Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.
Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Hubungan
Gatra tidak berani menyebut dirinya sudah jatuh cinta mengingat hubungan mereka baru baru berjalan tiga hari, tapi tak peduli nama apa perasaan yang di baru di rasakannya, ia berjanji akan serius menjalaninya dan berharap Nayra juga melakukan hal yang sama.
Pagi ini seperti dua hari sebelumnya, Gatra sudah duduk di depan kemudi. Di sampingnya ada Nayra yang terlibat sangat cantik dengan setelan pas di tubuhnya yang membuat Gatra sering meliriknya.
"Lihat jalan aja bukan liatin aku terus," kata Nayra jengah dengan pandangan pasangannya.
"Maunya sih gitu, tapi mataku ngga bisa berhenti buat liatin kamu."
"Nanti kita celaka kalau–"
"Ngomongnya jangan jelek-jelek karna biasanya sering jadi kenyataan. Kamu tenang aja aku ngga akan biarin kamu celaka." Sela Gatra serius, membuat Nayra merasa bersalah. "Tapi siapa suruh kamu kalau pakai setelan kerja gitu cantik bangat? Aku bawaannya pengen noleh terus."
Nayra mendengus sambil menahan senyum. "Lain kali ngga perlu repot-repot anterin aku kerja. Soalnya Aku bisa nyetir sendiri."
"Aku tahu, tapi bukannya lebih enak di anterin? Kamu ngga perlu capek dan cukup duduk atau tidur aja juga boleh yang ngga bikin celaka."
"Aku serius bukan becanda."
"Aku juga serius." Gatra melirik Nayra. "Selain itu aku juga pengen di repotin. Ngga masalah sekalipun cuma jadi supir yang penting di dalam mobilnya kamu."
Nayra menggeleng-geleng saja di buatnya sambil melirik pria pura-pura muak, dulu pria itu berkata tidak bisa berkata manis, tapi nyatanya selama beberapa hari menjejaki hubungan serius, pria itu tak henti-hentinya merayunya.
"Refleks, Nay. Ngga tahu kenapa kepikiran aja kalau di dekat orang yang di sukai." Gatra membela diri sambil melempar pandangan pada Nayra. "Serius, kayaknya aku kalau udah nyaman jadi ngga bisa jaga omongan."
"Anggap aku percaya, tapi besok aku ngga mau di anterin lagi."
"Kenapa sih? Padahal aku suka di repotin, rasanya kayak aku berguna bagi orang lain makanya pengen banget di repotin." Gatra fokus ke jalan tapi matanya sering kali melirik Nayra yang sekarang sudah pasrah. "Kamu ngga nyaman ya?"
"Bukan ngga nyaman," balas Nayra cepat. "Aneh aja, aku ngga biasa mendapatkan perhatian kayak gini. Tapi aku seneng sekaligus ngga mau ngerepotin. Gimana jelasinnya ya? Intinya gitu."
Gatra tentu memahami yang di rasakan pasangannya yang sangat mandiri sampai begitu mendapatkan banyak perhatian wajar saja Nayra kaget. Tapi ia tak akan menyerah begitu saja.
"Biasakan," kata Gatra. "Kedepannya kamu bakal dapat banyak kejutan yang beda dari aku jadi jangan kaget dalam satu Minggu kedepan kamu sudah jatuh cinta."
Nayra mendorong pelan bahu Gatra tapi alih-alih marah pria itu malah tertawa membuat wanita itu menarik kedua sudut bibirnya. "Ada-ada aja, hatiku ngga semudah itu untuk luluh, Mas."
"Etss, jangan salah. Sekalinya Gatra sudah keluarin pesonanya, kelar kamu, Nay."
"Apaan sih." Nayra menggeleng sambil tersenyum. "Kita udah tua jadi ngga cocok becanda kayak gitu lagi."
"Umur boleh tua, tapi pesona, tenaga dan wajah masih muda nih." Dengan sengaja Gatra mengangkat salah satu lengan memamerkan otot lengannya yang sedikit terbentuk karna olahraga. "Ini salah satu buktinya."
Nayra akhirnya tertawa begitu juga dengan Gatra. Di sepanjang jalan mereka habiskan dengan bercanda sampai tidak sadar sudah sampai di tempat tujuan yaitu di sebuah bangunan kafe yang ternyata pemiliknya adalah wanita di sampingnya.
"Aku kerja dulu, kamu hati-hati nyetirnya." Kata Nayra sambil membuka sabuk pengamannya.
"Aku kok ngga rela kamu kerja ya? Bisa ngga sih–"
"Kalau aku ngga kerja aku sama Rayyan ngga bisa makan, Mas." Nayra menggeleng pelan lalu membuka pintu mobil. "Aku pamit."
"Tadi..." Gatra tak melanjutkan perkataannya karna pintu sudah di tutup. Dengan buru-buru ia menurunkan kaca di bagian tempat Nayra duduk lalu memanggil wanita yang sudah berjalan menjauh. "Nayra!"
Si pemilik nama memutar tubuh, tapi tak mengatakan apa-apa, menunggu pasangannya membuka suara. "Yang tadi cuma bercanda," kata Gatra.
Nayra terdiam beberapa saat untuk berpikir lalu mengangguk sambil tersenyum yang semakin membuat Gatra jatuh ke dalam pesonanya.
"Sana kerja, aku pulang dulu." Gatra menyerah lalu menutup kaca dan kembali mengendarai kendaraannya melewati jalan raya untuk pergi ke rumah sakit menemui psikolog yang menanganinya tanpa menghilangkan senyumannya.
Sampai akhirnya kendaraannya sampai di lingkungan rumah sakit. Ia menjadi tempat untuk memarkirkan mobilnya lalu kepalanya kembali memutar Nayra. "Lama-lama aku bisa gila, tapi semoga saja Nayra wanita yang baik dan menjadi terkahir. Capek banget harus moveon terus cari yang lain lagi." Gumamnya lalu turu dari mobil.