Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Tukang Jajan
Seperti biasa Restoran yang dikelola oleh Reno bersama dengan Sisil jika di sore hari akan mulai ramai.
Para pelayan tampak kewalahan tetapi tetap disiplin dalam melayani para tamu.
"Mitha!" panggil Sisil yang sejak tadi memantau di dekat kasir.
"Iya. Bu," sahut Mitha.
"Kamu bisa tidak bekerja lebih cepat lagi, lihat di sekeliling kamu teman-teman kamu bekerja dengan cepat dan sementara kamu lambat seperti kura-kura," tegur Sisil yang ternyata sejak tadi memperhatikan salah satu karyawannya.
"Maaf Bu," sahut Mitha.
"Sudah sekarang kamu naik lantai 2 dan kamu bersihkan dapur lantai 2, orang-orang yang melakukan arisan di lantai 2 mungkin sudah selesai," ucap Mitha.
"Baik. Bu," sahut Mitha dengan menganggukkan kepala.
Mitha kemudian langsung pergi.
"Kenapa Reno makin hari semakin tidak becus dalam memilih pelayan, apa dia juga ingin disingkirkan dari restoran ini. Reno selalu saja mencari masalah yang membuat Mama marah kepadanya," ucap Sisil dengan kesal melipat kedua tangannya di dadanya dan tetap memantau para karyawan yang saat ini sedang bekerja.
Mitha ternyata begitu kesal karena dimarahi oleh Sisil sampai membuatnya mengumpat yang saat ini sudah berada di dapur.
"Harus benget marah-marah seperti itu, sekarang aku disuruh untuk membersihkan dapur ini," ucapnya dengan kesel tampak terpaksa berdiri di depan kompor dan sudah mulai melap meja yang penuh dengan minyak.
Di tengah ocehannya tiba-tiba saja ada kedua tangan yang memeluk pinggang, membuat Mitha kaget, saat dengan cepat lehernya diserang dengan jilatan lidah yang membuatnya langsung membalikkan tubuh.
"Pak...!" Mitha benar-benar kaget saat bosnya Reno ternyata orang yang melakukan hal itu.
"Kenapa marah-marah terus!" Reno memegang dagunya dan kemudian mencium bibirnya.
"Pak nanti istri bapak datang!" Mitha terlihat begitu panik dan mencoba untuk menghindar.
"Tidak akan, dia sibuk bersama dengan pelayan yang lain, jadi biarkan saya bersama dengan kamu," ucap Reno sudah dipenuhi dengan gairah.
Reno tidak membiarkan ditolak oleh Mitha yang membuatnya langsung melumat bibir pelayan tersebut.
Mitha sampai kewalahan mengha Reno yang benar-benar geragas. Mitha bahkan ingin menolak untuk melayani Reno, tetapi Reno langsung menyibak pakaian seragam yang dikenakan oleh Mitha yang membuat Mitha tidak berdaya saat lidah Reno sudah menjilati bagian buah dadanya.
Reno bahkan menggendong Mitha untuk naik keatas meja dan dengan sangat cepat dan berubah dia langsung menurunkan celananya kemudian memasukkan senjatanya.
"Ahhhhh!" Mitha kesakitan, namun tetap saja terdengar suara desahan yang membuatnya menutup mulutnya jangan sampai ada yang mendengar saat dirinya sedang ditelanjangi oleh bosnya.
Sementara Sisil terlihat menaiki anak tangga lantai 2 dan melihat bagaimana ruangan yang biasanya digunakan tamu-tamu VIP ketika mengadakan acara penting.
"Tadi aku menyuruh Mitha untuk membersihkan tempat ini? Lalu di mana dia? kenapa dia tidak muncul sama sekali atau jangan-jangan dia tidak mendengarkan apa yang aku perintahkan?" ucap Sisil melihat di sekitarnya dan benar-benar tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang yang berada di tempat itu.
Prang.
Saat langkah Sisil ingin meninggalkan tempat tersebut tetapi tidak jadi ketika mendengar suara benda jatuh membuatnya mengerutkan dahi tertuju pada dapur yang sekitar beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Suara apa itu?" tanyanya dengan penasaran.
Bagaimana tidak jika saat ini Reno sedang memompa pelayannya itu dengan sangat kasar, dengan posisi Mitha yang sudah berdiri dengan membelakangi Reno dan bagaimana benda di dapur itu tidak jatuh karena kasarnya perbuatan Reno kepadanya tetapi tetap saja Mitha menikmati.
Langkah Sisil terus mendekati dapur dengan rasa penasaran atas benda yang jatuh. Pintu dapur itu memang dikunci dan ketika berdiri di depan dapur tersebut tidak mendengarkan suara apapun.
Tangannya perlahan memegang kanopi pintu.
Dratt-dratt-drat.
Hal itu tidak jadi ketika mendengar suara panggilan ponsel yang sejak tadi dia pegang.
Sisil menghela nafas, mengangkat telepon tersebut dan meninggalkan tempat itu tanpa ingin mengetahui apa yang terjadi. Hampir saja Sisil mengetahui suaminya sedang bercumbu dengan wanita lain.
****.
"Bagaimana Amanda!" Amanda ternyata saat ini bertemu dengan Gina kembali.
Keduanya berada di cafe sebelumnya mereka bertemu dan bahkan duduk di bangku yang sama dengan duduk saling berhadapan.
"Kamu menawarkan untuk menjadi modal dari brand yang akan dikeluarkan oleh perusahaan Lexa?" tanya Amanda membuat Gina menganggukkan kepala.
"Kenapa harus aku?" tanya Amanda.
"Karena kamu cocok dengan produk minuman segar yang akan dikeluarkan perusahaan, wajah kamu tampak ceria tampak berseri seperti buah-buahan yang segar dan aku pikir ini benar-benar akan cocok," jawab Gina.
"Tetapi aku bukan seorang model dan aku tidak pernah bekerja dalam dunia seperti ini," ucap Amanda.
"Kamu bohong, aku sudah mengecek instagrammu dan kamu sering menjadi brand ambassador dari berbagai produk baik kosmetik makanan dan lain sebagainya, kamu juga mengiklankan produk itu dengan sangat baik dan bagaimana mungkin kamu mengatakan bahwa kamu bukan model," sahut Gina.
"Menerima endorse dari beberapa brand itu berbeda dari model profesional di perusahaan besar seperti itu," sahut Amanda.
"Amanda ayolah, aku sangat yakin jika kamu mampu melakukan semua ini. Aku benar-benar kewalahan mencari orang yang cocok dan aku takut dimarahi atasanku, biasanya juga untuk hal-hal seperti ini sudah pasti kekasihnya yang akan mengambil alih," ucap Gina terlihat begitu frustasi.
"Menjadi model dari salah satu brand tersebut? kenapa tidak? bukankah dengan begitu aku bisa masuk ke perusahaan itu dengan cara seperti ini. Aku baru pertama kali bertemu dengan Gina dan dia begitu percaya kepadaku dan bahkan datang mencariku, Amanda kenapa kamu tidak menggunakan kesempatan ini," batin Amanda tiba-tiba saja memikirkan secara serius tawaran Gina.
"Amanda, aku mohon tolong bantu aku please..." Gina bahkan sampai menyatukan kedua tangannya benar-benar menjatuhkan harapannya kepada Amanda.
"Baiklah!" Gina tiba-tiba saja kaget menjawab pertanyaan itu.
"Baik apa? kamu akan ikut bergabung untuk menjadi model pada produk terbaru kami?" tanyanya memastikan sekali lagi membuat Amanda menganggukkan kepala.
"Tetapi jika kamu memilihku dan bagaimana dengan pimpinan kamu apakah dia akan setuju bahwa aku yang akan menjadi modelnya?" tanya Amanda mengingat bagaimana hubungannya dengan Egar yang memang jika bertemu akan berdebat terus.
"Untuk hal-hal seperti ini tidak pernah dicampuri oleh atasanku, aku hanya menyiapkan kontrak dan jika menurut beliau kontraknya masuk akal maka akan ditandatangani dan setelah itu semua pekerjaan akan diserahkan kepadaku," jawab Gina.
"Oke, jika memang tidak ada masalah ke depannya, maka aku aku pikir tidak apa-apa," sahut Amanda dengan santai.
"Terima kasih Amanda, kamu benar-benar membantuku untuk menyelesaikan semua ini, akhirnya aku menemukan orang yang tepat juga," ucap Gina membuat Amanda hanya tersenyum tipis.
Justru tawaran Gina sebenarnya adalah kesempatan besar untuknya.
Bersambung....