Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.
Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.
Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.
"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.
Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )
Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sial!"
Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Pekerjaan Yang Mudah
Di malam hari, Nan Wei berada di rumah kepala Desa bersama dengan Ayahnya. Dia datang untuk meminta bantuan, sebenarnya hal itu tidak perlu, karena hanya dengan mengatakan kepada satu orang saja informasinya pasti langsung tersebar luas.
Apa yang dia lakukan untuk menghargai kepala Desa sebagai pemimpin. Agar kedepannya, jika ada masalah dengan bisnis nya, dia hanya perlu meminta bantuan Kepala Desa.
"Pak Tua Xia. Ada apa? Apa ada sesuatu yang telah terjadi?" tanya kepala Desa Yang bernama Zheng Jingze, dia seumuran dengan Ayah Xia.
Dia juga sudah mendengar kabar jika keluarga Xia sedang menjalankan bisnis di Kota. Bisik-bisik dari warganya sudah mulai terdengar, mereka penasaran, tapi mereka juga tidak berani bertanya.
"Oh bukan aku. Aku hanya menemani Nan Wei untuk bertemu denganmu!" balas Ayah Nan Wei.
Kepala Desa menatap Nan Wei, dirinya yang seorang pemimpin tentu mendengar semua berita atau gosip-gosip yang tersebar luas di Desanya..Dia harus tau, apa saja yang terjadi, termasuk Nan Wei yang sering menghukum Anaknya hanya karena kesalahan sepele.
"Oh Nan Wei..! Nak, akhirnya kamu sudah kembali seperti dulu lagi. Kamu adalah wanita yang baik, jangan pernah melakukan sesuatu yang bisa membuatmu menyesal di masa depan."
"Paman Zheng. Aku sudah menyesal, Aku tidak akan melakukannya lagi!" kata Nan Wei dengan serius.
Dia memanggilnya paman, karena Kepala Desa memiliki seorang anak perempuan yang seumuran dengannya, dan sebelum menikah, mereka adalah teman bermain yang sangat dekat.
"Ya baguslah.. Paman juga senang mendengarnya!" Sahut Kepala Desa sambil mengangguk.. "Jadi, apa yang perlu Paman bantu?"
"Paman! Kamu pasti sudah dengar kan, kalau kami sedang berbisnis."
"Ya."
"Kami membuat makanan yang terbuat dari kentang dan ubi. Lalu kami menjualnya ke Restoran yang ada di kota, kami sudah ada kontrak kerja, jadi kami harus mengirim pesanan setiap hari sebanyak 200 kg!" jelasnya.
"APA?" Kepala Desa terperanjat, jika sudah menjalin kerja sama, maka bisnis ini sangat menguntungkan dan berjangka panjang. "Banyak sekali!"
"Masih sedikit, tapi jumlah itu sudah ditentukan untuk pesanan setiap hari, tidak boleh lebih!"
Kepala Desa mengangguk mengerti, dia masih syok mendengar berita itu. "Jadi apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin membeli Kentang dan ubi dari warga Desa 100 Kg untuk per kepala keluarga! daripada mereka menjualnya ke kota.!"
"Wahh benarkah? Kamu beli dengan harga berapa?" tanya Kepala Desa dengan raut wajah penasaran dan antusias.
"40 koin tembaga per kg !"
"Astagaa mahal sekali..!" ucapnya dengan mata terbelalak tapi wajahnya menunjukkan kesenangan. "Itu, apa kamu tidak rugi?"
"Paman, kalau aku rugi, mana mungkin aku mau membeli dengan harga itu. Jadi semuanya aman,!"
"Bagus, bagus,, besok pagi aku akan mengumumkan di balai Desa.!" ujarnya dengan semangat.
"Ya. Tapi, Paman harus mengingatkan mereka untuk tidak menjual yang sudah rusak atau busuk. Karena ini bisa merusak kerja sama kami!"
"Kamu tenang saja, jika ada yang berbuat curang, langsung aku tolak!" kata Kepala Desa dengan serius, itu adalah tanggung jawabnya karena Nan Wei sudah mempercayakan tugas itu kepadanya.
"Ya. Mereka bisa menjualnya sampai habis. Tapi harus bertahap, 100 kg per hari.!" Nan Wei kembali menjelaskan.
Kepala Desa kembali terperanjat, dia bahkan sudah berdiri dan menatap Nan Wei dengan tatapan tak percaya.
"Kamu.. Nak jangan bercanda, jika warga Desa menjual semua kentang dan ubi itu jumlahnya sangat banyak!"
Nan Wei tersenyum lalu berkata, "Paman, aku memang memang membutuhkan banyak kentang. Karena bisnis makanan kami bisa bertahan lama setelah diolah, jadi tidak akan rugi.!"
"Aku sengaja membelinya bertahap, karena di rumah kami tidak ada tempat untuk menyimpannya!" lanjutnya beralasan, karena yang sebenarnya, uangnya pasti tidak cukup jika langsung membeli semuanya sekaligus.
Dia memiliki ruang penyimpanan yang sangat luas, dan menurut sistem, waktu di ruang itu tidak tidak berjalan, jadi apapun yang dia simpan akan awet selamanya.
"Tunggu,, tunggu,, biarkan Paman bernafas dulu!" katanya sambil kembali duduk dan menenangkan perasaannya yang bergebu-gebu.
Kepala Desa begitu bersemangat, karena warganya bisa mendapatkan sedikit lebih banyak pemasukan dari hasil panen ubi.
"Kepala Desa! Silahkan minum dulu!" pinta Ayah Xia. Sebenarnya dia juga terkejut, awalnya dia tidak percaya saat Nan Wei mengatakan ingin membeli kentang dalam jumlah banyak.
Kepala Desa menurut, dia minum secangkir air sampai habis. Setelah beberapa menit dia mulai tenang.
"Baik. Kamu tenang saja, semua pasti akan beres!" katanya dengan percaya diri.
"Hmm, Paman aku belum selesai!" ujar Nan Wei sambil tertawa kecil.
"Oh. Katakan! Apa lagi yang harus Paman bantu?" tanyanya dengan penuh semangat, apapun itu, jika menyangkut kesejahteraan Desanya dia akan melakukannya dengan suka rela.
"Katakan pada mereka yang ingin menjualnya, aku akan membah 5 koin tembaga jika kentang dan ubinya sudah dibersihkan. Maksudnya sudah dicuci dengan air!"
"Kamu.. kamu..!" Kepala Desa tidak tahu harus mengatakan apa. Yang pastinya dia sangat terkejut, mencuci kentang saja bisa mendapatkan uang tambahan.
"Aku ingin mengajak semua warga Desa menghasilkan uang bersama. Dan ini juga sebagai ucapan terima kasihku, karena selama aku jadi jahat, mereka tidak merundung anak-anakku!" ucap Nan Wei dengan tulus.
Kepala Desa dan Ayah Xia sangat terharu mendengarnya. Bagaimana bisa ada orang sebaik itu? Jika itu orang lain, pasti akan menjadi sombong dan melupakan mereka yang tidak bisa apa-apa.
"Nak! Aku sebagai Kepala Desa, mengucapkan terima kasih. Semoga bisnismu makin berkembang!" suaranya sedikit bergetar.
"Ya. Baiklah Paman! Kami pamit dulu, ini sudah sangat larut!" Nan Wei berpamitan.
"Baik,, Baik!"
Keduanya pergi meninggalkan rumah kepala Desa dan pulang ke rumah. Saat tiba, pekerjaan juga baru selesai, pesanan Tuan Bai akhirnya beres juga.
"Bibi Tao berapa kg?" tanya Nan Wei.
Bibi Tao duduk di samping Nan Wei dengan jantung berdebar, dia sebenarnya masih ragu dengan upah yang Nan Wei katakan.
Tapi tidak masalah, anggap saja dia datang membantu. Dia datang bersama menantu dan kedua cucunya yang sudah berumur 15 tahun.
"Tadi kami timbang 200 kg!" jawabnya. "Eh kamu tanya Xia Dalang, dia yang menimbangnya!" lanjutnya dengan cepat. Dia takut Nan Wei mengira dirinya berbohong.
"Ya 200 kg!" sahut Xia Dalang.
"Itu.. Tapi 200 kg kami kerjakan bersama!" jelas Bibi Tao sedikit canggung karena dia juga mengajak dua cucunya.
Pekerjaannya bukan cuman mengupas, karena harus dicuci lagi lalu dipotong-potong.
Nan Wei mengangguk lalu mengambil kantong uangnya, "Tidak masalah, itu sama saja.!"
Bibi Tao dan menantunya menghela nafas lega. Dia mengajak cucunya karena mereka juga tidak ada kerjaan di rumah. Keduanya hanya beda setahun saja, tapi mereka belum mau menikah.
"Bibi ini upahnya.!" Nan Wei menyodorkan uang tembaga sebanyak 600 koin.
Bibi Tao mengambilnya dengan tangan gemetar. Dia tidak percaya benar-benar mendapat upah sesuai yang Nan Wei katakan.
Mereka bahkan tidak merasa lelah sama sekali, tapi bisa menghasilkan uang. Seluruh warga Desa, harus bekerja keras untuk mendapatkan uang sebanyak itu.
"Ini, ini benaran upah kami?" tanyanya mata berkaca-kaca.
"Bibi itu hasil kerja keras kalian! Ambillah, dan berikan juga kepada mereka karena sudah membantu!"
"Baik, baik,, Bibi tidak mungkin serakah. Ini ada bagian mereka juga." ucapnya dengan haru.
Mereka semua mengucapkan terima kasih pada Nan Wei dan seluruh anggota keluarga. Lalu berpamitan untuk pulang karena sudah larut. Mereka pulang dengan perasaan yang begitu bahagia.
.
.
.
.