Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16 Mendapat Masalah
Hujan yang deras sore tadi kini sudah berganti dengan langit yang malam yang begitu cerah. Langit malam yang membentang begitu luas tanpa awan yang menghalangi menampakkan cahaya kerlap-kerlip yang indah dari para gemintang. Udara terasa sangat sejuk dan segar. Devina yang terduduk dibalik jendela kamarnya menatap jauh ke atas langit yang indah sambil memikirkan Aksa. Moment ia memeluk Aksa di mobil sore tadi membuat jantungnya tidak berhenti berdetak dengan cepat. Wajahnya berseri-seri menampakkan kegembiraan yang sangat.
"Permisi, Nona? Ada teman Nona datang, " ucap pelayan yang berdiri di ambang pintu kamar Devina yang terbuka. Dan membuyarkan pikirannya yang melayang tentang Aksa.
"Siapa? " tanya Devina tanpa menoleh ke arahnya dan tetap menatap langit malam.
"Wah wah! Bisa-bisanya yah loh, bolos gak ajak-ajak gue. " Suara tersebut terdengar sangat akrab. Devina menoleh dengan terkejut karena yang datang ternyata sahabatnya Leni.
"Leni? " sahut Devina dengan senang hati menyambut sahabatnya itu dengan wajah yang berseri-seri.
Leni duduk di sofa sambil menaruh tas Devina di sofa. Memang ia sengaja datang hanya untuk mengantarkan tas Devina yang ditinggalkan di kelas tadi siang. Devina duduk di samping Leni sambil tersenyum lebar.
"Ada apa loh kemari? " tanya Devina kemudian.
"Apalagi kalau bukan mau nganterin tas princes ini? " sahut Leni sambil memutar malas kedua bola matanya.
Devina tertawa kecil. "Makasih yah, sahabat baik gue yang paling cantik! " seru Devina merayunya dengan pujian.
Leni hanya mendengus kecil. Sesaat kemudian ia memperhatikan wajah Devina yang terlihat sangat bahagia terpancar jelas dari auranya. Leni bisa merasakan ada hal positif yang terjadi kepada Devina.
"Ada yang aneh? Entah perasaan gue atau bukan, tapi loh kelihatan bahagia banget gitu? Apa ada sesuatu yang terjadi sama loh? " tanya Leni.
Devina tidak langsung menggubris saat mendapatkan pertanyaan itu dari Leni. Ia malah memasang wajah malu dengan pipi yang memerah dan senyum centilnya.
"Hei? Ada apa? Apa mungkin... loh jadian sama anak baru itu yah? Soalnya kalian bolos bareng-bareng kan? " terka Leni sangat sangat meleset membuat ekspresi Devina berubah total menjadi sangat kesal.
"Apa sih? Siapa juga yang jadian sama dia? Tetot! Salah besar!" sahut Devina berseru menolak dengan sangat tegas dan penuh keyakinan.
"Lalu apa? Cepat cerita, gue mau dengar. " Leni merubah posisi duduknya kini menghadap langsung ke Devina dengan tatapan penasaran menunggu Devina untuk bercerita kepadanya.
Devina kembali tersenyum malu dan berdehem kecil untuk memulai cerita. "Loh pasti gak akan percaya. Tapi tadi sore Aksa peluk gue. Pelukannya begitu hangat dan nyaman. Gue sampai gak mau lepas dari pelukannya. Ya ampun, jantung gue gak berhenti berdebar setiap kali memikirkannya. "
Leni yang tadinya terlihat sangat antusias kini hanya bisa mendesah pelan karena ceritanya tidak menarik sama sekali.
"Yaelah kirain ada hal besar yang terjadi. Kalau cuma di peluk doang mah, gak usah lebay. Kalau Aksa cium loh baru itu berita yang sangat besar, " celetuk Leni.
"Hei? Loh gak tahu apa-apa. Mungkin buat loh hal kecil. Tapi buat gue itu hal yang sangat-sangat besar. Tapi, jangan bilang kalau loh sama Arsya sudah melakukan itu? Jangan bilang... "
Leni tersenyum kecil karena malu. "Hei? Sungguh? " sahut Devina lagi seolah tahu arti dari senyuman yang Leni berikan.
"Iyah. Gue sama Arsya kan udah dua tahu pacaran. Yah, masa gitu-gitu aja. Kalau cuma pegangan tangan sama pelukan mah kan udah biasa. Sekali-kali boleh dong ciuman biar makin romantis? " sahut Leni dengan bangganya ia ceritakan aibnya itu kepada Devina.
"Apa? Loh udah gila? " Devina melotot tidak percaya dengan kelakuan sahabatnya itu. Tapi seketika ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Leni. "Lalu, gimana rasanya? Apakah sangat menyenangkan? " tanyanya kemudian penasaran juga.
"Yah, gitu deh. Rasanya sangat manis dan lembut. Dan juga... "
"Juga apa? " Devina melotot penasaran tidak sabar menunggu Leni melanjutkan ucapannya.
"Dan juga, kalau loh mau tahu rasanya, coba aja sendiri! " sahut Leni sambil mendorong kepala Devina yang semakin mendekat dengan wajahnya.
"Ish! " Devina mendelik kesal karenanya. "Nyebelin! Loh lagi ngeledek gue? " tambahnya kemudian.
Sementara disisi lain, Aksa seperti biasa bekerja keras mengantarkan pesanan Pizza ke sana kemari. Namun kali ini ada orang yang memesan Pizza ingin diantarkan ke sebuah taman pinggiran kota yang jarang dilewati banyak orang. Aksa sedikit merasa terganggu enggan mengantarkannya karena punya firasat buruk. Namun, ia harus profesional dalam pekerjaannya. Jadi ia mengesampingkan firasat buruknya itu dan tetap pergi.
Setibanya disana, Aksa melihat ada empat pemuda yang sedang asik mabuk. Aksa turun dari motor dan menghampiri mereka.
"Permisi? Apa kalian yang memesan pizza Delivery?" tanya Aksa kemudian.
"Ah, pizzanya sudah datang. Kesini, berikan pizza itu! " jawab salah satu pemuda dengan banyak tindik di telinganya terlihat sangat mabuk.
Aksa sedikit ragu untuk mendekat, namun ia tetap mengantarnya dan membawa pizza itu ke mereka. Setelah pizza itu diterima oleh para pemuda yang mabuk itu, Aksa refleks meminta bayaran untuk pizza tersebut.
"Totalnya dua ratus lima puluh ribu," ucap Aksa sambil menyodorkan telapak tangannya untuk meminta uang.
Pemuda tadi menoleh dengan senyum piciknya dan mata yang tidak sadar sepenuhnya. "Apa? Uang? Ah, iyah! Kita harus membayar pizzanya. Tapi bagaimana yah? Kami tidak punya uang. Bro? bagaimana kalau loh traktir kita kali ini?" Pemuda itu merangkul bahu Aksa.
Bau alkohol dari mulutnya menyeruak masuk hingga tercium menyengat ke dalam lubang hidung Aksa, sehingga ia sedikit memalingkan wajahnya dan mundur satu langkah menghindari bau mulut pemuda itu. Spontan Aksa mengusap hidungnya singkat.
"Tidak bisa. Kalian harus membayar, " balas Aksa terkekeh karena jika mereka tidak membayar maka Aksa yang harus membayar pizza itu kepada Surya. Terlebih lagi Aksa tidak suka kepada orang yang tidak tahu diri seperti mereka.
Suara tawa tiba-tiba saja memecah keheningan malam. Pemuda itu dengan teman-temannya tertawa bersama mengejek Aksa yang terkekeh meminta uang kepada mereka. Pemuda yang ditindik di telinganya itu menatap sinis sambil berdecak pinggang, maju satu langkah untuk menggertak Aksa.
"Oi? Gue udah minta loh secara baik-baik. Jangan memperumit masalah. Pergilah selagi kami masih baik, " ucap pemuda itu lagi sambil mendorong tubuh Aksa hingga terjatuh ke tanah.
Aksa mulai marah dan emosi. Sikut lengannya terluka terluka dan berdarah. Aksa berdiri bangkit sambil menatap tajam ke arah mereka. Tanpa banyak bicara Aksa mengeluarkan ponsel dan memotret mereka. Sadar dengan tindakan Aksa tersebut pemuda tadi menatapnya dengan marah.
"Woi? Loh sedang apa? "
"Jika kalian tidak mau membayar, maka gue bakal laporin kalian ke polisi, " ancam Aksa sambil menunjukkan poto yang ia ambil tadi.
"Dasar bocah tengik. Loh benar-benar menyusahkan. " Pemuda itu menatap teman-temannya memberi isyarat. "Kasih dia pelajaran! " tambahnya.
Lantas, ketiga temannya itu bergegas berdiri walaupun sambil terhuyung-huyung dan sedikit goyah. Aksa pikir ia mungkin bisa mengalahkan mereka sendirian yang mabuk berat saat ini.
Lantas, Aksa pun meladeni mereka dengan mempertahankan pendiriannya. Awalnya Aksa memang terlihat mudah mengalahkan ke empat pemuda itu. Namun, ia pun hanyalah manusia biasa yang akan kewalahan menghadapi empat lawan satu yang tidak seimbang dan bisa saja lengah. Aksa di pukul oleh salah satu pemuda itu menggunakan botol miras yang sudah kosong tepat pada bagian kepala samping, di pelipisnya hingga ia jatuh tersungkur ke tanah. Darah mengucur deras, pelipisnya sobek karena pecahan dari botol mirah tersebut. Telinga Aksa berdenging, dan kepalanya sangat pusing saat ini. Namun ia bertahan untuk tetap sadar dan tetap fokus. Ia menahan rasa sakit yang mulai berdenyut hebat di pelipisnya.
Aksa belum sempat bangkit untuk melawan, tapi ia langsung di jatuhkan kembali ke tanah ditendang dibagian dadanya. Lantas, dengan penuh semangat dan amarah yang menyala-nyala, mereka mengeroyok dan memukuli Aksa dengan kaki mereka habis-habisan. Aksa mencoba bertahan sekuat tenaga karena ia sudah terpojok dan sulit membalas. Aksa memiringkan tubuhnya dan tetap melindungi bagian kepala agar tidak terlalu banyak mendapatkan pukulan apalagi harus sampai kehilangan kesadaran.
"Sial, mati saja sialan! "
"Dasar bocah tengik! "
Mereka mengumpat sambil terus menghajar Aksa tanpa ada niat berhenti sebelum merasa puas untuk menghajarnya.
"Sial! Kalau begini terus gue bisa benar-benar mati, " gumam Aksa tetap pada pertahanannya saat ini.