NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Tidur~

Tengah malam.

Rumah itu sunyi. Hujan tidak turun, tapi angin malam membawa dingin yang menusuk hingga ke sela-sela tulang. Lampu-lampu sudah mati sejak jam sebelas. Hanya cahaya bulan yang tembus jendela, jatuh ke lantai ruang tamu berbentuk persegi panjang abu-abu.

Angga tidur di sofa.

Tubuhnya yang besar terlihat terlalu panjang untuk sofa itu. Kaki menjuntai di ujung, satu tangan di bawah kepala sebagai bantal, tangan lainnya di dada. Jaket kulit sudah ia lepas dan ia gunakan sebagai selimut tipis. Tidak cukup untuk melawan dingin malam Lombok.

Napasnya teratur. Dalam. Tidur nyenyak setelah seharian menguras energi: kuliah, melukis, menjemput Adea, memasak, dan menghadapi Seoul Lee yang tiba-tiba muncul.

Tapi di tengah malam yang hening itu, terdengar suara langkah kaki.

Pelan.

Hampir tidak bersuara.

Seperti kucing yang berjalan di atas karpet.

Seseorang melangkah keluar dari lorong sempit. Tubuhnya kecil, dibalut piyama motif bintang-bintang yang sedikit kebesaran. Rambut panjang terurai ke bahu, wajahnya masih setengah tertidur, tapi matanya terbuka lebar, menatap sosok pria yang tidur di sofa.

Adea Kara.

Ia membawa selimut tebal. Selimut abu-abu yang biasa ia gunakan untuk menonton film horor. Selimut yang masih menyimpan kehangatan dari kamarnya.

Dengan gerakan perlahan, ia mendekati Angga. Lalu ia membentangkan selimut tebal itu dan menyelimuti tubuh pria yang hanya dilapisi jaket kulit tipis.

Dari bahu. Hingga ke dada. Hingga ke kaki yang menjuntai.

Selesai.

Adea mundur selangkah. Ia terduduk di lantai, bersandar pada sofa, tepat di samping kepala Angga. Matanya menatap wajah pria itu.

Lamat-lamat.

Ada sesuatu di tatapannya. Bukan tatapan biasa. Tatapan yang sayu dan misterius seperti ada lautan di balik bola matanya yang gelap. Seperti ada kata-kata yang tidak bisa ia ucapkan di siang hari, tapi di tengah malam ini ia biarkan mengalir lewat pandangan.

"Dea?"

Angga terbangun.

Matanya terbuka, menangkap bayangan gadis di sampingnya. Ia terduduk cepat, selimut tebal itu jatuh ke pangkuannya.

"Kok bangun sih?" Adea tersenyum kecil. Suaranya lembut, hampir berbisik. "Tidur lagi ih~"

Angga menatapnya. Gadis itu duduk di lantai, kaki dilipat ke samping, kedua tangan bertumpu pada sofa. Wajahnya diterangi cahaya bulan. Pucat. Tapi matanya berbinar aneh.

"Dea, kenapa di sini?"

Angga mengulurkan tangan. Jari-jarinya yang kasar menyentuh dagu Adea, mengangkatnya perlahan. Gadis itu terpaksa mendongak semakin tinggi, leher jenjangnya terekspos di bawah cahaya remang.

Adea tidak menghindar.

Ia justru mengangkat tangannya. Perlahan. Jari-jarinya yang mungil menggenggam tangan besar Angga yang menahan dagunya. Tidak melepaskan. Hanya menggenggam.

"Temenin aku tidur," ucapnya pelan.

Angga mengernyit.

Ada apa dengan gadis ini?

Ia tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia menelusupkan tangannya ke ketiak Adea, dan mengangkat gadis itu berdiri. Tubuh Adea ringan, tidak melawan.

"Kamu mimpi buruk lagi, hmm?" tanya Angga, suaranya lembut.

Adea diam.

Ia menunduk dalam. Rambutnya jatuh menutupi wajahnya. Tidak menjawab. Tidak mengangguk. Tidak menggeleng.

Angga menghela napas. Tangannya yang lain terangkat, jemarinya menyisir rambut Adea ke belakang, mengelusnya lembut. Berulang-ulang. Gerakan yang sudah ia lakukan ribuan kali sejak mereka kecil.

Tiba-tiba-

Adea berhambur.

Ia memeluk Angga erat. Kedua tangannya melilit di leher pria itu, jari-jarinya bertaut di belakang tengkuk. Wajahnya mendusel ke leher Angga. Ke lekuk antara bahu dan rahang, menghirup aroma khas pria itu. Sabun. Keringat malam. Kehangatan.

Angga mendesah kecil.

Bukan karena sakit. Tapi karena sesuatu yang hangat menyebar dari dadanya ke seluruh tubuh. Tatapannya menjadi sayu. Matanya setengah terpejam, tidak tahu harus melepaskan atau membalas.

Adea menarik sedikit wajahnya. Menatap Angga dari jarak yang sangat dekat.

"Angga jangan pernah ninggalin Adea ya?"

Napasnya berembus ke bibir Angga.

"Kalo Angga gak ada, Cumi bisa jadi yatim nanti."

Angga hampir tertawa—tapi tidak jadi. Karena ada sesuatu di mata Adea yang membuatnya sadar: ini bukan candaan. Gadis ini serius.

"Cumi? Bukan elu yang jadi yatim?"

"Cumi dulu. Abis itu aku."

"Gak logis."

"Biarin."

Adea memeluknya lagi. Lebih erat. Seperti ia takut Angga akan lenyap jika ia melepaskan.

Angga berdiri diam beberapa saat. Merasakan tubuh kecil yang gemetar bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Lalu ia menarik tubuh Adea.

Gadis itu sekarang duduk di pangkuan Angga. Pria itu duduk di sofa, dan Adea ia dekap dalam pelukan yang penuh. Satu tangan di punggung, tangan lainnya di belakang kepala gadis itu. Mendekapnya seperti barang paling berharga yang tidak boleh pecah.

"Udah ya, sekarang Adea balik ke kamarnya," bisik Angga di telinga Adea. "Besok kan ada kuliah. Dea harus-"

"Nggak."

"Ekhem! Adea.."

"Temenin Adea bobo~"

Nada manja itu kembali. Tapi kali ini ada nada lain di dalamnya. Nada yang tidak bisa ditolak.

Angga diam sejenak.

Lalu ia beranjak dari sofa. Masih menggendong Adea. Gadis itu melilit di tubuhnya seperti koala yang tidak mau turun, dan berjalan menuju lorong sempit.

Pintu kamar Adea terbuka. Masih sedikit terbuka dari tadi malam, karena Angga tidak pernah menutup rapat pintu gadis itu.

Ia meletakkan Adea di kasur.

Perlahan. Lembut.

Adea merebahkan diri di atas sprei krem, tapi matanya tidak lepas dari Angga. Menunggu. Mengharap.

Angga meraih boneka beruang besar, hadiah dari pasar malam minggu kemarin. Boneka seukuran tubuh Adea. Ia meletakkannya di samping gadis itu, sebagai pengganti.

Tapi Adea tidak menyentuh boneka itu.

Ia hanya menatap Angga.

Angga menghela napas. Ia menoleh ke pintu kamarnya di mana Seoul Lee tidur di kasurnya. Lalu menoleh ke sofa kosong di ruang tamu.

Ah, sudahlah.

Ia masuk ke selimut.

Selimut tebal yang sama yang tadi ia gunakan untuk menutupi Adea di ruang tamu. Sekarang mereka berdua di bawah selimut yang sama. Di kasur yang sama.

Adea langsung bergerak.

Tubuhnya yang kecil merapat ke dada Angga. Tangannya melingkar di perut pria itu. Dan yang lebih dari itu, kaki mungilnya melilit kaki besar Angga, seperti ia tidak ingin ada jarak sama sekali.

"Adea," tegur Angga pelan.

"Hmm?"

"Kaki."

"Dingin."

"Pake kaos kaki."

"Gak punya."

"Bohong. Lu punya tiga pasang."

"Hilang."

"Adea Kara."

"Udah, tidur. Malem."

Adea memejamkan matanya. Wajahnya mengubur di dada Angga, tepat di atas jantung pria itu. Dum. Dum. Dum. Detak jantung Angga cepat. Tidak seperti orang yang hendak tidur.

Adea tersenyum kecil.

Angga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengelus rambut Adea perlahan, sayang, dari atas kepala hingga ke ujung rambut yang tergerai di punggung.

"Sekarang tidur ya," bisiknya.

"Iya," jawab Adea.

Tapi matanya masih terbuka. Menatap gelap di balik kelopak Angga yang mulai terpejam.

"Angga."

"Hmm."

"Aku sayang-"

"Tidur."

Adea terdiam.

Ia menggigit bibir bawahnya. Menahan sesuatu yang hampir keluar.

Sayang kamu.

Tapi ia tidak jadi mengucapkannya.

Ia hanya memeluk Angga lebih erat. Dan perlahan, karena kehangatan tubuh pria itu dan irama napasnya yang teratur, Adea akhirnya tertidur.

---

Angga tidak tidur.

Ia menatap langit-langit kamar Adea dalam gelap. Lampu tidur masih menyala remang. Cukup untuk ia melihat wajah gadis di pelukannya.

Adea tidur dengan tenang sekarang. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada tangis. Hanya wajah polos yang sesekali mengerucut dalam tidurnya, seperti sedang bermimpi tentang sesuatu yang lucu.

"Adea," bisik Angga pelan.

Tidak ada jawaban.

"Gue juga sayang lu."

Ia mengecup puncak kepala Adea. Lembut. Lama.

Lalu ia memejamkan mata.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!