Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.
Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.
Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Bukan Mimpi
Langit-langit putih rumah sakit kembali menjadi hal pertama yang dilihat Aureliana Virestha ketika ia membuka mata pagi itu. Cahaya matahari menembus tirai tipis di dekat jendela, jatuh lembut di atas selimut yang menutup tubuhnya, menciptakan bayangan samar yang bergerak perlahan mengikuti hembusan angin. Suara alat medis berdetak stabil di sampingnya, ritmenya teratur dan seharusnya menenangkan siapa pun yang mendengarnya.
Namun pikirannya tidak ikut tenang, karena ada sesuatu yang terus berputar tanpa henti sejak semalam. Ingatan itu tidak memudar seperti mimpi pada umumnya, justru semakin jelas setiap kali ia mencoba melupakannya. Ruang itu, dengan segala keanehannya, terasa terlalu nyata untuk diabaikan begitu saja.
Aureliana memejamkan mata perlahan, membiarkan dirinya tenggelam dalam ingatan yang masih tersisa. Ia mencoba menarik kembali setiap detail yang bisa ia ingat, dari cahaya yang tidak biasa hingga ruang tanpa batas yang terasa kosong sekaligus hidup. Titik kecil yang berdenyut itu muncul lagi di pikirannya, bersama sensasi hangat yang menjalar ketika ia menyentuhnya.
Semakin ia mengingat, semakin kuat perasaan itu tumbuh. Bukan seperti mimpi yang perlahan kabur dan kehilangan bentuk, melainkan seperti pengalaman yang masih melekat di dalam dirinya. Seolah apa yang terjadi di sana belum benar-benar selesai.
Aureliana membuka mata lagi, menatap tangannya dengan lebih lama dari biasanya. Jari-jarinya tampak sama seperti sebelumnya, tidak ada perubahan yang bisa ia lihat secara langsung. Namun ia tidak bisa menghilangkan kesan bahwa sesuatu pernah terjadi di sana, sesuatu yang tidak terlihat tetapi masih tertinggal.
Renataz Arvello sudah tidak ada di ruangan itu, mungkin kembali ke pekerjaannya atau sengaja memberi ruang bagi Aureliana untuk beristirahat. Ia tidak terlalu memikirkannya, karena ada hal lain yang jauh lebih mengganggu pikirannya saat ini. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika sederhana.
Ia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri dengan cara yang ia kenal. “Cuma mimpi…” gumamnya pelan, seolah kata-kata itu bisa menjadi jawaban.
Namun kalimat itu terasa kosong, tidak memiliki kekuatan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Jika itu benar-benar mimpi, kenapa ia masih bisa mengingatnya dengan begitu jelas, bahkan detail kecil yang biasanya hilang begitu saja.
Ia menggeser tubuhnya sedikit, bersandar lebih nyaman di tempat tidur. Matanya kembali terpejam, bukan untuk tidur, tetapi untuk mencoba memahami sesuatu yang tidak memiliki bentuk yang jelas. Ia membiarkan pikirannya kembali ke ruang itu, ke kehampaan yang aneh, ke titik cahaya yang tidak bisa ia lupakan.
Dan tanpa ia sadari, sesuatu mulai berubah di sekitarnya.
Suara alat medis yang tadi terdengar stabil perlahan memudar, seolah ditarik menjauh dari kesadarannya. Cahaya matahari yang hangat juga mulai menghilang, digantikan oleh sensasi yang berbeda.
Udara terasa lebih dingin.
Lebih sunyi.
Aureliana mengernyit pelan, merasakan perubahan itu tanpa benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Ia membuka mata dengan cepat, dan dalam sekejap, dunia di hadapannya sudah tidak sama.
Ruang rumah sakit lenyap tanpa jejak.
Digantikan oleh kehampaan yang sangat ia kenal.
Putih yang bercampur gelap, luas tanpa batas, dan sunyi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Napasnya langsung tertahan, tubuhnya menegang seketika.
“Aku… di sini lagi.”
Ia berdiri dengan cepat, kali ini tanpa rasa pusing atau kehilangan keseimbangan seperti sebelumnya. Tubuhnya terasa lebih stabil, seolah tempat ini mulai menerima keberadaannya dengan cara yang berbeda.
Aureliana menoleh ke sekeliling dengan lebih tenang, meskipun rasa waspada tetap ada. Pemandangannya masih sama seperti yang ia ingat, kosong tanpa batas yang jelas, tanpa suara, tanpa tanda kehidupan.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Ia tidak panik seperti sebelumnya.
Kebingungan masih ada, tetapi tidak lagi menguasai dirinya sepenuhnya. Ada kesadaran baru yang perlahan muncul, membuatnya melihat tempat ini dengan cara yang berbeda.
Ini bukan mimpi.
Ia bisa merasakannya dengan jelas.
Ia mengangkat tangannya, menatap telapak tangannya dengan lebih seksama. Garis-garis halus di kulitnya terlihat jelas, dan ketika ia menggenggam, ia bisa merasakan ototnya bergerak seperti biasa.
Semua terasa nyata.
“Apa ini…” bisiknya pelan.
Suaranya tetap tidak bergema, tetapi kali ini ia tidak terlalu memikirkan hal itu. Ada hal lain yang lebih penting untuk ia pahami.
Ia melangkah maju dengan hati-hati, memperhatikan setiap sensasi yang muncul. Langkahnya ringan, tetapi berbeda dari sebelumnya, seolah ia bisa merasakan arah meskipun tidak ada petunjuk yang jelas.
Ada sesuatu yang membimbingnya.
Samar, tetapi cukup untuk diikuti.
Aureliana berhenti sejenak, lalu berjongkok perlahan. Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh permukaan di bawahnya.
Tidak terlihat.
Namun terasa.
Seperti lantai yang tidak memiliki bentuk, tetapi cukup kuat untuk menopangnya. Ia mengetuknya pelan dengan jari, mencoba mencari reaksi.
Tidak ada suara.
Namun ada getaran halus yang merambat melalui ujung jarinya.
Aureliana menarik tangannya kembali, matanya sedikit melebar karena menyadari sesuatu.
“Ini benar-benar ada…”
Ia berdiri kembali, kali ini dengan rasa penasaran yang mulai mengalahkan rasa takut. Jika tempat ini nyata, maka pasti ada aturan yang mengikatnya, sesuatu yang bisa ia pelajari.
Ia mulai berjalan lebih jauh, mencoba menjelajahi ruang yang tampak tidak terbatas itu. Tidak ada perubahan pemandangan yang signifikan, tetapi semakin lama, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Ruang ini tidak sepenuhnya tanpa batas.
Ada sesuatu yang menahan langkahnya.
Samar.
Seperti dinding yang tidak terlihat.
Ia berjalan ke satu arah lebih jauh, hingga akhirnya langkahnya terhenti oleh sesuatu yang tidak bisa ia lewati. Ia mengulurkan tangan, dan telapak tangannya menyentuh permukaan dingin yang tidak terlihat.
Transparan.
Namun solid.
Seperti kaca yang sangat bersih.
Aureliana mengerutkan kening, lalu menekan sedikit lebih kuat. Permukaan itu tetap diam, tidak bergerak, tidak memberikan celah untuk dilewati.
“Jadi ada batasnya…” gumamnya pelan.
Ia mencoba berjalan ke arah lain, dan menemukan hal yang sama. Setiap beberapa langkah, ia menemukan batas yang tidak terlihat itu, membentuk ruang yang tidak terlalu besar.
Tidak luas tanpa batas seperti yang ia kira sebelumnya.
Lebih seperti sebuah ruangan kecil.
Namun cukup untuk membuatnya memahami sesuatu yang penting.
Ruang ini terhubung dengannya.
Atau bahkan… miliknya.
Aureliana kembali ke tengah ruang, berdiri diam sambil mencoba menyusun pikirannya. Jika ia bisa masuk ke sini, berarti ada cara untuk keluar.
Pertanyaan itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia memejamkan mata, mencoba mengingat sensasi saat ia kembali ke dunia nyata sebelumnya. Cahaya yang menyilaukan, tarikan kuat, suara-suara yang semakin dekat.
Ia mencoba meniru perasaan itu.
Fokus pada keinginan untuk kembali.
Fokus pada tempat yang ingin ia tuju.
Beberapa detik berlalu tanpa perubahan, membuatnya sedikit ragu. Ia membuka mata lagi, merasa sedikit frustrasi.
“Jangan bilang aku terjebak di sini…”
Namun ia tidak berhenti di situ. Ia mencoba lagi, kali ini dengan lebih tenang, lebih terarah. Ia membayangkan kamar rumah sakit, tempat tidurnya, suara alat medis yang berdetak pelan.
Ia membayangkan dirinya membuka mata di sana.
Dan kali ini, sesuatu merespon.
Ruang di sekitarnya bergetar halus, seperti riak kecil yang menyebar tanpa suara. Cahaya samar mulai berdenyut pelan, mengikuti ritme yang tidak ia pahami.
Aureliana menahan napas.
Sensasi itu kembali.
Tarikan kuat yang tidak bisa dilawan.
Segalanya berubah dalam sekejap.
Dan ketika ia membuka mata—
Langit-langit putih kembali terlihat.
Napasnya terengah, tubuhnya terasa berat, tetapi ia bisa merasakan seprai di bawah tangannya. Ia mencengkeramnya pelan, memastikan bahwa ini nyata.
Ia kembali.
Benar-benar kembali.
Aureliana duduk perlahan, jantungnya masih berdegup kencang. Ia menoleh ke sekeliling, memastikan bahwa semuanya sama seperti sebelumnya.
Ruang rumah sakit.
Suara alat medis.
Cahaya pagi.
Namun dirinya tidak lagi sama.
Ia menatap tangannya lagi, kali ini dengan pandangan yang lebih dalam. Ia tahu apa yang baru saja terjadi bukan kebetulan.
Ia masuk ke sana.
Dan ia keluar dengan keinginannya sendiri.
Aureliana menelan ludah, lalu menutup matanya lagi tanpa ragu. Rasa penasaran kini jauh lebih besar daripada rasa takut yang sempat menguasainya.
Ia mencoba sekali lagi.
Fokus.
Keheningan.
Dan dalam sekejap—
Ia kembali berdiri di ruang itu.
Aureliana membuka mata dengan napas tertahan, lalu tersenyum tipis tanpa sadar. Perasaan yang muncul bukan lagi kebingungan, melainkan sesuatu yang lebih terarah.
“Jadi aku bisa kembali kapan saja…”
Ia berjalan beberapa langkah, menatap ruang kecil itu dengan lebih tenang. Tempat ini bukan lagi sesuatu yang asing baginya, melainkan sesuatu yang bisa ia pahami perlahan.
Ini bukan sekadar ruang kosong.
Ini adalah sesuatu yang terhubung dengannya.
Sesuatu yang bisa ia akses.
Sesuatu yang mungkin memiliki fungsi yang belum ia ketahui.
Aureliana berhenti di tengah ruang, lalu kembali menutup matanya. Beberapa detik kemudian, ia kembali ke rumah sakit tanpa kesulitan.
Ia membuka mata, menatap langit-langit dengan napas yang lebih stabil. Polanya jelas, masuk dan keluar, berpindah antara dua dunia dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.
Ia menoleh ke arah jendela, melihat cahaya pagi yang semakin terang. Dunia di luar tetap sama, dengan semua masalah yang belum terselesaikan.
Namun sekarang, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Sebuah ruang yang hanya bisa ia masuki.
Sebuah tempat yang tidak diketahui siapa pun.
Dan kemampuan untuk berpindah di antara keduanya.
Aureliana menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Pikirannya mulai bergerak ke arah yang berbeda, tidak lagi hanya bertahan, tetapi mulai mempertimbangkan kemungkinan.
Jika ini benar-benar nyata, maka ini bukan sekadar kejadian aneh yang harus ia lupakan.
Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.