AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang kaya baru
Setelah puas berbelanja kebutuhan pokok, langkah kaki Deon Key malah membawanya ke area yang lebih elit di Kota Alengka. Jalanannya lebar, bersih, dan toko-tokonya terlihat mewah.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah bangunan besar dengan tulisan besar: "SHOWROOM MOBIL DAN KENDARAAN MODERN".
Di sana, terparkir barisan mobil mengkilap yang indah. Ada yang warna hitam gagah, ada yang merah menyala, dan ada yang putih elegan.
Deon berhenti di depan kaca besar showroom. Matanya tak lepas melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hijau gelap yang sangat cocok dengan seleranya.
Di dalam showroom, terlihat seorang anak muda berpakaian mahal turun dari mobil barunya, disambut oleh pelayan dengan hormat.
"Wah... enak ya," gumam Deon pelan. "Panas-panas begini nggak perlu jalan kaki atau naik delman. Duduk manis ber-AC, langsung sampai tujuan."
Dulu kan kita hidup di zaman batu tinggal di reruntuhan. Tapi kan sekarang sudah beda. Uang ada banyak, ilmu ada banyak. Kenapa harus hidup susah kayak orang zaman dulu?
Kakek Genpo kan sudah tua. Kalau mau jalan jauh atau mau bawa barang banyak, capek juga kalau cuma pakai tenaga atau angkat-angkat terus. Punya kendaraan sendiri itu pasti lebih praktis dan nyaman.
"Benar juga! Beli!" putus Deon tegas. "Sekarang kan zamannya maju. Kalau aku nggak mau ikutan maju, ya bakal ketinggalan terus dan nasibnya bakal gini-gini aja selamanya."
Deon mendorong pintu kaca itu dan masuk dengan santai. Penampilannya memang sederhana, tapi aura yang memancar membuat penjaga pintu langsung tegak hormat tanpa sadar.
"Selamat siang Tuan! Mau lihat-lihat mobil ya?" sapa salesnya ramah.
"Iya. Saya mau yang paling bagus, paling nyaman, dan mesinnya paling kencang," jawab Deon langsung to the point.
Mata sales itu berbinar. Langsung dia antar Deon ke aram mobil hijau gelap yang tadi dilihatnya.
"Ini Tuan, tipe terbaru. Mesin kuat, suspensi empuk, dan bahan bakarnya irit. Harganya... 50 keping emas."
Deon tersenyum. "Murah sekali. Saya beli. Tapi... saya belum bisa nyetir. Bisa ajarin saya nggak?"
Sales itu tertegun sejenak, tapi langsung tersenyum lebar. "Bisa dong Tuan! Pasti bisa! Saya ajarin sekarang juga!"
Mereka keluar ke area parkir luas di belakang showroom. Sales itu menjelaskan dasar-dasarnya.
"Nah ini setir, ini rem, ini gas. Posisi duduk nyamanin dulu..."
Belum selesai omongannya, tangan Deon sudah bergerak.
Otak jeniusnya merekam semua mekanisme mesin, cara kerja roda, hingga aliran tenaga dari mesin ke ban.
Kreeek... Brum...
Mobil menyala halus.
Deon injak gas pelan. Mobil meluncur mulus.
"Awas... belok..."
Deon putar setir dengan presisi sempurna. Tidak ada oleng, tidak ada ngejeglag. Dalam waktu kurang dari 15 menit, Deon sudah bisa mengendarai mobil itu dengan sangat lancar dan stabil!
"Wah... Tuan ini hebat sekali! Belajarnya secepat kilat!" seru sales itu takjub.
"Biasa, logika doang," jawab Deon santai. "Oke, bayar ya. Surat-suratnya tolong dibikin lengkap."
Beberapa jam kemudian.
BRUUUUMMMM...
Mobil hijau mewah itu meluncur mulus keluar dari showroom. Di balik kemudi, duduk Deon Key dengan senyum puas.
"Wih... enak sekali rasanya!"
Kaca jendela ditutup rapat, AC dingin menyegarkan. Musik pelan menyala. Dunia luar terlihat tenang dari balik kaca tebal.
"Jadi begini rasanya jadi orang modern ya," gumam Deon senang. "Nanti Kakek Genpo pasti kaget dan senang sekali. Kita bisa jalan-jalan keliling kota dengan gaya!"
Perut sudah kenyang, mobil sudah dapat, tapi rasa haus ilmu Deon belum berhenti.
Deon mengendarai mobilnya pelan-pelan menyusuri jalan kota, matanya mencari-cari sesuatu.
Tiba-tiba ia melihat sebuah gedung tinggi bertuliskan:
"UNIVERSITAS NEGERI ALENGKA - TERBUKA UNTUK SEMUA KALANGAN"
Deon tersenyum lebar. "Nah, ini yang dicari!"
Ia memparkir mobilnya di halaman universitas yang luas. Ia masuk ke bagian pendaftaran.
"Selamat siang. Saya mau daftar jadi mahasiswa," kata Deon sopan.
Petugas administrasi menatap Deon, lalu menatap formulir.
"Oh, mau masuk jurusan apa? Syaratnya butuh ijazah terakhir, surat rekomendasi, dan tes masuk..."
Deon menggeleng pelan. "Eh, tunggu dulu. Saya dengar universitas ini sistemnya 'terbuka' ya? Yang nggak pakai syarat aneh-aneh, cuma bayar uang kuliah sudah bisa masuk?"
Petugas itu tersenyum canggung. "I... iya betul Tuan. Itu program khusus kelas karyawan atau kelas umum. Tidak perlu tes susah-susah, tidak perlu ijazah tinggi-tinggi. Yang penting bayar uang pendaftaran dan uang semesteran, bisa langsung masuk dan ambil mata kuliah yang diinginkan."
"Bagus! Itu yang saya mau," Deon langsung mengeluarkan dompetnya. "Saya daftar yang paling mahal, kelas terbaik, dan saya mau ambil jurusan Teknik, Filsafat, dan Kedokteran sekalian boleh nggak?"
Petugas itu melongo melihat kepingan emas yang diletakkan Deon di atas meja jumlahnya sangat banyak.
"B... boleh Tuan! Tentu saja boleh! Silakan isi data ini!"
Beberapa saat kemudian, Deon keluar dari gedung universitas dengan memegang Kartu Mahasiswa yang baru dicetak dan jadwal kuliah.
"Wah... jadi mahasiswa sungguhan aku ini," gumam Deon bangga sambil tersenyum ke langit.
Besok pagi, Deon Key akan mulai duduk di bangku kuliah. Belajar ilmu zaman sekarang, bandingkan dengan ilmu zaman dulu yang ada di kuil, dan jadilah orang paling pintar sedunia!
Deon masuk ke dalam mobilnya.
BRUMMM!!!
Mobil itu melaju kencang menuju rumah, siap mengejutkan Kakek Genpo dengan mobil baru dan status mahasiswa barunya!