Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara di Hari Libur
Setelah mengucapkan kata-kata untuk mengusir kecemasan Elio, Axel perlahan beranjak dari tepi tempat tidur. Ia mengulurkan tangan, mengacak rambut adiknya pelan hingga Elio mengerucutkan bibir protes.
"Udah. Jangan mikirin Papa terus," ujar Axel santai. "Kalau dipikirin terus, nanti rambut kamu rontok sebelum umur dua belas tahun."
Elio langsung memegang kepalanya panik, "Kak Axel!"
Axel terkekeh tipis. Salah satu hal yang paling ia sukai dari Elio adalah sifat polos adiknya yang masih tersisa, meskipun mereka harus tumbuh besar di dalam rumah yang dingin dan kaku seperti ini.
"Ayo turun. Cari sarapan."
Elio mengangguk cepat, "Iya. Elio lapar banget."
Mereka berdua berjalan berdampingan menuruni anak tangga rumah yang luas. Langkah kaki mereka bergema pelan di antara dinding marmer dan lampu gantung kristal mewah yang menjuntai tinggi dari plafon.
Rumah Arsen memang megah. Terlalu megah, bahkan terkadang rasanya lebih mirip hotel bintang lima yang dihuni oleh orang-orang asing yang kebetulan sedarah.
Sudah lima tahun berlalu sejak skandal perselingkuhan Clarissa—ibu kandung mereka—menghancurkan fondasi rumah tangga ini.
Sejak saat itu pula, kehangatan perlahan lenyap tak berbekas. Papa mereka, Arsen, berubah total menjadi pria sedingin es kutub dan semakin gila kerja.
Axel tumbuh menjadi anak yang sulit diatur sebagai bentuk pemberontakan, sedangkan Elio terjebak dalam ketakutan atas ketidakharmonisan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
"Kak," panggil Elio pelan saat mereka sampai di lantai bawah.
"Hm?"
"Papa kenapa suka marah-marah?"
Axel terdiam beberapa saat, menatap ruang kerja Papanya yang tertutup rapat. "Papa memang hobinya marah, El."
Jawaban singkat Axel membuat adiknya terdiam. Karena sayangnya, bagi mereka berdua, kalimat itu adalah sebuah kebenaran mutlak.
...----------------...
Sementara itu.
Mobil hitam milik Arsen melaju cepat membelah jalanan yang relatif lengang di akhir pekan. Wajah pria keturunan Indonesia–Prancis itu terlihat begitu dingin. Rahangnya mengeras, dengan cengkeraman tangan yang begitu kuat pada kemudi mobil.
Orang yang mengenalnya cukup lama akan tahu bahwa ketenangan di wajah Arsen hanyalah lapisan tipis yang siap pecah, menutupi amarah besar yang sedang membara di bawahnya.
Pagi ini seharusnya ia menikmati beberapa jam istirahat di hari libur, sebelum dihadapkan pada jadwal rapat penting minggu depan.
Namun, sebuah panggilan telepon darurat dari Dion beberapa menit lalu sukses menghancurkan seluruh rencana itu. Masalah proyek. Dan Arsen paling membenci masalah yang muncul akibat kebodohan manusia lain.
Begitu mobilnya memasuki area parkir khusus gedung Wijaya Group, Arsen langsung keluar tanpa membuang waktu. Para petugas keamanan yang berjaga buru-buru menegakkan tubuh dan memberi salam hormat.
"Selamat pagi, Pak Arsen."
Arsen hanya mengangguk singkat tanpa menoleh. Aura intimidasi dan hawa dingin yang dibawanya membuat tak seorang pun di lobi berani mengajaknya berbasa-basi lebih jauh.
Lima menit kemudian...
Brak!
Pintu ruang kerja CEO terbuka cukup keras akibat sentakan tangan Arsen. Pria itu masuk dengan langkah panjang yang tegas. Jas kerjanya yang sedari tadi disampirkan di lengan langsung dilempar kasar ke atas sofa beludru.
Ia melangkah lebar ke balik meja marmernya, lalu menekan tombol interkom dengan tidak sabar. "Raka. Dion. Ke ruangan saya sekarang. Detik ini juga."
Nada suaranya rendah dan tajam. Cukup untuk membuat siapa pun yang mendengarnya paham bahwa hari ini bukan hari yang baik untuk membuat kesalahan di depan Arsen.
Kurang dari tiga menit kemudian, pintu ruangan kembali diketuk dan terbuka.
Raka dan Dion melangkah masuk bersamaan. Keduanya sudah mengetahui sebagian besar kekacauan yang terjadi di lapangan, membuat ekspresi wajah mereka sama-sama tegang.
"Duduk," titah Arsen dingin, bahkan tanpa mempersilakan mereka untuk sekadar menyapa atau bernapas lega.
Raka dan Dion segera mengambil tempat duduk di kursi hadapan meja Arsen. Pria bertubuh tegap itu membuka beberapa dokumen hasil audit yang baru saja dicetak. Tatapan sepasang matanya menyorot tajam.
"Jelaskan," perintah Arsen singkat namun menekan mental.
Dion menarik napas pelan untuk menata suaranya. "Pak Bastian secara sepihak mengalihkan sebagian besar pengelolaan proyek kawasan komersial kita ke tangan putrinya."
Rahang Arsen semakin mengetat mendengar nama itu. "Lalu?"
"Awalnya dari laporan administrasi, kami mengira pengalihan itu hanya sebatas pengawasan lapangan biasa, Pak," lanjut Dion hati-hati.
"Dan ternyata?" sela Arsen, matanya menyipit berbahaya.
Dion menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab, "Bu Keisha mulai mengambil keputusan operasional skala besar tanpa ada koordinasi atau persetujuan tertulis dari kantor pusat kita."
Arsen tertawa pendek. Sebuah tawa sinis dan kering yang sama sekali tidak terdengar lucu di telinga kedua bawahannya. "Dia baru beberapa minggu menyentuh proyek itu dan sudah merasa punya kuasa untuk bertindak seenaknya?"
Raka, sang asisten pribadi, buru-buru membuka tablet miliknya untuk membacakan rincian data. "Ada beberapa laporan fatal yang masuk dari tim pengawas sejak kemarin malam, Pak Arsen."
"Katakan. Saya tidak punya banyak waktu untuk teka-teki," desis Arsen.
"Pertama, Bu Keisha memangkas anggaran material utama hingga tiga puluh persen dan mengganti dua vendor beton yang sudah kita sepakati sejak awal," lapor Raka tegang.
Tatapan mata Arsen langsung berubah menjadi sedingin es. "Alasannya?"
"Klaim dari pihak Keisha, itu dilakukan demi efisiensi biaya proyek, Pak."
"Omong kosong! Efisiensi atau dia sedang mencari keuntungan pribadi?" potong Arsen tajam.
Dion ikut menimpali, "Tim audit kita juga menemukan fakta di lapangan bahwa material pengganti yang dibeli Bu Keisha kualitasnya jauh di bawah standar keamanan yang disepakati di kontrak awal, Pak. Itu sangat berisiko untuk struktur bangunan."
Arsen menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, mengetukkan jemarinya di atas meja dengan ritme yang lambat namun penuh tekanan. Kesabarannya benar-benar sudah berada di batas akhir. "Lanjut. Apa lagi?"
Raka melirik Dion sesaat sebelum melanjutkan bagian yang paling parah. "Masalah kedua jauh lebih serius, Pak. Ini terkait dokumen AMDAL."
Kening Arsen berkerut dalam, auranya semakin menggelap. "Kenapa dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan-nya?"
"Bu Keisha sengaja memanipulasi data di dokumen Amdal lama agar proyek di area timur bisa langsung berjalan tanpa perlu melakukan kajian lingkungan yang baru," jelas Dion dengan wajah pucat. "Akibat kelalaiannya, subuh tadi dinas tata kota resmi menyegel sepihak area konstruksi tersebut karena dianggap melanggar regulasi. Pekerjaan di sana terpaksa berhenti total."
Brak!
Arsen menutup map dokumen di depannya dengan hantaman keras yang membuat Raka dan Dion tersentak di kursi mereka.
"Apakah wanita itu tidak punya otak?!" bentak Arsen, suaranya menggelegar memenuhi ruangan kerja yang luas itu.
Ruangan seketika berubah hening mencekam. Tak ada satu pun dari kedua bawahannya yang berani mengeluarkan suara. Mereka tahu betul Arsen tidak sedang membutuhkan jawaban verbal. Pria itu sedang berada di puncak kemurkaannya.
"Proyek ini bernilai miliaran rupiah dan belum berjalan satu bulan penuh," Arsen berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung kota dari ketinggian. "Baru beberapa minggu... dan dia sudah berhasil membuat tiga kekacauan fatal yang hampir merugikan perusahaan dan merusak reputasi Wijaya Group."
Arsen berbalik, menatap Raka dan Dion dengan sorot mata membunuh. "Hubungi Bastian sekarang."
"Baik, Pak," sahut Raka cepat.
"Katakan saya tidak menerima alasan apa pun. Saya ingin dia dan putrinya yang tidak kompeten itu ada di ruang rapat sore ini juga."
"Siap, Pak Arsen. Segera saya jadwalkan," jawab Dion patuh.
Arsen kembali duduk di kursinya, mencoba mengatur napasnya yang sempat memburu.
Kemarahannya belum benar-benar reda, namun sebagai seorang CEO profesional, pikirannya sudah mulai bergerak cepat menyusun strategi hukum untuk mengamankan aset perusahaan.
Tidak seperti kebanyakan orang, Arsen tidak pernah membiarkan emosi pribadinya mengendalikan keputusan bisnis terlalu lama.
...----------------...
Sementara itu, di sebuah restoran yang cukup terkenal di pusat kota.
Suasana di tempat itu terasa sangat kontras dengan ketegangan di kubus kerja Arsen.
Keisha sedang menikmati menu brunch mewah bersama ayahnya, Bastian.
Wanita itu tampak sangat santai, sesekali menyuap makanannya sambil memainkan ponsel.
Ia benar-benar tidak menyadari bahwa badai besar sedang meluncur ke arahnya.
"Pekerjaan proyek di lapangan gimana, Keisha? Aman semua?" tanya Bastian sambil menyesap kopinya.
Keisha tersenyum penuh percaya diri, menyandarkan punggungnya ke kursi restoran. "Lancar kok, Pa. Semuanya aman di bawah kendali Keisha."
"Arsen... dia nggak curiga atau mempermasalahkan soal vendor baru?" tanya Bastian lagi, sedikit memastikan posisi rekan bisnis raksasanya itu.
"Nggak sama sekali. Dia kan pasti sibuk sama urusan kampus dan perusahaan utamanya," jawab Keisha meremehkan. "Dia nggak akan peduli sama detail kecil di lapangan."
Padahal kenyataannya, Keisha sama sekali tidak tahu.
Tepat pada detik ini, sebuah notifikasi surat pemanggilan resmi untuk rapat darurat dan ancaman pemutusan kontrak sepihak dari Wijaya Group baru saja masuk ke dalam email pribadi mereka.
Sebuah surat dari kantor pusat Arsen, yang akan memastikan hari akhir pekan mereka berubah menjadi mimpi buruk yang nyata.