NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Malam itu, setelah makan malam yang hanya kusentuh permukaannya, aku duduk di teras belakang. Kegelapan malam seolah menjadi cermin dari pikiranku yang kalut. Ibu sudah masuk ke kamar, meninggalkanku dengan kesunyian yang justru terasa bising oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Aku menatap telapak tanganku yang masih terbalut plester dari Farez. Perihnya mulai hilang, tapi rasa sesak di dadaku justru mengental.

"Kenapa, ya?" bisikku pada angin malam.

Suaraku bergetar. Kalimat yang sejak tadi kutahan di depan Ibu akhirnya meluncur begitu saja.

"Kenapa orang yang sudah menggoreskan luka sedalam ini bisa hidup begitu baik-baik saja? Kenapa dia bisa tersenyum tanpa beban, menyesap kopi dengan tenang, dan memamerkan 'kebahagiaan' barunya seolah tidak pernah ada hati yang dia injak sampai hancur?"

Air mata kembali mendesak, panas dan menyakitkan.

Aku teringat wajah Pak Wira—Ayah—tadi siang. Wajahnya yang terlihat bugar, jasnya yang mahal, dan tawanya yang ringan bersama Bagaskara. Dia tidak terlihat seperti orang yang dihantui rasa bersalah. Dia hidup dalam kemewahan yang dibangun di atas reruntuhan hidupku dan Ibu.

Sedangkan aku?

Lima tahun aku mati-matian untuk sekadar bisa bernapas tanpa merasa tercekik. Aku harus membangun benteng tinggi, bekerja sampai mati rasa, dan mengganti identitas hanya agar bisa berdiri tegak. Aku harus berjuang sembuh dari luka yang bahkan tidak aku buat sendiri. Setiap hari adalah peperangan melawan memori, melawan rasa benci, dan melawan ketakutan bahwa semua laki-laki adalah penipu.

"Ini nggak adil," isakku, memeluk lutut erat-erat.

Dunia terasa begitu kejam. Si penjahat tidur nyenyak dalam istananya, sementara korbannya harus terseok-seok memunguti serpihan diri yang sudah berantakan. Dia melupakan namaku, dia melupakan wajahku, sementara aku harus mengingat setiap detik pengkhianatannya untuk dijadikan bahan bakar agar tetap bertahan hidup.

Bagaimana bisa seseorang menghancurkan semesta orang lain, lalu melanjutkan hidup seolah-olah dia hanya baru saja memecahkan sebuah gelas yang tidak berharga?

Aku meremas ujung bajuku, merasakan kemarahan yang dingin mulai mengambil alih rasa sedih. Jika sembuh adalah sebuah proses yang panjang dan menyakitkan, maka aku akan menjalaninya. Tapi aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan "kebahagiaan" palsu Pak Wira terus berjalan tenang jika suatu saat kebenaran itu terungkap.

Kemarahan itu kini tidak lagi terasa panas, melainkan dingin dan tajam seperti mata pisau yang baru diasah. Isak tangisku berhenti, berganti dengan napas yang teratur namun berat. Aku mendongak menatap langit malam yang kelam, menyadari bahwa selama lima tahun ini aku salah langkah. Aku hanya sibuk melarikan diri, sementara si pencuri sedang merayakan hasil jarahannya.

"Cukup," desisku, suaraku terdengar asing, jauh lebih rendah dan penuh ancaman.

Aku berdiri, masuk ke dalam kamar, dan menyalakan laptop. Jemariku menari di atas keyboard dengan kecepatan yang didorong oleh dendam. Aku mulai membuka berkas-berkas audit dan struktur organisasi Wira Pratama Holdings yang sempat kucuri simpan dari basis data kantor.

Setiap grafik kesuksesan perusahaan itu adalah hasil dari ide-ide Ibu yang dicuri Ayah. Setiap aset yang mereka pamerkan adalah hak yang seharusnya menjadi milik Ibu. Selama ini, Ayah membangun kerajaan butiknya menggunakan pondasi kejujuran Ibu yang ia khianati.

"Kamu pikir kamu bisa tidur nyenyak setelah membangun istana di atas air mata Ibu?" gumamku sambil menatap foto profil Bagaskara di laman resmi perusahaan mereka.

Aku tidak akan menghancurkan mereka dengan teriakan atau drama keluarga yang memuakkan. Itu terlalu mudah bagi mereka. Aku akan menghancurkan mereka dari dalam, melalui proyek kerja sama ini. Aku adalah asisten manajer yang memegang kendali atas strategi rebranding mereka. Aku tahu celah distribusinya, aku tahu kelemahan pasar mereka, dan aku memegang data sensitif yang bisa membuat saham mereka anjlok jika salah langkah.

Aku akan mengambil kembali setiap sen, setiap pengakuan, dan setiap inci martabat yang telah ia rampas dari Ibu. Aku akan memastikan bahwa saat kebenaran terungkap nanti, Pak Wira tidak hanya akan kehilangan wajahnya, tapi juga kehilangan takhta yang ia banggakan di depan anak kesayangannya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!