanti dengan tawa anggun yang dibuat-buat. "Arjuna adalah anugerah terbesar dalam hidup kami. Kami sudah lama menantikannya."
Arkan berdiri di sampingnya seperti patung bernyawa. Setiap kali ada tamu yang memuji kebahagiaan mereka, Arkan merasa seperti ada pisau yang mengiris jantungnya.
Ia melihat Arjuna di pelukan Kinanti, bayi itu tampak tenang, tidak tahu bahwa wanita yang menggendongnya adalah orang yang telah mengusir ibu kandungnya ke pembuangan.
Di tengah acara, Bi Ijah lewat dengan membawa nampan minuman. Matanya sempat bertemu dengan mata Arkan. Ada gurat kesedihan dan ketakutan di mata wanita tua itu. Bi Ijah tahu kenyataannya, tapi ia terlalu takut pada Kinanti.
"Silakan dinikmati jamuannya, Bapak dan Ibu," suara Kinanti terdengar di pengeras suara, memberikan pidato singkat. "Putra kami, Arjuna Wiratama, adalah simbol masa depan perusahaan dan keluarga kami. Terima kasih telah menjadi bagian dari kebahagiaan ini."
Arkan menoleh ke arah balkon, tempat di mana ia biasanya melarikan diri dari kenyataan. Ia membayangkan di mana Alana berada saat ini. Apakah dia sedang menangis? Apakah dia sedang membencinya?
Tiba-tiba, Arjuna menangis kencang. Suara tangisnya menggema di seluruh ruang perjamuan, seolah-olah bayi itu sedang memprotes kebohongan besar yang sedang dirayakan.
Kinanti tetap tenang. Ia segera menyerahkan bayi itu kepada pengasuh yang sudah berdiri di belakangnya. "Bawa dia ke atas. Sepertinya dia haus," perintahnya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
Namun, tangisan Arjuna tidak berhenti. Suaranya semakin melengking, membuat beberapa tamu saling berbisik. Arkan tidak tahan lagi. Ia melangkah maju, mengambil Arjuna dari tangan pengasuh sebelum mereka mencapai tangga.
"Biar aku yang menenangkannya," ujar Arkan tegas.
Kinanti menatap Arkan dengan tajam, sebuah peringatan bisu agar Arkan tidak bertindak di luar skenario. Namun, Arkan mengabaikannya. Ia membawa Arjuna ke balkon yang sepi, menjauh dari keramaian tamu.
Di bawah sinar bulan, Arkan mendekap bayi itu erat-erat. "Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa..."
Bayi itu perlahan tenang saat merasakan kehangatan kulit Arkan, namun Arkan tahu bahwa kehangatan ini hanyalah sementara.
Di dalam sana, perayaan kepalsuan masih berlanjut. Dan di luar sana, di suatu tempat yang jauh, seorang wanita sedang merajut dendam dari puing-puing kehancurannya.
Perjamuan itu sukses besar di mata dunia. Foto-foto keluarga bahagia Wiratama segera tersebar di media sosial dan majalah bisnis. Kinanti telah berhasil menghapus jejak Alana dari kehidupan publik mereka.
Namun, di balik pintu-pintu tertutup rumah mewah itu, perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Perang melawan rasa bersalah, dan perang melawan masa lalu yang tidak akan pernah benar-benar terkubur.
...----------------...
**To Be Continue** ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.