NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

"Saya menerima tawaran Tuan," ucap Dinda.

"Kakaaaakkk!" raung Dika. Ia jatuh bersimpuh di samping ranjang, mencengkeram tangan Dinda. "Jangan! Aku nggak mau sekolah kalau harganya harus begini! Aku nggak mau perusahaan Ayah kalau Kakak harus menderita!"

Dinda tidak menatap Dika. Ia tetap mengunci pandangannya pada Alan, yang kini menunjukkan senyum kemenangan tipis di sudut bibirnya.

"Tapi saya punya syarat tambahan," lanjut Dinda, suaranya kini lebih tegas. "Bukan hanya Maheswari Group. Saya ingin rumah peninggalan orang tua saya di perumahan lama dikembalikan. Rumah itu... tempat Dita lahir, tempat Ayah dan Ibu menghabiskan masa tua mereka sebelum dirampas. Saya ingin rumah itu kembali atas nama saya dan Dika."

Alan mengangguk perlahan. "Sangat mudah. Aku akan menebusnya besok pagi."

"Dan satu lagi," potong Dinda, suaranya sedikit bergetar saat ia melirik Dika yang sedang terisak di sampingnya. "Tuan harus menjamin pendidikan Dika. Bukan hanya sampai SMA. Sampai dia lulus kuliah, sampai dia mendapatkan gelar sarjananya, dan sampai dia siap memimpin perusahaan Ayah kembali. Tanpa ada campur tangan dari keluarga Ryuga dalam keputusannya nanti."

Seketika, Dika bangkit berdiri. Ia memukul nakas di samping ranjang hingga gelas air mineral di atasnya terjatuh dan pecah. "AKU TIDAK SETUJU! Kakak pikir aku ini apa?! Aku bukan barang yang bisa ditukar dengan kenyamanan! Aku nggak sudi kuliah pakai uang orang yang sudah menghancurkan Kakak!"

Dika menoleh pada Alan, matanya berkilat penuh kebencian. "Dengar ya, Tuan! Aku lebih baik jadi kuli panggul seumur hidup daripada harus melihat Kakak jadi budak di rumahmu! Ambil semua uangmu! Ambil perusahaan itu! Kami nggak butuh!"

"Dika, diam!" bentak Dinda. Ini pertama kalinya Dinda membentak adiknya dengan nada sekeras itu.

Dika terdiam, terkejut. Air matanya mengalir deras. "Kenapa, Kak? Kenapa Kakak begini? Kita sudah janji mau mulai hidup baru, kan? Cuma kita berdua..."

Dinda meraih wajah adiknya, mengusap air mata di pipi Dika dengan jemarinya yang masih terpasang infus. "Hidup baru yang mana, Dika? Kita nggak punya apa-apa. Dita sudah pergi... dan Kakak nggak mau kehilangan kamu juga. Kakak nggak mau kamu hancur karena kemiskinan ini. Kakak ingin kamu kembali ke tempat yang seharusnya. Di kursi pemimpin, bukan di pasar."

"Tapi Kakak harus menikah dengan dia!" Dika menunjuk Alan dengan telunjuk yang gemetar. "Pria yang sudah merebut kehormatan Kakak! Kakak mau tidur seranjang dengan orang yang Kakak benci setiap malam?!"

Dinda memejamkan mata, setetes air mata jatuh membasahi bantalnya. "Harga diri Kakak sudah hilang sejak malam itu, Dik. Sudah tidak ada lagi yang bisa diselamatkan dari masa muda Kakak. Tapi masa depanmu... itu masih bisa diperjuangkan. Dan ini adalah cara tercepat untuk mengakhiri penderitaan kita."

Dinda kembali menatap Alan. "Bagaimana, Tuan Alan? Apakah syarat itu terlalu berat?"

Alan melangkah mendekat, berdiri tepat di sisi ranjang Dinda. Ia membungkuk, menatap Dinda dengan tatapan posesif yang sangat kuat. "Rumah, perusahaan, dan pendidikan Dika. Semua itu adalah harga yang sangat murah untuk mendapatkanmu secara sah, Dinda. Aku setuju. Besok, pengacaraku akan datang membawakan dokumen pernikahan dan surat balik nama aset-asetmu."

Alan melirik Dika yang masih menatapnya dengan dendam. "Dan untukmu, anak muda... belajarlah dengan baik. Jangan sia-siakan pengorbanan kakakmu. Karena mulai besok, kau adalah pewaris Maheswari yang sesungguhnya."

"Aku tetap membencimu," desis Dika. "Meski kamu berikan seluruh isi dunia ini, aku akan tetap membencimu sampai aku mati."

Alan hanya tersenyum hambar. "Kebencianmu tidak akan mengubah fakta bahwa aku akan menjadi kakak iparmu."

Dinda memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap langit sore yang mulai menggelap. Ia merasa seolah-olah ia baru saja menandatangani kontrak dengan iblis. Ia akan kembali ke rumah lamanya, ia akan memiliki perusahaannya kembali, namun ia tahu, ia tidak akan pernah benar-benar pulang. Dirinya yang dulu telah mati bersama Dita, dan yang tersisa hanyalah raga yang akan menjadi milik Allandra Ryuga selamanya.

"Sekarang pergilah, Tuan," ucap Dinda tanpa menoleh. "Biarkan saya menghabiskan waktu terakhir saya sebagai 'Dinda yang bebas' bersama adik saya."

Alan terdiam sejenak, lalu berbalik dan melangkah keluar. Begitu pintu tertutup, Dika langsung memeluk kakaknya, raungannya pecah memenuhi ruangan itu. Dinda hanya diam, mengusap punggung adiknya dengan gerakan mekanis, matanya kosong menatap masa depan yang nampak mewah namun gelap gulita.

***

<<>>

Beberapa hari sebelum konfrontasi di rumah sakit, jet pribadi keluarga Ryuga membelah awan menuju Singapura. Allandra duduk di kursi kulitnya yang mewah, namun matanya tidak tertuju pada pemandangan di bawah sana. Di pangkuannya, sebuah map hitam berisi dokumen-dokumen usang yang telah ia gali dari brankas rahasia mendiang ayahnya, William Ryuga, menjadi saksi bisu sebuah pengkhianatan besar.

Di sebuah penthouse megah di kawasan Orchard, Richard Ryuga—paman Alan yang dikenal dingin dan tak tersentuh—menyambut keponakannya dengan seringai tipis.

"Alan, jarang sekali kau terbang ke sini tanpa agenda rapat tahunan. Apa yang begitu mendesak sampai kau mengusik masa pensiunku?" Richard menyesap wine mahalnya, sementara matanya yang tajam menatap Alan dengan selidik.

Alan tidak membuang waktu. Ia melemparkan map hitam itu ke meja kaca di depan pamannya. "Aku ingin Maheswara Group kembali ke tangan Ryuga pusat. Seluruh asetnya, propertinya, dan lisensi pembangunannya."

Richard tertawa hambar, suara tawanya kering dan menusuk. "Perusahaan bangkrut itu? Itu sudah lama mati, Alan. Aku sudah membersihkannya sepuluh tahun lalu. Kenapa kau mendadak tertarik pada barang rongsokan dari masa lalu?"

"Jangan sebut itu rongsokan, Paman," desis Alan, suaranya rendah dan mengancam. "Aku tahu persis bagaimana Paman, Papa, dan Mama bekerja sama menjatuhkan Mahesa. Kalian bukan hanya bersaing secara bisnis, kalian iri pada kejayaan Maheswara. Kalian takut Mahesa melampaui Ryuga."

Wajah Richard sedikit menegang, namun ia tetap mencoba tenang. "Bisnis adalah perang, Alan. Mahesa terlalu lemah untuk dunia ini."

"Lemah?" Alan bangkit berdiri, menumpu kedua tangannya di meja, menatap Richard dengan mata yang berkilat penuh amarah. "Menyabotase rem mobil dan membakar hidup-hidup rekan bisnis sendiri di jalanan sepi bukan disebut perang bisnis, Paman. Itu disebut pembunuhan berencana."

Seketika, gelas di tangan Richard bergetar. "Apa maksudmu? Kecelakaan Mahesa dan Iswara itu murni malfungsi teknis. Polisi sudah menutup kasusnya!"

"Polisi menutupnya karena William Ryuga membayar mereka. Tapi catatan montir yang Paman sewa sepuluh tahun lalu tidak bisa dibayar selamanya," Alan menyodorkan sebuah foto lama dan salinan pernyataan saksi kunci yang telah ia amankan. "Aku punya senjata yang cukup untuk membawa Paman ke pengadilan internasional. Dan aku yakin, Mama tidak akan senang jika keterlibatannya dalam pembersihan aset pasca-kecelakaan itu ikut tercium publik."

Richard terdiam. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. Ia selalu menganggap Alan sebagai pemuda yang hanya peduli pada ekspansi bisnis, tidak menyangka keponakannya akan menggali kuburan masa lalu sedalam ini. Namun, ada satu hal yang membuat Richard tenang: ia yakin tidak ada ahli waris yang tersisa.

"Kenapa kau begitu bernafsu, Alan? Mahesa dan istrinya sudah jadi abu. Ketiga anak mereka juga ikut terpanggang di dalam mobil itu, bukan? Tidak ada yang tersisa dari darah Maheswara," ucap Richard dengan nada meremehkan.

Alan mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tidak mengatakan bahwa Dinda dan Dika masih hidup, apalagi tentang Dita yang baru saja pergi. Ia membiarkan pamannya tetap dalam kegelapan.

"Alasannya sederhana," dusta Alan dengan wajah datar yang sempurna. "Aku butuh landasan properti Maheswara untuk proyek super-block terbaruku. Aku ingin menambah relasi bisnis dan memperluas portofolio Ryuga di sektor residensial. Berikan perusahaan itu padaku, dan bukti-bukti ini akan tetap tersimpan di brankasku. Paman bisa tetap menikmati masa pensiunmu di Singapura dengan tenang."

Richard menatap Alan lama, mencoba mencari celah kebohongan. Namun, ambisi Alan nampak begitu nyata di matanya. Setelah keheningan yang panjang, Richard mendesah kalah.

"Baik. Ambil perusahaan terkutuk itu. Aku akan menyuruh pengacaraku menyiapkan surat pengalihan aset besok pagi. Tapi ingat, Alan... sekali kau mengusik masa lalu ini lebih jauh, kau juga akan menghancurkan nama ibumu sendiri."

"Aku tahu apa yang kulakukan," sahut Alan dingin.

<<>>

Alan melangkah keluar dari kamar rumah sakit Dinda. Di lorong yang sepi, ia menyentuh map yang kini berisi draf balik nama rumah dan perusahaan Maheswara. Segala dosa keluarganya di masa lalu kini ia gunakan sebagai alat untuk memiliki wanita yang ia cintai.

Ia merasa menang, namun hatinya terasa kotor. Ia memberikan rumah dan perusahaan itu bukan hanya sebagai mahar, tapi sebagai bentuk penebusan atas darah Mahesa yang menempel di nama keluarganya.

Alan mengeluarkan ponselnya, menghubungi asisten kepercayaannya. "Leo, siapkan rumah lama keluarga Maheswara. Pastikan tidak ada satu pun debu yang tersisa. Besok pagi, Adinda dan adiknya akan pulang ke sana. Dan siapkan jas pernikahan yang paling sederhana namun elegan. Aku ingin pernikahan ini dilakukan secepat mungkin."

**

Di dalam kamar, Dinda masih memeluk Dika. Keduanya menangis dalam kesunyian, tidak menyadari bahwa pria yang akan menjadi bagian dari keluarga mereka adalah putra dari orang yang bertanggung jawab atas kematian orang tua mereka.

Dinda menatap langit-langit, berbisik dalam hati, "Ayah, Ibu... Maheswara akan kembali berkibar. Meski aku harus menyerahkan nyawaku pada singa yang telah merobek keluarga kita."

***

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!