Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Di kafe keluarga di mana seseorang bisa memesan menu all you can eat, pada siang hari aku secara sengaja mengadakan pertemuan dengan Elma untuk membahas novel hasil karyaku. Namun tanpa aku ketahui, siang itu Maya juga hadir atas undangan Elma. Terjadilah pembantaian di kafe itu setelah Maya dan Elma selesai membaca naskah novel ciptaanku, mereka berdua tiada ampun untuk mengatakan kalau hasil karyaku itu jelek.
Sebelumnya Maya sudah memberikan opininya secara tegas dan gamblang, aku tidak mampu untuk membantah penilaian Maya yang mengatakan jika novel ciptaanku itu adalah karya sampah. Elma sebenarnya lebih baik hati karena dia ingin menghindar dari kewajiban untuk menyampaikan opininya, tapi karena Maya mengatakan aku membutuhkan masukan agar aku bisa berkembang demi menjadi novelis yang baik, maka Elma mengatakan jika...
“Kalau dikatakan bagus atau jelek, maka aku akan pilih jelek...” dengan penuh rasa sesal Elma mengatakannya, hatinya yang lembut membuatnya tidak sampai hati untuk mengatakan sesuatu yang sudah pasti itu.
“Sudah aku duga... lagi pula itu sebuah karya novel buatan dari seorang sampah berjalan” timpalku dengan perasaan putus asa, aku sudah di dalam jurang depresi yang terlampau dalam
“Ma...maaf!!! kamu jangan jadi keras begitu sama dirimu sendiri!!” timpal Elma dengan panik, dia mungkin bisa merasakan kalau aku sudah benar – benar putus asa.
“Aku gak akan melanjutkannya saja...” gumamku
Elma kembali mengambil naskah novel di atas meja yang ada di hadapannya, dia membuka beberapa lembar seolah sedang mencari sesuatu dan setelah beberapa saat Elma mengatakan...
“Oke, hmm... membosankan memang, tapi aku sangat paham apa yang mau disampaikan. Bisa menyelesaikannya saja sudah sangat hebat menurutku, aku pun gak bisa menulis sebanyak ini meski cuma membuat rangkuman ringan dari sebuah buku” ucap Elma mencoba memujiku meski tidak ada yang bisa aku banggakan dari pujian itu, Maya pun terlihat kesal mendengar ucapan Elma.
“Guru bahasa juga akan sakit kepala kalau harus menulis laporan bergaya novel seratus halaman, kan?” celetuk Maya terdengar menyindir, Elma tertawa kecil lalu kembali menatap lembaran naskah novelku.
“I..iya sih, terus... aah ini dia! Aku rasa bagi anak kelas satu SMA, bisa menulis sebanyak ini juga sudah sangat hebat!!” seru Elma memujiku, tapi kalimat pujiannya malah membuatku semakin jatuh ke dalam jurang keputusasaan...
“Pffttt! Ha... ahahaha... anak kelas satu SMA? Aah iya ya, Raka kan cuma ANAK KELAS SATU SMA” timpal Maya terdengar sekali dia menekankan kata ‘Anak kelas satu SMA’ untuk mengejekku, tubuhnya bergetar hebat karena menahan tawa dan kedua tangan menutup mulut begitu kuat.
“E.. eh...? apa aku mengatakan hal yang tidak seharusnya?” tanya Elma terdengar bingung di tengah suara tawa Maya dan raut wajah frustrasiku yang begitu dalam.
“Eeeng...gak kok... pfffttt~” jawab Maya masih berusaha menahan tawanya...
Aku sangat paham Elma tidak bermaksud menghinaku dengan mengatakan jika karya itu sudah cukup hebat untuk ukuran siswa kelas satu SMA, iya sih aku bisa memahami itu. Tapi kan... tapi kan masalahnya, aku adalah orang yang kembali ke masa lalu dengan semua kemampuanku di kehidupan sebelumnya!! Secara fakta, harusnya aku ini sudah memiliki kemampuan yang jauh melebihi anak kelas satu SMA!! Aku adalah remaja sembilan belas tahun!!!
“Haah~ kamu gak salah kok, Elma~ perkataanmu sangat tepat. Tuuh kamu di puji sama Elma loh, Raka” celetuk Maya yang sudah bisa menahan tawanya, dia mengatakannya sambil menyeka air mata yang tergenang di pelupuk mata. Sepertinya dia sudah sangat puas menertawaiku...
“Novel ini hebat dari ukuran ANAK KELAS SATU SMA, menurutku juga sudah bagus kok~ pfffttt~” ucap Maya menekankan pada kata anak kelas satu SMA-nya, aku tahu dia memang menyadari apa yang membuatku semakin jatuh ke dalam rasa depresiku!!
“Terima kasih atas umpan baliknya, Elma. Dan kau Maya, awas aja!!” aku melembutkan suara ketika mengucapkan terima kasih lalu menekankan kalimat penuh dendam dan ancaman untuk Maya dalam satu tarikan nafas.
“Tu... tunggu!! Aku beneran salah omong ya?!!” panik Elma mengatakannya, dia sampai berdiri dari duduknya dan mencoba memaksaku untuk memberitahu kenapa Maya tertawa dan aku marah padanya.
...Tapi tentu saja tidak bisa aku beritahu alasannya, kan?...
Maya kembali tertawa terbahak – bahak dan dia sama sekali tidak menahan tawanya kali ini, sedangkan Elma sekarang menekan Maya untuk memberitahunya apa yang salah dari kalimat pujian yang baru saja dia lontarkan untukku. Aku menghela nafas melihat keakraban Maya dan Elma yang begitu erat, mereka terlihat tidak memiliki jarak satu dengan lain dan sepertinya sesuatu telah jauh berubah ke arah yang lebih baik dibanding dengan kehidupan pertamaku.
Setelah tawa mereka mereda, hampir bersamaan kami meninggalkan meja untuk mengisi ulang gelas kami dengan minuman yang tersedia di bufet kafe. Tidak lupa kami juga mengambil beberapa makanan kecil untuk menemani kami mengobrol, setelah dirasa cukup, kami kembali ke meja dengan posisi yang masih sama. Aku duduk saling berhadapan dengan Maya dan Elma.
“Dari tadi aku penasaran, kenapa kamu menulis novel?” tanya Maya memulai kembali obrolan, aku berniat menjawab namun tiba – tiba Elma berdiri dengan penuh semangat yang berapi - api.
“Kita gak perlu alasan buat menciptakan karya seni, Maya!!” seru Elma, yah tentu saja aku dan Maya sama – sama kaget melihat semangat menggebu – gebu Elma yang terasa sangat tiba – tiba.
“Saat api semangat membara di dalam hati, orang – orang cenderung menuangkan semua perasaannya pada suatu karya agar hasratnya terpuaskan!” jelas Elma dan terdengar begitu puitis seperti seorang pembaca puisi, tubuhnya terlihat bergetar seolah dia sangat terobsesi dengan karya seni.
“Benarkan, Raka?” tanya Elma yang bersemangat itu kepadaku, tatapan mata berbinarnya seolah mengatakan aku harus setuju dengan pendapatnya.
“Aku cuma ingin apresiasi pembaca aja sih, aku gak ingin dipuaskan. Terus aku juga butuh royalti hak cipta, jadi aku gak perlu bekerja” datar aku menjawab pertanyaan Elma, seketika Elma terkejut mendengar jawabanku.
“Terus apa gunanya dukungan penuh semangatku tadi?!!!” bentak Elma dengan rasa kesal yang meledak, tidak lama dia kembali duduk di kursinya dengan keras.
“Ya memang aku dipenuhi rasa semangat saat menulis dan aku juga ingin menyampaikan pesan yang ingin aku sampaikan ke para pembaca. Tapi lebih dari itu, aku hanya ingin dipuji oleh para pembacaku!” tegas aku mengatakannya, kali ini aku yang dibakar semangat saat mengucapkan kalimat itu.
“Gak nyangka aku, kamu bakal sejujur ini” timpal Maya terdengar kesal, namun aku tidak memedulikan perasaan Maya.
“Yah gimana lagi, novelis yang bilang gak mau apresiasi dari pembaca itu berarti mereka tidak punya keinginan untuk memuaskan pembacanya, bukan? Menurutku yang seperti itu tidak bisa disebut sebagai novelis sejati, aku juga yakin dia gak bisa menciptakan novel bagus” ucapku sambil menghela nafas
“Tapi beberapa author ada juga yang gak peduli karya mereka bakal di puji atau tidak” sanggah Maya, aku menatap Maya dengan sinis lalu aku katakan...
“Author yang begitu cuma menggertak atau berbohong aja! Coba suruh mereka kirim royaltinya ke aku, mau gak mereka?” timpalku, seketika Elma menatapku dengan heran dan sepertinya dia sangat memandangku berbeda dari yang sudah – sudah.
“Aku gak sangka kamu berpikiran sangat dangkal daripada yang aku duga” ucap Elma dan sepertinya dia kecewa padaku, namun apa peduliku?
“Emang dari dulu pemikirannya sependek itu, dia itu si sumbu pendek” timpal Maya dengan tegas, Elma pun semakin terkejut sambil menatap Maya.
“Aku gak bilang sampai segitunya!” dengan panik Elma mengatakannya, dia masih saja segan untuk mengatakan hal jujur tentangku.
“Tidak, Maya benar. Cobalah untuk belajar mengatakan apa pun yang ada di dalam kepalamu sekalipun itu menyakitkan bagi yang mendengarkannya, apa lagi yang dikatakan itu adalah sebuah fakta” timpalku menyetujui perkataan Maya, Elma pun mengalihkan pandangannya dengan raut wajah heran dan terkejut yang menjadi satu.
“Jadi kamu mengakui kalau kamu itu berpikiran dangkal?!!” masih terdengar panik Elma mengatakannya
Yah kesampingkan dulu tentang kemampuanku yang ternyata tidak berkembang meski aku sudah lulus dari SMA di kehidupanku sebelumnya, sepertinya aku terlalu buru – buru untuk melakukan debut sebagai novelis. Aku harus mengasah lagi kemampuanku agar aku bisa menjadi lebih baik, lagian aku punya banyak waktu setelah terlempar kembali ke masa lalu. Terus tentang naskahku yang satu ini... sepertinya tidak perlu untuk aku upload..
Hari pun berganti, di Senin pagi ketika aku berada di sekolah pada jam pertama. Guru di depan kelas mengucapkan kata yang sangat aku takuti dan tidak pernah ingin aku mendengarnya, yah inilah aktivitas yang menakutkan di sepanjang hidupku...
“Baiklah, mari kita bicarakan tentang study tour, tolong bentuk kelompok yang terdiri dari enam orang. Kalian bisa membaginya menjadi tiga siswa dan tiga siswi, jadi tolong segera cari kelompok kalian masing – masing” perintah pak guru
Yaah aku tidak pernah bisa memahami kenapa kita harus berkelompok? tidak pernahkah mereka memikirkan pihak minoritas yaitu penyendiri seperti aku? Keanekaragaman kepribadian adalah warna dari sebuah kelas, pak Guru. Jadi, cobalah untuk memahami hatiku ketika kalian memintaku untuk membentuk sebuah kelompok, ini akan jadi jauh lebih sulit karena namaku sudah sangat rusak di sekolah ini.
Seperti di kehidupanku sebelumnya, aku hanya perlu diam saja di mejaku lalu pak guru akan berinisiatif untuk mencarikanku sebuah kelompok yang kekurangan orang. Sayangnya aku lupa kelompok siapa yang kekurangan orang pada kehidupan pertama, lagi pula di kehidupan sebelumnya, kelas ini kekurangan Elma dan Sari jadi jauh lebih mudah bagiku menemukan kelompok yang kekurangan orang tidak seperti sekarang.
Biasanya guru akan memanggil siswa atau siswi untuk maju ke depan jika mereka kesulitan menemukan kelompok, jadi dari pada menunggu hal merepotkan seperti itu, aku pun berinisiatif untuk berjalan lebih dulu ke depan kelas sebelum di suruh pak guru karena aku yakin aku tidak akan mempunyai kelompok. Aku sangat cekatan, bukan?
Dari sebelah papan tulis aku bisa melihat betapa sibuknya siswa - siswi sekelas untuk mencari kelompok mereka, dari sini juga aku bisa melihat Elma yang terlihat senang karena sudah menemukan kelompoknya. Tidak heran sih, dia anak ekstrovert di kelas yang terkenal cantik, jadi pasti banyak cowok yang akan secara suka rela ingin menjadi bagian dari kelompok Elma. Di saat itu tiba – tiba Elma menoleh menatapku, dengan gestur tangannya dia seolah mengatakan ‘Maaf’ kepadaku. Mungkin karena dia tidak bisa berinisiatif untuk mengajakku bergabung dengan kelompoknya.
Aku tersenyum sedikit sambil berharap semoga Elma bisa membaca arti senyumku itu yang mengatakan dia tidak perlu merasa bersalah karena hal ini, aku malah bersyukur di kehidupan kedua ini dia bisa menikmati study tour yang pernah dia lewatkan. Aku rasa semua akan berjalan dengan...
“Hei!! Kenapa diam aja di sini?!” tanya seorang cewek yang entah sejak kapan dia berada di sebelah kananku, aku tersentak karena aku sedikit melamun tadi.
“Eeeh.. ketua kelas?” agak bergumam aku katakan itu ketika menoleh menatap pemilik suara yang sedikit membuatku kaget itu.