Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Anatomi dan Gradasi Warna
Medical Examiner RS Bhayangkara
"Pagi semua," sapa Daisy ramah saat datang ke semua orang disana.
"Pagi Dok Daisy. Kenzie sudah enakan?" tanya Eni, salah satu residen forensik yang gemas dengan putra konsulennya.
"Alhamdulillah sudah. Oke, sekarang kita mulai bekerja. Ada jenazah baru masuk?" Daisy berjalan ke rumah kerjanya dan meletakkan tas Goyard di dalam lemari. Daisy mengganti cardigannya dengan sneli yang bersih dari dalam lemari.
"Ada Dok. Ini perjalanan. Katanya BD." Mamat datang dengan laporan.
"Ya Allah, pagi-pagi kok ada orang BD sih?" keluh Daisy sambil mengikat rambut coklatnya.
"Beban hidup Bu. Tidak semua punya privilege keluarga yang sudah kaya dari lahir," timpal Joko, salah satu internship dokter Wayan.
"Kamu nyindir saya?" tanya Daisy dengan tatapan tajam.
"Eh .. Maksud saya ...." Joko gelagapan.
"Kamu kira uang bisa memudahkan semuanya? Kamu kira berada di keluarga aku itu mudah? Tidak, Férguso! Apa kamu mampu mempelajari paling tidak tiga bahasa asing selain Inggris?" senyum Daisy. "Bahasa Inggris kamu sudah bagus pronunciation dan grammar nya? Kalau merasa sudah, kamu harus lanjut ke bahasa Jerman, Perancis, Jepang atau Jawa. Itu yang paling dasar!"
"Tapi ... apa itu wajib?" tanya Eni.
"Wajib. Alasan kami harus bisa bahasa asing adalah mempermudah membuat jaringan koneksi. Nilai tambahnya, biar tidak dibohongi. Sanggup kamu Joko?" tanya Daisy.
Joko diam saja. Semua mahasiswa disana ikutan diam karena selalu merasa Daisy mendapatkan banyak kemudahan.
"Meskipun kami punya banyak uang, bukan berarti seenaknya. Kami tidak lolos kampus idaman, tidak ada sogok menyogok. Kami berkelahi demi membela anak yang lemah dengan konsekuensi dipenjara, dihukum, diskors, ada catatan kriminal remaja, itu sudah biasa. Sanggup kalian?" lanjut Daisy. "Nama terkenal itu tidak mudah kita membawanya. Harus menerima segala konsekwensinya."
"Tapi kan tetap punya uang banyak Dok," ucap Joko.
"Memangnya kamu tahu kita tetap dijatah?" balas Daisy. "Uang jajan kami dijatah. Kalau mau sesuatu, kerja. Aku dan kakakku dulu waktu SMP dan SMA, bekerja di toko kelontong dan petshop kalau liburan musim panas. Kami semua, harus bisa bekerja paruh waktu saat remaja. Di luar negeri banyak tempat usaha yang memberikan kesempatan pada para remaja untuk berkerja paruh waktu. Seharusnya di sini juga sih."
"Bedanya didikan barat dan Konoha ya Dok Daisy," kekeh dokter Wayan.
"Benar. Dari awal Daddy bilang, yang punya uang Daddy, bukan aku, bukan mas Dylan. Daddy tidak masalah keluar uang demi pendidikan tapi untuk tersier ... nanti dulu! Kamu harus kerja kalau mau sesuatu! Apa saja yang penting halal!" jawab Daisy.
"Dengar kalian. Mereka benar-benar didikan khas old money. Uang mereka banyak tapi tetap dididik menghargai yang namanya usaha dari diri sendiri. Dari sana, kita akan semakin paham betapa sulitnya mencari uang. Kalau sudah begitu, kita jadi tahu kan bagaimana bisa menghargai uang," ucap dokter Wayan.
Suara sirine ambulans pun datang. "Oke, kita semua fokus ya?" pinta Daisy. "Tidak usah iri sama orang lain. Fokus pada diri sendiri dan ubah mindset kalian. Apa goal saya dalam waktu dekat ini. Jika sudah tercapai, kamu buat mindset lagi. Apa yang akan aku capai selanjutnya."
"Itu nasehat daging ( berisi, banyak ilmu ) lho. Mumpung kalian masih muda. Ingat, jangan pakai cara instan karena apapun yang instan, akan tidak lama." Dokter Wayan menatap ke semua mahasiswanya.
***
Ruang Kerja Divisi Kasus Dingin Polda Metro Jaya Jakarta
"I'll be damned!" seru AKP Victor saat mereka menyelidiki kasus mutilasi itu dan ternyata benar teori yang diberikan Suster Lia dan dokter Lucky.
"Kenapa Bang?" tanya Iptu Steven.
"Teori Lucky dan Lia benar. Pelakunya orang yang mati di gang! Dia adalah pacar gelap si korban pertama. Terus dia ke korban kedua. Ya ampun, hasil test DNA semuanya dari Mbak Hani semua cocok!" jawab AKP Victor.
"Kalau begitu ... Siapa si penusuk si pelaku?" tanya Kompol Nana.
"Itu yang masih aku selidiki. Jujur aku merasa, pelakunya adalah cewek!" jawab AKP Victor. "Korban di gang kan tingginya hanya 165 sentimeter, pendek untuk ukuran cowok. Wong setinggi mbak Tikah kan. Sama mbak Nana saja masih tinggi Mbak Nana yang 170 sentimeter."
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" tanya AKBP Jarot.
"Steven, sini!" AKP Victor berdiri dan mengajak Iptu Steven ke area tengah ruangan.
"Tinggi aku 196. Tinggi Steven?"
"178-179," jawab Iptu Steven.
Oke. Anggap saja, aku sama dengan korban di gang. Steve, coba tusuk aku!" pinta AKP Victor.
Iptu Steven pun melakukan reka adegan dan para tim gabut memperhatikan dengan seksama. Mereka bisa melihat bagaimana miripnya dengan luka yang ada di perut korban di gang.
"Yup. Kira-kira, si pelaku punya tinggi sekitar 150 sentimeter. Kita bisa melihat karena Victor dan Steven tinggi jadi bisa direka ulang," ucap Kompol Atikah.
"Betul. Dan mencari orang dengan tinggi seratus lima puluh sentimeter di Jakarta itu buanyaaaakk! Karena rata-rata cewek di Indonesia itu sekitar seratus lima puluh sentimeter!" timpal Kompol Nana.
"Tugas kita mencari siapa saja yang berhubungan dengan si korban slash pelaku," ujar AKBP Jarot.
"Duh! Aku harus mengirim kopi ke Lucky!" seru AKP Victor sembari mengambil ponselnya. "Kamu dimana?"
***
Kediaman Daisy dan dokter Lucky
"Ternyata warna hijau itu ada banyak ya?" Dokter Lucky melihat nama-nama warna hijau dari iPadnya sambil memangku Kenzie yang asyik dengan dotnya.
"Kenz, coba baca. Hijau mint, hijau limau, hijau pupus, hijau zamrud bukan grup band, hijau botol, hijau hutan, hijau army tapi entah kenapa BTS pilih warna ungu sementara NCT pilih warna hijau neon, hijau sage, hijau Laurel ... Apa pula ini?" omel dokter Lucky.
Kenzie melepaskan dotnya dan menatap bingung ayahnya. "Papa ... Jo ... Gleeen."
"Kayaknya Papamu ini payah soal warna hijau. Ini kok hijau royo-royo belum dimasukkan ya Kenz?" gumam dokter Lucky bingung. "Haaaiisshhhh, mumet ndasku!"
Suara bel berbunyi dan Pum melihat dari layar kalau ada driver ojek online datang. Wanita itu bergegas ke depan sementara dokter Lucky memilih mengambil buku anatomi untuk anak-anak.
"Siapa mbak Pum?" tanya dokter Lucky sambil membuka buku diatas meja sementara Kenzie kembali ngedot botol susunya.
"Ada ojek online datang bawakan minuman buat pak Dokter. Katanya dari Pak Victor," jawab Pum.
"Oh iya. Dari Piktor. Taruh di kulkas saja mbak."
Pum pun pamit ke dapur. Dokter Lucky lalu membuka buku anak-anak yang tentang anatomi.
"Lihat ini Kenz. Kalau ini, Papamu yang comel sangat hapal. Jadi kita belajar ya? Ini adalah kepala Kenzie ...." Dokter Lucky memberikan pelajaran dengan menyentuh tubuh Kenzie sesuai dengan di buku.
Dokter Lucky tidak tahu apakah Kenzie paham tapi baginya, bayi itu macam sponge. Ajarannya pasti akan menyantel di dalam otaknya meskipun belum paham sepenuhnya.
***
Yuhuuu up Siang yaaaa gaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
kasihan banget flint, padahal dia nggak tau apa-apa
ayahnya itu ampun deh...
ibunya juga kurang aware😓😓😓
lgian,spa jg yg bkln sbar kl ktmu orng ga wrs ky gt....bgus bgt idenya dok gabut yg mau bkin dia gatal2,biar kapok....
yang dikhawatirkan sama kan.... pispot🤣🤣🤣🤣