update setiap tanggal genap
Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.
Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.
Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manajer Ketat - 2
Setelah percakapan singkat dengan Song Jian, suasana di meja para magang berubah sedikit. Tidak ada yang mengatakannya secara langsung, tetapi beberapa dari mereka mulai melirik Lin Yinjia dengan pandangan berbeda. Sebelumnya, mereka menganggapnya sama seperti magang lain—mahasiswa yang datang dengan wajah gugup, mencoba tidak melakukan kesalahan.
Namun menemukan selisih angka di dokumen ekspor bukan hal sederhana. Terlebih lagi ketika dokumen itu setebal hampir lima puluh halaman.
Yinjia sendiri tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia kembali duduk di kursinya dan membuka halaman berikutnya dengan hati-hati. Tumpukan dokumen di depannya masih sangat banyak. Ia menarik napas pelan.
Bekerja di perusahaan sebesar ini membuatnya sadar bahwa segala sesuatu bergerak sangat cepat, tetapi tetap harus akurat. Setiap angka yang tertulis di laporan bukan sekadar angka. Itu berarti kontainer barang, kontrak pengiriman, dan uang dalam jumlah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Beberapa ratus kilogram barang bisa berarti puluhan ribu yuan. Jika kesalahan kecil seperti itu lolos tanpa diperiksa, kerugian yang muncul mungkin jauh lebih besar dari yang dibayangkan.
Yinjia kembali membaca tabel di halaman berikutnya. Tangannya bergerak perlahan mengikuti baris angka. Sesekali ia mencoret sesuatu dengan pulpen merah ketika menemukan detail yang tidak sesuai.
Di ruangan itu, suara keyboard dan printer bercampur dengan suara langkah orang yang lewat di lorong. Seseorang tertawa kecil di meja dekat jendela. Telepon berdering di meja administrasi. Semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Yinjia mulai merasa matanya sedikit lelah setelah hampir dua jam menatap angka. Ia mengangkat kepala sebentar dan meregangkan bahunya. Saat itulah ia menyadari bahwa meja Song Jian tidak lagi kosong. Manajer itu kembali dari ruang rapat.
Song Jian berjalan melewati meja-meja para magang tanpa mengatakan apa pun. Namun langkahnya berhenti sebentar di belakang kursi Yinjia.
Yinjia tidak menyadarinya pada awalnya. Ia masih membaca dokumen dengan serius. Song Jian memperhatikan halaman yang sedang ia lihat. Beberapa angka sudah ditandai merah. Garis bawahnya rapi dan jelas. Ia tidak terlihat menandai sembarangan.
Beberapa detik berlalu. Song Jian akhirnya berbicara. “Berapa banyak yang kau temukan?”
Suara itu membuat Yinjia hampir menjatuhkan pulpen. Ia langsung menoleh. “P-Pak?”
Song Jian berdiri di belakangnya dengan tangan di saku jas. Tatapannya turun ke dokumen di meja. “Kesalahan.”
Yinjia menunduk lagi dan melihat catatan yang ia buat. “Sejauh ini… ada lima perbedaan angka.”
Song Jian mengulurkan tangan. “Berikan.”
Yinjia menyerahkan map itu. Song Jian membaca halaman yang sudah ditandai dengan cepat. Matanya bergerak dari satu angka ke angka lain tanpa berhenti lama.
Setelah beberapa saat ia menutup map itu. “Cara kerjamu tidak buruk.” Itu bukan pujian yang hangat, tetapi cukup membuat Yinjia merasa sedikit lega.
Song Jian kemudian berkata dengan nada yang sama datarnya. “Tapi kau terlalu lambat.”
Yinjia berkedip. “Eh?”
“Proyek ini harus selesai sebelum sore.”
Yinjia melihat tumpukan dokumen di depannya. Masih sangat banyak. Song Jian seolah membaca pikirannya. “Di kantor ini tidak ada yang punya waktu bekerja pelan.”
Ia menunjuk dokumen di meja. “Gunakan logika, bukan hanya mata.”
Yinjia sedikit bingung. Song Jian mengambil satu lembar kertas kosong lalu menulis beberapa angka.
“Jika berat rata-rata satu kontainer adalah delapan belas ribu kilogram, perbedaan lebih dari seratus kilogram harus langsung terlihat.”
Ia menulis angka lain. “Bandingkan pola, bukan hanya angka satu per satu.”
Song Jian meletakkan kertas itu di meja. “Kau mengerti?”
Yinjia menatap angka-angka itu beberapa detik. Lalu ia mengangguk perlahan. “Saya mengerti.”
Song Jian tidak mengatakan apa pun lagi. Ia hanya berbalik dan kembali ke mejanya. Namun cara Yinjia bekerja berubah setelah itu. Ia tidak lagi membaca setiap angka secara perlahan. Sebaliknya, ia mulai melihat pola.
Berat kontainer biasanya berada di kisaran tertentu. Jika ada angka yang terlalu berbeda, itu langsung terlihat. Metode itu jauh lebih cepat.
Dalam setengah jam berikutnya, ia berhasil menemukan tiga perbedaan lain. Pulpen merahnya bergerak lebih cepat. Namun semakin cepat ia bekerja, semakin ia menyadari betapa mudahnya membuat kesalahan.
Di halaman berikutnya, tangannya hampir menandai angka yang sebenarnya benar. Ia berhenti tepat sebelum pulpen menyentuh kertas.
Yinjia menarik napas pelan. Ia kembali memeriksa angka itu sekali lagi. Ternyata benar. Jika ia menandainya tanpa berpikir, laporan itu akan terlihat salah.
Perasaan dingin menjalar di punggungnya. Di kantor seperti ini, kesalahan kecil bisa terlihat sangat memalukan. Ia mengangkat kepala sebentar.
Song Jian masih bekerja di mejanya, mengetik laporan di laptop dengan wajah serius. Yinjia kembali menunduk. Ia memutuskan bekerja sedikit lebih hati-hati. Waktu terus berjalan. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul tiga sore ketika pintu ruang kerja terbuka.
Beberapa karyawan langsung berdiri sedikit lebih tegak. Suasana ruangan berubah sangat halus. Tidak ada yang mengatakan apa-apa. Namun semua orang tahu seseorang penting baru saja masuk. Langkah sepatu kulit terdengar pelan di lantai.
Guo Linghe.
Presiden direktur perusahaan itu berjalan masuk dengan langkah tenang. Jas hitamnya terlihat sederhana tetapi sempurna. Rambutnya disisir rapi, wajahnya tenang tanpa ekspresi berlebihan.
Beberapa karyawan memberi salam singkat. “Direktur Guo.”
Linghe hanya mengangguk kecil sambil berjalan melewati mereka. Tatapannya sekilas menyapu ruangan.
Namun tidak berhenti pada siapa pun terlalu lama. Ia menuju meja Song Jian. “Laporan logistik sudah selesai?”
Song Jian langsung berdiri. “Hampir selesai, Direktur Guo.”
Linghe mengangguk. “Kirim ke ruang saya sebelum jam lima.”
“Baik.”
Percakapan itu singkat. Namun selama beberapa detik Linghe berdiri di sana, pandangannya sempat bergerak ke arah meja para magang.
Hanya sekilas. Namun cukup untuk membuat beberapa dari mereka merasa gugup. Yinjia sendiri tidak menyadarinya. Ia sedang menunduk membaca dokumen terakhir di mapnya.
Pulpen merahnya bergerak lagi. Linghe memperhatikan itu beberapa detik. Seorang magang perempuan yang terlihat sangat serius menandai dokumen dengan hati-hati.
Ia tidak terlihat seperti orang yang ingin menarik perhatian siapa pun. Namun justru karena itulah ia terlihat berbeda.
Song Jian mengikuti arah pandangan itu. Ia berkata singkat. “Dia menemukan kesalahan di laporan pengiriman.”
Linghe sedikit mengangkat alis. “Oh?”
“Magang baru.” Linghe tidak mengatakan apa pun lagi.
Beberapa detik kemudian ia berbalik dan berjalan keluar ruangan. Langkahnya tetap tenang seperti saat masuk. Namun setelah pintu tertutup, suasana ruangan perlahan kembali normal.
Yinjia akhirnya selesai memeriksa halaman terakhir. Ia menutup map itu dengan napas panjang. Tangannya terasa sedikit pegal. Namun ketika ia melihat tumpukan dokumen yang sudah selesai diperiksa, ada perasaan kecil yang sulit dijelaskan.
Ia berhasil menyelesaikannya. Tidak sempurna. Tapi cukup baik. Yinjia berdiri dan berjalan menuju meja Song Jian. “Pak… dokumennya sudah selesai.”
Song Jian menerima map itu. Ia membukanya dan memeriksa beberapa halaman secara acak. Beberapa detik kemudian ia menutupnya. “Lumayan.”
Ia tidak menambahkan apa pun lagi. Namun bagi Yinjia, satu kata itu terasa seperti nilai lulus setelah ujian panjang. Song Jian kemudian berkata dengan nada datar.
“Besok kau membantu tim kontrak.” Yinjia sedikit terkejut. Biasanya magang tidak langsung dipindahkan ke pekerjaan yang lebih penting. Namun ia hanya mengangguk. “Baik, Pak.”
Saat ia kembali ke mejanya, matahari sore mulai masuk melalui jendela besar di ujung ruangan. Cahaya keemasan itu jatuh di atas meja-meja kerja, membuat seluruh lantai kantor terlihat lebih hangat. Yinjia merapikan dokumen di mejanya dengan pelan.