NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dul Menghilang

Bambang tidak bisa tidur setelah percakapannya dengan Ucok. Dia berbaring di ranjang besi itu dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar yang retak-retak, mendengarkan suara tikus di atas plafon tripleks. Pikirannya tidak berhenti bekerja. Setiap kata Ucok terngiang di kepalanya berulang-ulang. Pabrik tutup lima tahun lalu. Gudang produksi masih berjalan. Makhluk-makhluk keluar setiap malam. Dan kami adalah umpan.

Jam menunjukkan pukul sembilan pagi ketika Bambang memutuskan untuk berhenti berbaring. Dia tidak akan bisa tidur. Lebih baik dia melakukan sesuatu daripada hanya terbaring di ranjang sambil dirundung ketakutan. Dia duduk dan mengucek matanya. Wajahnya di cermin kecil yang tergantung di dinding terlihat mengerikan. Lingkar hitam di bawah matanya tebal. Kulitnya pucat. Rambutnya acak-acakan. Dia terlihat seperti mayat hidup.

Dia keluar dari kamar dan berjalan ke ruang tamu. Joni sedang duduk di sofa sambil memegang cangkir kopi. Matanya sayu. Tidak seperti biasanya. Senyum lebarnya tidak ada pagi ini. Yang ada hanya wajah kosong yang menatap ke dinding tanpa fokus.

"Joni, kamu nggak apa-apa?" tanya Bambang.

Joni tidak menjawab. Matanya tetap menatap dinding. Bibirnya bergerak-gerak seperti sedang bicara pada seseorang yang tidak ada di sana.

"Joni!"

Joni tersentak. Matanya berkedip cepat beberapa kali. Dia menoleh ke arah Bambang dengan ekspresi bingung. "Eh, Bang. Iya? Ada apa?"

"Kamu dari tadi melamun. Panggil-panggil nggak nyahut."

"Ah, iya. Maaf. Kurang tidur kayaknya."

Bambang duduk di samping Joni. Dia memperhatikan wajah Joni lebih dekat. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya lingkar hitam di bawah matanya. Tapi matanya sendiri. Sorot matanya seperti orang yang sedang tidak benar-benar hadir. Seperti ada sebagian dari dirinya yang pergi entah ke mana.

"Joni, gue mau tanya sesuatu."

"Tanya aja, Bang."

"Kamu pernah lihat Dul akhir-akhir ini?"

Joni mengerjapkan mata. "Dul? Dul lagi sakit di kamar. Udah seminggu."

"Kamu pernah masuk ke kamarnya? Lihat dia?"

Joni terdiam. Wajahnya berubah bingung. "Gue... gue nggak pernah masuk. Dul nggak suka diganggu. Herman yang jaga dia."

"Kamu nggak penasaran?"

"Penasaran kenapa?"

Bambang menatap Joni lama. Joni balas menatap dengan polos. Sepertinya Joni benar-benar tidak curiga. Atau mungkin Joni sudah terlalu terpengaruh oleh makhluk-makhluk itu sehingga pikirannya tidak lagi jernih.

"Joni, gue mau ke kamar Dul."

Joni terkejut. "Jangan, Bang. Herman marah."

"Gue cuma mau liat. Nggak akan lama."

"Tapi..."

"Joni, kamu nggak penasaran kenapa nggak ada satu pun dari kita yang pernah lihat Dul sakit? Cuma Herman yang cerita. Kita percaya aja."

Joni terdiam. Matanya berkedip cepat. Mungkin pertanyaan Bambang mulai meresap ke dalam pikirannya yang keruh.

"Gue ikut," kata Joni akhirnya.

Mereka berdua berjalan menyusuri lorong menuju kamar-kamar satpam. Kamar Dul adalah nomor empat, tepat di sebelah kamar Bambang. Pintunya tertutup rapat. Tidak ada suara dari dalam. Tidak ada cahaya yang menyelinap dari celah-celah pintu.

Bambang mengetuk pintu pelan. "Dul? Itu Bambang. Boleh masuk?"

Tidak ada jawaban.

Dia mengetuk lagi, lebih keras. "Dul! Ada orang di dalam?"

Masih tidak ada jawaban.

Bambang mencoba membuka pintu. Terkunci.

"Dia mungkin lagi tidur," kata Joni dengan suara ragu.

"Jam segini? Udah jam sembilan pagi. Orang sakit biasanya bangun kesakitan, bukan tidur nyenyak kayak gini."

Bambang mundur selangkah. Dia menendang pintu itu dengan sekuat tenaga. Kayu pintu berderit keras. Tendangan kedua. Pintu mulai renggang. Tendangan ketiga. Pintu terbuka.

Kamar Dul gelap. Jendela tertutup rapat dengan papan kayu. Lampu tidak menyala. Bau menyengat langsung menyambut hidung mereka. Bau anyir. Bau seperti daging busuk. Seperti sesuatu yang sudah mati beberapa hari.

Bambang menutup hidungnya. Joni mundur selangkah.

"Bang, ini bau apa?"

Bambang tidak menjawab. Dia mencari saklar lampu di dinding. Tangannya meraba-raba dalam gelap sampai jarinya menyentuh plastik saklar. Dia menekannya.

Lampu menyala redup.

Kamar Dul kosong.

Ranjang besi di pojok tidak ada seprai. Tidak ada bantal. Hanya kasur kotor dengan noda-noda hitam yang tidak jelas asalnya. Lemari kayu terbuka lebar, kosong. Lantai kamar dipenuhi debu dan kotoran. Sepertinya kamar ini sudah tidak dihuni sejak lama. Berminggu-minggu. Mungkin berbulan-bulan

"Joni, kapan terakhir kamu lihat Dul?"

Joni berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. "Gue... gue nggak ingat. Mungkin sebulan yang lalu? Atau lebih? Gue... gue nggak ingat, Bang."

"Kenapa kamu nggak pernah curiga? Kamu nggak pernah tanya ke Herman?"

"Gue... gue nggak tahu. Setiap kali gue mau tanya, rasanya malas. Kayak ada yang bisikin gue buat nggak usah tanya."

Bambang mendekati ranjang Dul. Noda-noda hitam di kasur itu. Dia menyentuhnya dengan ujung jari. Kering. Tidak lengket. Tapi baunya masih kuat. Bau anyir itu.

Dia melihat ke bawah ranjang. Ada sesuatu di sana. Sebuah buku. Buku kecil dengan sampul coklat. Mungkin buku catatan. Mungkin buku harian.

Bambang meraihnya. Sampulnya berdebu. Dia membuka halaman pertama. Tulisan tangan, dengan pulpen biru, sedikit miring dan sulit dibaca.

Hari pertama di pabrik. Aku tidak suka tempat ini. Herman bilang ikuti aturan. Tapi aturannya aneh. Kenapa tidak boleh buka gudang malam? Kenapa tidak boleh bicara dengan pengunjung malam? Siapa pengunjung malam itu?

Bambang membalik halaman.

Hari ketujuh. Aku lihat sesuatu di monitor CCTV. Makhluk. Besar. Hitam. Aku matikan monitornya. Tadi malam aku mimpi buruk. Ada suara panggil namaku dari hutan. Aku tidak jawab. Aku ingat aturan nomor dua.

Hari keempat belas. Mimpiku semakin aneh. Aku melihat pabrik ini waktu masih beroperasi. Pekerjanya banyak. Lalu ada kecelakaan. Mesin meledak. Orang-orang berteriak. Darah di mana-mana. Tapi aku tidak pernah ada di sini waktu kecelakaan itu. Kenapa aku bisa melihatnya?

Hari kedua puluh satu. Joni mulai berbicara sendiri malam-malam. Dia panggil nama seseorang. Siapa namanya? Aku lupa. Ucok bilang Joni mulai kemasukan. Aku takut. Aku tidak ingin jadi kayak Joni.

Bambang berhenti membaca. Joni berdiri di sampingnya sekarang, ikut membaca. Wajah Joni semakin pucat. Tangannya gemetar.

"Bang, gue... gue nggak tahu. Gue nggak sadar kalau gue bicara sendiri."

"Tenang, Jon. Kita lanjut baca dulu."

Hari ketiga puluh. Aku tahu rahasia pabrik ini. Mereka tidak produksi karet. Mereka produksi manusia karet. Makhluk-makhluk itu dulu manusia. Kayak kita. Mereka kena mesin itu. Berubah jadi kayak gitu. Dan sekarang mereka lapar. Mereka makan mimpi kita. Mereka makan ingatan kita. Sedikit demi sedikit. Sampai kita berubah kayak mereka.

Hari keempat puluh lima. Herman bohong. Dul tidak sakit. Dul... Dul sudah berubah. Aku lihat Dul tadi malam di hutan. Dia berdiri di tepi hutan, menatap ke arah pabrik. Matanya kosong. Kulitnya hitam. Aku panggil namanya. Dia tidak jawab. Dia tersenyum. Senyum yang sama seperti makhluk di monitor. Aku lari ke kamar. Aku tidak bisa tidur. Aku takut suatu malam aku akan berdiri di tepi hutan dan tersenyum seperti Dul.

Hari kelima puluh. Aku mau kabur. Tapi kontrak. Denda lima ratus juta. Keluargaku. Aku tidak tega. Tapi kalau aku tetap di sini, aku akan berubah. Aku akan jadi makhluk. Aku akan makan mimpi temanku sendiri. Lebih baik aku mati. Tapi bagaimana caranya?

Hari terakhir. Aku tahu caranya. Hanya api yang bisa membunuh mereka. Api bisa menghancurkan gudang produksi. Tapi Herman bilang jangan coba-coba. Dia sudah coba. Lihat bekas luka di dadanya. Itu dari kolam. Kolam itu hidup. Kolam itu bisa membakar balik. Tapi aku tidak peduli. Malam ini aku akan coba. Aku akan bakar gudang itu. Kalau aku berhasil, kalian selamat. Kalau aku gagal... setidaknya aku sudah coba.

Tulisan itu berakhir di situ. Halaman berikutnya kosong. Tidak ada lagi cerita. Bambang menutup buku itu perlahan. Tangannya gemetar.

"Dul mencoba membakar gudang," bisik Bambang.

"Bang, lihat ini."

Joni menunjuk ke sudut kamar. Di balik lemari yang terbuka, ada sesuatu yang menempel di dinding. Sebuah foto. Foto Dul, berdiri di depan gerbang pabrik. Senyumnya lebar. Wajahnya segar. Itu pasti foto saat dia baru datang, seperti Bambang sekarang.

Di bawah foto itu, ada tulisan dengan spidol merah. Bukan tulisan Dul. Tulisan orang lain. Tulisan yang lebih rapi. Lebih teratur.

SUBJEK GAGAL. ELIMINASI. BATCH EMPAT.

Bambang merasakan dingin menjalar dari ujung rambut sampai ujung kaki. Subjek gagal. Eliminasi. Batch empat. Artinya Dul bukan korban pertama. Dan Bambang bukan yang terakhir.

"Kita harus lapor ke Herman," kata Joni dengan suara gemetar.

"Joni, Herman tahu semua ini. Herman bagian dari mereka."

"Tapi..."

"Pikirkan, Jon. Kenapa Herman yang selalu menyuruh kita ikuti aturan? Kenapa Herman yang selalu bilang jangan cari tahu? Karena Herman bekerja untuk perusahaan. Tugasnya menjaga kita tetap di sini sampai kita habis."

Joni terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Jadi kita... kita semua akan mati di sini?"

"Kita tidak akan mati, Jon. Kita akan berubah. Seperti Dul. Seperti dua belas nama di dinding kantin. Tapi tidak jika kita lakukan sesuatu."

"Kita bakar gudangnya? Seperti yang Dul coba?"

Bambang menggeleng. "Dul gagal. Herman gagal. Kita harus cari cara lain."

Dia memandangi buku harian di tangannya. Hanya api yang bisa membunuh mereka. Tapi kolam itu bisa membakar balik. Itu yang ditulis Dul. Itu yang dialami Herman.

Tapi di mana ada api, di situ ada darah.

Bambang teringat sesuatu. Sesuatu yang dia lupa. Sesuatu yang dia baca di buku itu. Darah. Darah manusia biasa adalah racun bagi makhluk-makhluk itu.

Tunggu. Itu tidak ada di buku Dul.

Itu ada di mana?

Bambang mengerutkan kening. Dia tidak pernah membaca itu di mana pun. Tapi kenapa kata-kata itu tiba-tiba muncul di kepalanya? Seperti seseorang membisikkannya. Seperti sesuatu yang sudah lama dia ketahui tanpa sadar.

Darah manusia biasa adalah racun bagi mereka.

Dari mana dia tahu?

Pintu kamar terbuka lebar. Herman berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin. Matanya beralih dari Bambang ke Joni, lalu ke buku harian di tangan Bambang.

"Itu bukan milik kamu," kata Herman pelan.

Bambang menyembunyikan buku itu di belakang punggungnya. "Dul sudah tidak di sini, Herman. Kamar ini kosong sejak lama."

"Dul sudah dipindahkan. Ke tempat yang lebih aman."

"Jangan bohong. Dul sudah berubah. Dul sudah jadi makhluk. Aku liak tulisannya."

Herman melangkah masuk ke kamar. Wajahnya masih dingin, tapi matanya... matanya gelisah. Ada ketakutan di sana. Ketakutan yang dia coba sembunyikan.

"Kalian tidak mengerti apa-apa."

"Maka jelaskan," kata Bambang tegas. "Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di pabrik ini. Jelaskan kenapa Dul hilang. Jelaskan kenawa dua belas orang sebelumnya juga hilang."

Herman terdiam. Dadanya naik turun cepat. Dia menatap Bambang, lalu Joni, lalu kembali ke Bambang.

"Baik. Kalian mau tahu? Aku akan cerita. Tapi tidak di sini. Nanti malam. Di kantin. Setelah semua orang tidur. Jangan bilang Ucok."

Herman keluar dari kamar. Langkahnya cepat, seperti dia tidak mau berada di sana lebih lama lagi.

Bambang dan Joni saling bertatapan.

"Ini jebakan?" bisik Joni.

"Entahlah. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Kita perlu jawaban."

Bambang menyelipkan buku harian Dul ke dalam sakunya. Dia berjalan keluar dari kamar Dul, diikuti Joni yang masih gemetar. Mereka melewati lorong menuju ruang tamu. Sepanjang jalan, Bambang tidak bisa berhenti memikirkan satu kalimat yang muncul entah dari mana di kepalanya.

Darah manusia biasa adalah racun bagi mereka.

Apakah itu ingatan dari kehidupan sebelumnya? Atau apakah itu... sesuatu yang dibisikkan oleh makhluk-makhluk itu? Apakah makhluk-makhluk itu yang menanamkan pengetahuan itu ke dalam pikirannya?

Bambang menggigit bibirnya. Dia tidak tahu lagi apa yang nyata dan apa yang tidak. Satu yang dia tahu pasti. Malam ini, Herman akan bicara. Dan apa pun yang Herman katakan, Bambang harus siap untuk apa pun. Termasuk kemungkinan bahwa Herman sendiri mungkin sudah tidak sepenuhnya manusia.

1
Mega Arum
luar biaaa...
Mega Arum
lanjuuut tra Thoor
Mega Arum
menegangkan.... tp msh penasaran siapa pak toni dan apa maksut dr perusahaan karet membuat hantu karet
Mega Arum
bagus sekali Thoor..
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!