NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Bayangan di Balik Gemerlap

Gemerlap lampu sorot Istora Senayan perlahan memudar di belakang, digantikan oleh sunyinya bus tim Black Viper yang membawa mereka kembali ke asrama. Di dalam bus, suasana seharusnya penuh dengan euforia. Mereka baru saja menghabisi tim peringkat atas, Red Storm, dalam pertandingan pembuka yang tak terlupakan. Namun, di kursi paling belakang, Reno hanya menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalanan Jakarta yang melesat cepat.

Pikirannya masih tertuju pada sosok bertopi hitam di barisan penonton tadi. Sosok itu tidak bersorak saat Reno melakukan tembakan akrobatik yang membuat seisi stadion berdiri. Ia hanya diam, memberikan isyarat kecil yang terasa seperti peringatan daripada pujian. Reno sangat yakin, itu adalah Sakti.

"Reno, kamu melamun lagi? Kita baru saja mencetak sejarah sebagai tim debutan dengan penonton *streaming* terbanyak!" tegur Marco sambil menepuk bahunya. Marco sudah jauh lebih santai sejak Reno membuktikan kemampuannya, namun ia tetap merasa ada yang mengganjal dari sikap kapten mudanya itu.

"Aku hanya merasa ada yang aneh, Marco," jawab Reno pendek. "Sakti ada di sana tadi. Dia mengawasiku."

Ardi yang sedang duduk di kursi depan sambil meninjau statistik pertandingan di tabletnya seketika menoleh. Wajahnya yang tenang berubah serius. "Sakti? Kamu yakin? Dia tidak mungkin berani muncul di acara resmi setelah skandal pengaturan skor dua tahun lalu. Jika pihak penyelenggara tahu, itu akan menjadi masalah besar."

"Dia tidak muncul untuk pamer, Coach. Dia muncul untuk memberikan pesan," ucap Reno dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk Bimo merinding.

Sesampainya di asrama, sebelum mereka sempat melepas penat, pintu ruang utama terbuka lebar. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal dan jam tangan berkilau melangkah masuk dengan langkah mantap. Dia adalah Pak Darmawan, pemilik *franchise* Black Viper.

"Luar biasa! Benar-benar luar biasa, Phantom!" seru Pak Darmawan sambil menjabat tangan Reno dengan sangat erat. "Angka penonton melonjak 40% saat kamu melakukan aksi terjun bebas tadi. Sponsor-sponsor baru sudah mulai menelepon asistenku. Kamu bukan sekadar pemain sekarang, Reno, kamu adalah wajah baru industri ini. Kamu adalah tambang emas!"

Reno menarik tangannya pelan, merasa sedikit risih dengan istilah "tambang emas". Baginya, *e-sport* tetaplah tentang presisi, strategi, dan pembuktian diri, bukan sekadar komoditas untuk memuaskan laporan keuangan. Namun, inilah wajah asli dunia **Showbiz** yang kini ia tempati.

"Besok pagi, aku sudah mengatur jadwal wawancara eksklusif dengan tiga media besar," lanjut Pak Darmawan. "Dunia ingin tahu siapa anak warnet yang bisa menjatuhkan juara pro dengan satu ketukan. Pastikan kamu tampil rapi dan bicara soal 'perjuangan dari bawah'. Pembaca menyukai cerita seperti itu."

Setelah Pak Darmawan pergi, Ardi menghela napas panjang dan menatap Reno. "Inilah tantangan yang belum pernah kamu hadapi di warnet, Reno. Kamu akan dipaksa menjadi bintang, bukan hanya pemain. Banyak talenta besar hancur karena mereka lebih sibuk di depan kamera daripada di depan monitor. Jangan biarkan kamera-kamera itu merusak fokusmu."

Reno tidak menjawab. Ia langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Di dalam kesunyian kamar yang dingin, ia membuka laptopnya. Ia tidak membuka media sosial untuk melihat pujian penggemar, melainkan masuk ke *server* pribadi terenkripsi yang biasa digunakan oleh para pemain elit untuk berkomunikasi secara anonim.

Ada satu pesan baru dengan subjek yang sangat spesifik.

> [S]: Tembakan mid-air itu lumayan untuk menghibur orang awam. Tapi di peta berikutnya, 'Steel Foundry', trik seperti itu akan menjadi kuburanmu. Tim Golden Wyvern sudah mempelajari setiap milimeter gerakanmu. Mereka menyiapkan perangkap suara yang tidak akan bisa ditembus oleh instingmu. Jangan mati terlalu cepat, Phantom.

Reno menatap layar itu tanpa berkedip. "Steel Foundry," gumamnya. Itu adalah salah satu peta paling rumit di Liga Utama. Peta itu penuh dengan mesin pabrik yang berdentum keras, uap panas yang menghalangi pandangan, dan lantai logam yang membuat setiap langkah kaki terdengar sama. Di sana, insting pendengaran yang selama ini menjadi senjata rahasia Reno akan tumpul.

Ia teringat kata-kata Sakti di video lamanya: "Seorang predator tidak hanya mengandalkan telinga, tapi ia harus bisa 'merasakan' getaran di udara."

Reno segera berdiri dan keluar dari kamar. Ia menuju ruang latihan utama, lalu menyalakan lampu yang membuat Marco, Bimo, dan Leo yang sedang bersantai di sofa terlonjak kaget.

"Bangun! Kita tidak punya waktu untuk wawancara besok pagi," perintah Reno dengan nada otoriter seorang kapten.

"Reno, ini sudah jam satu pagi! Besok kita harus berangkat jam delapan!" keluh Leo sambil memeluk bantalnya.

"Jika kalian ingin tetap menjadi tim yang hanya 'beruntung' sekali, silakan tidur," ucap Reno sambil memakai *headset*-nya. "Tapi jika kalian ingin menang di Steel Foundry melawan Golden Wyvern yang sudah menyiapkan perangkap untuk kita, kalian harus mulai berlatih sekarang. Kita akan membedah setiap dentuman mesin di peta itu sampai kita bisa membedakannya dengan suara langkah kaki musuh."

Marco menatap Reno, melihat kobaran api di mata kaptennya yang biasanya dingin. Ia perlahan berdiri dan berjalan menuju PC-nya sendiri. "Yah, sepertinya kita tidak akan tidur malam ini. Bimo, Leo, cepat duduk. Jangan biarkan anak warnet ini berlatih sendirian."

Sepanjang malam hingga fajar menyingsing, ruangan itu hanya diisi oleh suara klik *mouse* dan instruksi singkat Reno. Dengan semangat "Anak Genius" yang membara, Reno memimpin rekan-rekannya melakukan simulasi yang melelahkan. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, baik itu Golden Wyvern maupun bayang-bayang masa lalu seperti Sakti, meruntuhkan takhta yang baru saja ia bangun.

Bagi Reno, satu ketukan adalah hukum yang ia ciptakan sendiri, dan ia akan memastikan hukum itu tetap berlaku, bahkan di tengah kebisingan pabrik baja yang paling tuli sekalipun. Perjuangannya masih panjang, dan ia tidak berniat untuk berhenti sebelum mencapai puncak dunia.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!