“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Orang yang Disiapkan
“Siapkan semua,” ucap Husain akhirnya.
Nada suaranya kembali datar, terkontrol. Namun kini… lebih dingin.
“Alamat. Dokter. Semua.”
Ridho mengangguk cepat.
“Iya, Pak.”.
“Kali ini…" lanjut Husain. "...jangan ada yang disembunyikan lagi."
Ridho menunduk.
“Baik, Pak.”
Husain berbalik, langkahnya tetap tegap. Namun kali ini… bukan karena tenang. Melainkan karena ia tidak punya pilihan lain selain berdiri.
Karena kalau ia berhenti, ia tahu… ia mungkin tidak akan bisa berjalan lagi.
Di ujung lorong, Fahri baru saja keluar dari lift. Langkahnya terhenti saat beberapa meter di depannya… ia melihat seseorang keluar dari ruangan Ridho.
Husain.
Alis Fahri sedikit berkerut. Itu bukan sesuatu yang biasa. Matanya mengikuti langkah pria itu yang berjalan menjauh. Lalu perlahan… kembali ke pintu ruangan Ridho.
Entah kenapa… ada sesuatu yang terasa tidak beres.
Fahri melangkah menuju pintu itu. Ia berhenti tepat di depan pintu. Tanpa mengetuk, ia langsung membukanya.
Ridho yang sedang berdiri di balik meja sedikit terkejut. Namun hanya sesaat.
“Pak Fahri," sapanya singkat.
Fahri tidak langsung masuk lebih jauh. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari pintu.
“Pak Husain ke sini?” tanyanya langsung.
Ridho tidak menjawab seketika.
“Beliau baru saja keluar,” jawabnya akhirnya.
Fahri mengangguk tipis. Beberapa detik berlalu… tapi ia tidak pergi.
“Keperluannya?” tanyanya masih dengan nada yang sama. Tenang. Namun jelas… tidak sekadar bertanya.
Ridho menarik napas pelan.
“Urusan pribadi, Pak.” Jawabannya aman.
Fahri maju satu langkah. “Sejak kapan urusan pribadi beliau… dibicarakan di ruang kerja Kak Kaisyaf?”
Satu kalimat itu… cukup menekan.
Jemari Ridho mengencang tanpa ia sadari.
Sekarang Fahri melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya.
“Dari kemarin…” lanjut Fahri dengan suara lirih, tapi jelas, “...banyak hal yang terasa tidak biasa.”
Ia berhenti beberapa langkah dari meja.
“Tender yang terlalu lama. Kontak yang sulit. Jawaban yang terlalu rapi.”
Setiap kalimat turun satu per satu.
“Sekarang… Ayahnya datang ke sini.”
Matanya mengunci Ridho tanpa bergeser sedikitpun.
“Dan Bapak masih ingin bilang ini biasa saja?”
Ridho mengencangkan rahangnya sedikit. Namun tetap diam.
Fahri tidak menaikkan suara. Justru sebaliknya.
“Kak Kaisyaf di mana?”
Pertanyaan itu terdengar lebih berat.
Ridho menunduk sejenak, lalu kembali mengangkat wajahnya.
“Pak Fahri…”
Nada suaranya tetap hormat.
“Tugas saya adalah menjaga apa yang menjadi tanggung jawab saya.”
Fahri tidak memotong.
Ridho melanjutkan, “Dan untuk saat ini… saya tidak bisa memberikan jawaban yang Anda cari.”
Fahri berdiri di depannya lama. Lalu mengangguk kecil.
“Baik.”
Satu kata. Namun kali ini… bukan menerima. Lebih seperti… mencatat.
Ridho melihat itu, dan ia merasa ditekan.
Fahri berbalik setengah langkah. Namun sebelum benar-benar pergi—
“Kalau begitu…” ucap Ridho tiba-tiba.
Fahri berhenti.
“...kalau Anda ingin tahu.” Ia diam sebentar, seolah menimbang. Lalu—
“Silakan tanyakan langsung pada Pak Husain.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk mengubah arah.
Fahri tidak langsung berbalik, bahunya sedikit menegang. Ia merasa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres.
Ia menoleh perlahan. Ia menatap Ridho lebih dalam dari sebelumnya. Namun kali ini… tanpa pertanyaan.
Karena ia sudah mendapat arah. Dan itu… lebih berbahaya daripada jawaban.
Fahri tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik dan berjalan keluar. Langkahnya tetap tenang, namun pikirannya… tidak lagi sama.
-
Basement kantor terasa lengang, lampu menyala redup. Suara ketukan sepatu menggema pelan di antara deretan mobil.
Husain baru saja membuka pintu mobilnya saat suara itu terdengar.
“Om.”
Ia berhenti, lalu memutar tubuhnya.
Fahri berdiri beberapa meter di belakangnya. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi tatapannya… tidak.
Husain menutup pintu mobil perlahan.
“Kamu belum pulang?” tanyanya.
“Belum, Om.” Fahri melangkah mendekat. “Kebetulan lihat Om ke atas tadi.”
Husain mengangguk kecil. Tidak kaget.
“Kenapa?”
Fahri belum menjawab, hingga akhirnya berhenti di depan Husain. Jarak mereka tidak jauh. Tapi cukup… untuk membuat suasana terasa padat.
“Saya mau tanya sesuatu.” Nada suaranya tetap sopan dan terjaga.
“Tanya saja.”
“Semua pekerjaan Kak Kaisyaf…" tutur Fahri tenang. "...sekarang diserahkan ke saya.”
Husain tidak menyela.
“Saya tidak keberatan,” lanjut Fahri. “Justru saya senang bisa bantu," katanya jujur.
“Tapi… ini bukan sekadar bantu.” Wajahnya terangkat sedikit. “Ini seperti… saya sedang disiapkan untuk menggantikan dia.”
Kalimat itu jatuh jujur.
Husain memerhatikan Fahri lama. Seolah mengukur… seberapa jauh Fahri sudah sampai.
“Dan itu bukan sesuatu yang biasa dilakukan Kak Kaisyaf,” lanjut Fahri pelan. “Tanpa alasan.”
Husain mendengarkan.
“Ditambah…” suaranya sedikit turun, “...hari ini Om datang ke ruang Pak Ridho.”
Ia tidak menuduh, apalagi menekan. Tapi semua arah… jelas.
“Om…” Kali ini ada sedikit tekanan di suaranya. “…sebenarnya apa yang terjadi sama Kak Kaisyaf?”
Mata Husain sempat bergeser. Bukan menghindar, tapi menahan sesuatu, lalu kembali pada Fahri.
Anak ini… Selalu seperti ini. Tenang, tapi tidak pernah meleset.
“Kamu percaya sama dia?” tanya Husain tiba-tiba.
Fahri sedikit mengernyit, tapi menjawab tanpa ragu.
“Percaya.”
“Seberapa jauh?”
“Sepenuhnya.”
Jawaban itu tidak goyah.
Husain mengangguk kecil. Lalu—
“Kalau dia melakukan sesuatu… untuk melindungi orang yang dia sayang…” Ia berhenti sejenak. “...kamu akan tetap percaya?”
Fahri diam sebentar. Lalu—
“Iya.”
Hanya satu kata, namun cukup.
Husain menatapnya lebih dalam. Dan di situ… ia tahu.
Fahri bukan orang yang akan hancur karena kebenaran. Tapi tetap saja, kebenaran itu tidak ringan.
Dada Husain naik turun perlahan. Lebih berat dari sebelumnya.
“Kamu benar.” katanya akhirnya. “Ini bukan sekadar kerjaan.”
Husain men-jeda sejenak.
“Dan kamu juga benar… dia memang sedang menyiapkan sesuatu.”
Fahri tidak bergerak, bahunya menegang.
“Om…” Kali ini suaranya lebih rendah. “…jawaban setengah seperti itu… justru bikin saya makin yakin ada yang tidak beres.”
Husain menutup mata sejenak. Hanya satu detik, lalu membukanya kembali.
“Fahri.”
...🔸🔸🔸...
..."Kadang seseorang tidak benar-benar pergi... ia hanya diam-diam sedang bersiap meninggalkan semuanya."...
..."Yang paling berbahaya bukan rahasia… tapi saat terlalu banyak orang mulai curiga."...
..."Seseorang mulai disiapkan bukan karena dia siap… tapi karena waktu sudah tidak memberi pilihan."...
..."Ada kebenaran yang tidak diucapkan bukan untuk disembunyikan… tapi karena terlalu menyakitkan untuk dibagikan."...
..."Semakin banyak yang tidak masuk akal… semakin dekat kita pada kebenaran."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fatima bertanya - Om Fahri ngga ke sini ? Ayza yang menjawab.
Alvian tahu Umi bohong dengan jawabannya.
Alvian sampai tak ada selera untuk makan. Padahal lapar.
Alvian...big hug 🥲
Tega sekali Ayza.
Ayza. Coba resapi apa kata kedua mertuamu.
Fatima di sini baru tahu yang terluka yang paling kecil.
Fahri juga terluka.
Husain mesti ketemu dengan Fahri ini. Bicara dari hati ke hati. Apa Fahri setuju dengan jalan yang di pilih Ayza.
Mesin tidak dimatikan.
Fahri matanya terus menatap gerbang sekolah.
Fahri hanya bisa melihat Alfian dari jarah jauh. Alfian yang terlihat tidak ceria.
Alfian tidak capai Umi. Tapi kangen sama Om Fahri. Andai Alvian boleh jujur.
Benar-benar jarak yang dipilih Ayza - membuat dua pria saling merindu.
Husain dan Fatima berkunjung ke rumah Ayza.
Tak ada sambutan dari Alvian.
Bertemu calon yang dijodohkan.
Di awal pertemuan - reza maupun Fahri cuma sekedar menjalankan. Bertemu, tak ada niat untuk melangkah serius.
Kasihan sekali Naila. Reza sudah merasa cukup mengenal Naila dari data yang dikirim ke orang tua Reza.
Reza tidak menolak perjodohan - tapi sikap dan kalimat yang terucap sudah jelas tak bisa diharapkan.
Naila - mundur saja.
menjaga bukan berarti MEMPERISTRI 👻🤣
Kasihanilah Alvian yang kehilangan figur ayah
aku setuju Ayza nikah dengan Fahri demi Al..yang sudah kehilangan seorang Ayah...