Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.
Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
***
Setelah kegemparan di lapangan desa mereda, pondok kayu kecil itu kembali menjadi sunyi, hanya menyisakan suara derak kayu di perapian dan denting sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik. Arthur telah memaksa seluruh pengawal untuk menjauh sepuluh langkah dari pintu, namun ia sendiri tetap menempel pada Lilianne seperti bayangan yang enggan lepas.
Arthur duduk di tepi ranjang, memangku mangkuk berisi bubur gandum dan kaldu daging yang gurih. Dengan telaten, ia meniup setiap sendok makanan sebelum menyodorkannya ke bibir Lilianne. Tidak ada lagi sisa-sisa pria yang tadi berlari kesetanan dengan pedang terhunus; yang ada hanyalah seorang suami yang obsesif, merawat miliknya dengan ketelitian yang menyesakkan.
Lilianne menerima suapan itu dengan patuh, meskipun setiap kali mata biru gelap Arthur menatapnya, ia merasa seolah sedang diawasi oleh pemangsa yang sedang menghitung detak jantungnya.
"Minum obatmu," ujar Arthur rendah setelah mangkuk itu kosong. Ia menyodorkan cawan berisi cairan kental berwarna gelap yang aromanya sangat pahit.
Lilianne meminumnya tanpa protes, meski wajahnya meringis menahan rasa getir yang tertinggal di lidah. Ia menyeka bibirnya, lalu menyandarkan punggungnya pada bantal jerami yang dilapisi kain linen kasar. Matanya beralih ke jendela kecil, tempat cahaya matahari mulai bergeser.
"Yang Mulia," panggil Lilianne pelan. Tangannya secara naluriah mengelus perutnya yang kini terasa lebih tenang. "Apakah nanti... anak kita akan bisa bebas seperti anak-anak yang ada di desa ini? Berlari tanpa beban, bermain bola kain tanpa ada zirah yang mengawal?"
Tangan Arthur yang sedang merapikan nampan terhenti sejenak. Rahangnya mengeras. "Dia sudah ditakdirkan menjadi pewarisku, Lili. Seorang pangeran Valerieth tidak berlari di atas debu jalanan. Dia berjalan di atas marmer istana dengan pedang di pinggangnya."
"Tapi marmer itu dingin, Arthur," sela Lilianne, suaranya sedikit meninggi. "Dan pedang itu berat bagi tangan yang kecil. Bisakah ia setidaknya memiliki satu hari dalam seminggu di mana ia hanya menjadi seorang anak kecil? Bukan menjadi bayangan dari kekuasaanmu?"
Arthur menatap Lilianne tajam. Ada kilatan rasa tidak nyaman di matanya, seolah pertanyaan Lilianne menyentuh luka lama yang ia sembunyikan rapat-rapat. "Kebebasan adalah ilusi bagi orang-orang seperti kita. Jika dia tidak kuat, dia akan dihancurkan. Jika dia tidak berkuasa, dia akan menjadi korban. Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh menjadi pria yang lemah."/
Lilianne menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya agar tidak memicu kontraksi lagi. Ia menatap Arthur dengan pandangan yang lebih lembut, sebuah taktik yang baru ia pelajari untuk melunakkan sang naga.
"Tapi yang mulia, bolehkah saya juga ikut serta dalam mendidik dan mengasuhnya nanti?" tanya Lilianne dengan nada memohon yang halus. "Saya tidak ingin dia hanya mengenal strategi perang dan protokol istana. Saya ingin anak kita berada di bawah pengawasan saya sepenuhnya untuk urusan batinnya. Saya ingin dia tahu bagaimana rasanya dicintai tanpa syarat."
Arthur terdiam cukup lama. Ia menatap tangan Lilianne yang mengelus perutnya, lalu beralih ke wajah istrinya yang masih terlihat pucat namun memiliki tekad yang kuat.
"Jika itu tidak membuat dirimu lelah, lakukanlah," jawab Arthur akhirnya. Suaranya terdengar sedikit lebih lunak, namun segera berganti menjadi nada penuh dominasi. "Tetapi kau juga tidak boleh lupa akan tanggung jawabmu sebagai istriku. Kau miliki tugas untuk tetap berada di sisiku, mendukung setiap langkahku, dan tidak pernah memalingkan wajahmu dariku."
Lilianne mendengus pelan, sebuah suara yang hampir menyerupai tawa pahit. "Tanggung jawab sebagai istri... atau tanggung jawab sebagai tawanan yang harus selalu terlihat patuh?"
Arthur tidak menjawab. Ia bangkit dan berjalan menuju jendela, menatap ke luar ke arah desa yang kini sunyi di bawah penjagaan pasukannya.
"Ck, Yang Mulia," Lilianne melanjutkan, suaranya kini terdengar lebih santai, seolah-olah mereka benar-benar pasangan suami istri biasa yang sedang berbincang di rumah sederhana. "Apakah Anda merasa nyaman tinggal di sini? Di pondok kayu yang sempit ini, tidak ada kekuasaan yang harus diperebutkan, tidak ada intrik politik yang melelahkan, dan tidak ada kebohongan identitas yang harus dijaga setiap detik. Hanya ada udara dingin dan suara alam."
Arthur membalikkan badannya, alisnya bertaut. "Apakah kau ingin tinggal beberapa hari lagi di sini, Lili? Jika itu yang kau inginkan untuk mempercepat pemulihanmu, aku bisa memerintahkan Kaelen untuk membawa lebih banyak logistik."
"Bukan seperti itu yang saya maksud, Yang Mulia," Lilianne menggeleng pelan, rambut peraknya bergerak gemulai di bahunya. "Maksud saya... apakah Yang Mulia tidak ingin membuat sebuah keluarga kecil yang bahagia dan hangat? Jauh dari bau busuk intrik politik istana. Sebuah tempat di mana Anda tidak perlu menjadi 'Arthur sang Panglima' atau 'Pangeran Mahkota palsu'."
Pertanyaan itu membuat Arthur membeku. Ia berdiri mematung di tengah ruangan, bayangannya memanjang di lantai kayu. Selama dua puluh tahun hidupnya, ia tidak pernah membayangkan sebuah keluarga. Baginya, keluarga adalah tempat pengkhianatan bermula; tempat ayahnya membedah kulitnya, tempat ibunya mati dalam kegilaan, dan tempat saudaranya mati untuk digantikan.
"Keinginanmu terlalu besar untuk protokol ketat di istana, Lili," sahut Arthur, suaranya terdengar parau. "Dunia tidak mengizinkan kita memiliki kehangatan seperti itu."
"Maka dari itu kita bisa membuatnya untuk anak kita nanti!" Lilianne berseru, matanya berkilat penuh harapan yang berani. "Saya yang akan mengajarkan kasih sayang padanya. Saya yang akan menunjukkan bahwa dia bisa dicintai tanpa harus mengorbankan orang yang dia sayangi. Saya ingin dia tumbuh tanpa rasa takut bahwa orang tuanya akan memanfaatkannya sebagai pion."
Lilianne mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya meraih ujung jubah Arthur yang kasar. "Bolehkah saya melakukannya, Arthur? Bolehkah saya menciptakan dunia kecil di dalam Sayap Timur itu, tempat di mana hanya ada kita dan dia? Tanpa ada bayangan Kaisar, tanpa ada bayangan pengkhianatan?"
Arthur menatap tangan Lilianne yang menyentuh jubahnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa diserang bukan oleh pedang, melainkan oleh sebuah visi tentang kehidupan yang tidak pernah ia berani impikan. Ia mendekat kembali ke ranjang, berlutut di lantai agar wajahnya sejajar dengan Lilianne.
Ia mengambil tangan Lilianne, mengecup punggung tangannya dengan napas yang hangat namun penuh tekanan. "Jika kau sanggup menciptakan dunia seperti itu, maka lakukanlah. Aku akan membangun tembok setinggi mungkin untuk melindunginya. Aku akan membunuh siapa pun yang mencoba merusak dunia kecil yang kau buat."
"Bahkan jika orang itu adalah ayah Anda sendiri?" pancing Lilianne dengan suara berbisik.
Mata Arthur menggelap, kilatan kegilaan yang posesif kembali muncul. "Terutama jika itu adalah dia. Takhta itu adalah milikku, dan anak yang kau kandung adalah masa depanku. Siapa pun yang mencoba menghalangi kebahagiaan yang kau janjikan ini... akan kuhancurkan."
Lilianne menatap wajah Arthur yang berada sangat dekat. Ia melihat seorang pria yang begitu haus akan cinta namun tidak tahu cara memilikinya tanpa merantai orang yang ia cintai. Lilianne sadar, ia sedang menanam benih di dalam hati sang monster—sebuah benih yang mungkin bisa menjadi jalan keluarnya, atau justru akan mengikatnya lebih erat dalam kegilaan Arthur.
"Tidurlah lagi," perintah Arthur, menyelimuti Lilianne hingga sebatas dada. "Kita akan tinggal di desa ini tiga hari lagi. Aku ingin kau benar-benar kuat sebelum kita kembali ke neraka yang kau sebut istana itu."
Lilianne memejamkan matanya, berpura-pura tertidur. Di balik kelopak matanya, ia membayangkan wajah anak-anak desa tadi. Ia telah membuat janji pada dirinya sendiri: jika ia tidak bisa membawa dirinya keluar dari kegelapan ini, maka setidaknya ia akan memastikan bahwa anak di rahimnya tidak akan pernah merasakan dinginnya marmer Valerieth yang berlumuran darah.
Di sampingnya, Arthur tetap terjaga, memandangi wajah tidur Lilianne dengan obsesi yang kian murni. Baginya, janji Lilianne tentang keluarga kecil yang hangat adalah candu baru yang lebih memabukkan daripada kekuasaan mana pun.
Bersambung...
entah kenapa
komen ini hilang