Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tungku Daging
Matahari tepat berada di atas kepala, mengirimkan pilar-pilar cahaya vertikal yang menembus celah dedaunan rimbun Hutan Kabut. Namun, panas matahari itu tidak mampu mengusir hawa dingin dan lembap yang meraja di lantai hutan.
Yang Chen berjalan tertatih-tatih menyusuri aliran sungai kecil yang berbatu.
Beban di bahu kiri Yang Chen—potongan paha Babi Hutan Besi seberat sepuluh kilogram—terasa semakin berat di setiap langkah. Sementara tangan kanan Yang Chen menyeret kapak baja rampasan yang meninggalkan garis panjang di tanah berlumpur.
Napas Yang Chen terdengar berat dan berirama. Hah... Hah...
Tubuh Zhao Wei yang baru saja diperkuat ini memang tangguh, tapi stamina Yang Chen telah terkuras habis oleh pertarungan melawan babi hutan dan para pemburu tadi. Ditambah lagi, Inti Rock Python di perut Yang Chen terus menyedot energi vital sebagai "biaya sewa" tempat tinggal.
Yang Chen butuh tempat istirahat. Segera.
Mata Yang Chen yang tajam memindai tebing batu kapur di sisi kanan sungai.
"Di sana," gumam Yang Chen.
Yang Chen melihat sebuah celah sempit di antara dua batu besar yang tertutup tanaman rambat liar. Celah itu letaknya agak tinggi, sekitar dua meter dari permukaan tanah, sehingga aman dari banjir dadakan atau predator yang tidak bisa memanjat.
Yang Chen melemparkan paha babi dan kapak besarnya ke atas tebing batu itu terlebih dahulu.
Bruk. Klontang.
Lalu, Yang Chen melompat, mencengkeram akar pohon yang menjuntai, dan menarik tubuhnya naik.
Celah itu ternyata menuju sebuah gua kecil. Gua itu dangkal, hanya sedalam tiga meter, tapi kering dan terlindung dari angin. Lantainya tertutup pasir halus. Ada sisa-sisa tulang binatang kecil di sudutnya—tanda bahwa gua ini pernah dihuni musang atau rubah, tapi sekarang kosong.
"Sempurna," kata Yang Chen.
Yang Chen tidak langsung duduk. Prioritas pertama: Kebersihan. Bau darah di tubuh Yang Chen adalah suar bagi monster karnivora.
Yang Chen turun kembali ke sungai. Air sungai itu jernih dan sangat dingin.
Yang Chen melepas jubah hitam dan pakaian dalamnya yang kaku oleh darah kering. Yang Chen masuk ke dalam air dingin itu telanjang bulat.
Byurr.
Air dingin itu menusuk kulit, tapi Yang Chen tidak menggigil. Kulit Yang Chen yang telah ditempa oleh Rumput Tulang Besi dan Inti Monster kini memiliki toleransi suhu yang tinggi.
Yang Chen menggosok kulitnya dengan pasir sungai yang kasar. Yang Chen membersihkan darah kelinci, darah babi, dan darah manusia yang melekat di tubuhnya. Air di sekitar Yang Chen berubah warna menjadi merah muda, lalu hanyut terbawa arus ke hilir.
Setelah bersih, Yang Chen mencuci jubah hitamnya sekilas, memerasnya kuat-kuat, lalu memakainya kembali dalam keadaan basah. Kain basah itu tidak nyaman, tapi akan kering sendiri oleh suhu tubuh Yang Chen yang tinggi saat kultivasi nanti.
Yang Chen kembali memanjat ke gua kecil itu.
Sekarang, prioritas kedua: Api.
Yang Chen membongkar barang jarahan dari para pemburu tadi. Di dalam kantong Si Botak, Yang Chen menemukan batu api (flint) dan baja pemantik, serta sedikit serabut kayu kering (tinder) yang dibungkus kulit minyak agar tidak basah.
"Setidaknya sampah-sampah itu berguna," komentar Yang Chen.
Yang Chen mengumpulkan ranting-ranting kering yang terbawa angin ke mulut gua.
Cetak. Cetak.
Yang Chen memukul batu api itu. Percikan bunga api jatuh ke serabut kayu. Asap tipis mengepul. Yang Chen meniupnya pelan, memberi oksigen.
Wush.
Api kecil menyala. Yang Chen menambahkan ranting kecil, lalu kayu yang lebih besar, hingga api unggun yang stabil tercipta di mulut gua. Asapnya tersamar oleh kabut hutan, jadi risiko terlihat dari jauh cukup kecil.
Yang Chen mengambil paha Babi Hutan Besi itu.
Yang Chen tidak memotongnya kecil-kecil. Yang Chen menusuk daging paha utuh itu dengan gagang tombak patah yang Yang Chen temukan di tumpukan sampah gua (peninggalan petualang sebelumnya mungkin).
Yang Chen memegang daging besar itu di atas api.
Proses memasak dimulai.
Panas api menjilat lapisan kulit babi hutan yang tebal. Lemak di bawah kulit mulai mencair.
Tess... Tess... Hiss...
Tetesan lemak jatuh ke bara api, menciptakan suara mendesis dan letupan kecil yang memercikkan aroma gurih ke udara. Aroma daging panggang itu begitu kuat, begitu menggoda, hingga membuat perut Yang Chen meraung panjang.
"Sabar," perintah Yang Chen pada perutnya sendiri.
Yang Chen memutar daging itu perlahan. Yang Chen ingin dagingnya matang merata sampai ke tulang. Daging monster Tingkat 1 sangat padat, seratnya alot. Jika dimakan setengah matang, tubuh manusia akan sulit mencernanya dan membuang 50% energinya.
Yang Chen menunggu dengan kesabaran seorang predator. Mata Yang Chen terpaku pada perubahan warna daging itu. Dari merah pucat, menjadi kecokelatan, lalu cokelat tua yang mengkilap oleh minyak.
Tiga puluh menit berlalu.
Bagian luar daging itu sudah crispy (garing) dan hangus di beberapa tempat. Bagian dalamnya sudah matang sempurna.
Yang Chen menarik daging itu dari api. Panasnya masih menyengat tangan, tapi Yang Chen tidak peduli.
Yang Chen menggigit langsung paha babi utuh itu.
Krak.
Kulitnya yang garing pecah, diikuti oleh semburan sari daging dan lemak panas yang membanjiri mulut Yang Chen.
Rasanya... surgawi.
Tidak ada garam. Tidak ada bumbu. Hanya rasa daging murni, rasa asap kayu, dan rasa lemak yang kaya. Bagi Yang Chen yang sudah berhari-hari hanya makan bubur basi dan darah mentah, ini adalah makanan terenak di dunia.
Yang Chen mengunyah dengan rakus tapi efisien. Gigi Yang Chen merobek serat otot yang tebal.
Telan.
Saat daging itu masuk ke lambung, reaksi kimia terjadi.
Daging Babi Hutan Besi mengandung Metal Essence (Esensi Logam) samar dari makanan monster itu yang berupa bijih besi dan akar keras.
Inti Rock Python di Dantian Yang Chen bergetar. Elemen Tanah (Earth) dari inti itu bertemu dengan Elemen Logam (Metal) dari daging.
Dalam siklus elemen, Tanah Melahirkan Logam. Kedua elemen itu kompatibel.
Inti Monster itu tidak menolak energi baru ini. Sebaliknya, inti itu menyerapnya, memurnikannya, dan memompanya kembali ke seluruh tubuh Yang Chen.
"Mulai," kata Yang Chen.
Yang Chen meletakkan sisa tulang paha babi yang sudah bersih dari daging. Yang Chen segera duduk bersila dalam posisi Lotus di depan api unggun.
Yang Chen memejamkan mata.
Kesadaran Yang Chen masuk ke dalam tubuhnya (Introspeksi).
Yang Chen melihat Dantian-nya. Bola kristal Rock Python itu berputar pelan searah jarum jam. Di sekelilingnya, kabut energi berwarna kuning (Qi Tanah) bercampur dengan kilatan perak (Qi Logam).
Energi itu terlalu banyak. Daging 10 kilogram itu mengandung kalori dan Qi yang cukup untuk meledakkan orang biasa.
Yang Chen harus mengarahkannya.
"Buka Meridian Yangming Tangan dan Kaki," perintah Yang Chen dalam hati.
Yang Chen memandu arus energi itu. Arus itu bergerak seperti sungai lahar, panas dan berat.
Arus itu menabrak sumbatan-sumbatan kotoran di meridian Yang Chen.
Sakit.
Rasanya seperti ada kawat berduri yang ditarik paksa melalui pembuluh darahnya. Tubuh Yang Chen bergetar hebat. Keringat kembali bercucuran, menguap saat menyentuh kulit Yang Chen yang suhunya naik drastis.
"Tembus!" batin Yang Chen berteriak.
Yang Chen menggunakan Willpower (Kehendak) Kaisarnya untuk memadatkan energi itu menjadi ujung tombak.
DUAR!
Di dalam tubuh Yang Chen, terdengar suara letupan tumpul.
Sumbatan di bahu kanan Yang Chen jebol. Energi mengalir lancar ke lengan kanan.
Lengan kanan Yang Chen tiba-tiba membengkak sedikit. Otot-ototnya membesar, urat-uratnya menonjol seperti akar pohon tua. Kulit lengan itu berubah warna menjadi abu-abu metalik yang lebih gelap dan berkilau.
Satu meridian terbuka. Tapi itu belum cukup. Yang Chen butuh menembus Bottleneck (Hambatan) Tingkat 2 menuju Tingkat 3.
Syarat Tingkat 3 Body Tempering adalah: Pengerasan Organ Dalam (Viscera Hardening).
Di Tingkat 1 dan 2, hanya kulit dan otot yang diperkuat. Di Tingkat 3, organ dalam (paru-paru, jantung, hati) harus mulai dilapisi Qi agar tidak hancur saat bertarung.
Ini berbahaya. Salah sedikit, Yang Chen bisa mengalami gagal jantung.
Yang Chen mengambil napas dalam-dalam. Yang Chen menghirup Qi alam dari hutan di sekitarnya untuk membantu mendinginkan organ dalamnya.
Yang Chen membungkus jantungnya dengan lapisan tipis Earth Qi yang lembut.
"Padatkan."
Lapisan energi itu meresap ke dalam dinding jantung. Jantung Yang Chen berdetak kencang: Dug-dug-dug-dug!
Rasanya sesak. Seperti ada tangan yang meremas jantungnya.
Wajah Yang Chen membiru karena kekurangan oksigen sesaat. Tapi Yang Chen tidak panik. Yang Chen mempertahankan ritme pernapasan Kura-kura Purba.
Perlahan, rasa sesak itu hilang. Digantikan oleh perasaan kokoh. Jantung Yang Chen kini berdetak lebih lambat, tapi setiap detakannya jauh lebih kuat, memompa darah dengan tekanan tinggi tanpa risiko pembuluh darah pecah.
Lalu paru-paru. Lalu lambung.
Satu per satu organ dalam Yang Chen dilapisi dan diperkuat.
Dua jam berlalu. Api unggun di depan Yang Chen sudah mati, tinggal menyisakan bara merah.
Malam telah turun sepenuhnya di Hutan Kabut. Suara auman monster malam mulai terdengar di kejauhan.
Tiba-tiba, mata Yang Chen terbuka.
BOOM!
Gelombang kejut (Shockwave) tak kasat mata meledak dari tubuh Yang Chen, menerbangkan debu dan abu sisa api unggun ke segala arah.
Aura Yang Chen berubah.
Sebelumnya, aura Yang Chen tajam tapi rapuh. Sekarang, aura Yang Chen berat, stabil, dan menekan. Seperti sebuah batu besar yang diam.
Yang Chen mengangkat tangannya. Yang Chen melihat kulitnya. Warnanya kembali normal (pucat), tapi ada kilau aneh di bawah permukaannya.
Yang Chen mengambil batu kali seukuran kepalan tangan dari lantai gua.
Yang Chen meremasnya.
Krek... Prull.
Batu kali yang keras itu hancur menjadi bubuk kerikil di tangan Yang Chen. Tanpa teknik Stone Skin. Hanya kekuatan genggaman murni otot.
"Body Tempering Tingkat 3 Puncak," simpul Yang Chen, merasakan aliran tenaga yang meluap-luap.
Lompatan dari Tingkat 2 Awal ke Tingkat 3 Puncak dalam satu hari. Ini adalah kecepatan yang mengerikan. Di sekte besar, murid jenius butuh waktu tiga bulan untuk melakukan ini.
Tapi Yang Chen tidak tersenyum puas. Yang Chen tahu ini bukan karena bakat tubuh, tapi karena metode ekstrem (menanam Inti Monster) dan konsumsi sumber daya berlebih (Daging Babi Hutan Besi).
"Masih belum cukup," kata Yang Chen.
Target Yang Chen selanjutnya bukan hanya naik tingkat.
Yang Chen melihat Kapak Besar milik Si Botak yang tergeletak di sudut gua.
Sekarang Yang Chen punya kekuatan untuk mengayunkan senjata berat itu dengan satu tangan. Tapi mengayunkan secara membabi buta adalah gaya preman, bukan gaya Kaisar.
Yang Chen butuh Teknik Bela Diri (Martial Art).
Di memori Yang Chen, ada ribuan teknik kapak dewa. Tapi tubuh ini belum sanggup menampung teknik tingkat tinggi. Yang Chen harus memilih teknik dasar yang brutal, efisien, dan cocok dengan elemen Tanah dan Logam.
"Teknik Kapak Pembelah Gunung (Mountain Splitting Axe) - Jurus Pertama: Tanah Runtuh."
Itu teknik tingkat rendah, tapi fokusnya adalah pada momentum dan berat. Sangat cocok.
Yang Chen berdiri. Yang Chen mengambil kapak itu.
Gagang besinya terasa dingin. Berat 15 kilogram kini terasa ringan di tangan Yang Chen yang baru.
"Malam ini belum berakhir," kata Yang Chen.
Yang Chen tidak akan tidur. Tidur adalah untuk yang lemah. Yang Chen akan menggunakan sisa malam ini untuk melatih memori otot tubuh barunya dengan kapak ini.
Yang Chen melangkah keluar dari gua, menuju ke area terbuka di tepi sungai di bawah sinar bulan.
Setiap ayunan kapak Yang Chen malam ini akan menjadi tiket kematian bagi musuh-musuh Yang Chen di masa depan.