Pernah di khianati oleh Wanita yang dicintainya, Membuat Kaivan menutup hati pada semua wanita karena rasa traumanya.
Tapi siapa yang menyangka, Kalau dia harus terseret dalam hubungan percintaan putri majikannya. Kaivan harus diminta menggantikan sang calon pengantin pria yang merupakan asisten majikannya itu dalam sebuah pernikahan yang telah disiapkan.
"Kamu yang telah mengakadku.. Dalam pernikahan ini, Tidak ada suami pengganti atau suami rahasia.. Mulai sekarang kamu adalah suamiku yang sah.." Raisha Azzaira Pangestu.
"Aku berjanji akan menjaga pernikahan ini dengan baik. Dan aku juga akan berusaha belajar mencintaimu.." Kaivan Anugerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Pria
"Kok cuma dibaca sih? Raisha gak balas pesanku sama sekali.." Ajeng kesal karena Raisha tak membalas pesannya tadi. Padahal Ajeng ingin Raisha membalasnya lalu menghinanya. Agar hinaan itu bisa di perlihatkan pada Hans nanti. Namun sampai sekarang pedan tersebut hanya dilihat dan dibaca tanpa ada balasan satu kata pun.
"Aku tahu, Mungkin sekarang Raisha sedang menangis dikamarnya.. Dia pasti..
Ting
Tong
"Siapa?
Ting
Tong
Ajeng terperanjat, Wanita itu bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Matanya menatap Hans yang sudah tak mendengar apapun.
Ting
Tong
"Ck, Siapa sih? " Kesal Ajeng berlalu keluar dari kamarnya dengan memakai kimono pakaian tidurnya.
Ting
Tong
Ting
Tong
Ting
Tong
"Ya, Sebentaaarr!!!" Dengan buru-buru Ajeng berlari kedepan lalu membuka pintu.
Ceklek..
Tak ada orang disana, Ajeng celingukan melihat sekitar namun tetap tak melihat siapapun.
"Gak ada orang..." Perasaan Ajeng mulai tak nyaman.
"Ada orang disana?"
Sepi!
Tak ada suara apapun, Depan rumah tersebut sepi tak ada siapapun.
"Menyebalkan.. " Ajeng memutar tubuhnya hendak masuk namun seseorang membungkam mulutnya dari belakang.
"Eemmmm... Emmmm.."
"Diam!!" Ajeng dibawa masuk oleh pria yang berpakaian serba hitam yang entah siapa.
BRAAAK!
Pintu tertutup dengan kasar. Ajeng diseret kemudian dihempaskanlah tubuh ramping Ajeng ke atas sofa.
Bugh!
"Aaawwss...." Ajeng meringis dan langsung menatap tajam pria yang yang berada dihadapannya itu.
"Arvin! Ternyata kau...
"Sstttt... Jangan berisik.. " Pria yang bernama Arvin itu mengungkung tubuh Ajeng membuat wanita itu sulit untuk bergerak.
Tatapan mata pria itu terlihat sangat nakal. Ajeng memalingkan wajahnya dengan emosi.
"Arvin..
"Kenapa? Satu bulan ini kau tidak bisa dihubungi.. Ada apa? Apa karena pria itu?" Ajeng berontak namun Arvin semakin erat mencengkram kedua pergelangan tangan Ajeng agar wanita itu diam.
"Kau tahu, Kalau bukan karena rencanaku.. Kau tidak akan bisa masuk kedalam keluarga ini.." Ajeng tersenyum sinis, Lalu melu-dahi wajah Arvin.
"Heehh.." Arvin mengusap wajahnya, Tak ada raut kemarahan dari wajahnya. Ajeng terdiam seolah menahan gemuruh didadanya. Nafasnya naik turun, Arvin yang melihat itu menggigit bibirnya. Matanya tak lepas menatap dua buah milik Ajeng dibalik pakaian tipis itu.
"Sepertinya kau tidak butuh aku lagi Ajeng.. Sepertinya hanya pria itu yang membuatmu bahagia.." Ucap pria itu. Ajeng mendorong kasar tubuh Arvin. Pria itu mundur beberapa langkah..
"Ya, Aku benci denganmu Vin.. Kau tahu, Kau hanya terus berjanji berjanji dan berjanji.. Bahkan sampai sekarang usia Haura sudah enam tahun kau sebagai ayahnya tidak pernah memberikannya kasih sayang barang sedikitpun .. Kau itu pria yang masih bersembunyi dibalik ketiak ibumu! Dan sekarang kau bicara tentang Hans? Lihat? Dua pria itu.. Bram dan Hans, Mereka memberikanku apa yang tidak bisa kau berikan... Kasih sayang, Kehangatan dan..
Arvin terdiam mendengar ucapan Ajeng yang dimana wanita itu melepas seluruh unek-uneknya.
Ya, Ajeng memang terlahir dari keluarga yang cukup sederhana. Sejak kecil ia tinggal di pinggiran kota. Ditempat yang bisa dibilang sangat sederhana dan jauh dari kemewahan. Ibunya meninggal saat ia masih duduk dibangku SMA. Wanita itu hanya tinggal bersama ayahnya saja..
Namun ayah Ajeng tak patah semangat. Ajeng di biayai oleh ayahnya hingga sampai ke perguruan tinggi. Usai lulus kuliah, Ajeng mendengar kabar bahwa ayahnya meninggal ditempat kerjanya.
Akhirnya Ajeng sudah tak punya siapapun lagi. Wanita itu sebatang kara tanpa ada sodara siapapun.
Setelah kedua orang tuanya meninggal, Ajeng pergi untuk bekerja. Dan sejak saat itulah ia bertemu dengan Bram dan menjalin hubungan.
Bersama Bram, Ajeng sangat bahagia. Bunda Fatimah dan Ayah Mansyur sangat menyayangi Ajeng dan menerima wanita itu apa adanya.
Kedua orang tua Bram tak pernah memandang Ajeng sebelah mata. Hingga suatu hari, Ajeng yang sejak kecil hidup dalam keadaan kondisi ekonomi yang kurang bertemu dengan Arvin.
Arvin termasuk pria yang berada. Pria itu punya beberapa cabang cafe diusianya yang tak lagi muda.
Dengan kesadaran penuh Ajeng meninggalkan Bram kemudian melanjutkan hubungannya dengan Arvin.
Hubungan keduanya cukup lama, Arvin berjanji akan menikahi Ajeng. Tapi siapa yang menyangka, Ibu Arvin menentang keras hubungan putranya dengan Ajeng.
Ajeng dihina, Dicaci maki. Perbedaan kasta salah satunya jadi masalah. Arvin tak bisa melawan ibunya karena seluruh harta keluarga masih tercatat atau nama ibunya.
Hingga pada akhirnya Arvin dijodohkan dengan perempuan lain. Ajeng mundur, Dia menemui Bram dan meminta maaf pada pria itu. Niat hati mendekati Arvin agar menjadi Nyonya orang kaya harus gagal dengan hubungan yang tanpa restu.
Dengan menjual kesedihannya, Ajeng berkata pada Bram bahwa dia telah bercerai dengan Arvin karena kasus KDRT. Padahal sebenarnya Ajeng dan pria itu belum menikah sama sekali.
Ajeng mengatakan semua itu sebagai alasan karena Ajeng sudah tak gadis lagi. Kesucian wanita itu telah Arvin renggut.
Bram yang masih punya rasa terhadap Ajeng pun dengan suka rela memaafkan wanita itu. Keduanya menjalani hubungan kembali setelah dua tahun berpisah.
Tak lama, Ajeng hamil. Wanita itu hamil anak Arvin. Di usia kandungan yang masih muda Ajeng tentu saja panik. Kalau dia ketahuan hamil maka Bram tidak akan mau dengannya.
Dengan akal liciknya akhirnya Ajeng berhasil menjebak Bram. Jebakan tersebut Ajeng lakukan agar bayi yang ia kandung punya status.
Dan memang benar, Selang satu bulan Ajeng berhasil menjebak Bram wanita itu mengaku hamil anak Bram. Bram yang mengira Ajeng telah hamil anaknya pun langsung tanggung jawab. Tujuan Ajeng pun terwujud meski sampai sekarang wanita itu di bayangi oleh Arvin dari kejauhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"PERGI!! Jangan temui aku dan Haura lagi.. Haura itu bukan anakmu!!" Teriak Ajeng. Namun Arvin hanya terkekeh melihat kemarahan wanita itu.
"Ajeng.. Haura itu anakku.. Dia adalah putriku, Bukan anak Bram. Bahkan wajahnya pun sangat mirip denganku.. Kau tidak bisa mengelak Ajeng.." Arvin kembali mengungkung tubuh itu. Bahkan wajah keduanya sangat dekat tak berjarak sama sekali.
"Pergi!!
Ajeng lagi-lagi mendorong tubuh itu. Ajeng juga melayangkan tamparan keras pada pipi pria itu.
PLAAAK!
"Pergilah Arvin.. Pergi..
"Hahaha.. Ajeng.. Ingat, Rahasia terbesar mu ada padaku sayang.. Saat kau hamil Haura, Saat itu juga kau menjebak Bram agar bocah itu punya ayah dan status.. Dan sekarang kau menjebak adiknya.. Ckckck, Sungguh kau licik sekali Ajeng." Dada Ajeng naik turun, Wanita itu berdiri menatap nyalang serta menunjuk Arvin.
"Iya.. Memang aku melakukan semua itu karena aku ingin Haura punya ayah dan status.. Dan jangan salahkan aku kalau Haura lebih dekat dengan mereka.. Karena itu salahmu. Kau yang tidak bisa tegas Arvin.. Kau selalu menuruti apa yang ibumu mau.. Kau Eummhh...
Ucapan Ajeng terhenti setelah pria itu membungkam mulutnya. Ajeng berontak, Namun lama kelamaan Ajeng luluh juga akan ciu-man panas tersebut.
"Aaah... Euumhhh..." Arvin menyeringai. Ternyata benar wanita itu selalu tak tahan digoda seperti ini.
"Arr... Eeummhh...Aaaah..
"Kita lanjutkan didalam sayang.." Bisik pria itu seraya mengangkat tubuh Ajeng kedalam gendongannya. Ajeng menurut, Bahkan ciu-man keduanya tak lepas sama sekali sampai mereka berada didalam kamar.
Bugh!!
"Arvin!!" Tubuh Ajeng terhempas diatas ranjang miliknya. Wanita itu menoleh ke arah Hans yang masih terlelap.
"Dia pulas sekali.. Kau pintar sekali sayang telah membuatnya tidur senyenyak ini.." Dengan kondisi tubuh polos tanpa benang akhirnya Ajeng dan Arvin melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lalukan. Dibalik kenik-matan itu ada Hans yang menjadi saksi bisu keduanya meski dalam keadaan tertidur pulas.
•
•
•
TBC
Aku dah gk sabar nunggu hari H nya prnikahan kai dan hancurnya Hans🤣🤣🤣
lanjut kak