NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kekasih Dari Masa Lalu

"Selamat pagi pengantin baru!"

Ningsih muncul dari balik pintu ruang kantorku. Baru saja dokumen yang diserahkan Dimas akan aku buka.

Ia membawa sebuah kotak dibungkus cukup rapi. Ia berjalan dengan ke arahku tanpa sedikitpun rasa bersalahnya.

"Apa maumu, Ningsih!" Bentak ku cukup keras.

Ia tak bergeming, terus berjalan ke arahku. Duduk di atas meja di depanku. Seperti kebiasaannya dulu.

"Keluar NingsiH!" Hardikku sekali lagi. Tapi ia tetap tak mengindahkan.

Pakaiannya cukup rapi tak seperti biasanya.

"Pak Raka, nggak usah teriak-teriak." Ia tertawa picik, mengelus dahulu dengan jarinya. Aku menepis dengan cekatan.

"Aku karyawan loh disini, aku di rekrut tim marketing bapak."

Aku berkacak pinggang, kepalaku mulai sakit. Dua minggu kantor aku tinggalkan secepat ini semua berubah. Bahkan HRD pun rekrut tim tanpa koordinasi.

Oh, astaga. Mereka tak salah, aku yang salah. Sebelum balik cuti tenaga marketing memang sedang kekurangan tim, mereka merekrut Ningsih mungkin karena berpikir aku akan setuju-setuju aja.

Aku mengacak rambutku kesal.

"Apalagi maumu, Ningsih?"

Dalam hitungan detik saja tangannya sudha bergelayut manja di dasiku. Aku menghindar, aku muak.

"Secepat itu kamu melupakan kenangan kita, Raka?" Ia tersenyum pias.

"Dulu ruangan ini selalu hangat menyambutku, Raka. Ruangan yang pernah jadi saksi setiap janjimu padaku. Tidak kah kau ingat Raka?"

Napasku terasa berat. Pundakku tiba-tiba kaku. Ningsih seperti hantu yang tetap berkeliling di sekitarku.

Ia menarik tanganku Sepersekian detik. Meletakkannya di perutnya. Aku berusaha menjauh, ia tertawa.

"Kenapa Raka? Kamu lupa benih di perutku?"

"Kamu benar-benar gila Ningsih. Yang keberapa kali aku bilang aku tidak pernah menyentuhmu!"

Kepalaku sudah mendidih, tapi Ningsih terus menekanku.

"Malam aku tidur dirumahmu, sebenarnya dalam air lemon pesananmu sudah kutaruh obat bius."

"Ningsih!"

Tamparan ku hampir saja mendarat. Tapi terhenti oleh kedatangan Kania.

Aku meredam emosi yang sudah sangat memuncak.

"Aduh panas ya, ada wanita yang tak punya harga diri terus mengejar!"

Celetuk Kania dengan wajah murkanya. Ningsih membalikkan badan melirik Kania dengan wajah tenang.

"Kania, harusnya aku yang jadi kakak iparmu," Ningsih masih bisanya tersenyum menyambut kedatangan Kania.

"Wanita tak tahu diri, tak pantas jadi kakak iparku! Apa maksudnya obat bius yang kamu kasih?"

Ningsih tertawa terpingkal.

"Kamu itu cuma gadis kecil yang masih polos. Nggak mungkinlah aku sepicik itu. Abangmu melakukannya atas dasar suka sama suka padaku."

Geraham ku beradu. Jemariku menggempal cukup kuat. Kalau saja Kania tidak di sini, meja di depan mungkin sudah jadi sasaran empuk. Ningsih memang sedang menguji batas sabarku.

"Pelakor yang terhormat, mohon keluar! Aku ada keperluan dengan abangku!"

Muka Kania tampak sangat berang. Tinjunya tergempal.

"Kamu harus ingat satu hal Kania. Bagaimanapun aku pernah menemani perjalanan abangmu. Kami pernah saling mencintai, sebelum perempuan itu ada dihidupnya."

Aku hanya menarik napas jengah. Hari pertama kerja sudah menjadi hari paling sial seumur hidupku.

"Udah, Ningsih tolong keluar sekarang!"

Ningsih malah melayangkan senyum psikopatnya.

"Aku rindu sayang, dua minggu kamu tinggalkan aku tanpa penjelasan."

"Haha, kamu campakkan aku begitu saja, Raka! Aku pikir kamu berbeda dengan pria di luaran sana. Alim, baik dan penyayang. Dua minggu lalu kita masih sepasang kekasih, romantis dan aku masih satu-satunya wanita di hidupmu."

Ia sesenggukan, menangis, tersedu. Aku cuma jadi patung tanpa bisa berbuat banyak.

"Secepat itu Raka, kamu berpaling. Kamu buang aku seperti barang rongsok."

Ia merengek, melihat air matanya sungguh aku tak tahan. Ku lirik Kania, ia tampak membuang pandang dari Ningsih.

"Sudah, nggak usah drama-drama. To the point aja pa mau kamu sama abangku?"

Kania langsung ambil bagian.

Ningsih menyunggingkan bibirnya.

"Mauku? Nggak banyak Kania. Aku hanya mau abangmu bertanggung jawab."

Ia melirikku dengan tawa kemenangan.

"Kamu jangan kurang ajar ya,"

Kania bergerak mengayunkan tangan, sudah kupastikan ingin menamparnya. Aku cepat bertindak menghalangi langkah Kania.

Ningsih tersenyum culas meninggalkan aku dan Kania di dalam ruangan.

"Apaan sih bang, biarin aku aku gampar. Biar tahu diri itu pelakor!" Rautnya tampak sewot.

Aku berusaha menenangkannya. Kania terus mencak-mencak kesal.

"Kenapa sih abang bisa buta mata sama hati, suka sama orang seperti itu?" Kania melototiku.

"Dulu dia nggak seperti ini Kania. Dia juga punya sisi baik. Mungkin karena perasaannya yang mendalam kepada abang membuat ia menghalalkan segala cara."

Aku menarik adik bungsuku ke kursi tamu ruang kerja.

"Masih juga dibelain. Baik apanya, jelas-jelas dia udah seperti itu."

"Kamu nggak bisa menilai hanya karena dia berbuat salah Kania. Ia banyak mengajari abang tentang kerasnya kota metropolitan."

Kali ini aku harus sedingin mungkin momong Kania agar hatinya adem.

"Kania nggak suka abah terus belain dia! Apa jangan-jangan yang dia kandung memang darah daging abang?"

Ucapan Kania terakhir membuat aku nyelekit. Pedas dan panas.

"Kania, jangan keterlaluan,"

Suaraku mulai serak. Aku jengkel atas tuduhan Kania.

"Apa tujuanmu ke sini?" Aku sudah malas berbasa-basi. Otakku sedang mendidih level akut. Kerjaan menumpuk masalah pun datang seperti tak tahu tempat.

Kania menyeringai. Sepertinya dia masih sangat marah diskusi kasih kejutan buat kak Laras. Tapi ya sudahlah bang. Mood Nia sudah hilang. Lain kali aja."

Setelah itu dia meninggalkan aku begitu saja dalam rasa bersalah.

Ia tak pamit sama sekali kepadaku.

"Halo Dimas, batalkan semua jadwal meeting aku hari ini!"

"Baik, Pak." Suara Dimas terdengar gusar. Pasti ia sudah menebak kalau moodku sedang tidak baik. Ku hempaskan tubuhku ke kursi pesakitan kantor. Ningsih menepati janjinya. Ya, dia menepati untuk menghancurkan kebahagiaanku. Hufft!!

Sayang, jangan lupa pulang kantor langsung ke rumah ya. Aku sudah menunggu!

Sebait notifikasi pesan WhatsApp masuk. Pesan singkat dari Laras. Membuat aku sejenak melupakan masalah yang datang tanpa jeda.

Cepat-cepat aku balas pesan singkat itu.

Baik sayang, tunggu abang di rumah ya. Jangan lupa mandi dan bersih-bersih. Abang paling suka aroma tubuh Laras.

Aku bahkan tanpa sadar tersenyum sendiri membalas pesan singkat Laras.

Hmpz, abang paling bisa ya menggoda, Laras. Kenapa bang, Alatas bikin nyandu ya? Hehe

Awas macam-macam di kantor.

Aku tersenyum geli. Membayangkan wajah Laras, membayangkan pertempuran semalam. Ah tak bisa aku sembunyikan, wajah malu-malunya Laras. Aku benar-benar gila karena senyum-senyum sendiri. Bahkan sampai lupa apa yang barusan terjadi di ruangan kerjaku.

"Bapak memanggil saya?"

Aku masih senyum-senyum menatap layar ponsel, sampai deh aman Dimas membuyarkan lamunanku. Cepat-cepat ku perbaiki posisi duduk ku, agar wibawaku tak hilang.

"Oh iya, Ningsih tolong dipindah ke divisi lapangan!"

Cuma itu satu-satunya cara agar ada jarak antara aku dan dia.

"Baik, Pak."

Dimas kembali meninggalkan ruangan.

I love you, abang. Kembali sebuah notif masuk ke ponselku. Ah, aku benar-benar jatuh ke dalam pelukan Laras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!