Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pak Danu menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. Suasana ruangan terasa tenang. Dari jendela, cahaya siang masuk dengan lembut, menerangi meja tempat mereka duduk berhadapan. Bu Rika menatapnya dengan wajah serius, memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut pria paruh baya itu.
"Saya sudah mengenal keluarga Novita sejak lama, Bu Rika," kata Pak Danu perlahan. "Bahkan sebelum Novita lahir."
Bu Rika mengangguk kecil. "Sejak dulu sekali, Pak?"
"Iya," jawab Pak Danu. "Kakeknya Novita dulu hanya seorang sopir angkot. Penghasilannya pas‑pasan. Tapi beliau harus menghidupi empat orang anak. Hidup mereka benar‑benar sederhana. Kadang untuk makan saja harus dihitung betul."
Pak Danu berhenti sejenak, seolah melihat kembali masa lalu di benaknya.
"Ibu Novita adalah anak ketiga," lanjutnya. "Dia sebenarnya anak yang baik. Rajin membantu orang tuanya, tidak pernah macam‑macam. Tapi…"
Ia menunduk sesaat.
"Waktu dia masih SMA, terjadi hal yang sangat buruk. Dia hamil di luar nikah."
Bu Rika sedikit terkejut, tetapi ia tetap diam dan mendengarkan.
"Karena kejadian itu dia terpaksa putus sekolah," kata Pak Danu. "Kakek Novita sangat terpukul. Tapi yang lebih membuat beliau marah adalah laki‑laki yang menghamili anaknya tidak mau bertanggung jawab."
Pak Danu menghela napas panjang.
"Saya yang waktu itu tahu kejadian itu langsung mencari laki‑laki itu. Saya datangi dia, saya kejar, saya paksa dia untuk bertanggung jawab."
"Lalu bagaimana akhirnya, Pak?" tanya Bu Rika pelan.
"Akhirnya mereka menikah," jawab Pak Danu. "Tidak ada pesta besar, tidak ada apa‑apa. Yang penting anak itu lahir dengan status yang jelas. Dan beberapa bulan kemudian lahirlah Novita."
Ruangan kembali hening beberapa saat.
"Awalnya kehidupan mereka tidak terlalu buruk," lanjut Pak Danu. "Walaupun sederhana, mereka masih bisa hidup bersama. Tapi lama‑lama masalah mulai muncul."
Pak Danu menatap meja di depannya.
"Ibunya Novita sering pulang ke rumah orang tuanya sambil membawa Novita yang masih bayi. Hampir setiap minggu begitu. Kadang datang dengan mata sembab karena menangis."
"Ayahnya Novita?" tanya Bu Rika.
Pak Danu menggeleng pelan.
"Mereka sering bertengkar. Tapi waktu itu saya sudah menikah dengan tetangga mereka. Jadi saya tidak bisa terlalu ikut campur."
Ia tersenyum tipis.
"Padahal sebenarnya saya cukup dekat dengan keluarga itu. Saya dulu pernah dianggap seperti anak angkat oleh kakeknya Novita."
"Jadi melihat keadaan mereka membuat saya ikut sedih. Yang bisa saya lakukan hanya membantu sedikit‑sedikit. Kadang membantu kebutuhan rumah, kadang mengantar kakeknya ke dokter."
Pak Danu terdiam beberapa detik.
"Kakek Novita sangat terpukul dengan keadaan anaknya. Lama‑lama beliau sering sakit‑sakitan. Sampai akhirnya… beliau meninggal dunia."
Bu Rika menunduk pelan, ikut merasakan kesedihan yang diceritakan.
"Setelah itu keadaan semakin buruk," lanjut Pak Danu. "Orang tua Novita akhirnya bercerai."
Pak Danu menggeleng pelan.
"Ibunya depresi. Dia seperti kehilangan semangat hidup. Bahkan… dia tidak mau merawat Novita yang masih kecil."
"Tidak mau merawat?" tanya Bu Rika kaget.
"Iya," jawab Pak Danu lirih. "Kadang Novita dibiarkan begitu saja. Tidak jelas sudah makan atau belum. Tidak ada yang benar‑benar memperhatikannya."
"Neneknya yang melihat keadaan itu sangat sedih," lanjutnya. "Akhirnya saya mengusulkan sesuatu."
Bu Rika menatap Pak Danu penuh rasa ingin tahu.
"Saya bilang pada neneknya, 'Kalau ibu tidak keberatan, biarkan saya membantu merawat Novita. Setidaknya anak itu bisa hidup lebih layak.'"
"Neneknya langsung menangis waktu itu," kata Pak Danu. "Beliau bilang tidak tahu harus bagaimana lagi."
Pak Danu tersenyum kecil, seolah teringat sosok Novita kecil.
"Novita waktu kecil itu cantik sekali, Bu. Tapi juga sangat lugu."
"Mertua saya waktu itu punya toko sembako kecil yang juga menjual jajanan anak‑anak. Hampir setiap sore Novita sering berdiri di depan toko itu."
"Dia tidak masuk," lanjut Pak Danu. "Hanya berdiri saja sambil melihat jajanan yang tergantung di etalase."
"Saya yang melihatnya merasa kasihan."
Pak Danu menirukan percakapannya waktu itu.
"Novita," panggil saya.
Anak kecil itu menoleh pelan.
"Iya, Om?"
"Kamu mau jajan? Ambil saja."
Pak Danu tersenyum mengingat jawabannya.
"Tidak, Om," katanya pelan.
"Kenapa tidak?"
"Novita tidak punya uang."
"Sudah, tidak apa‑apa. Ambil saja."
"Tidak boleh," jawabnya. "Nanti Nenek sedih kalau Novita makan jajan tapi Nenek tidak bisa membelikan."
Bu Rika yang mendengar cerita itu menutup mulutnya perlahan, menahan haru.
"Saya sampai tidak tahu harus berkata apa waktu itu," lanjut Pak Danu. "Anak sekecil itu sudah berpikir sejauh itu."
Pak Danu tertawa kecil mengingat kejadian berikutnya.
"Besoknya Novita datang lagi ke toko."
"Dia berdiri di depan saya sambil membuka tangannya."
"Di telapak tangannya ada satu koin lima ratus rupiah."
Pak Danu menirukan suara kecil Novita.
"Om… Novita mau beli jajan."
"Saya tanya, 'Mau yang mana?'"
Novita menunjuk salah satu jajanan.
"Yang itu, Om."
"Saya akhirnya memberikan satu renteng jajanan penuh," kata Pak Danu sambil tersenyum. "Tapi saya hanya mengambil satu koin lima ratus dari tangannya."
"Sisanya saya bilang bonus."
"Dia tersenyum lebar waktu itu. Senyumnya benar‑benar polos."
Bu Rika mengusap sudut matanya yang mulai basah.
"Saya tidak menyangka masa kecil Novita seberat itu," katanya pelan.
Pak Danu hanya mengangguk.
"Makanya sampai sekarang saya tidak bisa benar‑benar menutup mata terhadapnya," ucap Pak Danu. "Bagi saya… Novita itu seperti anak sendiri."
Ruangan kembali hening beberapa saat.
Namun kali ini keheningan itu dipenuhi perasaan haru.
Di dalam hati, Bu Rika mulai memahami sesuatu. Cerita yang baru saja ia dengar membuatnya semakin yakin bahwa tuduhan yang pernah ia dengar tentang Novita terasa sangat tidak masuk akal.
Ia teringat ucapan Andra sebelumnya.
Tuduhan bahwa Novita hanya mendekati orang karena uang.
Bu Rika menghela napas pelan. Setelah mendengar semua cerita ini, ia justru merasa sebaliknya. Gadis yang sejak kecil tidak mau menerima jajan gratis karena takut membuat neneknya sedih, rasanya mustahil menjadi seperti yang dituduhkan.
Namun Bu Rika tidak mengatakan apa pun kepada Pak Danu.
Ia tahu betul bagaimana perasaan pria itu terhadap Novita.
Jika Pak Danu tahu ada orang yang menuduh Novita sebagai wanita murahan hanya karena bantuan uang yang pernah ia berikan, pria itu pasti akan marah besar.
Dan Bu Rika tidak ingin menambah masalah.
"Terima kasih sudah menceritakan semuanya, Pak," kata Bu Rika akhirnya dengan suara lembut.
Pak Danu tersenyum kecil.
"Tidak apa‑apa, Bu Rika. Saya hanya… kadang merasa senang kalau bisa menceritakan tentang anak itu."
Bu Rika melihat ekspresi itu.
Ekspresi seorang ayah yang bangga.
"Jam istirahat sepertinya sudah hampir selesai," kata Bu Rika sambil melirik jam di dinding.
"Oh iya," jawab Pak Danu. "Saya juga harus kembali bekerja."
Bu Rika berdiri dari kursinya.
"Saya pamit dulu, Pak."
"Silakan, Bu Rika."
Bu Rika berjalan keluar ruangan dengan pikiran yang masih dipenuhi cerita tentang Novita.
Sementara itu Pak Danu tetap duduk sebentar di kursinya, dengan senyum kecil di wajahnya.
Baginya, membicarakan Novita selalu menghadirkan perasaan hangat.
Seperti seorang ayah yang bangga melihat putrinya tumbuh menjadi gadis baik, meskipun harus melewati masa kecil yang begitu sulit.