Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.
Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.
Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.
Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.
Sementara Rahasia lain telah menantinya.
Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Mantan Tunangan
Satu-satunya hal yang paling Zoe sesali dalam hidupnya adalah ketidakmampuannya untuk sekadar menarik napas dengan tenang. Semenjak ayahnya memutuskan untuk menikah lagi, rumah yang dahulu menjadi istananya berubah menjadi penjara bawah tanah yang pengap.
Sifat asli Tina dan ketiga saudara tirinya yang semula tertutup topeng keramahan, kini mencuat tajam seperti belati. Kehidupan Zoe seketika merosot ke titik nadir---- ia diperlakukan layaknya pelayan yang harus tunduk pada setiap titah majikan, padahal di dalam nadinya mengalir darah pewaris tunggal yang sah.
Namun, ironisnya, status tinggi itu tidak berarti apa pun di hadapan kekejaman mereka.
Kini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Zoe bisa merasakan sedikit kebebasan tanpa bayang-bayang ketakutan. Dan semua itu bermula karena pilihan nya sendiri--- pilihan nya untuk mati dan membawanya bertemu dengan sosok yang saat ini duduk di samping nya.
Zoe menatap jengah pada Steven yang sejak tadi terus mengekorinya seperti bayangan yang enggan lepas. "Sampai kapan kamu mau terus mengikuti ku dan mengamati ku seperti barang antik?" tanya Zoe dengan nada ketus yang gagal menyembunyikan kelelahannya.
Steven tidak segera menjawab. Ia justru menyesap jus jeruk di tangannya dengan sangat santai, seolah-olah ia sedang berlibur di resor mewah, bukan sedang terjebak dalam masalah pelik. "Sampai kekuatanku kembali ke tempat yang seharusnya. Kamu tahu betul aku bukan orang yang penyabar," jawabnya tenang, namun terselip penekanan di setiap katanya.
Zoe menghela napas panjang, sebuah suara frustrasi yang tertahan di tenggorokan. " Aku membutuhkan kekuatan ini... jika kau mau menunggu, maka aku akan mengembalikan nya nanti." ujar Zoe kesal, matanya berkilat menahan rasa frustasi.
"Aku bukan orang yang suka menunggu," sahut Steven, kali ini ia meletakkan gelasnya dan mencondongkan tubuh ke arah Zoe, "Aku tidak akan beranjak satu inci pun dari sisimu sebelum separuh jiwaku yang kau curi itu kembali padaku."
Zoe tersentak, rasa frustrasinya memuncak. "Kau masih memiliki sisa kekuatan yang cukup untuk meratakan gedung ini, Steven! Apa salahnya berbagi sedikit? Lagi pula, kau adalah makhluk kuat, kau tidak akan mati hanya karena kehilangan setengah kekuatanmu!" sentak Zoe, suaranya naik satu oktav.
Mendengar itu, tatapan Steven berubah sedingin es di kutub utara. Atmosfer di sekitar mereka mendadak memberat. "Kau benar-benar tidak tahu apa-apa, ya? Manusia kecil yang malang," desis Steven dengan nada rendah yang mengancam. "Kau mengambil sesuatu yang lebih dari sekadar 'energi'. Karena dirimu, aku harus menyandang gelar sebagai dewa yang gagal. Apa kau tahu berapa harga yang harus kubayar? Aku mengasingkan diri, tertidur dalam meditasi selama seribu tahun hanya untuk naik ke tingkat dewa sejati. Namun, karena seorang manusia tidak tahu diri sepertimu yang tiba-tiba merampas kekuatanku saat aku terbangun, aku harus menanggung aib kegagalan ini selamanya."
Zoe terdiam. Kata-kata Steven barusan terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan pembelaan dirinya.
Ia menelan ludah, mencoba mencari keberanian di sela-sela rasa bersalahnya. "Sebenarnya... sebenarnya itu bukan sepenuhnya salahku," bisik Zoe pelan sebelum suaranya kembali menguat. "Bukan aku yang dengan sengaja mencurinya! Kekuatanmu itu seolah memiliki kehendak sendiri dan langsung meresap ke dalam tubuhku begitu saja. Jadi, jangan terus-menerus memojokkan ku seolah aku ini pencuri licik!"
Steven menyipitkan mata, ekspresi kemarahan di wajahnya perlahan digantikan oleh keraguan yang dalam. "Itulah yang membuatku bingung," gumam Steven, lebih kepada dirinya sendiri. "Kekuatanku bukan sesuatu yang bisa dirampas dengan mudah oleh sembarang makhluk. Selama lebih ribuan tahun, tak terhitung berapa banyak siluman dan iblis tingkat tinggi yang mencoba membunuhku hanya untuk mencicipi setetes kekuatanku, dan aku selalu menghabisi mereka tanpa sisa. Tapi kau... bagaimana mungkin seorang manusia tanpa bakat sihir sepertimu bisa menampung kekuatanku tanpa hancur menjadi debu?"
Zoe hanya bisa terpaku, tidak mampu menjawab pertanyaan yang bahkan sang pemilik kekuatan itu sendiri tidak tahu jawabannya.
Suasana di sudut Restoran yang semula hanya diisi oleh ketegangan dingin antara Steven dan Zoe tiba-tiba pecah oleh suara yang memuakkan.
Prok! Prok! Prok! Suara tepukan tangan yang ritmis dan penuh nada meremehkan itu memaksa Steven dan Zoe menoleh serentak. Di sana, berdiri seorang pria dengan setelan rapi namun wajahnya semerah padam menahan amarah yang meluap—Evander.
"Wowww... luar biasa sekali. Pantas saja Lo begitu gigih memutus hubungan pertunangan kita secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Ternyata, selera Lo jatuh pada pria semacam ini?" sindir Evander dengan nada bicara yang bergetar karena emosi, matanya menyipit tajam menatap Steven dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Zoe hanya melirik sekilas dengan tatapan datar yang menusuk, sementara Steven tetap bersandar santai di kursinya seolah-olah yang baru saja datang hanyalah gangguan angin lalu. Ketidakhadiran reaksi dari keduanya justru menjadi bensin bagi api kemarahan Evander.
"Lo denger gue nggak, Zoe?!" bentak Evander, langkahnya maju satu tindak hingga meja mereka bergetar. "Gue bicara sama lo!"
Zoe menghela napas panjang, menatap langit-langit restoran dengan ekspresi bosan yang dibuat-buat. "Steven, kau dengar sesuatu? Sepertinya ada suara bising yang mengganggu, tapi anehnya, aku sama sekali tidak melihat ada orang penting di sekitar sini," gumam Zoe sambil mengangkat bahu dengan gerakan yang sangat acuh tak acuh.
Di dalam hati, ia merutuki nasibnya--- niat hati ingin bersenang-senang di luar, ia justru terjepit di antara dua pria yang sama-sama menyebalkan.
"LO—!" Evander menunjuk tepat ke wajah Zoe, jemarinya gemetar. "Lo berani mengabaikan gue setelah Lo mempermalukan gue saat makan malam itu? Lo pikir Lo siapa bisa memperlakukan gue seperti sampah?" Teriakannya mulai menarik perhatian pengunjung lain. Evander kemudian mengalihkan tatapan bengisnya pada Steven. "Lo... apa Lo tidak punya harga diri sampai harus mendekati wanita yang masih terikat status pertunangan dengan seseorang? Apa Lo tidak tahu siapa gue?!"
Steven hanya melirik sekilas, lalu kembali menyesap minuman nya dengan ketenangan yang provokatif. "Nggak tahu... dan nggak mau tau." jawabnya dengan suara rendah yang begitu cuek hingga sanggup membuat harga diri lawan bicaranya hancur seketika.
Zoe mati-matian menahan tawa yang hampir meledak melihat wajah Evander yang kini sudah tidak lagi merah, melainkan hampir ungu karena murka yang mencapai ubun-ubun.
Situasi ini kacau, namun melihat mantan tunangannya dipermalukan dengan cara yang begitu elegan oleh Steven memberikan kepuasan tersendiri baginya.
"Ralat, Evander," ucap Zoe, membuat Evander terdiam sejenak. "Mantan tunangan. Ingat itu baik-baik di otakmu yang bebal itu. Kita sudah benar-benar selesai dan tidak punya hubungan apa-apa lagi sejak malam itu. Dan pria di sampingku ini..." Zoe sengaja menjeda kalimatnya, lalu melingkarkan lengannya di lengan Steven. "Benar, dia pacarku. Jadi, tolong menyingkir dari hadapan kami."
Seketika itu juga, Steven tersedak ludahnya sendiri. Matanya membelalak tak percaya sambil menatap Zoe dari samping.'Apa dia bilang? Pacar? Sejak kapan aku jadi pacarnya?' batin Steven berteriak, sementara jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
•
•
•
BERSAMBUNG
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘