NovelToon NovelToon
Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Status: tamat
Genre:Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:93
Nilai: 5
Nama Author: Vi nhnựg nười Nĩóđs

Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.

Ia bernapas.

Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.

Di dunia manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Warisan yang Terlupakan

Langit di atas benua Elarion tidak pernah berwarna biru murni seperti pada dunia biasa. Saat fajar mulai merayap perlahan membelah kegelapan malam, cakrawala itu justru memancarkan gradasi magis antara ungu tua yang pekat dan biru safir yang dingin. Pemandangan itu indah, namun ada sesuatu yang menyakitkan di dalamnya—seperti sebuah luka besar yang telah berusaha sembuh selama ribuan tahun, namun bekasnya tak pernah benar-benar hilang, dan lukanya tak pernah benar-benar tertutup rapat. Cahaya matahari—atau apa pun yang menjadi sumber penerangan di alam semesta ini—menembus lapisan atmosfer dengan susah payah, seolah berjuang menembus selimut tebal yang menahan kehangatan agar tidak sampai ke permukaan.

Di ketinggian yang tak terjangkau oleh kaki manusia, jauh di atas hamparan awan putih yang bergulung seperti kerajaan kapas yang tak kasat mata, berdiri sebuah struktur yang megah dan abadi. Itu adalah Istana Celestia. Bukan sekadar bangunan dari batu dan emas, melainkan perwujudan dari hukum alam itu sendiri. Pilar-pilarnya terbuat dari kristal hidup yang memancarkan cahaya batin, dindingnya tembus pandang namun kokoh, membiarkan penghuninya melihat hamparan realitas yang terbentang luas di bawah kaki mereka. Di sinilah tempat para makhluk bersayap, para penjaga keseimbangan, memerintah dan mengawasi jalannya waktu, ruang, dan kehidupan.

Namun, pada hari itu, udara terasa berbeda. Ada ketegangan yang menggantung, samar namun menusuk, seperti keheningan panjang sebelum badai yang sebenarnya pecah. Suasana damai yang selama ini terjaga terasa rapuh, seolah sebuah piringan tipis yang diletakkan di ujung jarum.

Di balkon terluar istana, yang lantainya terbuat dari kaca kristal bening, berdiri seorang sosok yang menjulang tegak. Ia adalah Altharion, sang Penjaga Hukum Bintang. Pakaiannya berwarna perak dan putih, mengalir lembut tertiup angin kosmik yang berhembus kencang namun tidak pernah mampu menggerakkan tubuhnya. Rambutnya berwarna putih keperakan, jatuh membelah bahu, berkilau seolah tersusun dari butiran-butiran cahaya bintang yang terkumpul menjadi wujud fisik.

Matanya yang tajam namun penuh kebijaksanaan menatap lurus ke depan, menembus batas pandang biasa. Ia tidak melihat keindahan dunia di bawah sana. Pandangannya tertuju pada satu titik tertentu di langit yang jauh—sebuah garis tipis, hampir tak terlihat oleh mata biasa, namun bagi Altharion, garis itu bersinar terang seperti luka bernanah.

Itu adalah retakan.

Bukan retakan pada langit secara harfiah, melainkan retakan pada struktur realitas itu sendiri. Sebuah celah mikroskopis yang memisahkan dunia yang teratur dengan kekacauan purba yang ada di luarnya.

“Aku merasakannya lagi…” gumam Altharion pelan. Suaranya rendah, namun bergema dengan getaran energi yang kuat, seolah berbicara langsung dengan angin dan ruang.

Dadanya terasa sesak. Bukan karena rasa sakit fisik, melainkan sebuah getaran aneh yang berasal dari dalam inti keberadaannya. Sebuah dentuman samar, irama yang tidak sinkron, yang mengganggu harmoni yang seharusnya selalu ada. Bagi makhluk sepertinya, langit bukan hanya tempat di mana bintang-bintang bertengger atau tempat awan berarak. Langit adalah sebuah sistem. Ia adalah struktur yang kompleks, sebuah jaringan energi yang hidup yang menopang seluruh eksistensi. Ia adalah hukum yang menjaga agar api tetap membakar, air tetap mengalir, dan waktu terus berjalan maju.

Dan sekarang, sistem itu mulai goyah.

Altharion mengangkat tangannya yang panjang dan anggun, membiarkan angin kosmik menyapu kulitnya. Ia bisa merasakan getaran itu semakin kuat. Energi yang seharusnya mengalir lancar seperti sungai besar kini terasa berputar-putar, menciptakan pusaran yang tidak wajar. Ada sesuatu yang bocor. Sesuatu yang seharusnya tetap terkunci di luar batas-batas realitas kini mulai menemukan celah untuk masuk.

Ia teringat pada dongeng-dongeng kuno, pada catatan sejarah yang tersimpan di perpustakaan terdalam Celestia—tentang masa ketika keseimbangan belum tercipta, tentang era di mana Kehampaan masih menjadi penguasa segalanya. Para generasi muda mungkin menganggap itu hanya mitos, cara untuk menjelaskan ketakutan akan hal yang tidak diketahui. Namun Altharion tahu, bahwa apa yang disebut legenda sering kali adalah kebenaran yang terlupakan, terdistorsi oleh waktu.

“Apakah ini awal dari akhir?” bisiknya pada kehampaan.

Tidak ada jawaban. Hanya angin yang menjawab dengan desiran yang semakin dingin. Di kejauhan, sekelompok burung surgawi—makhluk kecil yang menjadi indikator kesehatan alam—terlihat terbang panik, berputar-putar tanpa arah seolah kehilangan kompas mereka. Itu adalah pertanda buruk. Jika bahkan makhluk sesederhana itu bisa merasakan ketidakseimbangan, maka masalahnya sudah sangat serius.

Altharion menundukkan kepalanya, memejamkan mata. Ia mencoba menghubungkan kesadarannya dengan inti istana, dengan denyut nadi alam semesta ini. Gambar-gambar bermunculan di benaknya—bintang-bintang yang berkedip tidak beraturan, aliran energi yang tersendat, dan di balik semua itu… sebuah kegelapan yang menunggu. Kegelapan yang bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan sebuah entitas yang memiliki kesadaran, yang memiliki nafsu.

Retakan itu kecil sekarang. Hanya garis tipis. Tapi ia tahu, seperti retakan pada kaca yang paling kecil sekalipun, jika dibiarkan tanpa perbaikan, ia akan merambat, membesar, dan pada akhirnya menghancurkan seluruh benda itu menjadi kepingan-kepingan yang tak dapat disatukan kembali.

Hari ini, ketenangan telah berakhir.

Perlahan, Altharion membuka matanya kembali. Kekhawatiran yang tadi terlihat jelas di wajahnya perlahan berganti menjadi ketegasan baja. Ia adalah penjaga. Dan tugas penjaga adalah melindungi, apa pun risikonya.

Ia berbalik badan, memunggungi langit yang mulai menampakkan wajah aslinya yang menakutkan. Sayap besarnya yang berwarna putih bersih terbentang sebentar, memantulkan cahaya fajar sebelum akhirnya ia lipat kembali ke punggungnya.

Waktunya telah tiba untuk memanggil Dewan. Para Penguasa Langit harus tahu. Keseimbangan yang telah dijaga selama eon kini berada di ujung tanduk, dan warisan yang mereka pegang erat-erat mungkin akan segera menjadi kenangan belaka.

Di dalam istana yang megah itu, bayangan panjang mulai terbentuk, dan di sanalah pertarungan terbesar dalam sejarah keberadaan akan segera dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!