NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

**POV: ADELARD (Di Pinggiran Kota yang Berdebu)**

Suara mesin parutan kelapa dari pasar kaget di seberang jalan menjadi alarm alami bagi Adelard. Ia terbangun di atas kasur lipat tipis yang mengeluarkan bau apek. Langit-langit kontrakannya yang setinggi dua meter memiliki retakan panjang yang selalu meneteskan air setiap kali hujan turun. Adel tidak mengeluh. Ia bangkit, membasuh wajahnya dengan air keran yang sering kali berbau kaporit tajam, dan langsung menyalakan laptop tua satu-satunya harta yang tersisa.

Hari ini adalah bulan ketiga sejak ia meninggalkan Mansion Mahendra.

"Fokus, Adel. Jangan biarkan perutmu yang kosong mengalihkan logikamu," bisik Adel pada dirinya sendiri.

Ia sedang membangun *A-Shield*, sebuah arsitektur keamanan data berbasis *blockchain* yang ia rancang untuk melindungi privasi tingkat tinggi. Namun, membangun bisnis dari nol tanpa modal adalah neraka dunia.

*Klik.* Sebuah notifikasi email masuk. *PENOLAKAN.*

Adel menghela napas panjang. Ini adalah vendor peladen (server) kedelapan yang membatalkan kontrak secara sepihak pagi ini. Ia tahu alasannya. Ia mengambil ponselnya dan menelepon kontak terakhir di daftar vendornya.

"Halo, Tuan Anwar? Saya Adelard dari A-Shield. Mengapa kontrak kerja sama kita dibatalkan secara mendadak?"

Suara di seberang sana terdengar gugup. *"Maaf, Nona. Kami baru saja menerima telepon dari perwakilan Mahendra Group. Mereka bilang, jika kami meminjamkan infrastruktur kepada Anda, mereka akan memutus kontrak kerja sama senilai sepuluh miliar dengan kami. Saya punya karyawan yang harus digaji, Nona. Mohon mengerti."*

*Tut... tut... tut...*

Adel meletakkan ponselnya perlahan. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena lapar dan amarah yang dingin. Mahendra Group benar-benar mencoba memutus urat nadinya. Clarissa tidak hanya ingin dia pergi, dia ingin Adel mati kelaparan di jalanan.

Tiba-tiba, layar laptopnya berkedip merah. Serangan *DDoS* sedang menghantam pertahanan buatannya. Seseorang dari luar sedang mencoba membakar server kecil yang ia sewa dengan uang tabungan terakhirnya.

"Lagi, Clarissa?" Adel mendesis. Jari-jarinya bergerak secepat kilat di atas papan ketik. "Kau mengirim peretas amatir untuk melawan penciptanya? Lucu sekali."

Keringat bercucuran dari pelipisnya, menetes ke atas meja kayu rapuh yang menjadi saksi bisu perjuangannya. Adel bekerja di tengah kebisingan terminal, di bawah suhu udara yang menyengat, membuktikan bahwa kecerdasan tidak butuh pendingin ruangan mewah untuk bersinar.

---

**POV: SISKA & CLARISSA (Di Ruang Makan Mewah Mahendra)**

Aroma *truffle* dan kopi Blue Mountain memenuhi ruang makan yang didominasi marmer putih. Nyonya Siska duduk dengan anggun, mengenakan gaun sutra pagi yang harganya bisa membiayai sekolah seratus anak panti asuhan. Di sampingnya, Clarissa sedang asyik menggeser layar tabletnya, memilih perhiasan dari katalog eksklusif.

"Ibu, lihat kalung berlian kuning ini! Cocok sekali untuk pesta amal minggu depan," ujar Clarissa dengan nada manja yang dibuat-buat.

Siska tersenyum lebar, mengusap pipi Clarissa. "Ambil saja, Sayang. Ayahmu baru saja mencairkan bonus dari proyek Jakarta Utara. Keuntungan perusahaan melonjak tiga puluh persen bulan ini."

Clarissa tertawa kecil, teringat sesuatu. "Oh, bicara soal proyek itu... bukankah itu skema yang dulu sempat diperbaiki oleh 'si gembel' itu sebelum dia diusir? Ironis ya, Bu. Dia yang bekerja, kita yang berpesta."

Siska mendengus menghina, menyesap kopinya dengan elegan. "Jangan sebut dia 'bekerja'. Dia hanya melakukan tugasnya sebagai anak kelas rendah yang menumpang di rumah ini. Dia seharusnya bersyukur kita memberinya fasilitas paviliun dulu. Sekarang? Kudengar dari mata-matamu, dia tinggal di kontrakan sempit dekat terminal bus? Hahaha, sungguh pemandangan yang pantas."

"Benar, Bu," Clarissa menimpali sambil menyuap sepotong kecil salmon premium. "Dia itu keras kepala. Padahal kalau dia mau jadi anjing penurut di rumah ini, dia masih bisa makan enak. Sekarang, mungkin dia sedang mencuci baju di ember atau mengantre di WC umum. Aku sudah memastikan tidak ada vendor IT di kota ini yang berani menyentuh proposalnya. Aku ingin lihat, seberapa lama otak 'jenius'-nya itu bisa bertahan tanpa uang sepeser pun."

Siska mengangguk setuju. Baginya, Adel hanyalah kesalahan biologis yang tidak berarti. "Darah memang tidak bohong, Clarissa. Tapi kasih sayang dan air susu yang kuberikan padamu adalah segalanya. Dia boleh punya DNA Mahendra, tapi dia punya mentalitas gelandangan. Suatu saat nanti, dia pasti akan merangkak kembali ke gerbang depan mansion ini, menangis memohon sisa-sisa warisan. Dan saat itu tiba, aku akan memastikan dia hanya mendapatkan remah-remah di lantai."

---

**POV: TUAN MAHENDRA (Di Ruang Kerja yang Dingin)**

Hendra Mahendra berdiri di depan jendela besar di ruang kerjanya, menatap gedung-gedung pencakar langit miliknya. Di tangannya terdapat laporan kesuksesan proyek Jakarta Utara. Namun, hatinya tidak merasa tenang.

Setiap kali ia melihat angka pertumbuhan perusahaan, ia teringat pada coretan tangan Adel di atas draf proyek itu tiga bulan lalu. *“Ayah, jika kau tidak mengubah enkripsi datanya, vendor luar bisa mencuri margin keuntungan kita,”* kata Adel saat itu.

Hendra mengikuti saran itu, dan hasilnya adalah kesuksesan luar biasa malam ini.

"Maafkan saya, Tuan. Ada laporan baru," Asisten Hardi masuk dengan kepala tertunduk.

"Katakan," sahut Hendra tanpa menoleh.

"Nona Adelard... dia menolak bantuan finansial anonim yang Anda kirimkan lewat rekening lama panti asuhannya. Dia bahkan mengirim pesan singkat lewat sistem bank: *'Simpan uang harammu untuk membeli peti mati reputasimu'*. Sekarang dia sedang membangun sebuah perusahaan keamanan data kecil di pinggiran."

Hendra memejamkan mata. Rasa bersalah menghantam dadanya seperti palu godam. Ia tahu ia telah membuang mutiara demi kerikil yang dipoles. Ia tahu Clarissa sedang menyabotase Adel, dan ia tahu Siska telah dibutakan oleh kebencian.

Namun, egonya sebagai penguasa Mahendra Group tidak memungkinkannya untuk mundur.

"Biarkan saja," suara Hendra terdengar serak. "Jika dia memang darah Mahendra, dia tidak akan mati hanya karena lapar. Tapi jika dia gagal... itu membuktikan dia memang tidak layak."

Ia berbalik menuju mejanya, menenggelamkan rasa bersalahnya di bawah tumpukan dokumen. Ia memilih untuk tetap menjadi tiran yang diam, menutup mata terhadap penderitaan putri kandungnya sendiri demi menjaga stabilitas sandiwara yang ia sebut 'keluarga'.

---

**POV: ADELARD (Kembali ke Realitas)**

Malam telah larut di kontrakan Adel. Listrik sempat padam karena ia terlambat membayar iuran selama dua hari. Dengan bantuan cahaya lilin yang hampir habis, Adel terus mengetik. Jari-jarinya kasar, kuku-kukunya mulai pecah karena ia juga harus mengambil pekerjaan sampingan sebagai pengangkut barang di pasar saat subuh untuk sekadar membeli mi instan.

*Darah Mahendra...*

Adel teringat kata-kata ayahnya. Ia melihat telapak tangannya yang kapalan dan kotor oleh debu kontrakan.

"Kalian pikir aku akan kembali untuk warisan?" Adel tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding yang kosong. "Kalian salah besar. Aku tidak akan meminta warisan dari kalian. Aku akan membuat nama Mahendra yang kalian sandang sekarang menjadi tidak berarti dibandingkan nama yang akan kubangun sendiri."

Ia baru saja berhasil memukul balik peretas suruhan Clarissa, bahkan ia berhasil menanamkan 'pelacak' di sistem mereka. Ia melihat data keuangan pribadi Clarissa yang digunakan untuk membayar para peretas itu.

"Nikmatilah belanja mewamu, Clarissa. Makanlah makanan mahalamu, Ibu," bisik Adel sambil menatap layar laptop yang menyala kembali setelah listrik menyala. "Karena setiap tetes keringatku malam ini adalah investasi untuk kehancuran istana pasir kalian."

Di tengah lumpur penderitaan, di bawah atap yang bocor, dan dengan perut yang perih, Adelard tidak merasa kalah. Ia merasa sedang ditempa. Jika Mahendra adalah sebuah pedang, maka ia adalah bagian tajamnya yang sedang diasah oleh batu ujian paling kasar di dunia. Darah asli Mahendra tidak sedang tidur; ia sedang bersiap untuk bangkit dan mengambil alih segalanya—tanpa perlu sepeser pun belas kasihan dari mereka yang menyebut diri mereka keluarga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!