Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Aku berharap keputusan ku ini benar, aku capek jika harus pura-pura baik-baik saja. Kubuka kaca pintu mobil ku hirup udara segar dari kebun teh yang kami lalui dan ku buang dengan kasar berharap beban di dada ku hilang. Tangan Galang memegang tangan ku membuat aku berbalik melihat ke arah nya.
"Semuanya akan baik-baik saja, " Senyum manis Galang membuat aku bahagia.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama akhirnya kami pun tiba di rumah dan mama menyambut aku dengan bahagia. Aku pun masuk dan langsung istirahat karena lumayan capek juga. Namun tiba-tiba ponsel Galang berdering dan melihat dari raut wajah Galang sepertinya terjadi sesuatu.
"Ada apa bang? " tanya ku sambil menghampirinya.
"Tunangan Lia kecelakaan, om Ilham minta aku buat selidiki kejadian itu karena dia merasa ada yang janggal, " jawab Galang dengan raut wajah bingung karena Galang janji gak akan terlibat lagi dalam urusan seperti itu.
"Pergi saja bang, om Ilham mungkin lebih percaya pada abang, " aku memegang tangan Galang dan tersenyum lebar.
"Tapi aku udah janji sama kamu gak akan terlibat lagi, " balas Galang.
"Kali ini Saja bang, toh ini buat Lia juga, " Galang pun akhirnya mengangguk dan dia langsung pergi setelah pamitan dan tidak lupa mengecup kening ku.
Aku pun merebahkan tubuhku krena capek juga bahkan aku sampai ketiduran kalau saja mama tidak membangunkan ku mungkin aku bakal terus tidur.
"Aduh ma, aku minta maaf, " ucap ku merasa tak enak.
"Gak apa-apa sayang, mama bangunkan kamu buat makan malam, " balas mama sambil tersenyum.
Aku pun melirik jam ternyata sudah jam delapan malam dan Galang belum pulang.
"Galang di rumah sakit, tadi dia ngasih tau mama. Mungkin mau hubungi kamu tapi gak di angkat, " beritahu mama dan aku pun langsung mengambil ponselku untuk mengecek ternyata benar banyak panggilan masuk dari Galang.
"Aku mandi dulu ma, nanti turun buat makan. Mama sama papa makan duluan saja, " ucap ku lalu turun dari tempat tidur.
"Ya udah kalau gitu mama ke bawah, " ucap mama dan langsung keluar kamar, aku langsung masuk kamar mandi.
Setelah selesai makan aku pun turun dan langsung ke meja makan. Selesai makan aku duduk di ruang kelurga bersama mama dan papa. Mama sama papa menanyakan kabar orang tua ku dan aku menjawab seperlunya tidak memberitahu kejadian di sana.
"Sudah malam kamu tidur sana! " titah mama dan aku pun mengangguk lalu naik ke atas.
Karena gak bisa tidur akhirnya aku hanya bermain ponsel dan gak kerasa sudah jam sepuluh malam dan Galang belum pulang. Aku pun mencoba menghubunginya namun tidak di angkat. Aku pun mencoba menghubungi Lia. Lia mengangkat telepon ku dan aku pun langsung menanyakan Galang namun jawaban Lia membuat aku kaget. Lia bilang kalau Galang tidka di rumah sakit dia pergi bersama om Ilham. Hati ku mulai gelisah karena aku takut terjadi sesuatu sama dia apa lagi dia baru pulang dari permainan jauh pasti lelah. Sampai jam dua belas malam aku mendengar suara motor Galang aku pun keluar dan melihat ternyata benar, aku langsung lari turun ke bawah dan Galang baru saja masuk aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya erat.
"Ada apa? " tanya nya sambil mengusap rambutku.
"Kenapa baru pulang? " tanya ku balik dengan khawatir.
"Aku temani om Ilham ke kantor polisi buat laporan, " jawab nya.
"Bener abang gak bohong?, aku khawatir bang sekarang udah tengah malam, " kesal ku.
"Maaf, abang gak tepat janji. Abang gak enak sama om Ilham makanya temani dia, " tersenyum manis lalu merangkul ku dan naik ke kamar.
"Kamu tidur saja, aku mandi dulu, " ucapnya lalu masuk ke kamar mandi.
Aku terus menunggu Galang sampai akhirnya di keluar dengan hanya memakai celana pendek dan handuk di lehernya.
"Kok gak tidur? " tanya nya sambil mengambil baju di lemari namun pandangan ku langsung tertuju ke arah punggung Galang yang terluka.
Aku pun menghampirinya dan menyentuh luka itu membuat Galang meringis kesakitan.
"Kok abang bisa luka? " tanya ku dengan nada marah.
"Luka lama, " jawab nya langsung memakai baju.
"Abang bohong, sini, " tarik ku dan menyuruh Galang duduk di pinggir tempat tidur.
Aku mengambil kotak obat lalu mengobati luka Galang dengan meneteskan air mata. Galang langsung berbalik dan memegang wajah ku.
"Aku minta maaf, udah buat kamu khawatir, " lirih nya.
"Aku takut abang terluka , " ucap ku.
"Aku janji, tidak akan melakukan ini lagi, " janjinya sambil memeluk ku.
"Aku tau ini sudah tanggung jawab abang, apa lagi yang kena masalah keluarga kita, kita gak bisa diam saja, " aku pun terisak sambil menatap Galang.
"Sebenarnya aku sudah gak bisa menghindar dari kerjaan ini karena musuh om Ilham sudah tahu aku walau aku berhenti ancaman itu masih ada, " beritahu Galang dan aku sangat mengerti.
"Aku gak akan melarang abang untuk tetap ikut om Ilham, hanya saja aku cuman minta sama abang jangan memaksakan diri buat melawan mereka jika sudah buntu, " nasehat ku membuat Galang tertawa.
"Aku senang karena kamu mengkhawatirkan aku, tapi justru yang aku takutkan itu kamu, aku takut mereka bakal jadikan kamu kelemahan ku karena kamu istri ku, " Galang menatap ku dengan khawatir.
Galang memandangku dengan tatapan yang gak bisa aku artikan. Dia memajukan wajahnya lalu berbisik di telingaku.
"Boleh? " tanyanya membuat aku kaget dan melihat ke marahnya sampai akhirnya bibir ku menyentuh bibirnya.
Aku pun hendak mundur namun Galang malah menahan ku dan dia mulai beraksi. Walau bukan yang pertama tapi entah kenapa aku masih merasa canggung.
Paginya saat aku bangun entah kenapa tiba-tiba aku merasa perut ku sakit bahkan untuk berjalan pun aku gak sanggup. Aku pun membangunkan Galang namun Galang tidak langsung bangun sampai akhirnya aku melemparnya pakai ponsel barulah dia bangun.
"Ada apa? " tanya nya.
"Sakit bang, " jawab ku memegang perut ku.
Galang langsung mendekati ku setelah memakai baju.
"Kenapa bisa sakit? " tanya nya dengan khawatir.
"Aku gak tau bang, ".
Galang langsung menggendong ku turun dan saat di bawah mama langsung menghampiri kami.
" Ada apa? "dengan khawatir mama bertanya.
" Perut Alika sakit ma, "jawab Galang.
" Ya udah ayo biar papa yang nyetir"papa langsung keluar dan naik mobil.
Galang menurunkan aku di mobil dan dia duduk di sampingku yang sedang merasakan sakit. Kami pun tiba di rumah sakit dan aku langsung masuk ruangan pemeriksaan namun tiba-tiba pandangan ku kabur dan yang aku dengar hanya suara gunting.