Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Jati merangkul bahu Gayuh dengan posesif, matanya memindai seluruh tubuh istrinya dengan tatapan cemas yang tidak bisa disembunyikan.
"Dan kamu, Sayang, kenapa bisa sampai di sini sendirian? Mana Pak Gunawan? Mana para bodyguard yang sudah kuperintahkan untuk menjagamu di mansion? Dan, naik apa kamu sampai bisa berada di sini?" berondong Jati dengan nada khawatir yang bercampur rasa tak percaya.
Gayuh sedikit tersenyum, mencoba menenangkan suaminya meski pipinya masih terasa perih.
"Aku tadi tidak mau mengganggu Pak Gunawan yang sedang sibuk di taman belakang mengurus keamanan tambahan. Nenek tadi memasak semur daging spesial untukmu, dan aku ingin mengantarkannya langsung sebagai kejutan," jelas Gayuh sambil menunjukkan tas bekal kain yang untungnya tidak rusak dalam keributan tadi.
"Tadi aku naik ojek motor."
Mata Jati membelalak lebar, wajahnya memerah menahan kekhawatiran yang memuncak.
"Sayang, itu bahaya sekali. Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu di jalan? Kamu itu Nyonya Aditama, dan punggungmu masih terluka!"
Jati tidak ingin melanjutkan perdebatan di lobi yang masih ramai ditonton karyawan itu. Ia segera memandu Gayuh menuju lift eksekutif miliknya.
"Ayo, sekarang kita ke ruanganku. Aku butuh penjelasan, dan kita harus segera mengobati lukamu," ucap Jati tegas namun penuh perhatian.
Begitu pintu lift tertutup, meninggalkan hiruk pikuk lobi yang mencekam, Gayuh akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega. Ia menatap suaminya yang masih tampak tegang.
"Mas, tadi aku juga kaget," Gayuh memulai percakapan di dalam lift yang senyap.
"Bagaimana Nenek bisa ada di Indonesia? Dia datang tiba-tiba ke mansion pagi tadi, langsung membuka kamar, dan... yah, dia tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya."
Jati menghela napas panjang, sebelah tangannya mengusap tengkuknya sementara tangan lainnya masih merangkul pinggang Gayuh erat. "Nenek memang impulsif, tapi dia tidak pernah main-main kalau sudah menyangkut keselamatan keluarga. Dia pasti mendengar berita tentang sidang Tryas dan khawatir setengah mati. Tapi tetap saja, Sayang, tindakannya membiarkanmu naik ojek sendirian adalah sesuatu yang akan aku bicarakan dengannya nanti."
Jati menekan tombol lantai teratas. Di dalam hatinya, ia merasa sangat bersyukur istrinya tidak terluka lebih parah, namun ia bersumpah akan memperketat protokol keamanan istrinya—bahkan jika ia harus menugaskan satu regu khusus hanya untuk memastikan Gayuh tidak pergi sendirian lagi.
Begitu sampai di ruangannya yang megah dan kedap suara, Jati segera mengeluarkan ponselnya.
Wajahnya yang tegang menampakkan otoritas penuh saat ia menghubungi Pak Gunawan.
"Pak Gunawan, saya sudah berulang kali katakan, istri saya adalah prioritas utama. Bagaimana bisa dia keluar mansion sendirian tanpa pengawalan satu orang pun?" suara Jati dingin dan penuh penekanan.
Di seberang telepon, suara Pak Gunawan terdengar gemetar dan dipenuhi rasa bersalah yang luar biasa.
"Mohon maaf sebesar-besarnya, Tuan Jati. Saya benar-benar lalai. Saya terlalu fokus mengatur barisan keamanan di taman hingga tidak menyadari Nyonya pergi melalui gerbang samping. Saya siap menerima hukuman apa pun, Tuan."
Jati mematikan sambungan telepon dengan sekali sentak.
Ia meletakkan ponselnya di meja, lalu menatap Gayuh dengan tatapan yang kembali melembut, namun tetap sarat akan rasa khawatir.
Jati mendekat, tangannya dengan cekatan membuka jas kantornya.
Ia mengambil kotak P3K untuk mengobati sudut bibir istrinya.
"Ini pasti akan sangat perih, sayang. Jadi kamu tahan sebentar, ya."
Gayuh menganggukkan kepalanya sambil tangannya menggenggam pakaian suaminya.
Jati mulai mengoles Betadine ke sudut bibir istrinya.
"Sudah selesai, Sayang. Dan, sekarang buka pakaianmu. Aku mau lihat lukamu, apa ada jahitan yang terbuka karena kejadian di lobi tadi?"
Gayuh mematung sejenak, wajahnya langsung merona merah padam.
"Mas, ini di kantor. Bagaimana kalau ada orang masuk?"
"Aku tidak peduli," sahut Jati dengan nada rendah.
"Aku harus memastikan kamu baik-baik saja."
Jati segera melangkah ke pintu ruangan dan memutar kunci, memastikan tidak ada seorang pun yang bisa masuk.
Ia juga memastikan tirai otomatis pada dinding kaca besar yang menghadap ke arah ruang kerja karyawan sudah tertutup rapat.
Dengan tangan gemetar karena gugup, Gayuh perlahan membuka pakaian atasnya, memperlihatkan perban di punggungnya yang untungnya masih bersih. Jati memeriksa dengan sangat teliti.
"Ternyata tidak apa-apa, Sayang. Tidak ada darah atau jahitan yang terbuka," gumam Jati lega.
Ia kemudian menunduk, memberikan ciuman hangat dan lama tepat di atas perban punggung Gayuh, seolah sedang menyalurkan rasa sakit istrinya kepada dirinya sendiri. Namun, saat ia kembali tegak, tatapan mata Jati berubah—menjadi lebih dalam, gelap, dan penuh gairah.
"Sayang... aku ingin..." bisik Jati di ceruk leher istrinya, napasnya terasa panas.
Gayuh tersipu, ia menahan dada bidang suaminya dengan kedua tangannya.
"Mas, jangan aneh-aneh. Ini kantor..."
Jati menatap istrinya dengan senyum tipis yang mematikan, ia menunjuk ke sekeliling ruangan.
"Ruangan ini kedap suara, Sayang. Dan tidak ada yang bisa melihat kita karena kaca ini sudah kututup otomatis. Tidak ada yang akan tahu apa yang kita lakukan di sini."
Gayuh merasa pertahanannya runtuh. Ia menatap Jati yang kini sudah benar-benar dirasuki keinginan untuk memanjakan istrinya.
"Baiklah, tapi hanya sebentar ya?" bisik Gayuh pelan, menyerah pada pesona suaminya.
Jati tersenyum puas, mencium bibir istrinya dengan lembut sebelum membimbingnya ke arah sofa besar di sudut ruangan.
"Iya, Sayang. Setelah itu, kita akan makan bekal dari Nenek dengan tenang."
Setengah jam kemudian, suasana di dalam ruangan CEO yang luas itu kembali tenang. Keduanya telah selesai membersihkan diri di kamar mandi pribadi yang ada di dalam ruang kerja Jati, kini Gayuh tampak lebih segar meski pipinya masih menyisakan sedikit bekas tamparan yang mulai memudar.
Gayuh duduk di meja kerja yang kini sudah beralih fungsi menjadi meja makan.
Ia dengan hati-hati membuka kotak bekal stainless premium yang ia bawa. Aroma harum semur daging sapi bumbu Jawa buatan Nenek seketika menyeruak, memenuhi ruangan dan menggugah selera. Mereka menikmati makan siang itu dengan khidmat, sesekali Jati menyuapi Gayuh dengan penuh perhatian.
"Meeting Mas sudah selesai?" tanya Gayuh di sela-sela suapannya, menatap suaminya yang tampak jauh lebih rileks sekarang.
Jati menganggukkan kepalanya pelan sambil mengunyah.
"Sudah, Sayang. Tadi kuberikan perintah pada sekretarisku untuk membatalkan semua agenda sisa hari ini. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu," jawabnya tulus.
Jati meletakkan sendoknya, lalu menatap Gayuh dengan tatapan penasaran yang sedari tadi ia tahan.
"Oh ya, bagaimana Nenek? Apa beliau memarahi kamu soal pernikahan kita? Nenek memang punya cara sendiri kalau sedang tidak setuju dengan sesuatu," tanya Jati, nada suaranya sedikit khawatir.
Gayuh tersenyum lebar, ia menggelengkan kepalanya dengan antusias.
"Tidak, Mas. Justru sebaliknya, Nenek sangat baik. Beliau tadi melarangku memasak, katanya aku harus banyak istirahat karena punggungku masih luka. Aku malah disuruh sarapan dulu oleh beliau," cerita Gayuh dengan mata berbinar.
Gayuh kemudian menunjuk ke arah kotak bekal di depan mereka.
"Nenek yang memasak semur ini untukmu, Mas. Beliau bilang ini makanan favoritmu sejak kecil. Tadi Nenek juga minta maaf padaku soal perkataannya kemarin, aku jadi merasa tidak enak karena sempat takut sekali saat Nenek datang tadi."
Jati terpaku sejenak, wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus lega yang luar biasa. Ia tidak menyangka Neneknya akan bersikap begitu manis dan protektif terhadap Gayuh.
"Sepertinya Nenek benar-benar sudah jatuh hati padamu, Sayang. Kalau Nenek sampai turun tangan langsung ke dapur hanya untuk memasak bekal, itu artinya kamu benar-benar sudah menjadi cucu kesayangannya sekarang."
Jati meraih tangan Gayuh di atas meja dan menggenggamnya erat.
Ia merasa beban di pundaknya jauh berkurang—tidak ada lagi masalah dengan Tryas, dan kini ia tahu istrinya telah diterima dengan hangat oleh kepala keluarga Aditama.
Tiba-tiba raut wajah Jati perlahan berubah serius saat ponselnya berdering
Ia mengambil ponselnya dan memperlihatkan beberapa cuplikan berita di media sosial dan portal berita online yang sedang trending.
Berita utama hari ini adalah kehebohan pernikahan mendadak antara CEO J-Corp yang berpengaruh dengan seorang wanita sederhana yang tidak memiliki latar belakang keluarga terpandang. Banyak opini miring, gosip, bahkan spekulasi liar tentang bagaimana Gayuh "menjebak" Jati.
"Sepertinya kita harus melakukan konferensi pers, Sayang," ujar Jati dengan nada tegas namun tenang.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menulis cerita palsu tentangmu. Aku ingin dunia tahu bahwa Nyonya Aditama adalah wanita yang aku pilih dengan bangga, bukan karena paksaan atau alasan apa pun."
Gayuh menatap layar ponsel itu, lalu beralih menatap mata Jati yang penuh tekad.
Meskipun hatinya sempat ragu untuk tampil di depan kamera sebagai sorotan publik, ia tahu ini adalah langkah terbaik untuk melindungi nama baik suaminya dan masa depan hubungan mereka.
Gayuh menganggukkan kepalanya pelan namun mantap.
"Kalau itu yang menurut Mas yang terbaik, aku akan mendukungmu. Aku akan berdiri di sampingmu, Mas."