Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangunan Suci Nawagraha
Tumenggung Rengga dan Ludaka bergerak cepat diantara bayangan. Mereka sebisa mungkin mengindari pertemuan dengan siapapun orang yang ada di jalur menuju ke arah Bangunan Suci Nawagraha yang ada di lereng Gunung Karungrungan.
Setengah hari perjalanan, keduanya berhenti di balik sebuah batu besar dekat jurang yang cukup dalam, persis di sisi jalan menuju Bangunan Suci Nawagraha.
"Sebaiknya kita istirahat sejenak, Lu..
Lihatlah di utara sana ada dua pohon beringin besar yang saling bertautan. Kata orang-orang Wanua Tuntang, jika kita sampai di pohon beringin itu berarti Bangunan Suci Nawagraha sudah tidak jauh lagi dari sini", ucap Tumenggung Rengga sambil menata nafasnya yang tersengal.
"Aku juga sudah cukup letih Gusti Tumenggung..
Kita terlalu banyak memutari jalan yg seharusnya dipersingkat lewat jalan biasanya. Tapi ini juga perlu karena kita tidak boleh bertemu dengan siapapun, apalagi orang-orang Serikat Bulan Darah", jawab Ludaka sembari mengusap keringat yang menetes ke mata.
Ludaka segera melepaskan ikatan kantong air yang terbuat dari kulit kambing di pinggangnya. Usai membuka penutup nya, dia segera meneguk air segar dari kantong air itu. Rasa segar air dari mata air pegunungan membuat rasa dahaganya hilang seketika. Tumenggung Rengga pun juga menenggak air minum usai Ludaka terpuaskan hausnya.
Tak berapa lama kemudian, seorang lelaki terseok-seok berjalan di jalan dekat tempat persembunyian Ludaka dan Tumenggung Rengga. Ini membuat kedua pengikut setia Pangeran Mapanji Wijaya itu langsung waspada.
Tetapi lelaki berpakaian merah hitam itu oleng dan tersungkur ke tanah.
"Kita periksa dia, Lu...
Sepertinya ia anggota Serikat Bulan Darah. Dilihat dari keadaan nya ia pasti sedang tidak baik-baik saja. Ayo kita lihat... ", ajak Tumenggung Rengga yang membuat Ludaka mengangguk pelan. Keduanya dengan hati-hati mendekati sosok lelaki yang ternyata adalah salah satu dari utusan dari Serikat Bulan Darah yang berhasil melarikan diri dari Wanua Tuntang.
Beberapa luka yang ia dapatkan dari pertarungan di Wanua Tuntang membuatnya banyak kehilangan darah hingga tubuh nya jadi lemah. Meskipun hampir sampai di markas besar Serikat Bulan Darah tetapi rasa sakit yang mendera membuat lelaki itu akhirnya tumbang juga.
"Kisanak kau baik-baik saja? ", tanya Ludaka dengan hati-hati sedangkan Tumenggung Rengga bersiap-siap jika orang itu menyerang.
Pandangan orang ini sudah sedemikian kabur karena kehilangan banyak darah hingga ia yakin bahwa dua orang di hadapan nya adalah kawan satu kelompoknya.
"Sampaikan pada pimpinan kita, orang-orang Wanua Tuntang memberontak terhadap kita dan berhasil membunuh Si Kaki Setan.
Ada beberapa orang sakti dalam Wanua Tuntang, sampaikan ini pada pimpinan sekarang jugaaaa... ", ucap orang itu sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Ludaka segera menoleh ke arah Tumenggung Rengga. Dengan anggukan kepala, Tumenggung Rengga pun meminta Ludaka untuk menghabisinya.
Ludaka langsung mencabut pedangnya dan langsung menusuk ulu hati orang ini sambil membekap mulut lelaki yang tak sadarkan diri itu.
Jlleeeeeeebbbbbb!!
Lelaki itu menggeliat sebentar sebelum akhirnya diam untuk selamanya. Setelah memastikan orang ini tewas, Tumenggung Rengga dan Ludaka segera menyeret mayatnya dan melemparkan nya ke jurang di samping batu besar untuk menghilangkan jejak.
"Sepertinya Gusti Pangeran Mapanji Wijaya dan yang lainnya berhasil menumpas kelompok penagih upeti, Gusti Tumenggung.
Tetapi hamba yakin, kelompok itu pasti sedang bersiap untuk menyerbu ke Wanua Tunggu. Kedatangan mereka pasti untuk memastikan kekuatan Wanua Tuntang", ucap Ludaka penuh keyakinan.
"Aku juga berpikir seperti itu, Lu..
Kalau begitu kita harus secepatnya menyelidiki markas besar Serikat Bulan Darah sebelum mereka mengambil tindakan. Ayo kita segera bergerak.. "
Dua pengikut setia Pangeran Mapanji Wijaya itu segera bergegas menuju ke arah utara dimana Bangunan Suci Nawagraha yang merupakan markas besar Serikat Bulan Darah berada. Tak butuh waktu lama, Tumenggung Rengga dan Ludaka melihat bangunan lawas yang terlihat dijaga oleh orang-orang berpakaian merah hitam.
Menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka, Tumenggung Rengga dan Ludaka memanjat pohon krombang berdaun lebat dan tinggi menjulang. Dari pucuk pohon krombang, mereka bisa melihat keadaan sekitar Bangunan Suci Nawagraha dengan jelas.
Di sekitar Bangunan Suci Nawagraha, sekitar 100 orang terlihat. Sebagian besar berjaga di sekitar bekas tempat suci itu sedangkan lainnya nampak sibuk mengangkut barang dalam peti peti kayu berukuran besar. Beberapa orang terlihat sibuk menajamkan senjata sedangkan kelompok kecil lainnya disibukkan dengan dapur yang sedang mengepulkan asap di sisi luar Bangunan Suci Nawagraha.
"Menurut perhitungan ku, setidaknya ada 100 orang lebih yang menjaga tempat ini, Gusti Tumenggung..
Tapi dilihat dari pancaran tenaga dalam nya, mereka hanya pendekar menengah dengan tingkat tenaga 2 sampai 4 saja. Tidak terlihat jagoan hebat kecuali orang bermata satu yang berdiri di atas tembok pagar itu. Ia setidaknya memiliki tingkat tenaga dalam 5...", bisik Ludaka yang membuat Tumenggung Rengga manggut-manggut setuju.
"Pagar Bangunan Suci Nawagraha juga tidak terlalu tinggi, masih bisa di lompati jika terjadi pertempuran. Jelas ini bukan bangunan yang bagus jika dibuat sebagai tempat perkumpulan.
Lantas apa tujuan pendirian markas besar Serikat Bulan Darah disini kira-kira? ", gumam Tumenggung Rengga yang membuat Ludaka berpikir keras.
" Selain jalan yang sulit dilewati dan tempatnya yang sangat terpencil, hamba rasa tidak ada keuntungan lain yang didapat oleh Serikat Bulan Darah, Gusti Tumenggung... ", pendapat Ludaka.
" Kau memang benar, Ludaka..
Tetapi aku yakin selain alasan itu, ada rahasia lain yang terpendam dalam Bangunan Suci Nawagraha ini. Kita harus mencarinya sebelum pulang dan melaporkannya pada Gusti Pangeran Mapanji Wijaya ", tegas Tumenggung Rengga yang membuat Ludaka mengangguk setuju.
****
Pangeran Mapanji Wijaya membuat peta pada selembar kulit kambing. Tujuannya untuk mencari celah-celah muka bumi di sekitar Wanua Tuntang yang bisa digunakan sebagai jalan pelarian bagi wanita, orang tua dan anak-anak jika terjadi penyerbuan oleh kelompok Serikat Bulan Darah.
Dengan bantuan Ki Jagabaya Panut dan Lurah Mpu Jambal, Pangeran Mapanji Wijaya menyusun taktik pelarian itu sebagai antisipasi jika penyerbuan itu benar-benar terjadi.
Nararya Candrawulan semakin kagum dengan tata cara pikir Pangeran Mapanji Wijaya yang tersohor sebagai pangeran pecundang di Kotaraya Watugaluh. Sekelas Danghyang Mpu Sorandaka, penasehat utama Adipati Kalingga Mpu Sada ayahnya, tidak bisa berpikir sejauh ini.
'Aku semakin yakin, Gusti Pangeran Mapanji Wijaya adalah jodoh yang terbaik untuk ku', batin Nararya Candrawulan.
Tetapi ketenangan itu tidak berlangsung lama. Saat langit mulai memerah di ufuk barat, seorang anggota keamanan Wanua Tuntang berlari pontang-panting memasuki pendopo kediaman Rama Mpu Jambal. Tentu saja kemunculannya membuat semua mata langsung tertuju pada nya.
"Ada apa Leng? Kenapa kau berlari seperti sedang dikejar setan begitu hah? ", tanya Rama Mpu Jambal segera.
" Ada keributan besar di ujung kampung sana, Ki Rama.
Para prajurit berusaha untuk menghentikannya tetapi semua bisa dikalahkan oleh orang itu ", lapor Weleng dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
" Kenapa baru sekarang dilaporkan? Bukankah aku sudah mengatur agar setiap ada pergerakan Serikat Bulan Darah di kampung ini segera bunyikan kentongan ", Pangeran Mapanji Wijaya ikut bersuara.
Weleng segera menghormat pada Pangeran Mapanji Wijaya sebelum akhirnya berkata,
" Mohon ampun Gusti Pangeran tetapi seperti nya orang itu,
Bukan anggota Serikat Bulan Darah... "