NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 - Penghianatan Terjadi

Langkah Alverion Dastan tidak lagi seberat sebelumnya saat ia meninggalkan ruang retakan itu, meskipun sisa kelelahan masih tertinggal di tubuhnya dan sesekali muncul sebagai rasa nyeri yang mengganggu. Energi di dalam dirinya belum sepenuhnya stabil, namun artefak yang kini ia simpan memberikan keseimbangan yang sulit dijelaskan, seperti penopang diam yang bekerja tanpa menarik perhatian.

Lorong di depannya kembali menyempit, tetapi suasananya tidak lagi menekan seperti sebelumnya, seolah jalur ini tidak menolak kehadirannya. Ia tetap waspada, matanya bergerak dari satu sisi ke sisi lain, memperhatikan perubahan kecil pada dinding dan lantai yang mungkin menjadi tanda bahaya.

Beberapa langkah kemudian, ia berhenti tanpa suara, tubuhnya langsung tegang saat sesuatu terasa tidak sesuai dengan ritme langkahnya sendiri. Suara itu samar, namun cukup jelas bagi seseorang yang terbiasa berada di tempat seperti ini.

Langkah kaki.

Bukan miliknya.

Alverion memusatkan perhatian tanpa mengubah posisinya secara mencolok, tangannya bergerak sedikit ke sisi tubuh sebagai persiapan jika sesuatu muncul tiba-tiba. Ia tidak terburu-buru, memilih menunggu dengan napas yang dikontrol agar tidak mengganggu fokusnya.

Namun yang muncul bukan makhluk dari kegelapan.

Tiga sosok berjalan keluar dari lorong di depan, langkah mereka tenang seolah tidak terganggu oleh suasana di sekitar. Cahaya redup dari dinding cukup untuk memperlihatkan wajah mereka dengan jelas.

“Alverion?”

Suara itu terdengar ragu, tetapi cukup pasti untuk memastikan siapa yang mereka lihat.

Alverion menatap mereka tanpa perubahan ekspresi yang berarti, tetapi matanya bergerak cepat membaca setiap detail. Ia mengenali mereka tanpa perlu berpikir lama.

Riven Arclight dengan rambut peraknya yang selalu terlihat rapi, senyum tipis yang tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya. Kael Draven berdiri di sampingnya dengan postur tinggi dan bahu yang lebar, auranya terasa lebih berat dan langsung. Lyra Vellion berada sedikit di belakang, menjaga jarak dengan tatapan tajam yang sulit dibaca.

Mereka adalah tim lamanya, orang-orang yang pernah bertarung bersama dan juga yang memilih pergi tanpa menoleh kembali.

“Jadi kamu masih hidup,” kata Riven sambil melangkah mendekat dengan santai, seolah pertemuan ini tidak memiliki beban apa pun. “Kami kira kamu sudah mati di area atas.”

Alverion tidak langsung menjawab, hanya memperhatikan mereka lebih lama, memastikan tidak ada sesuatu yang terlewat dari sikap maupun ekspresi mereka. Kael menyilangkan tangan, tatapannya tidak berpindah dari Alverion.

“Kamu kelihatan berbeda. Lebih kuat,” ucap Kael dengan nada datar yang menyimpan sesuatu di baliknya.

Lyra tetap diam, tetapi matanya sempat turun sekilas ke arah tubuh Alverion, seperti mencoba membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat secara langsung. Perhatiannya tidak kasat mata, tetapi cukup jelas bagi Alverion yang sudah mengenalnya.

“Kalian juga masih di sini,” jawab Alverion akhirnya dengan nada yang sama tenangnya.

Riven mengangguk pelan, senyumnya tidak berubah. “Kami turun lebih dalam setelah tim bubar. Tempat seperti ini tidak memberi banyak pilihan kalau sendirian.”

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi tidak cukup untuk menghapus apa yang sudah terjadi di masa lalu. Alverion tidak merespons lebih jauh, karena ia tahu apa yang dikatakan tidak sepenuhnya jujur.

“Bagaimana kamu bisa sampai sejauh ini?” lanjut Riven. “Area ini tidak mudah dilewati.”

Alverion mengangkat bahu sedikit, tidak berniat memberi penjelasan panjang. “Bertahan saja.”

Jawaban itu cukup singkat untuk menutup pertanyaan tanpa membuka ruang lebih jauh. Riven tidak memaksa, hanya mengangguk seolah menerima.

“Kalau begitu, mungkin ini kebetulan yang bagus,” kata Riven sambil menoleh sebentar ke arah lorong di belakang Alverion. “Kami sedang mencari jalan ke bawah. Kalau kita bergerak bersama lagi, peluang kita lebih besar.”

Kael menambahkan dengan suara rendah, “Lebih aman.”

Alverion terdiam sejenak, mempertimbangkan tanpa menunjukkan apa yang ia pikirkan. Tawaran itu masuk akal di tempat seperti ini, tetapi ia tidak cukup bodoh untuk menerima tanpa berpikir.

Ia mengenal mereka.

Dan ia tahu.

Keputusan mereka tidak pernah didasarkan pada kebetulan semata.

Namun kondisi di sekitarnya juga tidak memberi banyak pilihan, karena berjalan sendiri berarti menanggung semua risiko tanpa cadangan. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya mengangguk.

“Baik. Sementara.”

Riven tersenyum sedikit lebih lebar, seolah itu sudah lebih dari cukup. “Itu saja yang kita butuhkan.”

Mereka mulai bergerak bersama, formasi terbentuk secara alami seperti kebiasaan lama yang tidak benar-benar hilang. Riven berjalan di depan, Alverion di sampingnya, Kael menjaga bagian belakang, sementara Lyra tetap sedikit menjauh sambil mengawasi sekitar.

Namun suasana di antara mereka tidak sama seperti dulu, karena kepercayaan yang pernah ada sudah retak dan tidak bisa kembali utuh. Setiap langkah terasa hati-hati, bukan hanya karena lingkungan, tetapi juga karena mereka satu sama lain.

Lorong mulai berubah setelah beberapa menit, menjadi lebih terbuka dengan beberapa jalur bercabang yang terlihat sama gelapnya. Dinding dipenuhi retakan yang lebih dalam, memancarkan cahaya redup yang bergerak perlahan seperti aliran yang tidak terlihat.

Lyra akhirnya berbicara, suaranya tenang tetapi jelas. “Ada sesuatu di depan.”

Mereka berhenti hampir bersamaan, perhatian langsung tertuju ke arah yang ia maksud. Riven mengamati dengan serius, ekspresinya sedikit berubah.

“Energinya lebih padat,” katanya.

Kael mengerutkan kening, tatapannya tajam. “Bisa jadi sarang monster. Atau sesuatu yang lebih berharga.”

Ia melirik sekilas ke arah Alverion, sangat singkat tetapi cukup untuk terlihat. Riven kembali mengambil keputusan tanpa ragu.

“Kita cek bersama. Kalau ada sesuatu, kita bagi seperti biasa.”

Kata terakhirnya terasa berat, seperti memiliki arti lain yang tidak diucapkan secara langsung. Alverion hanya mengangguk pelan, memilih mengikuti alur tanpa menunjukkan keberatan.

Mereka melanjutkan langkah, tekanan di udara mulai terasa kembali saat jarak dengan sumber energi semakin dekat. Tidak sekuat sebelumnya, tetapi cukup untuk membuat setiap gerakan lebih terukur.

Akhir lorong itu membuka ke sebuah ruang besar yang berbeda dari sebelumnya, dengan struktur di tengah yang langsung menarik perhatian. Pilar batu berdiri dengan retakan di berbagai sisi, dari dalamnya keluar cahaya samar yang bergerak perlahan.

Cahaya itu mirip dengan yang pernah Alverion temui.

Namun lebih besar.

Lebih padat.

Kael menghela napas pelan, matanya menyipit. “Ini bukan hal biasa.”

Riven tersenyum tipis, ekspresinya sulit dibaca. “Sepertinya kita beruntung.”

Lyra tetap diam, tetapi perhatiannya tidak lepas dari pilar itu. Ia tidak bergerak, seolah menunggu sesuatu yang belum terlihat.

Alverion merasakan getaran halus dari dalam tubuhnya, cukup jelas untuk membuatnya fokus. Artefak yang ia simpan bereaksi, denyutnya berubah mengikuti sesuatu yang berasal dari pilar tersebut.

Ia menyipitkan mata, mencoba memahami hubungan antara keduanya. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Riven melangkah maju dengan sikap santai.

“Alverion, kamu paling dekat. Coba periksa,” ucapnya ringan.

Nada itu terlalu mudah, seolah tidak ada risiko di baliknya. Alverion tidak langsung bergerak, matanya beralih dari Riven ke Kael, lalu ke Lyra.

Ada sesuatu yang tidak cocok.

Satu detik berlalu.

Lalu ia melangkah.

Bukan karena percaya, melainkan karena ia ingin melihat sejauh mana mereka akan melangkah dalam permainan ini. Ia mendekati pilar dengan langkah terukur, menjaga jarak yang cukup untuk bereaksi jika terjadi sesuatu.

Semakin dekat, getaran dari artefak semakin kuat, sinkron dengan energi yang keluar dari pilar. Namun di saat yang sama, instingnya memberi peringatan yang tidak bisa diabaikan.

Bahaya.

Saat ia berada beberapa langkah dari pilar, tanah di bawahnya bergerak dengan pola yang tidak alami. Cahaya muncul dari lantai, membentuk lingkaran dengan garis yang saling terhubung.

Alverion langsung berbalik, tetapi situasi sudah berubah.

Riven melangkah mundur dengan tenang, Kael tersenyum tipis tanpa menyembunyikan niatnya, sementara Lyra tetap diam dengan tatapan yang kini jelas berbeda.

“Maaf, Alverion,” kata Riven pelan. “Kami butuh apa yang kamu punya.”

Alverion tidak menunjukkan keterkejutan, hanya menatap mereka dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. “Jadi ini tujuan kalian.”

Kael tertawa kecil, nada suaranya santai. “Kamu pikir kami datang sejauh ini tanpa alasan? Kami sudah memperhatikanmu sejak awal.”

Lyra akhirnya berbicara, suaranya tetap datar tanpa emosi yang terlihat. “Energi di tubuhmu berbeda. Kami tidak tahu apa itu, tapi jelas bukan hal biasa.”

Riven mengangguk, matanya tetap fokus pada Alverion. “Dan tempat ini bereaksi padamu. Itu berarti kamu kunci yang kami butuhkan.”

Lingkaran cahaya di bawah kaki Alverion semakin terang, energi mulai naik membentuk dinding transparan yang mengurungnya. Ia mencoba melangkah keluar, tetapi tekanan dari dinding itu langsung menahannya dengan kekuatan yang tidak bisa diabaikan.

“Dan setelah ini?” tanya Alverion tanpa mengalihkan pandangan.

Riven tersenyum tipis. “Kami ambil apa yang tersisa.”

Kael menambahkan dengan santai, “Kalau kamu masih hidup.”

Tidak ada emosi dalam suara mereka, hanya keputusan yang sudah diambil sejak awal. Itu yang membuat situasi terasa lebih dingin daripada ancaman biasa.

Energi di dalam lingkaran mulai meningkat, tanah di bawahnya retak dan mengeluarkan cahaya yang sama seperti pilar. Dari dalamnya, sesuatu mulai bergerak, bukan satu melainkan beberapa.

Alverion menyadari apa yang sedang terjadi, bukan sekadar perangkap untuk menahan, tetapi mekanisme yang memanggil sesuatu dari bawah. Ia bukan hanya terjebak, tetapi dijadikan pusat dari sesuatu yang lebih besar.

Di luar lingkaran, Riven dan yang lain sudah mundur, menjaga jarak sambil mengamati tanpa berniat membantu. Mereka menunggu hasil dari apa yang telah mereka mulai.

Makhluk pertama muncul sepenuhnya, bentuknya lebih besar dan lebih padat dibanding yang sebelumnya. Bayangan lain mulai terbentuk di belakangnya, jumlahnya bertambah perlahan.

Alverion berdiri di tengah lingkaran, dikelilingi cahaya yang kini terasa seperti penjara yang hidup. Tekanan datang dari segala arah, namun artefak di tubuhnya kembali berdenyut dengan ritme yang semakin cepat.

Ia menutup mata sejenak, menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya di tengah situasi yang semakin sempit. Ketika ia membuka mata kembali, tatapannya berubah menjadi lebih fokus dan tajam.

“Kalau memang ini yang kalian mau...” gumamnya pelan.

Senyum tipis muncul di wajahnya, bukan karena percaya diri yang berlebihan, tetapi karena ia menerima situasi yang ada di hadapannya. Ini bukan posisi yang menguntungkan, tetapi juga bukan akhir yang sudah ditentukan.

Makhluk-makhluk itu mulai bergerak bersamaan, langkah mereka berat namun terarah menuju pusat lingkaran. Energi di sekitar semakin padat, membuat ruang terasa lebih sempit dari yang terlihat.

Alverion mengatur napasnya, tubuhnya masih terluka tetapi pikirannya jauh lebih jernih. Artefak di dalam dirinya berdenyut selaras dengan detak jantungnya, memberikan sensasi yang tidak lagi asing.

Ia berdiri tegak di tengah tekanan yang terus meningkat, menyadari bahwa pertarungan kali ini bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang memahami apa yang kini menjadi bagian dari dirinya.

Dan di luar lingkaran itu, tiga orang yang pernah berjalan bersamanya hanya menunggu, tanpa menyadari bahwa apa yang mereka lepaskan mungkin bukan sesuatu yang bisa mereka kendalikan lagi.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!