Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Hati
Pekerjaan Kenzie begitu menumpuk karena ditinggal Jeevan honeymoon, sudah dua hari ini ia selalu pulang hampir tengah malam untuk menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakannya oleh Jeevan. Kurang tidur membuatnya selalu merasa mengantuk di kantor, pada saat jam makan siang akhirnya Kenzie memutuskan untuk membeli kopi di tempat langganannya yang tidak jauh dari kantornya.
Memang di sini kopinya begitu enak sampai-sampai Kenzie bisa membeli dua kali sehari, tempatnya biasanya tidak terlalu ramai tapi entah kenapa hati ini antrian lumayan panjang membuatnya harus menunggu. Sesekali Kenzie memeriksa ponsel miliknya untuk mengirimkan pesan kepada Jeevan. Meskipun Jeevan sedang honeymoon tetap saja urusan kantor selalu diutamakan olehnya.
"Niha orang lagi honeymoon juga masih aja ngurusin kantor," celetuk Kenzie membalas pesan Jeevan sambil berdiri menunggu antrian gilirannya.
"Silahkan, Mas. Mau pesan apa?" tanya seorang barista perempuan ketika giliran Kenzie untuk memesan kopi.
"Biasa," jawab Kenzie kepada barista perempuan yang sudah hafal dengan pesanannya.
"Dua ya?" tebaknya begitu ramah.
"Iya. Jangan lupa airnya sedikit aja yang kemarin kebanyakan."
"Oke, Mas. Silahkan tinggal di scan barcode-nya."
Saking seringnya Kenzie saling mengirim pesan dengan Jeevan membuat ponselnya sedikit lemot untuk membuka M-banking miliknya. Beberapa saat Kenzie merasa sedikit kesulitan dengan ponselnya sehingga ada seseorang yang membayar pesannya.
"Sudah aku bayar ya, Mbak," ucap suara seorang perempuan yang berdiri di belakang Kenzie.
"Makasih, Mbak. Ditunggu pesanannya ya, Mas," kata barista sambil memberikan stick pembayaran kepada Kenzie.
Suaranya mengagetkan Kenzie yang sedang sibuk membuka M-banking miliknya, apalagi Kenzie dibuat kaget karena perempuan itu membayar pesannya. Jujur Kenzie merasa tidak suka tanpa permisi membayar pesanan miliknya. Secepat kilat Kenzie menoleh dan mendapati perempuan yang dikenalnya, perempuan yang sedang dijauhi olehnya kini berdiri tepat di belakangnya.
Ekspresi wajah Kenzie begitu sinis ketika tahu kehadiran Rania, tatapannya tajam serta yang tadinya ramah mendadak menjadi dingin. Sementara Rania hanya bisa tersenyum manis kepada Kenzie dengan tatapan sendu. Entah kenapa mereka harus bertemu di sini tanpa disengaja. Rania baru sadar dengan keberadaan Kenzie di sana saat sedang mengantri.
Tanpa banyak bicara dan mengucapkan terimakasih, Kenzie keluar dari barisan antrian dan mencari tempat yang sedikit sepi untuk menegur Rania. Tatapannya semakin tajam dan sinis menunggu Rania yang masih sedang mengantri pesannya. Setelah selesai Rania menghampiri Kenzie yang berdiri seperti sedang menunggunya. Belum sempat Rania menyapanya, sikap Kenzie sangat dingin kepadanya.
"Mana no rekeningnya?" tanya Kenzie dengan nada jutek sambil mengambil ponsel dari sakunya seraya membuka aplikasi M-banking.
Melihat sikap jutek Kenzie membuat Rania yang tadinya penuh senyuman menjadi kaget, Rania tahu pasti Kenzie sangat marah kepadanya karena kejadian waktu itu. Tapi saat ini Rania hanya ingin meminta maaf kepadanya atas sikap kasar papanya.
"Nggak usah, aku sengaja beliin kamu," tolak Rania dengan nada lembut meskipun sikap Kenzie begitu sinis dan jutek kepadanya.
"Memangnya lo pikir gue nggak punya uang?" tanya Kenzie dengan amarah yang mulai meluap dengan tatapan mata yang tajam seperti sedang memendam amarah.
Deg, Rania kaget bukan main ketika Kenzie berbicara tidak seperti biasanya. Kenapa sekarang Kenzie menyebut dirinya dengan sebutan 'Lo-Gue' biasanya 'Aku-Kamu'. Apa ini pertanda jika Kenzie benar-benar marah kepadanya? Sakit hati Rania mendengarnya tapi ia bisa menerimanya.
"Apa kamu bilang? Lo-gue?" tanya Rania tidak percaya dengan wajah kecewa.
"Kenapa aneh kalau sekarang bilang pake kata 'Lo-Gue'?"
"Nggak," jawab Rania dengan senyum getirnya dan mendadak hatinya terasa sakit.
"Mana nomer rekening lo, biar gue transfer balik?"
"Nggak usah, anggap aja sebagai permintaan maafku kemarin."
Mendengar ucapan Rania kembali membuat Kenzie tertawa sinis, kenapa Rania selalu menyelesaikan semuanya dengan uang. Apa karena dirinya memiliki banyak uang dan terlahir dari keluarga kaya raya jadi berbuat seenaknya saja.
"Sebagai permintaan maaf kata lo? Jadi harga minta maaf dari orang kaya raya hanya seharga kopi aja?" sindir Kenzie dengan nada jutek membuat Rania semakin kebingungan bagaimana untuk memberitahukan Kenzie jika dirinya ingin meminta maaf.
"Bukan gitu maksudnya," Rania mencoba mencari jawaban tapi ia sangat kebingungan menyampaikannya.
"Gue nggak punya uang cash jadi cepetan kasih nomer rekening lo atau barcode-nya."
Rania merasa ini tidak adil baginya karena semua ini dimulai dari kebohongan Kenzie yang berpura-pura sakit lalu berbohong menjadi calon suaminya. Andai saja Kenzie tidak berbuat seperti itu kepadanya pasti Rania juga tidak akan melakukan hal yang sama kepadanya.
Wajah Rania semakin terlihat sedih tapi Kenzie tidak merasa iba dan kasihan kepadanya, ia masih saja bersikap kasar dan dingin kepada Rania. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa sedihnya karena sikap kasar Kenzie. Mulutnya membisu dan tubuhnya mendadak kaku. Belum sempat Rania menjawab terdengar suara salah satu karyawan memanggil nama Kenzie untuk mengambil pesanannya.
"Atas nama Kenzie." Teriak salah satu karyawan memanggil nama Kenzie.
Tanpa banyak bicara Kenzie meninggalkan Rania untuk mengambil pesanannya.
"Makasih ya, Mas," ucap karyawan dengan sikap ramahnya.
"Sama-sama, Mbak," balas Kenzie tidak kalah ramah.
Setelah selesai mengambil pesanannya Kenzie kembali menghampiri Rania yang masih menunggunya. Sikapnya masih sama tidak ada yang berubah, hanya tatapan tajam terkesan sinis. Rasa sakit Kenzie masih terasa ketika papanya menghina dirinya sebagai anak yang tidak jelas asal usulnya, Rania ada di sana ketika Kenzie dihina oleh papanya dan ia hanya bisa terdiam menyaksikannya.
"Gue nggak mau punya hutang sama Lo dan gue juga bisa beli kopi ini buat dikirim ke rumah sakit lo setaip hari. Jadi jangan pernah pamerin kekayaan dan duit orang tua lo di depan gue, paham!" tegas Kenzie memutuskan untuk pergi meninggalkan Rania sendirian.
Ada yang mengganjal di dalam hati Rania, sebuah kata maaf yang ingin terdengar olehnya. Melihat Kenzie yang mulai menghilang dari pandangannya secepat kilat Rania menyusulnya. Entah kenapa kakinya berlari menyusul Kenzie. Yang jelas Rania merasa Kenzie juga bersalah atas kejadian kemarin.
"Tunggu!" Teriak Rania menyusul Kenzie dan mencoba menghentikannya.
Suara Rania membuat langkah kaki Kenzie terhenti, wajahnya masih terlihat kesal mendengar suara Rania yang menyusulnya. Padahal Kenzie ingin sekali melupakan kejadiannya. Dibalikkan tubuhnya menghadap ke arah Rania yang sudah berdiri mematung menunggunya dengan ekspresi wajah sendu.
"Mau apa lagi?" tanya Kenzie sinis.
"Lo juga salah dalam hal ini, karena lo juga bohong sama gue pura-pura kesakitan!" Rania berjalan menghampiri Kenzie.
Glek, Kenzie sedikit kaget karena mendengar Rania juga memakai bahasa yang sedikit kasar layaknya berbicara dengan teman. Kenapa Rania mengikutinya memakai kata 'Gue-lo' bukan 'Aku-Kamu' lagi, apakah Rania juga sudah ikut marah kepadanya?
"Lo juga bohong sama gue kalau kaki lo kesakitan, tapi nyatanya baik-baik aja kan?" Rania mulai kesal karena sedari tadi sikap Kenzie begitu tidak bersahabat dengannya.
"Iya. Gue bohong sama lo, PUAS!" Balas Kenzie tegas dengan menekankan kata 'Puas' dan Rania hanya bisa terdiam mendengarkan pengakuannya.
"Gue berbohong karena pengen tahu dan kenalan aja, tapi ternyata lo cewek yang serius dan nggak peka kalau gue pengen kenalan sama lo," ujar Kenzie terlanjur mengakui perasaannya yang memang sejak pertama kali melihat Rania sudah menyukainya.
Rania terkejut dengan pengakuan Kenzie, ada rasa menyesal karena ia tidak tahu ternyata Kenzie ingin mengenalnya. Sekarang sudah terlambat untuk memulainya lagi, mereka berdua sudah seperti orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain. Hati Rania mendadak sedih mengetahuinya seolah ada rasa menyesal, dan entah kenapa dirinya merasa jahat padahal semua ini Kenzie yang memulainya.
Hari ini harga diri Kenzie dipertaruhkan dan mungkin tidak ada artinya lagi setelah mengakui perasaannya, ia tidak mempunyai pilihan lagi karena memang Kenzie berbohong kepada Rania untuk bisa mengenalnya. Tapi Rania perempuan yang serius yang tidak bisa diajak bercanda, ia terlalu datar dan sedikit membosankan.
"Lebih baik kita nggak usah saling nyapa kalau ketemu lagi, anggap aja kita nggak pernah kenal," kata terakhir Kenzie sambil pergi meninggalkan Rania yang masih berdiri terpaku menatapnya.
Jujur Rania sungguh kecewa mendengarnya, bukan ini yang Rania dengar dan inginkan. Tatapannya sendu menatap Kenzie yang lama kelamaan menghilang dari pandangannya. Ini bukan Kenzie yang ia temui saat pertama kali, Kenzie yang selalu membuatnya tertawa dan menjadi dirinya sendiri.
Setelah beristirahat akhirnya Jeevan sudah mulai terlihat membaik dan rona merah di tubuhnya sedikit menghilang dan rasa gatalnya sudah tidak terasa lagi. Malam hari semua berkumpul di meja makan sambil berbincang dan bersenda gurau.
"Gimana keadaan lo?" tanya Nino saat Jeevan duduk di sampingnya.
"Baik," jawab Jeevan mengambil buah anggur yang ada di meja.
"Vale," panggil Isabel kepada Valerie yang sedang berbicara dengan neneknya Jeevan.
"Iya, Kak." Vale menoleh ke arah Isabel yang sedang duduk di samping Jericho.
"Temanmu ada yang pesan gaun pengantin di butikku."
"Iya, dia Rania sahabatku," ujar Valerie membuat Jeevan menoleh dan menatap lekat Valerie.
Mendengar nama Rania sontak membuat Jeevan merasa sedikit kesal atas apa yang telah diperbuat olehnya kepada Kenzie, tapi Jeevan tidak boleh ikut campur dalam masalah antara sahabatnya dengan Rania.
"Dia dokter?" tanya Isabel penasaran akan sosok Rania.
"Iya, Kak. Dan calon suaminya juga dokter."
"Kebetulan dong kalau dia dokter, kamu bisa konsultasi tentang program kehamilanmu sama dia?" ucap Deevina dengan mata yang berbinar-binar.
Sontak ucapan Deevina membuat Jeevan tersendat saat memakan buah anggur, begitu juga dengan Sulthan yang sedikit terkejut karena Valerie meminta kepadanya untuk menunda mempunyai momongan selama satu tahun ini. Ekspresi wajah Valerie mendadak terdiam seolah tidak senang membahas soal kehamilan.
"Ma, sementara waktu mereka mau menunda kehamilan dulu karena kesibukan masing-masing," jelas Sulthan mengingatkan Deevina.
Rasa ingin mempunyai momongan membuat Deevina lupa permintaan Jeevan dan Valerie, padahal mereka berdua ingin sekali menambah cucuk selain dua dari Jericho dan satu cucuk dari Nino. Sepertinya Deevina harus bersabar untuk menunggu kehadiran anak dari Jeevan.
"Oh, iya. mama lupa, soalnya mama pengen kalian cepat punya anak."
Valerie tahu perasaan kecewa Deevina kepadanya, tapi ia juga harus tahu apa tujuan pernikahan ini. Andai saja Valerie mempunyai kehidupan seperti perempuan yang sudah menikah pasti akan sangat bahagia menantikan kehadiran sosok seorang anak.
"Nenek sama Kakek juga sama, pengen cepet lihat kalian berdua punya anak," sambung Ny. Ester meminta sambil tersenyum manis menggenggam kedua telapak tangan Valerie.
Sepertinya Valerie mulai terjebak antara perasaannya di keluarga ini, kehangatan dan cinta yang belum pernah didapatkan olehnya. Andai saja kedua orang tuanya seperti keluarga Jeevan, pasti Valerie akan sangat bahagia. Tidak mungkin Valerie mengabulkan permintaan mereka dan tidak akan pernah.
"Tenang aja, Nek. Kita berdua lagi program kehamilan kok," sela Jeevan membuat semua yang mendengarnya kaget dan bahagia tapi tidak dengan Valerie.
Senyum bahagia terlihat jelas di wajah semuanya, apalagi Deevina dan Ny. Ester yang begitu sangat menantikan kehadiran anak dari Jeevan. Tapi Valerie menatap tajam Jeevan seolah marah dengan apa yang dibicarakan olehnya.
"Serius kamu, Van?" tanya Deevina tidak percaya sambil tertawa ringan bahagia.
"Iya, Ma. Masa aku bohong," jawab Jeevan meyakinkan mamanya.
Jeevan tahu jika sedari tadi ada kedua bola mata yang terus menatapnya dengan tajam, seolah tidak suka dengan apa yang baru saja diucapkan. Tapi apa yang Jeevan ucapkan bukanlah bualan atau hanya kebohongan semata, Jeevan ingin mempunyai anak dari Valerie.
Langkah kaki Valerie begitu cepat menyusul Jeevan yang lebih dulu pergi ke kamarnya. Amarah di dalam dadanya seolah hendak meledak mendengar ucapan Jeevan tadi, kenapa sekarang Jeevan selalu berbicara frontal seperti keinginannya. Jeevan tidak tahu jika Valerie ternyata mengikutinya dari belakang.
"Jeevan." Valerie menarik tangan Jeevan seketika langkah kakinya terhenti dan tubuhnya berbalik menghadapnya.
"Apa maksudnya tadi? Kenapa kamu bilang kalau kita juga lagi program punya anak?" Valerie bertanya dengan nada terdengar kesal dan wajahnya menyimpan amarah.
Sebenarnya sejak di ruang makan tadi Valerie ingin sekali menampar atau memukul Jeevan karena ucapannya yang sembarangan, tapi tidak mungkin Valerie melakukannya di sana. Apalagi di depan Ny. Ester. Valerie tahu jika Jeevan berbicara seperti itu hanya untuk membuat hati neneknya senang.
"Memang benar, kan?" jawab Jeevan dengan nada santai tanpa beban dan rasa bersalah.
"Kamu jangan suka bohong sama mereka dan memberikan harapan palsu!"
"Siapa yang ngasih harapan palsu? Memang kita mau kasih mereka anak, kan?" Jeevan terus membuat Valerie kesal dibuatnya.
Deg, sepertinya Jeevan memang serius dengan ucapannya dan sepertinya tidak main-main. Amarah Valerie mulai memuncak tapi Jeevan tidak perduli melihat istrinya yang sudah tersulut emosi.
"Jeevan! Dengar, ya. Kita berdua nggak akan pernah punya anak, dan aku harap kamu tarik lagi semua ucapanmu sama mereka dan bilang kalau kita nggak pernah rencana buat punya anak!"
"Nggak akan! Aku nggak mau menarik lagi ucapanku ini, dan kita akan punya anak. Paham kamu!" Jeevan melepaskan tangan Valerie yang memegangnya sedari tadi.
Tidak punya pilihan lain bagi Valerie untuk menampar Jeevan agar emosi dan amarahnya bisa diluapkan. Ditariknya tangan Jeevan namun sayang Jeevan dengan kasar mengibaskan tangan Valerie yang lebih dulu memegangnya. Valerie kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh ke dalam kolam renang yang posisinya ada di depan kamarnya.
Byurr.... Valerie terjatuh dan Jeevan yang mengetahuinya begitu kaget. Ia panik saat Valerie berada di dalam air karena tahu jika Valerie tidak bisa berenang. Tanpa berpikir panjang Jeevan menjatuhkan dirinya ke kolam renang untuk membantu Valerie yang mulai meronta-ronta di dalam air.
Tubuh keduanya basah kuyup dan Valerie terlihat batuk-batuk karena banyak air yang masuk ke dalam hidung dan mulutnya, untung saja Jeevan cepat menolongnya. Tubuh Valerie lemas dan matanya memerah terasa perih karena air. Jeevan menatap Valerie begitu khawatir, ia mengusap punggungnya dengan perlahan dan sedikit tenang jika Valerie tidak kenapa-kenapa.
"Kamu nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Jeevan khawatir menatap Valerie yang masih batuk.
Melihat tubuh Valerie yang lemas dan sudah mulai kehilangan tenaga, akhirnya Jeevan membawanya ke dalam kamar dengan menggendongnya tanpa persetujuan Vale. Kali ini Valerie tidak menolak apa yang Jeevan lakukan, yang dirasakannya saat ini hanyalah sesak di dada dan tubuhnya sedikit lemas seperti kekurangan oksigen.
Ditutupinya tubuh Valerie menggunakan handuk yang Jeevan ambil, dengan wajah panik Jeevan mengusap rambut Valerie dengan handuk kecil lainnya. Tatapannya sangat ketakutan saat melihat keadaan Valerie.
"Ganti bajumu nanti masuk angin," kata Jeevan menatap Valerie yang sedikit menunduk karena masih merasa lemas.
Tanpa banyak bicara Valerie masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, sementara Jeevan mau tidak mau mengganti bajunya di sana juga agar tidak terkena flu. Secepat kilat Jeevan berusaha mengganti baju selagi Valerie berada di kamar mandi.
Tapi sayang Valerie tiba-tiba saja keluar dari kamar mandi saat Jeevan belum selesai mengganti pakaiannya. Saat itu Valerie hendak mengambil pakaian kering, dan naas saat baru sampai keluar pintu kamar mandi, ia melihat Jeevan dengan keadaan tanpa busana sehelai pun.
Tubuh Valerie yang tadinya masih terasa lemas mendadak dikejutkan lagi dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tubuhnya terdiam membeku dengan kedua bola matanya begitu membulat sempurna melihat keadaan Jeevan. Begitu juga dengan Jeevan yang tidak berkutik saat Valerie datang menangkap basah dirinya tidak menggunakan apa-apa.
Lama keduanya terdiam saling menatap satu sama lain, bagi Jeevan tidak masalah jika Valerie melihat semua bagian tubuhnya karena menurutnya dirinya saat ini sudah menjadi milik Valerie. Tapi tidak dengan Valerie yang sangat terkejut.
"Kenapa buka baju di situ?" tanya Valerie membalikan tubuhnya menghindari pandangan yang seharusnya tidak dilihat olehnya.
"Terus aku harus ganti baju di mana? Kalau menunggumu aku bisa masuk angin," jawab Jeevan santai seolah tidak bersalah sambil memakai kembali handuk di pinggangnya.
Melihat reaksi Valerie membuat Jeevan hanya tersenyum manis, ada keuntungan baginya untuk terus menggoda Valerie. Tanpa menjawab pertanyaan Jeevan akhirnya Valerie kembali masuk ke dalam kamar mandi meskipun ia belum mengambil baju gantinya.
"Cepat pake bajunya!" Teriak Valerie dari dalam kamar mandi membuat Jeevan hanya tertawa dan bahagia.
Up setaip hari ya, jangan lupa like, rate dan komennya.
bagus² nama tokohnya.
maaf sebelumnya
narasinya itu di tiap chapter semuanya panjang
mungkin bisa dipecah untuk kenyamanan pembaca kak
sebagian pembaca ada yang sensitif liat narasi panjang satu blok penuh
cuma saran teknis aja kak 👍
semangat ya.