NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27 : Nayra terpaku

Amanda menatap Arsen lekat. “Ternyata… kamu benar-benar melakukannya,” ucapnya pelan.

Senyumnya masih ada. Namun matanya jelas menyimpan luka. Arsen terdiam sesaat, ia menarik napas pendek, lalu menatap Amanda tanpa menghindar.

“Ini keputusanku,” jawabnya akhirnya, datar. “Aku harap kamu bisa menghargainya.”

DEG

Kalimat itu seperti pisau yang menusuk pelan. Amanda tertawa kecil, bukan tawa bahagia. Lebih seperti menertawakan dirinya sendiri.

“Menghargai?” ulangnya pelan. “Aku datang jauh-jauh, tanpa kamu kabari sedikit pun dan kamu minta aku menghargainya?”

Suasana di sekitar mereka mulai terasa tegang. Beberapa tamu yang berdiri tidak jauh mulai melirik.

Nayra yang sejak tadi diam, kini akhirnya angkat bicara. “Maaf,” ucapnya tenang, namun tegas. “Ini hari pernikahan kami.”

Amanda menoleh perlahan ke arah Nayra. Tatapannya berubah, bukan lagi sekadar menilai... kini tatapannya tajam.

“Jadi kamu…” ucapnya pelan. “Perempuan yang dia pilih?”

Nayra tidak mundur, ia menatap balik tanpa ragu. “Ya.”

Jawaban singkat itu membuat Amanda terdiam beberapa detik. Lalu, ia tersenyum lagi. Namun kali ini berbeda.

“Jahat kamu, Sen,” gumamnya. Ia kembali menatap Arsen. “Sejak kapan kamu dengan wanita ini?” tanyanya. “Atau ini hanya keputusan mendadakmu, karena kamu tidak ingin di jodohkan?”

Arsen mengernyit sedikit. “Amanda...”

“Kamu tidak pernah berubah ya,” potong Amanda cepat. “Masih suka mengambil keputusan sendiri, tanpa peduli perasaan orang lain.”

Kalimat itu terucap begitu saja dan lebih menyakitkan. Rahang Arsen mengeras. Namun sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara kecil tiba-tiba terdengar dari samping.

“Om Arsen…”

Semua menoleh.

Raya, ia berdiri di sana, menatap lurus ke arah Amanda. Wajahnya tidak lagi seperti anak kecil yang usil, tatapannya serius.

Amanda sedikit terkejut, matanya turun menatap anak itu. “Siapa ini?” tanyanya pelan.

Raya melangkah mendekat, berdiri di samping Nayra. Secara tidak sadar deperti tameng.

“Aku anaknya,” jawab Raya tegas.

DEG

Suasana langsung berubah. Beberapa tamu yang mendengar langsung berbisik-bisik.

Amanda membeku. Matanya perlahan kembali ke arah Nayra, Arsen. Lalu… kembali ke Raya, ekspresinya berubah. Matanya mulai memerah, seperti sedang menahan tangis.

“Anak…?” suaranya hampir tidak terdengar.

Ia tertawa pelan lagi. “Jadi benar... kamu menikahi wanita yang sudah memiliki anak,” bisiknya. “Kamu keterlaluan, Sen.”

Arsen membuka mulut, ingin menjelaskan... namun Amanda mengangkat tangan.

“Stop! Kamu tidak perlu menjelaskan apapun. Semua ini sudah cukup jelas.”

Ia menarik napas dalam. Berusaha menahan semuanya. Namun matanya mulai berkaca-kaca.

“Harusnya, aku yang ada di posisi itu,” ucapnya pelan, hampir seperti pengakuan pada dirinya sendiri.

Nayra terdiam. Raya mengepalkan tangannya dan Arsen untuk pertama kalinya, benar-benar terlihat goyah.

Amanda tersenyum sekali lagi. “Sekali lagi… selamat ya, Arsen,” ucapnya lirih.

Lalu ia berbalik, langkahnya tetap anggun. Namun kali ini terasa jauh lebih berat, tanpa menoleh lagi ia berjalan keluar dari aula.

Amanda sudah hampir mencapai pintu aula. Langkahnya cepat, namun tetap berusaha terlihat tenang.

Sementara itu Arsen tiba-tiba bergerak. Langkahnya lebar, jelas ingin menyusul. Tiba-tiba sebuah tangan kecil menahannya.

“Om mau ke mana?”

Arsen berhenti, menoleh. Raya, anak itu menatapnya tajam, jauh lebih dewasa dari usianya.

“Om mau ninggalin mama… dan ngejar wanita itu?” lanjut Raya, suaranya penuh tuduhan.

Suasana di sekitar mereka kembali menegang.

Arsen menatap Raya beberapa detik. Lalu perlahan tatapannya bergeser ke arah Nayra. “Aku…” ia menarik napas pelan. “Dia itu teman dekatku”

Suaranya lebih rendah sekarang. “Aku hanya ingin bicara dengannya sebentar.” Ia menatap Nayra dalam. “Hanya sebentar. Setelah itu… aku akan kembali.”

DEG

Kalimat itu sederhana, namun entah kenapa… terasa berat di hati Nayra. Ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Namun ia tetap tersenyum tipis, mengangguk. Tangannya terangkat, menarik perlahan tangan Raya dari lengan Arsen.

“Lepaskan, Raya,” ucap Nayra lembut. “Biarkan Om Arsen menyelesaikan masalahnya dulu.”

“Tapi, Ma...”

Nayra mengangguk lagi, kali ini lebih meyakinkan. Akhirnya Raya menghela napas kesal. Lalu ia melepaskan tangan Arsen.

Arsen menatap mereka berdua, ada sesuatu yang bergetar di matanya. Namun sebelum pergi, dengan refleks ia mendekat. Lalu...

CUP

Bibirnya menyentuh pipi Nayra, singkat dan lembut. Namun cukup untuk membuat waktu seakan berhenti. Nayra membeku, matanya membesar. Tubuhnya kaku di tempat.

Arsen sudah berbalik dan pergi, meninggalkan Nayra yang masih terpaku. Perlahan, tangan Nayra terangkat. Menyentuh pipinya sendiri.

“Dia... menciumiku,” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.

Jantungnya berdetak lebih cepat, wajahnya memanas. Namun, beberapa detik kemudian... senyum itu memudar. Pikirannya kembali sadar.

Semua ini hanya sandiwara, wajah Nayra perlahan berubah. Tatapannya menurun, ada rasa kosong yang tiba-tiba muncul.

“Hanya… akting,” gumamnya lirih. Namun anehnya, sentuhan itu masih terasa nyata.

Langkah Arsen terhenti tepat beberapa meter dari pintu aula.

“Amanda.” Suaranya memanggil pelan.

Amanda berhenti, namun ia tidak langsung berbalik. Beberapa detik ia hanya terdiam. Seperti sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang hampir habis.

“Amanda,” ulang Arsen, kali ini lebih dekat.

Akhirnya Amanda berbalik, matanya sudah memerah. Namun ia masih berusaha terlihat tegar.

“Ada apa lagi?” tanyanya dingin.

Arsen menarik napas dalam. “Aku harus jelasin semuanya.”

Amanda tersenyum tipis. “Apa itu perlu?” balasnya singkat.

Namun Arsen tetap melangkah mendekat. “Pernikahan ini... bukan perjodohan,” ucapnya tegas.

Amanda terdiam, alisnya sedikit berkerut. “Aku yang memilih Nayra.”

DEG

Kalimat itu lebih sakit dari yang sebelumnya.

Amanda menatap Arsen tak percaya. “Kamu yang memilihnya?” ulangnya pelan.

Arsen mengangguk. “Iya.”

Beberapa detik terasa begitu panjang. Lalu Amanda tertawa kecil. Namun kali ini benar-benar rapuh.

“Kenapa?” tanyanya tiba-tiba. Tatapannya kembali tajam. “Kenapa harus dia, Sen?” suaranya mulai bergetar. “Wanita yang sudah punya anak."

“Aku nggak masalah soal masa lalunya,” jawab Arsen cepat.

“Tapi aku masalah!” potong Amanda. Suaranya meninggi sedikit.

Beberapa orang di sekitar mulai menoleh.

Amanda menggeleng pelan. “Bukan karena dia janda, tapi karena…” ia menahan napas. “Kenapa bukan aku?”

DEG

Arsen seketika terdiam. Karena kali ini ia tidak memiliki jawaban.

Amanda melangkah satu langkah mendekat. “Kenapa kamu nggak pernah cerita?” lanjutnya. “Selama ini kamu selalu baik sama aku. Kamu selalu ada dan peduli.”

Matanya mulai berkaca-kaca lagi. “Aku pikir… aku punya tempat di hatimu.”

Seketika hening yang menekan.

“Arsen...” suara Amanda melemah. “Apa kamu tidak memiliki perasaan padaku?”

Pertanyaan itu kangsung menghantam Arsen. Ia membeku. Pikirannya kosong sesaat, matanya menatap Amanda lama.

Jujur, ia ingin menjawab. Ingin mengatakan semua kebenaran pada Amanda. Tentang hubungannya dengan Nayra.

Kalau dia menikahi Nayra bukan karena cinta, tapi karena keadaan. Hanya saja semua ini tidak bisa ia ucapkan pada Amanda.

Karena Arsen tidak ingin ada satupun orang yang tahu tentang kebenaran ini semua. Dia ingin semua berjalan lancar sampai hari itu tiba.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!