Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman dari Kegelapan
Kemenangan di malam gala seharusnya membawa ketenangan, namun bagi Zeva, udara di Jakarta terasa semakin berat dan menyesakkan. Setelah topeng Maya hancur di depan publik, atmosfer di sekitar Adrian berubah dari sekadar intrik perusahaan menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya.
Pagi itu, apartemen lantai 50 tidak lagi terasa seperti menara gading yang aman. Adrian telah menambah jumlah personel keamanan yang berjaga di lobi dan di depan pintu unit mereka. Zeva, yang biasanya bebas mondar-mandir dengan motor bebeknya, kini merasa seperti tawanan yang mengenakan piyama sutra.
"Adrian, ini udah keterlaluan," protes Zeva saat melihat dua pria berbadan tegap dengan setelan safari berdiri di depan pintu dapur. "Gue cuma mau beli roti tawar di minimarket bawah, bukan mau nyebrang ke zona perang."
Adrian, yang sedang menatap layar monitor di ruang kerjanya, tidak langsung menjawab. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, dan lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan bahwa ia tidak tidur semenjak mereka pulang dari gala.
"Ini bukan soal minimarket, Zeva," ujar Adrian tanpa menoleh. "Mantan suami Maya, pria bernama Robert Tan di Singapura, baru saja mengirimkan 'pesan' padaku. Dia kehilangan banyak aset karena persaingan bisnis dengan Alfarezel tahun lalu, dan sekarang dia merasa punya alasan untuk membalas dendam."
"Alasannya apa? Karena Maya gagal godain lu?" tanya Zeva ketus.
Adrian memutar kursinya, menatap Zeva dengan tatapan yang penuh kecemasan. "Alasannya adalah kau. Dia tahu kau adalah satu-satunya variabel dalam hidupku yang tidak bisa aku kontrol dengan uang atau kontrak. Kau adalah titik lunakku, Zeva."
Zeva akhirnya berhasil meyakinkan Adrian untuk membiarkannya pergi ke kantor yayasan dengan syarat ia harus menggunakan mobil antipeluru milik perusahaan dan dikawal oleh dua mobil pengamanan. Zeva merasa sangat konyol, namun ia juga tidak bisa mengabaikan ketegangan di wajah Adrian.
Saat mobil melaju di jalanan Gatot Subroto yang padat, Zeva merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah mobil SUV hitam dengan kaca sangat gelap terus membuntuti mereka dari jarak yang konsisten.
"Mas, itu mobil di belakang kayaknya ngikutin kita terus deh," ujar Zeva pada sopir merangkap pengawal pribadinya.
"Sudah saya pantau, Nona. Tetap tenang dan pakai sabuk pengaman Anda," jawab sang sopir dengan nada waspada.
Tiba-tiba, SUV tersebut memacu kecepatannya dan mencoba memepet mobil Zeva ke arah pembatas jalan beton. Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal memicu adrenalin Zeva. Sopir Zeva dengan cekatan membanting stir, menjaga posisi mobil tetap stabil.
"Gila! Mereka beneran mau nyerempet!" teriak Zeva. Naluri balapnya bangkit. "Mas, jangan ngerem! Kalau lu ngerem, dia bakal kunci posisi kita. Ambil jalur kanan, potong jalurnya!"
"Tugas saya menjaga Anda tetap aman, Nona, bukan balapan!" sahut sang sopir panik.
"Percaya sama gue! Gue tahu cara kerja mobil kayak gitu. Dia berat di bagian depan, kalau lu manuver zig-zag, dia bakal limbung!"
Zeva bukan hanya penonton. Ia mulai memberikan instruksi teknis berdasarkan pengalamannya di lintasan balap liar. Namun, serangan tidak berhenti di situ. Mobil SUV lain muncul dari arah depan, mencoba memblokir jalan.
Dengan manuver yang ekstrem, sopir Zeva berhasil menyelinap di antara celah sempit dua mobil tersebut, meninggalkan para pengejar yang terjebak di kemacetan Jakarta. Jantung Zeva berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena amarah yang mulai membakar.
Sesampainya di kantor, Adrian langsung berlari menghampiri Zeva di lobi. Ia memeluk Zeva begitu erat hingga Zeva kesulitan bernapas. Tubuh Adrian sedikit gemetar—sebuah pemandangan yang menghancurkan hati Zeva.
"Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Adrian dengan suara yang serak.
"Gue oke, Adrian. Cuma kaget dikit. Sopir lu hebat, meski awalnya ragu sama instruksi gue," jawab Zeva mencoba menenangkan.
Mereka naik ke ruang kerja Adrian yang tertutup rapat. Di sana, Adrian akhirnya bercerita tentang ketakutannya yang paling dalam.
"Ibu saya..." Adrian memulai, suaranya terdengar sangat jauh. "Dia meninggal karena kejadian seperti ini. Musuh bisnis ayah saya tidak bisa menjatuhkan perusahaan, jadi mereka menyerang ibuku saat dia pulang dari kegiatan amal. Kejadian tadi... itu adalah mimpi burukku yang menjadi kenyataan."
Zeva terdiam. Ia baru memahami mengapa Adrian begitu dingin, begitu obsesif pada kontrol, dan begitu takut membiarkan siapa pun masuk ke dunianya. Adrian tidak sedang mencoba menjadi bossy; ia sedang mencoba mencegah sejarah berulang.
"Adrian, gue bukan ibu lu," ujar Zeva lembut, menggenggam tangan Adrian. "Gue tumbuh di jalanan. Gue tahu cara berantem, gue tahu cara lari, dan gue tahu cara bertahan hidup. Jangan jadiin gue alasan buat lu nyerah sama ancaman Robert Tan."
"Dia tidak meminta uang, Zeva," sahut Adrian frustrasi. "Dia memintaku mengundurkan diri dari Alfarezel Group dan menyerahkan kendali pada orang-orangnya. Jika tidak, dia berjanji malam ini akan menjadi malam terakhirmu."
Dirinya. Baginya, Alfarezel Group—warisan yang ia perjuangkan mati-matian—tidak ada artinya jika dibandingkan dengan nyawa Zeva.
"Gue nggak bakal biarin lu lakuin itu," tegas Zeva. "Kalau lu mundur, dia tetep bakal nyerang lu. Orang kayak Robert Tan nggak bakal puas cuma sama jabatan. Dia mau liat lu hancur total."
"Lalu aku harus apa, Zeva?! Aku tidak bisa kehilanganmu!" teriak Adrian untuk pertama kalinya. Emosinya meledak, menghancurkan topeng ketenangan yang selama ini ia pakai.
Zeva berdiri tegak. "Kita lawan pake cara gue. Lu punya tim IT paling hebat di negara ini, kan? Dan gue punya 'pasukan' paling loyal di jalanan Jakarta."
Zeva mengambil ponselnya. Ia menghubungi Ujang di bengkel dan beberapa teman lamanya di komunitas pengantar paket dan ojek online. "Gue butuh bantuan kalian. Cari mobil SUV hitam dengan plat nomor ini. Pantau pergerakannya di seluruh Jakarta. Kasih tahu gue di mana mereka 'parkir' malam ini."
Adrian menatap Zeva dengan tidak percaya. "Kau ingin menggunakan para pengemudi ojek untuk melawan mafia bisnis?"
"Jangan remehin orang jalanan, Adrian. Mereka itu mata dan telinga kota ini. Polisi mungkin butuh surat perintah, tapi temen-temen gue cuma butuh koordinat," sahut Zeva dengan seringai nakal.
Malam mulai jatuh, dan ketegangan di kantor Alfarezel mencapai puncaknya. Adrian duduk di depan deretan layar monitor, sementara Zeva terus menerima pesan suara dan foto dari jaringannya di lapangan.
"Ketemu," ujar Zeva tiba-tiba. "Mereka ada di gudang tua dekat pelabuhan. Dan tebak siapa yang ada di sana? Maya. Dia nggak di hotel, dia bareng mereka."
Adrian berdiri, rahangnya mengeras. Ia mengambil ponselnya, namun bukan untuk menghubungi Robert Tan, melainkan untuk memberikan instruksi pada tim pengamanan elitnya.
"Zeva, kau tetap di sini," perintah Adrian.
"Nggak mungkin," balas Zeva sambil mengambil jaket kulit hitamnya yang sudah lama tidak ia pakai. "Gudang itu labirin. Tim lu yang pake setelan jas itu bakal mencolok banget. Lu butuh orang yang tahu cara masuk lewat lubang tikus. Dan itu gue."
Adrian menatap Zeva lama, lalu ia menghela napas pasrah. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi mengurung Zeva di dalam sangkar emas. Zeva bukan hanya wanita yang ia cintai; dia adalah rekannya dalam peperangan ini.
"Pakai pelindung tubuhmu," ujar Adrian singkat sambil memberikan rompi antipeluru yang tipis namun kuat pada Zeva.
Malam itu, limusin dan motor bebek akan bergerak dalam satu formasi. Perang terakhir untuk menentukan masa depan mereka baru saja dimulai di sudut tergelap Jakarta.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan