Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
"Mbak Kei!!" Azizah menarik tangan Keira saat gadis itu akan sujud. "Bukan sujud mbak, tapi rukuk dulu." Seru Azizah. Saat ini keduanya tengah berada di dalam mushalla yang ada di ndalem. Tadi, Keira meminta di ajarkan shalat pada adik iparnya itu, dan dengan senang hati, Azizah mengajarkannya. Namun rupanya, belajar shalat dengan Gus Zayn dan Azizah sangatlah berbeda. Adik iparnya itu lebih galak dari abangnya.
Dan masalah ia meminta Azizah mengajarkannya shalat, sebenarnya ia malu sekali mengatakan pada gadis itu kalau ia tidak bisa shalat, ia takut respon Azizah akan meledeknya, namun siapa sangka, adik iparnya itu hanya biasa saja, dan malah menyetujui permintaan Keira. Kalau saja ia tidak lagi kesal dengan Gus Zayn, ia tidak akan meminta pada Azizah.
“Lihat ini mbak, tata caranya, habis takbiratul ihram, mbak harus baca doa iftitah dulu. Kayak gini… Allahu Akbar kabirau…” Azizah membacanya dengan suara lembut. Ia lalu mempraktekkannya kembali. “Lanjutkan dengan baca alfatihah dan surah pendek mbak.”
Keira menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal. Ia saja baru belajar membaca iqra, ini di suruh baca ‘Iftitah? Al-fatihah? Surah pendek lainnya? Apatuh?’ Sungguh Keira sangat bingung. Sedangkan suaminya kemarin ia hanya mengajarkan gerakan shalat terlebih dahulu.
“Mbak ikutin aku ya!!” Azizah melangkahkan kakinya ke depan sana. Ia lalu menggerakkan kedua tangannya.
Keira menatap itu, ia mengikuti gerakan Keira dengan kaku.
“Allahu Akbar”
Dan diam-diam Gus Zayn menatap mereka. Ia menghela nafasnya kasar, ternyata istrinya benar-benar tidak mau belajar shalat dengannya, dan lebih memilih belajar shalat dengan Azizah…
*
Siang turun perlahan di atas pondok pesantren. Cahaya matahari menembus sela-sela jendela aula, jatuh membentuk garis-garis tipis di lantai keramik yang dingin. Udara terasa hangat, namun suasana di dalam ruangan itu justru dipenuhi ketenangan yang begitu rapi.
Beberapa pengurus pondok sudah duduk melingkar di tempat masing-masing. Tumpukan kitab, buku catatan, dan lembar laporan tergeletak di atas meja panjang. Sesekali terdengar suara kertas dibalik pelan, berpadu dengan desir kipas angin tua yang berputar lambat di langit-langit ruangan.
Dan di tempat paling depan…
Gus Zayn duduk dengan tenang.
Jubah putihnya tampak rapi seperti biasa, peci hitam melekat sempurna di kepalanya. Punggungnya tegak, sorot matanya lurus menatap beberapa pengurus yang sedang memperhatikan penjelasannya.
“Untuk jadwal kegiatan bulan depan, saya ingin semuanya lebih teratur,” ucapnya datar.
Dan cukup membuat seluruh ruangan diam mendengarkan.
Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya terdengar begitu tertata. Tidak berlebihan, tidak pula banyak bicara. Namun justru karena itulah, setiap ucapan Gus Zayn selalu memiliki wibawa yang sulit dijelaskan.
Ia berbicara pelan sambil membuka beberapa lembar catatan di hadapannya. Jemarinya bergerak tenang membalik halaman demi halaman, sementara para pengurus lain sesekali mengangguk memahami.
“Santri baru harus tetap dalam pengawasan musyrif masing-masing. Jangan sampai ada yang tertinggal dalam pelajaran ataupun hafalan.”
Tatapannya berpindah perlahan ke sisi ruangan lain.
Namun cukup membuat siapa pun segan.
Suasana rapat berlangsung tertib. Tidak ada suara gaduh, tidak ada yang berani memotong pembicaraannya sembarangan. Semua mendengarkan Gus Zayn dengan penuh hormat, sebab pria itu memang selalu seperti itu—tenang, namun mampu membuat orang lain diam dengan sendirinya.
Angin siang masuk perlahan dari jendela yang sedikit terbuka. Membawa aroma dedaunan dan suara samar para santri yang sedang mengaji di kejauhan.
Namun Gus Zayn tetap fokus pada pembicaraannya.
“Dan untuk kegiatan malam Jumat nanti, saya ingin keamanan lebih diperhatikan. Jangan sampai ada santri yang keluar tanpa izin.”
Salah satu pengurus kemudian mengangguk cepat. “Baik, Gus.”
Gus Zayn hanya membalas dengan anggukan kecil.
Cahaya siang perlahan bergeser, menyentuh separuh wajahnya yang tampak teduh. Dari luar, suara dedaunan bergesekan pelan tertiup angin, sementara di dalam ruangan itu Gus Zayn masih berbicara dengan tenang, membahas pondok, santri, dan tanggung jawab yang tak pernah benar-benar selesai.
“Baiklah jika semuanya sudah jelas, saya akhiri rapat siang ini. Assalamualaikum”
“Waalaikum salam.”
Gus Zayn keluar dari ruangan itu, ia langsung melangkahkan kakinya menuju ke ndalem lagi.
Beberapa pasang mata santri menatap ke arah pria tampan itu, dan beberapa juga menegur dan hanya di balas anggukan singkat dan salam oleh Gus Zayn.
Pria itu sangat pandai menjaga pandangannya.
Ia terus berjalan, sampailah ia di ndalem, dan ia langsung mendengar suara Azizah yang masih terus mengajari istrinya. Kali ini tidak dengan shalat, tapi membaca iqra.
“Ini ‘Sya’ mbak.. Bukan sa.” Seru Azizah menunjuk ke arah huruf Hijaiyah di sana.
Keira meringis, ia jadi kikuk karena sedari tadi sudah salah saja. Ia menatap adik iparnya yang sudah tampak kesal itu. “Saya minta maaf ya, kalau saya salah terus.”
Azizah tersentak, ia langsung tersadar. “Ih mbak, jangan tersinggung ya… anu aku itu memang kayak begini kalau ngajarinnya suka nggak sabaran. Zizah minta maaf ya mbak..” Azizah jadi merasa bersalah pada kakak iparnya itu.
“Mbak jangan sedih ya.”
Keira menggelengkan kepalanya. “Bukan salah kamu, saya yang minta maaf karena udah salah terus.”
“Ih, maaf mbak.”
Gus Zayn yang melihat itu jadi tersenyum geli, rasanya lucu sekali melihat ekspresi istrinya.
Kakinya melangkah perlahan mendekat ke arah keduanya, lalu berdekhem. Membuat keduanya langsung menoleh ke arahnya.
“Zah, biar Abang aja yang ngajarin kakak iparmu”