Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matahari atau Es?
Udara sore di pusat kota Aurelia terasa sedikit lebih bersahabat, namun tidak bagi pikiran Aurora.
Setelah rentetan kejadian di museum, ia memutuskan untuk keluar sendirian. Mengenakan gaun sutra berwarna merah jambu dan topi cloche yang senada, Aurora berjalan menyusuri trotoar berbatu, mencoba mencari ketenangan di antara kebisingan trem yang lewat.
Langkahnya terhenti di depan sebuah etalase toko buku tua.
Aurora menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di kaca.
Ia tampak lelah, meski riasannya menutupi segalanya dengan sempurna.
"Berjalan sendirian dengan tatapan sekosong itu bisa mengundang orang jahat untuk mendekat, Nyonya Valehart."
Aurora sedikit terlonjak.
Ia menoleh dan menemukan sosok Adrian Morel berdiri beberapa langkah darinya. Adrian tampak sangat tampan sore itu dengan setelan tweed berwarna cokelat tua. Ia memegang topi fedora-nya di depan dada, sebuah tanda hormat yang sangat sopan.
"Tuan Morel," sapa Aurora, mencoba mengatur ekspresi wajahnya.
"Sepertinya Anda punya bakat untuk muncul di setiap sudut kota ini."
Adrian terkekeh rendah, suara bariton yang entah kenapa terdengar lebih menenangkan dibanding kebisingan kota.
"Mungkin itu insting seorang pengacara. Kami dilatih untuk berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat."
Adrian melangkah sedikit lebih dekat, namun tetap menjaga jarak yang sangat sopan. Ia tidak menyentuh Aurora, namun tatapannya seolah sedang membedah setiap kegelisahan di wajah wanita itu.
"Anda terlihat sedang memikul beban yang sangat berat di pundak Anda. Jika saya boleh jujur, Anda terlihat... butuh bernapas sejenak."
Aurora membuang muka, tersenyum getir.
"Begitulah hidup di keluarga Ashford, bukan? Selalu ada drama yang tidak pernah berakhir."
Adrian tidak membiarkan percakapan itu menggantung.
Ia sedikit memiringkan badannya, menunjuk ke arah sebuah kedai teh kecil di ujung jalan dengan gerakan tangan yang elegan.
"Ada sebuah kedai teh kecil di sana. Mereka punya teh Earl Grey terbaik dan suasana yang tenang. Saya tidak bermaksud lancang, tapi mungkin secangkir teh panas bisa membantu Anda sedikit lebih rileks sebelum kembali ke kesibukan Anda."
Aurora sempat ragu, namun sorot mata Adrian yang tulus—dan sedikit memohon—membuatnya luluh.
"Hanya secangkir teh, Tuan Morel."
"Tentu saja, Nyonya Valehart," balas Adrian dengan senyum tipis yang mempesona.
Mereka berjalan berdampingan menuju kedai teh itu, namun tanpa kontak fisik sama sekali. Adrian berjalan di sisi luar trotoar, menjaga posisi untuk melindungi Aurora dari keramaian jalanan, sebuah gestur klasik pria terhormat.
Di dalam kedai teh yang bernuansa art deco itu, suasana terasa sangat intim meski mereka duduk berseberangan.
Adrian mulai menanyakan hal-hal personal—tentang hobi melukis Aurora hingga kenangan masa kecilnya yang jauh dari konflik warisan.
"Tahukah Anda?" Adrian berkata sambil mengaduk tehnya perlahan.
"Terkadang saya merasa kita memiliki kesamaan. Kita berdua terjebak dalam ekspektasi orang lain. Saya dengan firma hukum ayah saya, dan Anda dengan warisan Ashford yang begitu besar."
Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Aurora dengan intensitas yang berbeda. Ia tidak mencoba menyentuh tangan Aurora, namun ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja, memperpendek jarak bicara mereka.
"Tapi saya ingin Anda tahu satu hal."
"Di luar urusan legal dan kontrak yang sedang saya tangani... saya sangat peduli dengan ketenangan hati Anda. Anda layak untuk bahagia, bukan hanya sekadar bertahan hidup di tengah badai keluarga Anda sendiri."
Kata-kata Adrian terasa seperti pelukan hangat yang tidak bisa diberikan oleh Lucien secara terang-terangan di tempat umum.
Aurora menatap uap yang mengepul dari cangkir tehnya, jari-jemarinya yang halus tampak gelisah memainkan pinggiran porselen. Pertahanan yang selama ini ia bangun di depan Lucien seolah mulai retak di hadapan kelembutan Adrian.
"Terkadang saya merasa... saya hanya sebuah aset yang sedang diperebutkan," bisik Aurora, suaranya nyaris hilang ditelan denting sendok dari meja seberang.
"Paman Moltemer menginginkan museum itu untuk kekuasaannya, dan saya? Saya terikat dalam sebuah perjanjian yang bahkan tidak melibatkan perasaan."
Adrian terdiam, mendengarkan dengan saksama. Ia tidak memotong, membiarkan Aurora mengeluarkan beban yang selama ini terpendam.
"Pernikahan dengan Lucien... Anda pasti sudah bisa menebaknya, Tuan Morel. Itu bukan karena cinta yang tumbuh di antara dua orang. Itu adalah kontrak. Sebuah kesepakatan bisnis untuk mengamankan warisan Ashford agar tidak jatuh ke tangan yang salah." Aurora tertawa getir, matanya mulai berkaca-kaca.
"Saya menukar kebebasan saya dengan keamanan sebuah gedung tua berisi lukisan."
Adrian meletakkan cangkirnya perlahan. Inilah momen yang ia tunggu. Inilah retakan dalam perisai Lucien Valehart yang ia cari.
Adrian mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang sangat intim, seolah dunia di sekitar mereka telah lenyap.
"Sebuah kontrak bisa dibatalkan, Aurora. Tapi waktu yang hilang tidak akan pernah kembali," ucap Adrian dengan nada yang sangat persuasif.
Ia menatap langsung ke dalam mata Aurora, memberikan tekanan emosional yang halus.
"Sangat menyakitkan melihat wanita secemerlang Anda harus terkunci dalam pernikahan dingin hanya demi sebuah status legal. Lucien Valehart mungkin bisa melindungimu dengan hartanya, tapi apakah dia bisa menghargai jiwa senimanmu? Apakah dia bisa melihat 'Aurora' yang sebenarnya, atau dia hanya melihat 'Nyonya Valehart' yang menjadi pelengkap di rumah besarnya?"
Adrian menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan simpati yang begitu dalam—atau setidaknya, itulah yang ia ingin Aurora lihat.
"Jika suatu saat nanti beban kontrak itu terasa terlalu berat untuk kau tanggung sendiri..." Adrian berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menggantung di udara.
"Ingatlah bahwa ada orang lain yang melihatmu bukan sebagai aset, melainkan sebagai manusia yang layak dicintai tanpa syarat."
Jantung Aurora berdegup kencang. Ia tahu ini berbahaya.
Ucapan Adrian adalah godaan yang sangat manis di saat ia merasa sangat kesepian. Adrian tidak hanya menawarkan bantuan hukum; dia menawarkan sebuah pelarian emosional yang selama ini tidak ia dapatkan dari Lucien.
Aurora terdiam.
Kata-kata Adrian yang manis itu seharusnya terdengar seperti nyanyian penyelamat di telinganya.
Namun, entah kenapa, saat Adrian menyebut bahwa Lucien hanya melihatnya sebagai "pelengkap", bayangan lain justru muncul di benak Aurora.
Ingatannya melayang kembali ke malam itu di mansion Valehart.
Malam di mana ia menemukan sebuah ruangan yang telah disiapkan Lucien khusus untuknya—lengkap dengan kanvas kosong, kuas-kuas mahal dari bulu terbaik, dan pencahayaan yang sempurna.
Ia teringat bagaimana Lucien berdiri di ambang pintu studio itu. Pria itu tidak bicara soal kontrak atau bisnis. Lucien hanya menatap salah satu sketsa mentah Aurora dan bergumam,
"Garis-garis ini... kau melukisnya dengan kemarahan, tapi warnanya menunjukkan harapan. Jangan biarkan siapapun menghapus warna itu dari tanganmu, Aurora."
Saat itu, Lucien tidak melihatnya sebagai Nyonya Valehart. Lucien melihat jiwanya.
"Tuan Morel," Aurora akhirnya bersuara, suaranya kini lebih stabil. Ia menjauhkan sedikit tubuhnya dari meja, menciptakan jarak yang lebih tegas.
"Anda benar, pernikahan ini dimulai dengan kontrak. Tapi Lucien... dia tidak sedingin yang dunia pikirkan."
Aurora menarik napas panjang, bayangan Lucien yang diam-diam memperhatikan hasil lukisannya memberikan kekuatan aneh.
"Dia mungkin tidak pandai berkata-kata manis, tapi dia orang pertama yang memberikan aku ruang untuk menjadi diriku sendiri saat keluargaku sendiri mencoba membungkamku."
Senyum di wajah Adrian goyah sesaat. Ia tidak menyangka Aurora akan membela pria yang selama ini dianggap sebagai monster dingin oleh publik Aurelia.
"Saya hanya tidak ingin Anda tertipu oleh kenyamanan materi, Aurora," sahut Adrian, mencoba memperbaiki narasinya.
"Ini bukan soal materi, Adrian," potong Aurora lembut namun tegas.
"Ini tentang siapa yang benar-benar menghargai apa yang ada di dalam kepalaku, bukan hanya apa yang ada di balik nama belakangku."
Aurora meletakkan beberapa keping koin di atas meja untuk bagian tehnya—sebuah tanda kemandirian yang jelas.
"Terima kasih atas tehnya, Tuan Morel. Tapi sepertinya aku sudah cukup 'bernapas'. Aku harus pulang. Suamiku mungkin akan mencariku."
Adrian terpaku di kursinya, memperhatikan Aurora yang bangkit berdiri dengan keanggunan seorang Ashford dan ketegasan seorang Valehart.
Rencana Adrian untuk masuk ke celah emosional Aurora baru saja menabrak dinding yang tidak ia duga: Rasa hormat Lucien terhadap seni Aurora.
......................
Mobil hitam mewah yang menjemput Aurora akhirnya berhenti tepat di depan pilar besar mansion Valehart. Aurora turun dengan pikiran yang masih sedikit berkecamuk setelah pertemuannya dengan Adrian. Ia merapatkan mantelnya, melangkah masuk ke dalam foyer yang luas dan biasanya sunyi.
Namun, langkahnya terhenti seketika.
Di sana, adalah Lucien.
Ia masih mengenakan setelan kerjanya yang rapi, namun jasnya sudah terbuka, menampakkan rompi gelap yang membungkus tubuh tegapnya. Ia sedang menyesap segelas minuman sambil menatap jam dinding besar yang berdentang pelan.
Aurora mengerutkan kening.
Ini baru pukul empat sore. Biasanya, Lucien tidak akan menampakkan batang hidungnya sebelum jam makan malam, atau bahkan lebih larut lagi.
"Kau sudah pulang?" suara bariton Lucien memecah keheningan, matanya yang tajam langsung mengunci pandangan Aurora.
"Kau... sudah di rumah?" Aurora bertanya balik, tak mampu menyembunyikan rasa herannya.
"Biasanya kau masih di kantor jam segini."
Lucien tidak langsung menjawab.
Ia berjalan mendekat, langkah sepatunya bergema di atas lantai marmer.
Aurora menyadari sesuatu—belakangan ini, Lucien selalu ada di sekitarnya. Saat Moltemer datang mengganggunya tempo hari, Lucien tiba-tiba muncul. Saat ia merasa lelah di museum, Lucien seolah tahu dan mengirimkan bantuan.
Kedinginan pria itu yang dulu terasa seperti tembok es, kini perlahan mulai mencair menjadi sesuatu yang lebih sulit didefinisikan.
Lucien kini lebih sering 'ada'.
"Pekerjaanku bisa diselesaikan di sini," jawab Lucien singkat, meski Aurora tahu itu hanya alasan.
"Kota sedang sedikit kacau belakangan ini. Aku lebih tenang jika tahu istriku sudah berada di dalam rumah sebelum matahari terbenam."
Lucien berdiri tepat di depan Aurora, cukup dekat hingga Aurora bisa merasakan aura dominannya yang menenangkan, bukan lagi mengancam.
Tatapan Lucien menyapu wajah Aurora, seolah sedang mencari tanda-tanda apakah ada sesuatu yang mengganggu wanitanya selama ia keluar tadi.
"Kau terlihat lelah. Apa jalan-jalanmu tadi tidak membantu?" tanya Lucien, suaranya melembut—sebuah nada yang tidak pernah ia gunakan di awal pernikahan kontrak mereka.
Aurora terdiam sejenak.
Ia teringat kata-kata Adrian tadi tentang Lucien yang hanya menganggapnya aset. Namun melihat Lucien yang pulang lebih awal hanya untuk memastikan kehadirannya, Aurora tahu Adrian salah besar.
"Hanya sedikit mencari udara segar," jawab Aurora pelan.
"Terima kasih... karena sudah pulang lebih awal."
Sudut bibir Lucien berkedut sangat tipis, nyaris menyerupai senyuman yang belum selesai.
"Masuklah. Mandi air hangat sudah disiapkan. Aku akan menunggumu di ruang makan."
Saat Aurora berjalan melewatinya, ia merasa detak jantungnya sedikit tidak beraturan. Lucien benar-benar berubah, dan perubahan itu mulai meruntuhkan sisa-sisa keraguan di hati Aurora.
......................
Uap hangat memenuhi kamar mandi luas yang berlapis pualam putih itu. Aurora membenamkan tubuhnya ke dalam bak mandi berisi air hangat beraroma mawar, mencoba merelaksasi setiap sarafnya yang tegang. Ia menyandarkan kepala di tepian bak, menatap langit-langit ruangan yang berhias ukiran rumit.
Namun, pikirannya malah melayang kembali ke foyer tadi. Wajah Lucien yang menunggunya, tatapan matanya yang sedikit melembut, dan bagaimana pria itu seolah tahu kapan ia harus berada di rumah.
Wajah Aurora tiba-tiba terasa panas.
Rona merah merambat dari leher hingga ke pipinya yang basah. Bayangan Lucien yang berdiri tegak dengan lengan kemeja sedikit digulung tadi benar-benar menolak untuk pergi dari kepalanya.
Astaga, kenapa aku harus memikirkannya seperti itu?
Aurora segera mengangkat kedua tangannya, lalu—PLAK! PLAK!—ia menepuk kedua pipinya dengan keras sampai suara tepukannya bergema di kamar mandi.
"Sadar, Aurora! Sadar!" gumamnya sambil menggelengkan kepala dengan cepat hingga air memuncrat ke mana-mana.
Ia memejamkan mata erat-erat, mencoba menghapus bayangan Lucien.
"Jangan konyol. Ini bukan salah satu novel romantis murahan yang sering dibaca para gadis di luar sana. Kau tahu, tipe cerita di mana kontrak pernikahan tiba-tiba berubah jadi cinta sejati karena si pria kaya ternyata punya hati lembut? Cliche sekali."
Aurora mendengus, menyiram wajahnya dengan air dingin seolah-olah sedang membilas kewarasannya yang sempat goyah.
"Maaf saja ya bagi siapa pun yang mengharapkan aku tersipu dan jatuh cinta hanya karena dia pulang lebih awal," gumamnya sinis pada dirinya sendiri, seolah sedang menyindir pembaca tak kasat mata yang menyorakinya.
"Hidupku ini drama legal, bukan bacaan romantis penuh bunga-bunga. Aku tetap pada prinsipku: Ini tetap kontrak. Titik."
Ia mencoba memasang wajah serius dan tegak, namun sedetik kemudian, ia kembali teringat bagaimana suara bariton Lucien memanggil namanya tadi.
"Tapi... suaranya tadi memang agak sedikit berbeda, kan?"
Aurora langsung membenamkan seluruh wajahnya ke dalam air. "Tenggelamkan saja aku sekarang kalau aku sampai memikirkan suaranya lagi!"