NovelToon NovelToon
Doa Kutukan Dari Istriku

Doa Kutukan Dari Istriku

Status: tamat
Genre:Kutukan / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Vandra tidak menyangka kalau perselingkuhannya dengan Erika diketahui oleh Alya, istrinya.


Luka hati yang dalam dirasakan oleh Alya sampai mengucapakan kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutnya selama ini.


"Doa orang yang terzalimi pasti akan dikabulkan oleh Allah di dunia ini. Cepat atau lambat."


Vandra tidak menyangka kalau doa Alya untuknya sebelum perpisahan itu terkabul satu persatu.


Doa apakah yang diucapkan oleh Alya untuk Vandra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Suasana ruang tamu itu semakin mencekam. Tidak ada suara selain detak jam dinding dan napas terengah Alya yang berusaha keras menahan tangis.

Vandra menunduk, tangannya saling menggenggam erat, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Erika duduk kaku di sebelahnya, wajah pucatnya semakin menegang karena tatapan tajam dari semua orang.

Papa Indera mencondongkan tubuhnya, suara beratnya keluar pelan tapi mengandung amarah yang menekan.

“Vandra ....” Papa Indera menatap tajam putra sulungnya itu. “Sejak kapan kau mengkhianati rumah tanggamu? Sejak kapan kau berani menjilat ludah sendiri setelah berjanji di hadapan Tuhan akan menjaga Alya?”

Vandra tercekat. Bibirnya bergetar, tapi suara seolah tertelan.

Pak Lukman, mertua sekaligus sosok yang dulu sangat dihormatinya, menghentak meja dengan telapak tangan. “Jawab, Vandra! Jangan diam seperti pengecut! Kau tega mempermainkan anakku, hah? Enam bulan lalu dia baru melahirkan, tubuhnya masih lemah, tapi kau sibuk bercinta dengan perempuan ini!” Jari telunjuknya menuding Erika dengan penuh kebencian.

Vandra mana berani bilang kalau dirinya dan Erika sudah selingkuh sekitar sembilan bulan yang lalu. Lebih tepatnya setelah bertemu di acara malam tahun baru. Saat itu Alya sedang hamil besar.

Erika sontak terisak. “Pak, aku … aku—”

“Diam!” bentak Bu Laila, mata berkaca-kaca, wajahnya penuh luka. “Jangan sekali pun kau panggil aku dengan nada memelas itu. Gara-gara kau, rumah tangga anakku hancur!”

Mama Vany ikut bersuara, tangisnya pecah. “Vandra, apa salah Mama membesarkanmu? Apa kurang doa kami? Apa kurang kasih sayang kami, sampai kau tega mempermalukan keluarga besar di depan orang banyak?”

Kata-kata itu seperti belati yang menusuk dada Vandra. Ia menunduk lebih dalam, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. Namun, keheningan yang menekan memaksanya untuk berbicara.

“A-ku … aku khilaf, Pa … Ma … aku tidak bermaksud menghancurkan rumah tangga ini.”

Alya menoleh cepat, matanya basah tapi berkilat dengan luka mendalam. “Tidak bermaksud? Mas, hubungan enam bulan penuh perselingkuhan bukan lagi khilaf. Itu pilihan!”

Pak Lukman berdiri, tubuhnya bergetar menahan emosi. “Aku malu, Vandra! Aku malu punya menantu laki-laki seperti kau! Dulu aku serahkan Alya padamu karena kupercaya kau bisa jadi imam yang baik. "Tapi, ternyata kau hanya pria rendah yang lebih memilih nafsu daripada tanggung jawab!”

Erika mencoba membela, suaranya parau. “Jangan salahkan Mas Vandra sepenuhnya. Aku hanya ingin menemaninya. Dia sering merasa tertekan.”

“Ter-te-kan?!” Papa Indera membentak keras hingga Erika tersentak. “Kalau kau lelaki sejati, Vandra, kau akan cari solusi, bukan pelarian! Dan kau, Erika ....” Mata Papa Indera menyipit penuh jijik. “Apa kau bangga merusak rumah tangga orang lain? Kau tidak tahu malu duduk di sini setelah semua bukti terungkap?”

Zara, yang sejak tadi menahan diri, menyambar dengan tawa getir. “Tentu saja bangga, Pa! Lihat saja, masih berani nempel di samping Kak Vandra, seakan dia yang lebih pantas dibandingkan dengan Mbak Alya. Dasar pelakor murahan!”

Disindir seperti itu, Erika langsung menggeser sedikit menjauh dari Vandra. Dia merasa tertekan berada di sana.

“Zara, cukup!” Mama Vany menahan, tetapi suaranya goyah. “Kemarahanmu benar, tapi biarkan ayahnya yang bicara.”

Bu Laila kembali menatap Vandra, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku tahu Alya bukan istri sempurna. Tapi dia berusaha, Nak. Dia rela berhenti dari pekerjaannya yang mapan demi posisi kamu biar bisa bekerja di perusahaan, demi menjaga rumah tangga kalian. Dia bahkan rela tubuhnya remuk melahirkan cucuku demi keluarga ini. Dan kau balas dengan apa? Dengan tidur bersama perempuan lain?”

Alya terisak, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah tanpa bisa lagi ditahan. Mereka yang mendengar ikut merasa tersayat hatinya.

Vandra yang melihat itu ingin menyentuh bahu Alya. Dia juga ingin berkata maaf, tetapi tatapan Pak Lukman yang seperti api menahannya.

“Jangan berani kau sentuh Alya!” bentak mertuanya dengan suara bergetar. “Mulai detik ini, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti anakku lagi!”

Keheningan jatuh kembali. Suara tangisan Alya memenuhi ruangan, bercampur dengan isak Bu Laila dan napas berat Papa Indera. Vandra duduk mematung, hatinya dirobek-robek rasa bersalah, tetapi bibirnya tetap kelu.

Erika hanya bisa tertunduk malu, kedua tangannya meremas rok panjangnya. Ia sadar, kehadirannya hanya memperkeruh luka. Akan tetapi, ia tak bisa pergi, karena tatapan Vandra seolah memohon dirinya untuk tetap di sana.

Pak Lukman menatap keduanya dengan pandangan terakhir, tegas, dan penuh kebencian. “Kau pikir kami akan diam saja? Tidak, Vandra. Mulai malam ini, kau akan menghadapi konsekuensi dari semua perbuatanmu. Dan kau, Erika, jangan harap hidupmu tenang setelah menghancurkan keluarga kami.”

Suasana semakin menegang. Ruang tamu itu terasa sesak, udara seperti berhenti berputar. Tangisan Alya semakin keras, mengguncang hati siapa pun yang mendengarnya. Bu Laila tak henti memeluk putrinya, sementara Pak Lukman berdiri kaku, wajahnya penuh bara amarah.

"Semua ini sudah jadi takdir kita," kata Vandra, seakan semua ini memang sudah rencana dari Tuhan.

"Benar. Kita bisa apa," lanjut Erika lirih.

Vandra menunduk, tubuhnya bergetar hebat. Erika meremas tangannya sendiri, ketakutan. Namun, masih duduk di sisi Vandra seakan mencoba bertahan di tengah amukkan badai.

Alya tiba-tiba bangkit dari kursi. Matanya merah, wajah penuh air mata, tetapi sorotnya menyala dengan luka dan dendam yang tak terbendung. Suaranya bergetar, namun penuh tenaga.

“Cukup! Aku sudah dengar semua alasan, semua pembelaan, semua kebohongan kalian!” Alya menatap Vandra dan Erika bergantian. “Hari ini, aku tidak akan minta lagi alasan atau maaf. Karena maaf darimu, Vandra, sudah tak berarti apa-apa.”

Vandra mencoba berdiri, tetapi Pak Lukman menahan dengan sorot mata yang membuatnya kembali terduduk.

Alya menatap suaminya lekat-lekat, setiap kata keluar seperti petir yang membelah dada.

“Mas Vandra, demi air mata yang sudah aku habiskan, demi sakit yang aku tanggung, demi luka batin yang tidak akan pernah sembuh. Aku berdoa semoga hidupmu bersama wanita ini tidak akan pernah tenang sampai kalian mati!”

Suara isak tertahan terdengar dari Mama Vany, sementara Papa Indera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Alya melanjutkan, suaranya meninggi, tubuhnya gemetar.

“Burungmu itu—yang kau gunakan untuk berkhianat—aku doakan lumpuh! Tidak akan pernah lagi bisa kau gunakan untuk memuaskan siapa pun. Kau tidak akan pernah bisa menurunkan keturunan lain selain dari aku! Cuma anak-anakku yang menjadi darah dagingmu di dunia ini!”

“ALYA!” seru Mama Vany, terkejut oleh doa kutukan sang menantu untuk putranya.

Namun, Alya tak berhenti. Ia menoleh pada Erika, tatapannya begitu menusuk, seperti belati menancap di dada.

“Dan kau, Erika! Semoga seluruh kebahagiaanmu lenyap. Semoga kau merasakan bagaimana rasanya dihina, dikhianati, ditinggalkan, dan disia-siakan oleh lelaki yang kau perjuangkan dengan cara kotor. Aku doakan seluruh hidupmu penuh air mata, penuh kehinaan, penuh kesakitan, dan penuh penyesalan!”

Erika langsung menangis tersedu, tubuhnya gemetar hebat. “Mbak Alya, jangan begitu. Aku ... aku—”

“Diam!” Alya menjerit, suaranya pecah tapi kuat. “Kau sudah hancurkan rumahku! Kau sudah rampas kebahagiaanku! Kau sudah buatku jadi wanita yang bahkan tak bisa menatap wajah anak-anak dengan utuh karena dikhianati ayahnya! Semoga kau tidak pernah merasakan cinta sejati, semoga hidupmu penuh neraka sebelum kau masuk ke dalam tanah!”

Suara doa kutukan itu menggema di seluruh ruangan, membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Bu Laila menangis keras, sementara Pak Lukman mengepalkan tinju, menahan diri untuk tidak menghantam menantunya.

Vandra akhirnya menunduk lebih dalam, tangisnya pecah. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, tubuhnya berguncang. Erika pun terisak, wajahnya pucat pasi, napas terengah-engah seperti orang kehabisan oksigen.

Alya mengusap air matanya kasar, lalu berkata dengan nada penuh kepastian.

“Ingat baik-baik, Vandra. Doa istri yang tersakiti tidak pernah tertolak oleh langit. Dan kau, Erika! Ingat wajahku ini baik-baik, karena setiap kali kau mencoba tersenyum, wajahku akan menghantui mu. Semoga kalian berdua menyesali perbuatan ini sampai mati!”

Setelah itu, Alya roboh ke pelukan Bu Laila. Tangisnya pecah, sementara seisi ruangan membisu. Hanya ada suara isakan dan desahan berat dari setiap dada yang tercekat.

Papa Indera akhirnya bangkit, wajahnya dingin tapi suaranya penuh keputusan.

“Mulai malam ini, rumah ini bukan lagi rumahmu, Vandra. Pergi. Bawa perempuan itu dan jangan pernah kembali sebelum Tuhan sendiri menunjukkan keajaiban bahwa kau layak dimaafkan.”

Vandra gemetar, terhuyung, tak sanggup menatap siapa pun. Erika memegangi lengannya, tapi tatapan kebencian dari semua orang membuat langkah mereka seperti berjalan ke neraka.

Di balik punggung mereka, doa Alya masih menggema, menjadi kutukan yang seakan menempel ke jiwa.

“Tidak ada bahagia, tidak ada keturunan, dan tidak ada cinta sejati. Hanya ada penderitaan dan penyesalan sampai ajal menjemput.”

1
Ning Suswati
doa isteri langsung menembuh langit, mengalahkan doa ibu setelah anak laki2nya menikah, jgn menyalahkan alya, salahnya sendiri yg menginginkan, karena dia yg berbuat penghianatan
Ning Suswati
kalau bukan jodoh, tak akan ada peluangnya, tapi kalau sdh taqdir jodoh semuanya jadi lancar
Ning Suswati
🤣🤣🤣🤣🤣
kacian deh lho, segala cara sdh dilakukan sekalipun bermandikan lumpur dosa,masih aja belum sadar, akan dosa2 yg semakin menumpuk, terus aja bikin sensasi murahan
Ning Suswati
karma gk perlu diundang dia akan datang dg sendirinya, jadi laki2 kebanyakan cuma ada nafsu yg ada di otaknya, tdk perlu pakai perasaan.itu sdh taqdir cintaan tuhan
Ning Suswati
sdh tau anaknya dablek, mau2 nya mendengarkan aduan dari mulut anak yg sdh mempermalukan seisi dunia, masih aja mau di bela, otak nya gk digunakan, sdh jadi jalang juga masih mau dibelain, bukan anak kecil
Ning Suswati
asssyyyiiiiiik, diterima lamaran papa biru, jgn lama2 untuk segera di sah kan dong
Ning Suswati
semoga babang biru cepat dapat laporan kejadian dan dalang dari semua fitnah pada alya
Ning Suswati
makanya diurus gundiknya itu vandra, jadi laki gk ngaruh, apa yg dilakukan gubdiknya gk tau, kalau masih jual tanah kaplingan🤭
Ning Suswati
semoga babang biru segera dapat bertindak dan cari pelakunya, jgn kasih ampun lagi, gk perlu lapor polisi paling juga lepas lagi, hukum rimba aja babang biru
Ning Suswati
enakkan punya isteri muda yg pintar dan berhati iblis, rasakan tuh vandra, apa yg terjadi sekarang semua ulah isteri siri yg gila dan berhati daqjal
Ning Suswati
semua rencana erika sangat cocok dg kerjaan jalangkung, apakah nasib baik akan berpihak kepada manusia berhati iblis, aq rasa sekali ini albiruni akan segera bertindak utk melindungi alya
Ning Suswati
perasaan luka bathin tdk semudah itu akan sembuh, apalagi luka karena penghianatan dlm rumah tangga, tapi tdk semua laki2 bejat, berdamailah dg hati dan bahagia itu kita yg raih
Ning Suswati
kebanyakan sih laki2, tdk bisa menjaga dan melindungi anak2 nya sendiri demi perempuan pemuas nafsu syetan jalang
Ning Suswati
bagus deh, ada zara si preman sekaligus tante yg baik hati, tau yg benar dan baik untuk keluarga
Ning Suswati
baguslah ada yg ngawal vandra dan nek kunti
Ning Suswati
erika ibarat kerbau selalu berkubang dalam lumpur, dan ini lumpur dosa, disitulah tempanya yg bisa membuat kebahagiaan bermandikan uang keringat hasil dosa
Ning Suswati
semoga saja vandra siap2 menerima kenyataan, bertahn dg erika karena sdh tdk ada lagi pelabuhan dan rumah untuk pulang
Ning Suswati
hhhhh emang enak bikin susah sendiri dan karma tdk akan lalai dg tugasnya, semoga cepat katauan kerjaan lanjutan erika menjual diri
Nyai Klipang
vandra lidahnya selalu kelu kalo mau bicara, mending vandra di buat bisu sekalian👍
Ning Suswati
yg namanya jalangkung pastilah, masa mau hidup kismin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!