Masa remaja Andini, seorang gadis SMA yang ceria, seharusnya dihabiskan dengan mengerjakan PR, tertawa bersama teman-teman, dan menikmati masa muda yang bebas. Namun, takdir berkata lain. Sebuah perjodohan mendadak menyeretnya ke dalam ikatan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan, dengan pria yang berada di dunia yang sangat jauh berbeda dari dunianya.
Charles, seorang CEO muda yang dikenal dengan reputasi "es berjalan". Baginya, hidup adalah tentang keuntungan, strategi, dan kesempurnaan. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini baginya, Andini hanyalah tanggung jawab yang harus ia jaga demi memenuhi wasiat sang kakek.
Di sekolah, Andini adalah siswi biasa yang berusaha menjalani hari dengan tenang. Namun di balik pintu apartemen mewah, ia adalah istri dari pria yang paling disegani sekaligus ditakuti di dunia bisnis. Pernikahan ini harus dirahasiakan rapat-rapat; satu kesalahan kecil bisa menghancurkan reputasi Charles dan masa depan sekolah Andini...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selenium Alchemy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di balik topeng CEO
Gedung Utama Tower, lantai 45. Di sinilah dunianya.
Charles menatap hamparan lampu kota Jakarta dari balik kaca antipeluru yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Pukul sebelas malam. Biasanya, jam segini adalah waktu di mana ia paling produktif, meninjau laporan keuangan kuartal ketiga atau menyusun strategi akuisisi perusahaan kompetitor. Namun, malam ini, jemarinya tidak bergerak di atas layar tablet. Pikirannya kosong.
Orang-orang di luar sana—para stafnya, rival bisnisnya, bahkan rekan-rekan sosialitanya—mengenalnya sebagai Charles Utama. Pria yang tidak pernah tersenyum di meja negosiasi. Pria yang memecat manajer hanya karena laporan yang tidak efisien dua persen. Pria dengan reputasi "es berjalan" yang tidak memiliki celah emosional.
Mereka benar. Tapi mereka tidak tahu *mengapa*.
Charles tidak lahir dengan hati yang membeku. Ia lahir sebagai Charles kecil yang dulu suka menggambar, yang tertawa saat ayahnya menggendongnya di pundak. Namun, dunia korporat tidak mengenal kata "lembut". Setelah kecelakaan yang merenggut orang tuanya saat ia baru menginjak usia dua puluh tahun, dunianya berubah menjadi medan perang. Ia dipaksa tumbuh dewasa dalam semalam, memikul beban perusahaan keluarga yang sedang goyah, dikelilingi oleh serigala-serigala bisnis yang siap menerkam jika ia menunjukkan sedikit saja keraguan.
"Emosi adalah kelemahan, Charles," pesan kakeknya waktu itu, yang masih terngiang di kepalanya setiap kali ia merasa lelah. "Jika kau ingin bertahan, kau harus menjadi orang yang tidak bisa disentuh."
Dan itulah yang ia lakukan. Ia membuang hobinya, membuang tawanya, dan memasang topeng ketenangan yang absolut. Ia menjadi mesin.
Namun, belakangan ini, mesin itu mengalami gangguan. Gangguan itu bernama Andini.
Charles berbalik, berjalan menuju meja kerjanya yang luas. Ia mengambil bingkai foto kecil yang tersembunyi di laci terdalam—bukan foto bisnis, melainkan foto usang dirinya bersama orang tuanya. Ia menatapnya sejenak, lalu meletakkannya kembali.
Pernikahan dengan Andini adalah keputusan paling tidak logis yang pernah ia buat. Secara matematis, itu adalah beban. Andini masih SMA, penuh dengan kehidupan, emosi yang meledak-ledak, dan mimpi-mimpi yang naif. Andini adalah kekacauan.
Dan Charles membenci kekacauan.
Namun, saat ia teringat wajah Andini tadi sore—wajah gadis itu saat menatapnya dengan campuran rasa takut, marah, dan sedikit... harapan—ada sesuatu di dadanya yang berdenyut tidak nyaman. Ia tidak terbiasa dengan ketidakpastian. Ia terbiasa mengendalikan segalanya: harga saham, opini publik, jadwal hidupnya sendiri. Tapi Andini? Andini berada di luar kendalinya.
"Pak Charles?"
Suara ketukan pintu memecah keheningan. Asisten pribadinya, Pak Gunawan, masuk dengan membawa map hitam.
"Laporan untuk rapat besok sudah siap, Pak."
Charles kembali ke mode aslinya dalam sekejap. Raut wajahnya berubah datar, matanya kembali tajam seperti elang. "Taruh di sana."
"Ada hal lain, Pak? Anda terlihat... lelah."
Charles terdiam. Lelah? Mungkin. Atau mungkin ia hanya merindukan kehidupan yang tidak harus dipenuhi dengan jadwal. "Tidak ada. Kau boleh pulang, Gunawan."
Setelah asistennya keluar, Charles kembali menatap jendela. Ia teringat kembali pada hari di mana ia setuju untuk menikahi Andini. Bukan karena wasiat semata. Saat ia bertemu dengan gadis itu pertama kalinya di rumah kakek, ia melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang sudah lama hilang dari dirinya sendiri: kejujuran.
Di dunia Charles, semua orang punya agenda. Semua orang menginginkan sesuatu darinya. Tapi Andini? Gadis itu tidak menginginkan apa pun darinya, kecuali kebebasannya kembali.
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka pesan singkat dari nomor yang ia simpan dengan nama 'Andini'. Belum ada pesan baru. Gadis itu pasti sudah tidur, mungkin lelah setelah hari yang panjang di sekolah, tidak sadar bahwa di gedung ini, di lantai 45, suaminya sedang bergulat dengan pikiran tentang cara melindunginya—bukan hanya dari dunia luar, tapi mungkin dari dunianya sendiri yang dingin.
Charles mendesah pelan, sebuah suara yang sangat jarang keluar dari bibirnya. Ia mematikan lampu kantor, menyisakan cahaya kota yang gemerlap.
Ia adalah Charles Utama, CEO yang memiliki segalanya. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa memiliki segalanya tidaklah cukup. Ia butuh sesuatu yang nyata. Sesuatu yang bisa mencairkan es yang selama ini membelenggu hidupnya.
"Andini," bisiknya pelan, memanggil nama itu seolah ia sedang menguji seberapa besar pengaruh gadis itu terhadap hidupnya yang teratur.
Malam itu, di puncak gedung tinggi, sang CEO yang dingin itu menyadari satu hal: ia tidak sedang menunggu laporan bisnis. Ia sedang menunggu pagi, menunggu untuk melihat bagaimana "kekacauan" kecil itu akan kembali mengisi dunianya yang sunyi.