Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
“Pada dasarnya, Sari bukanlah orang yang sejahat itu,” jawabku atas pertanyaan yang sempat membuat Maya kebingungan.
Sore menjelang malam, aku dan Maya mengadakan pertemuan darurat di kafe keluarga yang biasa kami datangi. Memang bukan hari Senin, tetapi pertemuan ini harus dilakukan karena gosip miring yang merusak reputasiku sudah telanjur sampai ke telinga Maya. Namun, setelah semua kesalahpahaman berhasil aku jelaskan, kejutan berikutnya justru menanti: kami malah bertemu Elma yang ternyata bekerja paruh waktu di kafe ini. Sungguh hari yang sangat melelahkan bagi serigala penyendiri sepertiku. Aku mulai muak dengan kehidupan kedua yang alurnya berjalan semakin absurd ini. Aku rasa...
“Maksudnya?” tanya Maya, alisnya bertaut semakin bingung.
“Bayangkan saja, kalau beberapa hari ke depan Elma benar-benar memutuskan untuk berhenti sekolah—seperti yang terjadi di kehidupan pertama kita dulu—kamu bisa membayangkan apa yang akan dirasakan Sari?” ucapku memancing. Raut wajah Maya seketika berubah masam.
“Ya senang, dong! Akhirnya orang yang paling aku benci lenyap dari sekolah,” jawab Maya ketus.
Yaks, persis seperti dugaanku. Dia menjawab tanpa ragu, dan di sinilah letak kunci analisisku.
“Tepat. Sari juga pasti berpikiran sama kalau dia memang murni berhati iblis. Tapi, jarang sekali ada remaja perempuan yang memelihara kedengkian sepekat itu, kan? Kesimpulanku, Sari tidak menyangka kalau intriknya bakal berdampak sejauh ini. Situasi bergulir bak bola salju saat Elma memilih mundur dari sekolah, dan Sari panik karena menyadari perbuatannya telah menghancurkan masa depan seseorang,” jelasku panjang lebar.
Maya terdiam, tampak sibuk mencerna teori psikologiku.
“Pada akhirnya, Sari diliputi rasa bersalah yang teramat besar. Kemungkinan, itulah alasan utama mengapa Sari juga memilih angkat kaki dari sekolah di kehidupan pertama kita dulu,” ucapku, menutup kesimpulan yang melintas di kepalaku.
Aku menyendok suapan nasi goreng kedua, membiarkan Maya hanyut dalam pikirannya sendiri. Otakku pun tidak mau kalah berputar memikirkan kasus Elma dan Sari. Alasan Sari menghilang dari sekolah kemungkinan besar karena beban moral yang masif setelah tahu Elma putus sekolah akibat ulahnya. Belum lagi, aku yakin Sari mendapat tekanan sosial yang hebat dari teman-teman sekelas—bahkan mungkin dari kelas lain—begitu Elma menghilang. Bagaimanapun, Elma berada di kasta teratas dalam piramida popularitas sekolah. Wajar jika rumor hilangnya Elma menjadi bahan perbincangan panas yang perlahan mengikis mental Sari.
“Aku mengerti. Masalahnya memang serumit benang kusut, ya,” celetuk Maya. Aku hanya mengangguk pelan sambil sibuk mengunyah nasi goreng di dalam mulut.
“Ya, aku setuju. Hubungan antar manusia itu memang merepotkan. Hal ini semakin menegaskan bahwa menjadi serigala penyendiri sepertiku adalah jalan terbaik untuk semua umat manusia,” timpalku dengan nada sombong yang hakiki.
Maya tertawa kecil melihat tingkahku, lalu kembali menyantap makanannya.
Setelah beberapa saat hening karena kami fokus mengisi perut, tiba-tiba Maya menghentikan sendoknya. Dia menatapku dengan senyuman yang sulit diartikan.
“Ngomong-ngomong, Elma cantik juga, ya~” celetuk Maya singkat sebelum kembali asyik mengunyah.
Aku sempat membeku sejenak, mencoba membedah arti implisit dari kalimat random tersebut, tetapi radar sosialku gagal total. Aku benar-benar tidak bisa menebak arah pikirannya.
“Uuh... yaah, kurasa memang begitu,” timpalku canggung. Hanya itu respons aman yang bisa kukeluarkan.
“Niatmu menolong dia... bisa jadi bakal berbelok arah menjadi hubungan yang lebih dalam, lho,” goda Maya dengan tawa tertahan yang hampir membuat mi-nya berhamburan.
Sial, sekarang aku paham arah celetukannya!
“Tu... tunggu dulu! Aku menolongnya kan murni karena permintaanmu! Jangan memutarbalikkan fakta seolah-olah aku sedang melancarkan modus untuk mendekati Elma!” bantahku panik dengan wajah memanas.
Namun, Maya menutup telinga rapat-rapat dari pembelaan diriku. Dia hanya senyum-senyum sendiri sembari terus menikmati mi pesanannya dengan khidmat.
Melihat respons acuhnya membuatku dongkol sekaligus waswas. Ini bisa memicu gosip aneh gelombang kedua! Tapi ya sudahlah, yang penting niat awalku bergerak murni demi memenuhi permintaan Maya. Aku kembali melanjutkan makan, dan keheningan kembali menyelimuti meja kami.
...Jam tujuh malam...
“Maaf, aku terlambat~” seru Elma setengah terengah-engah sambil berlari kecil mendekati meja kami.
Ya, aku dan Maya memang setia menunggunya menyelesaikan sif kerja paruh waktunya.
“Belum lewat jam tujuh, kok. Malah aku pikir kamu datang kecepetan,” timpalku santai. Maya di sebelahku hanya melempar senyum hangat ke arah Elma.
Kini dia kembali mengenakan seragam sekolah dengan rambut yang diikat ke samping kanan. Ya, visual seperti inilah Elma yang familier di ingatanku. Riasan wajahnya pun tidak berubah. Sepertinya Elma sengaja bersolek sejak di sekolah demi efisiensi waktu sebelum bekerja paruh waktu. Dulu aku sempat berprasangka buruk dan menuduhnya cari perhatian, tetapi dugaanku salah besar.
Namun, ada satu hal yang terasa berbeda kali ini. Ya... aura yang dipancarkan Elma terasa begitu hangat, lembut, dan bersahabat. Berbanding terbalik dengan impresi dingin yang kutangkap saat bertemu dengannya di kelas maupun di toko buku. Senyumnya saat ini bahkan terlihat... sungguh memesona. Gawat! Aura protagonis wanita ini terlalu menyilaukan hingga berhasil menggetarkan dinding pertahanan hati serigala penyendiri sepertiku!
“Jadi, kita mau pindah tempat atau tetap di sini?” tanyaku, buru-buru memecah keheningan karena kami sempat terjebak dalam momen saling tatap yang canggung.
“Huum... di sini juga tidak apa-apa, kok. Asalkan Raka nyaman,” jawab Elma lembut.
Tiba-tiba, Maya bertepuk tangan sekali dengan riang.
“Sip! Sudah diputuskan, ya. Sampai ketemu besok di sekolah, Rakaaa~” celetuk Maya sembari menyampirkan tasnya dan langsung berdiri.
Tentu saja aku melotot kaget mendengar kalimat perpisahan yang mendadak itu.
“Hah?! Kamu mau langsung pulang?!” tanyaku dengan nada panik yang gagal kusembunyikan.
Padahal, aku sangat membutuhkan keberadaan Maya di sini sebagai tameng sosial untuk meredam aura intimidasi yang mungkin dikeluarkan Elma jika kami hanya berdua. Seperti yang biasa terjadi sebelum-sebelumnya, kan?
“Kalau aku tetap di sini, aku cuma bakal jadi obat nyamuk yang mengganggu momen kalian berdua, kan?” goda Maya sambil tertawa renyah. Dia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
“Nih, uang untuk makan siangku tadi.” Ucap Maya
Tanpa memberi ruang untuk bernegosiasi, Maya melangkah pergi meninggalkan kami begitu saja. Dia melambaikan tangan sekilas ke arah Elma, yang langsung dibalas dengan lambaian serupa.
Aku dan Elma hanya bisa terpaku menatap punggung Maya hingga sosoknya menghilang di balik pintu keluar kafe. Keheningan mencekam pasca-ditinggal tamengku langsung pecah oleh suara tawa kecil Elma yang kini sudah duduk di kursi tepat di hadapanku. Aku menatapnya dengan raut wajah masam.
“Dia orangnya benar-benar random banget,” keluhku pasrah. Tawa Elma justru meledak semakin keras.
“Ahaha... tapi menurutku, dia gadis yang sangat menarik, kok,” timpal Elma setelah tawanya mereda.
Yah, ucapan Elma tidak salah. Pada dasarnya, Maya memang tipe orang yang taktis, bergerak cepat, periang, dan sangat mudah bersosialisasi. Jika dibandingkan dengan kapasitas sosialku yang minus, jelas kami berada di dimensi yang berbeda.
“Oh iya, soal topik pembicaraan kita yang tadi...” ucapku mencoba masuk ke inti masalah.
“Ah... ummm... iya...” timpal Elma terbata-bata. Tawanya instan lenyap, digantikan oleh tatapan canggung yang tertuju padaku.
Suasana mendadak hening seketika. Aku tidak habis pikir mengapa dia tiba-tiba berubah menjadi sekaku manekin. Bukankah Elma ini spesies ekstrover sejati? Aku hampir tidak percaya makhluk sepertinya bisa kehabisan pasokan kata-kata saat berhadapan dengan manusia lain. Mengapa aku tahu dia kehabisan kata-kata? Karena gestur tubuhnya tampak gelisah, persis seperti orang yang terjebak di dalam lift bersama orang asing yang tidak ingin dia ajak bicara.
“Uuh... sebaiknya kita pesan minum dulu untuk membasahi tenggorokan,” celetukku, mencoba menyelamatkan atmosfer yang semakin mencekik.
Elma tertawa canggung, lalu buru-buru menekan bel di atas meja untuk memanggil pramusaji.
“Kamu benar. Eeh... baiklah, aku tekan belnya, ya~” timpal Elma kikuk.
Aku benar-benar gagal memahami isi kepala Elma. Tingkat kegugupannya sudah berada di level akut. Saking paniknya, dia bahkan menekan bel sebelum kalimatnya selesai diucapkan. Apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam pikiran si anak populer ini sampai bisa segugup ini di depanku? Elma ini anak ekstrover, kan? Aku jadi teringat ramalan Maya yang bilang kalau obrolanku dan Elma bisa selesai hanya dengan tiga kata. Hebat, ramalan dia terbukti akurat.
Tidak lama kemudian, seorang pramusaji datang membawa buku menu. Menariknya, Elma dan pramusaji itu terlihat sudah saling kenal. Mereka berbincang dengan sangat lancar dan santai sebelum kami memesan. Kontras sekali dengan sikap kaku Elma ketika aku yang menjadi lawan bicaranya. Sial, apa jangan-jangan dari tadi dia sedang sekuat tenaga menahan diri agar tidak melayangkan pukulan ke wajahku? Eh, tunggu dulu...
Peduli apa dengan spekulasi remeh seperti itu! Yang seharusnya membuatku jantungan adalah fakta bahwa lawan bicaraku saat ini adalah Elma! Bayangkan, aku baru saja menyelesaikan sesi obrolan intens dengan cewek paling populer di sekolah (Maya), dan sekarang aku harus menghadapi sesi berdua saja dengan cewek paling populer di kelas (Elma)! Keberuntungan mistis macam apa ini?! Bukankah kuota bicaraku dengan kaum hawa hari ini sudah melampaui batas wajar?! Jumlah kata yang kuucapkan hari ini bahkan sudah melewati akumulasi interaksiku dengan perempuan selama tiga tahun masa SMA di kehidupan pertamaku!
...Ugh, mentalku sudah mengalami overload. Sinyal ingin pulang ke kamar dan bergulung di dalam selimut mendadak menyala dengan sangat kuat!...
Setelah pramusaji itu pergi menjauh, aku memperhatikan Elma yang terus menatap punggung rekannya hingga tak lagi terlihat. Perlahan, dia memutar kepalanya kembali menghadapku. Begitu manik mata kami beradu, aku bisa melihat dengan jelas rona merah yang menjalar di kedua pipinya.
...Tiba-tiba...
“Heii!!” serunya lantang. Aku sentak terlonjak kaget mendengar lengkingan suaranya yang mendadak.
“Aku sangat berterima kasih atas semua perbuatanmu tadi!” timpalnya setengah berteriak sembari membungkukkan badan dalam-dalam, hingga dahinya hampir mencium permukaan meja kayu di depan kami.
Aku tertegun, mendadak kehilangan fungsi kata karena bingung harus merespons apa pada situasi ekstrem begini.
“Aku... cuma bertindak atas kemauan sendiri, jadi tidak usah terlalu dipikirkan,” ucapku kaku. Rasanya aku sudah mengulang kalimat template ini berulang kali, tetapi isi otakku mendadak blank dan hanya menyisakan baris kalimat itu saja.
Secara objektif, tidak ada satu hal pun yang membuatku merasa berhak menerima gestur terima kasih sedramatis ini. Aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan. Lagi pula... di kehidupan sebelumnya aku sama sekali tidak mengulurkan tangan untuk menolongnya. Esensinya, aku bergerak kali ini murni karena didorong oleh umpan dari Maya.
“Tetap saja, aku benar-benar berterima kasih padamu!” tegas Elma, masih mempertahankan posisi membungkuknya. Getaran suaranya mengindikasikan ketulusan yang mendalam.
Pikirku, untuk ukuran siswi yang menyandang predikat "anak nakal" di sekolah, tata kramanya ternyata cukup sopan. Meskipun impresi pertamaku pada Elma sangat buruk, realitasnya dia adalah gadis yang memiliki empati tinggi. Kasusnya sama persis seperti Sari. Kurasa, aku harus mulai membuang kebiasaan buruk menilai manusia hanya dari sampul luarnya saja.
“Tapi... kenapa kamu sampai senekat itu membantuku?” tanya Elma, perlahan menegakkan tubuhnya kembali untuk menatap langsung ke dalam mataku.
“Jujur saja, di matamu... aku ini seharusnya menjadi tipe orang yang paling kamu benci di sekolah, kan?” tambahnya dengan nada penuh rasa ingin tahu yang membuncah.
Aku agak terkejut dia baru menyadari premis itu sekarang.
Pertanyaan telak itu sangat sulit untuk kujawab. Tentu saja aku tidak bisa dengan entengnya berkata, 'Oh, itu karena kamu bakal putus sekolah dan menghancurkan masa depanmu sendiri kalau aku tidak mengintervensi seperti di kehidupan pertamaku.' Lagi pula, jika dipikir dengan logika sehat, memang sangat aneh melihat seorang wibu sepertiku mendadak menjadi pahlawan bagi anak bader seperti Elma. Sudah menjadi rahasia umum di jagat raya sekolah mana pun bahwa kaum kami biasanya berakhir menjadi samsak perundungan kelompok mereka.
“Yaah... kalau aku cuma diam menonton sebagai figuran, aku bisa menjamin tidurku malam ini tidak akan nyenyak. Padahal, aku ini tipe orang yang sangat memprioritaskan kualitas tidur di atas segalanya, lho,” jawabku asal.
Namun dalam hati, aku merutuki diriku sendiri, ‘Goblok! Aku ini sedang bicara tentang apa, sih?!’
Tolong jangan hakimi aku. Aku hanyalah seekor serigala penyendiri yang minim jam terbang dalam seni mengobrol dengan lawan jenis. Jadi, wajar saja jika dalam kondisi terdesak dan gugup seperti ini, sistem bahasaku mengalami gangguan fungsi hingga omonganku melantur ke mana-mana. Sungguh tragis dan menyedihkan.
“Lagi pula, aku merasa tindakan Sari tadi siang sudah sangat kelewatan,” ucapku cepat, berusaha mengoreksi kalimat absurdku sebelumnya dengan alasan yang jauh lebih rasional.
“Ahaha... meskipun aku tahu dia mungkin dasarnya tidak suka denganku, aku tidak menyangka kalau kadar kebenciannya bisa seburuk itu,” timpal Elma sembari menggaruk tengkuknya, tertawa kecut.
“Setelah melihat drama tadi, aku justru merasa sangat lega memilih jalan hidup sebagai seorang penyendiri. Mau itu kamu atau Sari, orang-orang yang mati-matian berusaha membangun dan mempertahankan eksistensi kelompok di sekolah seperti kalian itu... menurutku terasa luar biasa berat. Meskipun kadang aku merasa iri dan kagum melihat dinamika kalian, aku tidak akan pernah mau melangkah di jalur yang sama. Kalaupun dipaksa, aku yakin mentalku tidak akan sanggup menjalaninya,” ucapku datar.
Aku murni hanya menyuarakan opini pribadi, tanpa ada niat terselubung untuk mencuci otaknya agar ikut sekte penyendiri bersamaku.
“Hihihi... omonganmu ternyata sederhana banget, ya. Sama seperti mukamu,” timpal Elma, menahan tawa di balik telapak tangannya.
Hah?! Aku sudah repot-repot menyusun monolog filosofis yang panjang lebar, dan dia hanya mengategorikannya sebagai hal yang sederhana?! Lagi pula, apa maksud dari frasa ‘Sederhana seperti mukamu?’ Itu pujian terselubung atau ejekan visual?!
Niat hati ingin melayangkan protes, tetapi aku mengurungkannya begitu melihat binar di matanya. Ini adalah kali kedua aku melihat Elma tertawa lepas sejak kami mulai mengobrol. Mengingat tekanan mental berat yang baru saja dia lalui di sekolah tadi, kurasa dia memang sedang membutuhkan katarsis untuk meredakan stresnya. Akhirnya, aku memutuskan untuk ikut tersenyum tipis bersamanya, yang justru membuat tawa Elma pecah semakin renyah.
...Aku ini orang yang cukup baik dan peka juga, kan?...