Kembali lagi dalam kisah seru perjalanan hidup seorang wanita dari keluarga Nugraha, siapa dia?, yuk ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah haluan
Sampai di parkiran, Sera merasa aneh saat adik sepupunya masih mengikutinya.
"Kenapa masih mengikuti ku?"
"Mau pulang"jawab Alensky ringan.
Sera seketika menunda tangannya yang akan membuka pintu mobil.
"Maksudnya?, kamu gak ngampus?"
"Sudah tadi kak, sekarang otakku perlu di dinginkan, jadi pulang lebih cepat di bolehkan"
"Alensky!"
Sera kini memejamkan mata, mengumpulkan semua kesabarannya, jika tidak di depan umum, dia pasti sudah mencak-mencak sambil siap memukul wanita yang hanya bisa nyengir di depannya.
"Alen, aku ingatkan sekali lagi, jangan sampai kamu ada masalah serius lagi di dunia perkuliahan mu yang hanya tinggal tahun ini, atau aku tak akan lagi membelamu jika Oma langsung mengawinkan mu!"
"Aku penasaran rasanya, kawin saja gak nikah?"
"Alen!"
"Ups, sorry kak hanya bercanda"
Alensky tertawa senang, lalu berbalik dan meninggalkan Sera dengan satu tangan melambai tanda perpisahan.
Sera merasa lega, bisa meredakan emosinya, namun saat tangannya membuka pintu mobil, teriakan adiknya membuatnya naik darah.
"Transfer aku seratus juta, dan aku akan duduk manis sampai jam pulang nanti!" teriaknya.
Sontak Sera melebarkan mata tak percaya, pengen sekali mukul kepala sepupunya, dan akhirnya berteriak kuat.
"DASAR EDAN!!"
*
*
Sementara itu di tempat lain, seseorang menyambut paginya dengan melihat jam tangan mewah di lengannya, jam 07.45, Graven Rudolf duduk di kursi kebesarannya.
Meja yang selalu menemaninya, terbuat dari bahan mahal dan bercorak gelap, mungkin seperti hatinya yang kini di selimuti oleh kabut kegelisahan yang tak di mengerti.
Layar ponsel yang sengaja di hidupkan, tertera sebuah nama kontak yang baru kemaren di dapatkannya, SERA EAGLE NUGRAHA.
Kopi yang ada di meja masih belum di sentuh nya, mengeluarkan uap hangat yang baunya menggugah selera, mungkin bagi orang dalam keadaan normal, tapi sekarang, Graven hanya bisa menghela nafasnya saat paru-parunya terasa sesak.
Bukan karena tekanan pekerjaan, tapi lebih pada tekanan bayangan seseorang yang terasa terus menempel di otaknya.
Kini tangan Graven menyentuh kopinya, merasakan hawa panas disana, dan akhirnya mengambil dan meminumnya perlahan, lalu meletakkan.
Nama Sera, jelas sedang menganggu pikirannya, dia dengan segala kebrutalan dalam berpikirnya, protes dan pemberontakannya, sungguh tak pernah di temui sebelumnya.
"Ck, Dia_"
Graven menghela nafasnya lagi, seolah begitu susah mendefinisikan wanita yang terus saja ada dalam pikirannya.
"Dia dengan segala kekurangannya, kenapa?, malah semakin nampak begitu sempurna, wajahnya saat melawanku, ucapan kasarnya padaku, terasa begitu_menarikku, sial!" gumamnya pelan dan tanpa sengaja tangannya menghantam meja.
"Harry!"
Graven memanggil keras, asisten pribadi yang berada di luar segera masuk dan ada di hadapannya kini.
"Ada apa Tuan?"
"Ubah tempat pertemuan ada di sini, di Rudolf Company, beri tahu para investor dan juga rekan kita dari Megatan Company, pastikan berjalan lancar tanpa merubah jam Meeting yang sudah di sepakati sebelumnya"
"Apa?!"
Reflek Harry terkejut setengah hidup, ini kurang seperempat jam dan sang Bos memberi perintah dadakan, ya Tuhan.
"Apa ada masalah?" tanya Graven dengan tatapan dalam.
"Oh, tidak, tentu saja tidak Tuan, baik akan saya siapkan"
"Hem, pergilah"
Harry segera keluar dari ruangan yang lebih mirip neraka baginya saat ini.
Gila, sungguh gila, dia harus bekerja ekstra menyusun semuanya agar meeting sempurna dengan merubah tempat yang sebelumnya ada di Megatan Company.
"Sial!!"
Teriak Harry saat sudah di jarak aman untuk teriak dan mengumpat, namun tentu saja percuma, karena mau tidak mau dia harus menyiapkan segalanya dengan sempurna.
Menghubungi Tim yang ada, bahkan Harry berteriak saat membagi semua pekerjaan kilat yang harus di selesaikan.
Mulai dari menghubungi dan merayu investor agar memaklumi rencana dadakan Bos nya, hingga menyiapkan segala perlengkapan yang ada untuk berjalannya meeting yang sempurna.
Sepuluh menit berikutnya, Graven menghubungi nya.
"Bagaimana Harry, sudah siap?"
Ter jeda, mulut Harry terasa kelu untuk berbicara saking tegangnya, namun apa boleh buat, harus segera menjawab.
"SIAP TUAN"
"Bagus"
Cklek.
Ya Tuhan Harry benar-benar ingin melempar granat saat ini, wajahnya berusaha tenang namun seperti pasukan yang ada di Medan perang, siap di tempat, siap di bom dan siap mati tentu saja.
"Baiklah Harry, masih kurang lima menit lagi, kamu bisa, semua hampir siap, sudah 90 persen, dan jika yang sepuluh persen meleset, kamu cukup gantung diri saja, TAMAT" batin Harry yang kemudian pontang-panting menge cek ulang.
Beruntung Harry sudah bekerja selama lima tahun si Rudolf Company, setidaknya dia tau Tim mana yang bisa di ajak untuk bekerja ekstra, hingga akhirnya dia bisa memastikan tinggal satu persen saja.
"Tuan, semua sudah siap, hanya satu persen saja, menghubungi CEO Megatan Company, saya belum_"
"Serahkan itu padaku, lanjutkan pekerjaan mu"
"Baiklah"
Harry merasa lega, saat Graven mengambil satu pekerjaan yang tentu tak mudah bagi Harry jika sudah berhubungan dengan CEO wanita bernama Sera.
Panggilan di dapatkan, protes dari seorang wanita membuatnya langsung pusing seketika.
"Apa kau gila Harry?!" teriaknya memekakkan telinga.
"Please Mega, aku juga sangat tertekan disini!"
"Bos mu benar-benar tidak waras, aku sudah menyiapkan semuanya, dan tiba-tiba saja dirubah begitu saja, ini_, SIAL!, aku harus kesana dalam waktu lima menit!"
"Mau bagaimana lagi, pikirkan jalan keluar mu sendiri, aku disini juga memikirkan masalahku" sahut Harry.
"Kalian sinting!" teriak Mega benar-benar tak percaya dengan perintah dadakan yang gak masuk akal.
Sambungan terputus, Harry hanya menghela nafas mengurangi frustasi, bukan hanya Mega yang murka padanya, bahkan investor asing awalnya juga tak menerima begitu saja, beruntung Harry tau cara untuk mengatasinya.
Sementara itu, Graven masih duduk dengan tenang di kursinya, melihat beberapa berkas yang ada lambang Rudolf dan Megatan Company, sungguh perpaduan yang pas menurutnya, walaupun awalnya tanpa sengaja.
Senyuman tipis, Tangan Graven kini mulai bergerak mengambil ponselnya, membuka nama kontak yang di carinya, dan saatnya dia menekan satu nama yang ada disana.
Terdengar suara, yang berarti panggilannya terhubung, deringan pertama masih di dengarnya, hingga kini deringan ke dua masih juga sama, belum ada yang mengangkatnya, di deringan ke tiga_
"Shit!!"
Graven mengumpat seketika.
Panggilan diulang, Graven dengan pasti memencet kembali tombol menghubungi ulang.
Masih terjadi hal yang sama, panggilan pertama tidak ada jawaban, lanjut ke panggilan kedua, masih juga sama, dan di panggilan ketiga_
"Aku benar-benar akan melucuti pakaiannya mu Sera" gumam Graven perlahan.
Dan di Deringan yang ke empat_, akhirnya ada yang mengangkat.
"Iya halo?!"
"Halo, Sera?"
"Iya, ada apa?"
"Segara datang kesini secepatnya!"
"APA?!"
Bersambung.
Jangan lupa Komen dong. Biar ini Novel makin rame, mohon dukungannya ya.
tp tdk lepas jg dr titisan gestrek omanya 🤭🤭