LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Jejak Digital & Warisan Tersembuyi
Matahari pagi itu tidak terbit dengan hangat seperti biasa. Langit Jakarta tampak kelabu, seolah menahan napas sebelum meledakkan badai. Di garasi rumah keluarga Sky yang luas, udara terasa dingin menusuk tulang, bercampur dengan bau bensin menyengat yang bukan berasal dari mobil-mobil mewah yang terparkir rapi di sana.
Allbiru Sky Kalangga baru saja melangkah masuk ke dalam mobil SUV hitamnya, menyiapkan diri untuk berangkat ke Rumah Sakit Sky Memorial. Tas kerjanya tergantung di bahu, jas putih tersampir rapi di lengan. Ia baru saja memegang gagang pintu ketika sebuah bayangan gelap muncul dari balik pilar beton.
“Pagi, Dokter Pahlawan,” suara itu serak, penuh ejekan yang membuat bulu kuduk Allbiru berdiri.
Allbiru menoleh cepat. Di sana, berdiri Rio Pratama dengan jaket hitam lusuh dan kacamata gelap yang menyembunyikan tatapan matanya yang licik. Di tangannya, sebuah pistol hitam mengkilap mengarah lurus ke dada Allbiru. Dua orang bertubuh kekar muncul dari belakang, siap menerjang.
“Rio?” desis Allbiru, instingnya langsung waspada. Ia mundur selangkah, tangan kanannya secara refleks mencari sesuatu untuk pertahanan, tapi kosong. “Apa maumu? Kalau soal uang, Ayah bisa memberimu. Jika soal tanah warisan yang dulu jadi sengketa, kita bisa bicara baik-baik.”
Rio tertawa pendek, suara yang kering dan tanpa jiwa. “Uang? Tanah? Ah, Allbiru, kamu masih terlalu polos. Aku tidak butuh harta benda yang bisa habis. Aku butuh sesuatu yang jauh lebih berharga... yaitu rasa sakit.”
Rio melangkah maju, moncong pistol kini menempel tepat di dahi Allbiru. “Aku ingin melihat mata Malia hancur lebur lagi. Sama seperti dua puluh dua tahun lalu saat suaminya, Arisendra, tewas di depannya.”
(Catatan Revisi: “lima belas tahun” → “dua puluh dua tahun” agar sinkron dengan usia Sabiru 22 tahun)
Allbiru menatap Rio tajam, otaknya bekerja cepat. “Kau bohong. Arisendra tidak mati di depan Malia. Dia menghilang. Dan kau tahu itu.”
Rio menyipitkan mata. “Oh? Jadi kau tahu rahasianya? Bagus. Artinya kau lebih pintar daripada yang kuduga. Tapi sayangnya… kepintaranmu tidak akan menyelamatkanmu malam ini.”
Rio memberi isyarat. Kedua anak buahnya segera maju, menarik Allbiru keluar dari mobil dan memborgol tangannya di belakang punggung.
“Kau akan jadi umpan yang sempurna,” bisik Rio dekat telinga Allbiru. “Sabiru pasti datang menyelamatkanmu. Dan ketika dia datang… aku akan mengambil darahnya. Darah yang mengandung kunci Project Rambutan. Darah yang seharusnya menjadi milikku sejak 22 tahun lalu.”
Allbiru diam. Tapi di dalam hatinya, dia tersenyum tipis. Kau salah, Rio. Sabiru tidak akan datang menyelamatkaniku. Dia akan datang untuk menghancurkanmu. Dan dia tidak sendirian.
Di kejauhan, di kamar tidur atas, Sabiru Naverlla Azzura terbangun dari tidurnya. Matanya terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang. Dia merasa sesuatu… aneh. Seperti ada getaran halus di ujung jarinya, seperti ada suara bisikan di telinganya yang bukan berasal dari dunia nyata.
Dia bangkit, berjalan ke meja belajarnya, dan menyalakan laptop. Layar menyala, menampilkan desktop kosong. Tapi tiba-tiba, sebuah jendela terminal muncul sendiri.
SYSTEM ALERT: UNAUTHORIZED ACCESS DETECTED.
SOURCE: EXTERNAL_IP_UNKNOWN
TARGET: ALLBIRU_SKY_KALANGGA_DEVICE
Sabiru mengerutkan kening. “Siapa yang mengakses perangkat Allbiru?”
Tanpa sadar, jari-jarinya bergerak di keyboard. Bukan karena ia mengetik, tapi karena… otaknya memerintahkannya. Seolah-olah ada program tersembunyi di dalam dirinya yang kini aktif.
TRACE_ROUTE_INITIATED...
LOCATION_FOUND: GARASI_RUMAH_SKY
THREAT_LEVEL: CRITICAL
Sabiru menahan napas. Matanya membelalak. “Allbiru… dalam bahaya?”
Dia tidak panik. Sebaliknya, kesadarannya terasa meluas. Dia bisa “merasakan” aliran data di sekitarnya—seperti arus listrik yang mengalir di dinding, seperti sinyal Wi-Fi yang berdenyut di udara.
Ini… ini warisan Ayah? batinnya. Apakah ini yang dimaksud Ibu ketika dia bilang, ‘Kau punya sesuatu yang spesial, Sabiru’?
Dengan gerakan cepat, Sabiru membuka aplikasi pemantauan CCTV rumah. Kamera di garasi masih aktif. Dia melihat Allbiru diseret ke dalam van hitam, dan Rio yang duduk di kursi pengemudi, tersenyum puas.
Sabiru mengepal tinja. Air matanya jatuh, tapi tekadnya mengeras.
“Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Biru,” bisiknya. “Dan aku tidak akan membiarkan mereka mengambil darahku. Karena darah ini… bukan milik mereka. Ini milik Ayah. Dan aku akan gunakan ini untuk menghancurkan mereka.”
Di layar laptopnya, sebuah folder tersembunyi muncul sendiri. Namanya: “ROOT_ACCESS_NAVERLLA”.
Sabiru mengkliknya. Isinya: blueprint bangunan tua, sistem keamanan, dan… sebuah file bernama “NEURAL_LINK_PROTOCOL_V1.0”.
Dia tidak tahu apa artinya. Tapi tubuhnya tahu. Jari-jarinya kembali menari di keyboard, mengetikkan perintah yang bahkan tidak ia pahami maknanya.
INITIATING_REMOTE_BYPASS...
ACCESS_GRANTED.
Di dalam van, ponsel Rio bergetar. Layarnya menampilkan peringatan:
SECURITY BREACH DETECTED.
SOURCE: INTERNAL_NETWORK - USER: S.N.AZZURA
Rio mengerutkan kening. “Sabiru…? Dia sudah mulai?”
Dia tersenyum, kali ini dengan rasa hormat yang dicampur ketakutan. “Bagus. Semakin cepat dia bangun, semakin cepat aku mendapatkannya.”
Van hitam itu melaju pergi, meninggalkan garasi yang sunyi. Tapi di dalamnya, api perlawanan telah dinyalakan. Bukan oleh senjata, tapi oleh kode. Oleh warisan tersembunyi yang kini bangkit dari tidur panjangnya.
Dan Sabiru Naverlla Azzura, gadis berusia 22 tahun, baru saja menyadari satu hal:
Dia bukan korban. Dia adalah kunci.