Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.
Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…
Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.
Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.
Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…
Akan merasakan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Aku Memilihmu, Apapun Resikonya.
Pagi itu, Mahadirka masih terlelap, napasnya teratur dan damai. Tangan pemuda itu masih melingkari tubuh Viera, seolah tanpa sadar memeluk dengan takut kehilangan seseorang yang kini menjadi satu-satunya tempatnya bergantung setelah kepergian ayahnya yang begitu mendadak.
“Mahadirka… bangun,” suara Viera lembut, seperti bisikan yang membelai telinganya.
Mahadirka perlahan mengerjapkan mata. Saat kesadarannya kembali dan ia mendapati dirinya berada dalam pelukan Viera, wajahnya langsung memanas. Ia tersentak kecil lalu bangkit tergesa, hampir terjatuh dari sisi ranjang.
“Eh… Bu Viera, saya maaf. Kok saya bisa tidur di samping Anda?” katanya gagap, pipinya merah menyala.
Viera menghela napas kecil. Tidak ada kemarahan. Tidak ada kebingungan. Hanya ketenangan.
“Mahadirka, dengarkan saya baik-baik. Mulai sekarang, kamu adalah tanggung jawab saya. Kamu tidak perlu merasa canggung… atau takut pada saya.”
Mahadirka terdiam, menunduk, tidak tahu harus memberi respons apa.
“Setelah ini,” lanjut Viera, “kamu ikut saya ke Italia. Kita pulang ke keluarga saya.”
Mahadirka menggeleng pelan, gerakannya ragu.
“Tapi, Bu Viera… saya lebih nyaman di sini. Saya sudah terbiasa… apalagi kalau ada Anda.” Suaranya lirih, malu-malu.
Viera menatapnya dengan sorot mata yang membuat jantung siapa pun bisa berhenti berdetak.
“Aku tidak suka hidup sendirian. Kamu harus ikut dengan saya, Mahadirka. Dan… saya ingin memperkenalkanmu kepada keluarga.” Ia berhenti sejenak. “Sebagai calon suami saya.”
“Deg.”
Kata itu menggema di kepala Mahadirka. Pemuda itu langsung membeku seperti patung.
“Bu… Viera? Maksud Anda apa?” suaranya bergetar hebat. “Saya ini… hanya mahasiswa Anda…”
Viera menatapnya lebih dalam, lebih jujur.
“Saya tidak sedang bermain-main, Mahadirka. Sejujurnya, sejak kamu memberikan lukisan itu… sejak kamu berani mengungkapkan perasaanmu… ada sesuatu dalam diri saya yang berubah.”
Ia mendekat beberapa sentimeter, membuat Mahadirka menahan napas.
“Dan saat saya melihat kamu hampir dipukul… saya sadar satu hal. Saya tidak bisa melihat seseorang yang saya sayangi disakiti.”
Mahadirka membeku. Dadanya bergetar menahan debaran.
“Orang yang saya cintai… adalah kamu, Mahadirka Wijaya.”
“Bu Viera… saya…” Kata-kata tercekat di tenggorokannya.
Viera mengangkat kedua tangannya, menangkup wajah Mahadirka dengan lembut, lalu menempelkan bibirnya pada bibir pemuda itu.
Awalnya Mahadirka kaget, namun perasaan yang selama ini ia pendam ikut mendorongnya membalas ciuman itu. Nafas mereka saling bertaut, tersengal saat ciuman itu berakhir. Viera mengecup keningnya, lalu memeluknya erat, seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi.
“Kita pulang ke Italia. Saya ingin memperkenalkanmu kepada keluarga saya sebagai seseorang yang saya cintai.”
Air mata Mahadirka tiba-tiba jatuh, tanpa bisa ia tahan.
“Saya cinta Anda… saya sangat cinta Anda, Viera. Saya takut kehilangan Anda… saya tidak ingin sendirian lagi…”
Ia memeluk Viera lebih erat lagi, seolah pelukan itu dapat menjahit semua luka masa lalunya. Viera hanya membelai rambutnya, membiarkan Mahadirka menangis sepuasnya, memuntahkan seluruh beban yang selama ini ia pendam sendirian.
Setelah beberapa lama, Mahadirka mulai tenang, meski matanya masih basah.
“Sekarang kita berkemas, ya? Kita pulang ke Italia,” ucap Viera lembut.
Beberapa jam kemudian, mereka berangkat menggunakan pesawat pribadi milik keluarga besar William Anderlecht.
Setelah bertahun-tahun menghabiskan hidup di Amerika, akhirnya Viera pulang kali ini dengan seseorang yang mengisi hatinya.
Pesawat mendarat mulus di halaman kediaman keluarga mereka, sebuah mansion besar yang tampak megah.
“Ding dong.”
Pintu utama terbuka. Seluruh anggota keluarga besar sudah berkumpul, seolah telah menunggu kedatangan seseorang yang lama hilang dari rumah.
“Kakek, nenek, Tante, Ibu, Ayah, Paman…” Viera tersenyum, hangat namun bergetar karena rindu.
“Viera, sayang… apa kabar?” tanya mereka serempak.
“Viera baik, Kek.”
Namun segera perhatian mereka beralih pada pemuda yang berdiri di samping Viera, tampak canggung namun sopan.
“Siapa pemuda itu?” tanya Heron, sang kepala keluarga.
Viera meraih tangan Mahadirka, menggenggamnya kuat.
“Dia Mahadirka Wijaya. Mahasiswa saya… dan calon suami saya.”
“APA?!”
Seluruh keluarga hampir berteriak bersamaan.
“Iya,” ulang Viera tenang. “Dia akan menjadi suami saya.”
Ruangan itu langsung sunyi. Tidak ada suara, bahkan napas pun terasa menahan diri.
“Apakah Kakek tidak setuju?” tanya Viera tenang, tanpa gentar.
Heron menghela napas pelan lalu tersenyum tipis.
“Kakek setuju, sayang.”
Viera langsung menoleh ke arah orang tuanya.
“Ayah… Ibu…?”
Sean dan Laura saling berpandangan, lalu tersenyum lembut.
“Kami tidak bisa menolak apa pun yang membuatmu bahagia,” ucap Sean dengan suara tegas namun hangat.
“Benar. Kamu sudah dewasa, Viera. Kamu tahu apa yang kamu pilih,” tambah Laura.
Viera langsung memeluk mereka berdua erat-erat. Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
“Aku tidak menyangka… kalian mau merestui hubungan ini.”
“Yang penting kamu bahagia,” jawab Laura sambil mengusap rambutnya.
“Hei, Viera!” suara lain memanggil.
Viora muncul sambil menggandeng suaminya, Robert, dengan senyum nakal.
“Cepat amat, ya? Dulu bilang belum mau menikah, sekarang pulang bawa calon suami.”
Viera hanya tersenyum kecil.
“Semuanya berbeda sekarang. Aku sudah menemukan orang yang kucari.”
“Kakak!” Dirgantara menghampiri dan memeluk Viera dengan keras.
“Kakak baru sampai?”
“Baru saja,” jawab Viera, tersenyum. “Dirgantara, kenalkan. Ini Mahadirka… calon suami kakak.”
Dirgantara menatap Mahadirka, lalu tersenyum ramah.
“Halo, Kak Mahadirka. Saya Dirgantara William Anderlecht.”
“H-Halo…” jawab Mahadirka gugup, namun tetap sopan.
Heron kemudian berdiri dan mengumumkan dengan suara mantap.
“Baiklah. Besok kita akan menggelar pernikahan Viera dan Mahadirka.”
“Baik, Ayah. Serahkan semuanya pada saya,” jawab Sean mantap. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk putri yang sangat ia cintai.
Heron tersenyum bangga.
“Selama itu demi kebahagiaan keluarga kita… Ayah akan selalu mendukung.."