NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 2 BAB 3: RACUN BERBALUT SUTRA

Sementara itu, di Kedai Majapahit, suasana sedang sangat sibuk. Kirana sedang berada di area pastry, tangannya lincah mengolah adonan klepon yang akan ia sajikan dengan gaya modern—diisi dengan lava gula aren cair yang akan meledak di mulut.

"Chef, ada tamu di depan. Dia bilang dia punya informasi tentang 'Buku Biru'," lapor seorang pelayan.

Kirana langsung meletakkan alat masaknya. "Buku Biru?"

Jantungnya berdebar. Buku itu adalah warisan terakhirnya untuk Arga dan Bara. Dia bergegas ke area depan restoran. Di sana, duduk seorang pria tua dengan pakaian batik usang. Di atas meja, pria itu meletakkan sebuah bungkusan kain kuning yang sudah sangat tua dan rapuh.

"Saya dengar Chef Kirana mencari jejak sejarah kuliner Majapahit yang hilang," kata pria tua itu dengan suara serak. "Keluarga saya menjaga benda ini turun-temurun. Katanya, ini ditulis oleh seorang 'Putri dari Selatan' yang jiwanya berasal dari masa depan."

Kirana gemetar. Dia duduk di depan pria itu. "Boleh saya lihat?"

Dengan tangan gemetar, Kirana membuka bungkusan itu. Di dalamnya terdapat buku biru yang sudah lapuk. Tintanya banyak yang luntur, tapi di halaman pertama, dia masih bisa melihat tulisan tangannya sendiri yang menggunakan bahasa Indonesia modern di tengah-tengah aksara Kawi kuno.

Di sana tertulis: “Untuk Bara. Jika suatu saat kau menemukan wanita yang memasak dengan cara yang sama denganku, panggillah dia Ibu. Dan katakan pada Ayahmu, aku masih menunggunya di ujung waktu.”

Air mata Kirana jatuh membasahi sampul buku itu. Jadi benar, buku ini selamat. Dan jika buku ini ada di sini, berarti ada sesuatu yang ditinggalkan Bara untuk membimbingnya kembali ke Arga.

"Di mana Bapak menemukan ini?" tanya Kirana.

"Di sebuah gua tersembunyi di lereng Gunung Lawu, Chef. Tempat itu dipercaya sebagai tempat bertapa Jenderal Arga setelah sang istri tiada," jawab pria itu. "Tapi ada satu hal lagi. Di bagian belakang buku ini, ada peta. Peta menuju tempat di mana Jenderal Arga menyimpan 'harta' yang paling berharga."

Kirana membuka bagian belakang buku. Benar saja, ada sebuah sketsa peta yang dibuat dengan sangat detail. Namun, ada satu simbol yang membuatnya tertegun. Simbol itu adalah bunga Edelweiss yang dikelilingi oleh duri—simbol yang menggabungkan namanya dan Jenderal Arga.

"Chef!"

Kirana tersentak saat pintu restoran terbuka kasar. Arga berdiri di sana dengan wajah berkeringat, napasnya terengah-engah. Dia tidak sendirian. Laras mengekor di belakangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Kita perlu bicara," kata Arga tajam. Matanya langsung tertuju pada buku biru di atas meja.

Laras, yang melihat buku itu, langsung memicingkan mata. Sebagai konsultan seni, dia tahu nilai barang antik. Tapi lebih dari itu, dia merasakan ancaman dari buku tua itu.

"Wah, barang antik apa lagi ini?" Laras mendekat, tangannya hendak meraih buku itu. "Chef Kirana, Anda sepertinya sangat suka mengumpulkan barang-barang... kusam."

"Jangan sentuh!" bentak Kirana secara instingtif. Suaranya mengandung otoritas seorang Executive Chef sekaligus ketegasan seorang Putri Tantri.

Laras terkejut. Arga pun ikut terdiam melihat tatapan mata Kirana yang tiba-tiba berubah sangat tajam—tatapan yang mengingatkannya pada mimpinya tentang seorang wanita yang sedang mengamuk di dapur kerajaan.

"Maaf," Kirana mengatur napasnya, mencoba kembali ke mode profesional. "Ini barang pribadi. Tuan Arga, kenapa Anda ke sini?"

Arga melangkah maju, mendekati meja. Dia menatap buku biru itu, lalu menatap Kirana. "Aku baru saja memakan buburmu. Dan aku ingin tahu... kenapa setiap suapannya terasa seperti sebuah cerita yang sudah pernah aku dengar?"

Kirana tersenyum tipis, meski hatinya terasa seperti diremas. "Mungkin karena masakan adalah bahasa jiwa, Arga. Tidak peduli berapa ratus tahun berlalu, lidah tidak akan pernah lupa pada rasa yang pernah membuatnya merasa aman."

Laras tertawa sinis, memecah ketegangan. "Oh, ayolah. Ini hanya soal bumbu dan teknik masak, Chef. Jangan terlalu puitis. Arga, pameran kita membutuhkan pisau itu, dan buku ini sepertinya bisa jadi pelengkap yang bagus untuk koleksi museum keluarga kita."

"Buku ini tidak akan pernah masuk museum," kata Kirana tegas. "Buku ini adalah pesan pribadi."

"Pesan untuk siapa?" tanya Arga, matanya terkunci pada mata Kirana.

Kirana terdiam sejenak. Dia tahu ini terlalu cepat. Arga modern adalah pria yang logis. Jika dia mengatakan "Ini buku yang aku tulis di kehidupan kita sebelumnya", Arga mungkin akan menganggapnya gila dan menjauh. Dia harus menggunakan pendekatan yang lebih halus. Pendekatan slow burn.

"Pesan untuk seorang pria yang kehilangan arah," jawab Kirana pelan. "Arga, apakah kau mau membantuku menerjemahkan beberapa bagian di buku ini? Ada kode-kode kuno yang sepertinya berhubungan dengan pisau Damaskus milikmu."

Arga melihat keraguan di mata Kirana, namun dia juga melihat kejujuran yang luar biasa. Di sisi lain, Laras tampak sangat tidak suka dengan interaksi ini.

"Arga, kita punya janji temu dengan investor!" Laras menarik lengan Arga.

Arga menepis tangan Laras perlahan. "Laras, pergilah duluan. Aku akan menyusul."

"Tapi Arga—"

"Pergilah."

Dengan wajah memerah karena marah, Laras berbalik dan keluar dari restoran. Namun sebelum benar-benar pergi, dia sempat melirik Kirana dengan tatapan penuh kebencian. Kau pikir kau bisa menang lagi, Kirana? Di masa lalu aku mungkin gagal menghancurkanmu sepenuhnya, tapi di sini, di duniaku, kau hanyalah koki rendahan, batin Laras.

Setelah Laras pergi, suasana restoran menjadi sunyi. Pria tua pembawa buku tadi juga sudah pamit setelah menerima uang tanda terima kasih dari Kirana.

Kini hanya tinggal Kirana dan Arga.

"Duduklah," kata Kirana, menunjuk kursi di depan meja. "Aku akan buatkan kopi gula aren dengan sedikit rempah. Itu bagus untuk menjernihkan pikiran."

Arga duduk, merasa sedikit kikuk. "Kau tahu... asistenku bilang kau sombong."

Kirana tertawa sambil mulai meracik kopi. "Aku tidak sombong. Aku hanya tahu apa yang aku inginkan, dan aku tidak suka orang yang tidak kompeten mencampuri dapurku. Bukankah kau juga begitu di kantormu?"

Arga terdiam. Ya, mereka berdua memiliki sifat yang sama. Pemimpin, keras kepala, dan perfeksionis.

"Kenapa kau begitu yakin pisau itu dan buku ini berhubungan?" tanya Arga.

Kirana membawa dua cangkir kopi dan duduk di hadapan Arga. Dia membuka halaman tengah buku biru itu. Di sana ada sebuah gambar sketsa pisau yang identik dengan pisau Damaskus milik Arga. Di bawah gambar itu tertulis sebuah kalimat dalam bahasa Kawi.

"Coba kau baca ini," pinta Kirana.

Arga melihat tulisan itu. Anehnya, meski dia tidak pernah belajar bahasa Kawi secara formal, dia merasa bisa membacanya. Mulutnya bergerak secara otomatis.

"Nityasa ing manah... Eternal in the heart. The blade is the key, the recipe is the map."

Begitu kata-kata itu terucap, pisau Damaskus yang dibawa Arga di dalam tas kerjanya tiba-tiba bergetar kecil. Arga merasakannya.

"Apa yang terjadi?" Arga panik, dia mengeluarkan pisau itu dari tasnya.

Gagang pisau itu mulai bersinar redup. Ukiran nama KIRANA tampak lebih tajam dan dalam, seolah-olah baru saja diukir ulang oleh tangan gaib.

Kirana menutup mulutnya dengan tangan. "Bara... anak itu benar-benar melakukannya. Dia menggunakan energi spiritual Jenderal Arga untuk mengunci pesan ini."

Arga menatap Kirana dengan tatapan yang sangat intens. "Siapa Bara? Kau menyebut nama itu lagi. Dan kenapa pisau ini bereaksi pada suaramu?"

Kirana menarik napas panjang. Inilah saatnya. Dia tidak bisa lagi bersembunyi sepenuhnya.

"Bara adalah putra kita, Arga. Putra yang kau timang di tengah hujan badai lima ratus tahun yang lalu, sesaat setelah jiwaku meninggalkan tubuh Putri Tantri."

Arga mematung. Kata-kata itu terdengar gila, sangat gila. Tapi di saat yang sama, setiap inci sel di tubuhnya berteriak bahwa itu adalah kebenaran.

"Kau... kau bercanda, kan?" suara Arga parau.

"Aku Executive Sous Chef, Arga. Aku tidak punya waktu untuk bercanda soal sejarah," Kirana mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekati wajah Arga. "Kau ingat bagaimana rasanya sate kambing yang kau janjikan padaku? Kau ingat bagaimana kau menangis dan memohon agar aku tidak pergi?"

Ingatan itu menghantam Arga seperti gada besi. Kilasan-kilasan memori tentang tangisannya sendiri, tentang wajah Kirana yang memudar, dan tentang bayi kecil bernama Bara yang menangis di pelukannya.

Arga memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. "Hentikan... ini terlalu banyak..."

"Maafkan aku," Kirana segera bangkit dan mengitari meja, menyentuh bahu Arga. "Aku tahu ini berat. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Jika Laras adalah reinkarnasi dari orang yang sama di masa lalu, dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan pisau ini dan menghancurkan kita lagi."

Arga mendongak, matanya merah. "Laras? Dia... dia adalah orang yang meracuni adikmu di masa lalu?"

"Dia adalah Laras yang asli. Si 'White Lotus' yang manipulatif," Kirana menjelaskan. "Dan di kehidupan ini, dia tampaknya memiliki kekuatan finansial dan koneksi yang lebih besar untuk memisahkan kita."

Arga terdiam sejenak, mencoba memproses semuanya. Dia menatap pisau Damaskus, lalu menatap Kirana. Rasa ragunya perlahan memudar, digantikan oleh naluri pelindung yang sudah mendarah daging.

"Jika benar apa yang kau katakan," kata Arga, suaranya kembali dingin dan tegas seperti seorang Jenderal. "Maka aku tidak akan membiarkan sejarah terulang kembali. Aku kehilanganmu sekali karena ketidaktahuanku. Kali ini, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu."

Kirana tersenyum, air mata haru mengalir. "Itu baru Jenderalku."

Namun, di luar restoran, Larasati sedang duduk di dalam mobil mewahnya, menatap layar tabletnya. Dia sedang melihat rekaman percakapan mereka melalui alat penyadap yang sempat ia tempelkan di bawah meja saat Kirana sedang di dapur tadi.

"Jiwa dari masa depan? Reinkarnasi?" Laras tertawa dingin. "Menarik sekali. Jadi kau adalah koki yang mencuri hati Jenderalku. Baiklah, Kirana. Mari kita lihat, apakah 'resep-resep' kunomu bisa menyelamatkanmu dari skandal yang akan aku ciptakan besok pagi."

Laras menekan sebuah nomor di ponselnya. "Halo? Kirimkan foto-foto pertemuan Chef Kirana dan Arga ke media. Beri judul: 'Chef Viral Gunakan Guna-guna Kuliner untuk Jerat Kolektor Kaya'. Dan pastikan bahan-bahan di dapurnya diperiksa oleh dinas kesehatan besok. Masukkan sedikit 'bumbu' tambahan di sana."

Perang kedua telah resmi dimulai. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, cinta yang tertunda selama lima abad kini harus berhadapan dengan racun modern yang jauh lebih mematikan daripada racun di masa lalu.

...****************...

...Bersambung.... Terima kasih telah membaca📖 Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yeaayyy ngumpul semua 🥳🥳
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
ms. S
mantap up lagi ya kak👍👍
ms. S
keren...
SeekarYaSeekar
akhirnya update juga kak
Calisa
seru
Calisa
kok aku bingung ya?
arga itu kakak iparnya Panji? terus Kirana siapanya panji sih? 😅
Calisa
emang arga istrinya berapa? Laras bukannya adik angkat?
Calisa
ayo kiranaaa.. hajaarrr
Calisa
diancam kayak gini siapa yg nggak takut 🤣
ms. S
novel dgn bab sedikit tapi cerita ga kaleng2. tuntas dan jelas. cerita jendral dan chef dan masa lalu. good job Thor.
Nunung Elasari
recommended, ceritanya bagus.......
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!