Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.
Tapi takdir berkata lain.
Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.
Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.
Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Kau Dipecat!!
Flashback
Beberapa Hari Yang Lalu
Atlas menghentikan pekerjaannya, lalu bergegas masuk ke kantor bosnya. Sebuah pulpen melesat ke arah kepalanya, dan Atlas berhasil menghindarinya dengan selisih tipis.
"Atlas, gajimu dihentikan. Kau tidak akan mendapat sepeser pun selama enam bulan ke depan.”
Atlas membeku di tempat. "Tuan, aku tidak melakukan kesalahan apa pun."
"Jelaskan video-video ini!"
Mata Atlas membelalak ketika dia melihat puluhan video dewasa terpampang di layar komputer bosnya.
"Aku menyuruhmu untuk mengirim dokumen, dan kau malah mengirim INI?! Aku hampir saja mengirimnya ke pimpinan perusahaan. Dasar orong bodoh. Pantas saja kau hanya bisa jadi kuli seumur hidupmu!"
"Tuan, ini jelas sebuah kesalahan. Aku sama sekali tidak memasukkan video-video itu ke dalam filemu. Aku—."
"Diam, Atlas. Kau seharusnya bersyukur masih punya pekerjaan."
Atlas hanya bisa menundukkan kepala dan keluar dari ruangan bosnya dengan perasaan sesak. Tubuhnya terasa lemas, jantungnya berdebar kencang. Dia benar-benar dijatuhkan karena sesuatu yang tidak pernah dia lakukan.
Dia tidak tahu bagaimana harus memberitahu pacarnya tentang kabar ini.
"Kenapa sekarang?" gumam Atlas. "Aku sudah hampir melamar Bianca..."
Bianca adalah pacarnya. Mereka sudah bersama selama 2 tahun. Atlas berusaha sekuat tenaga memenuhi semua keinginan Bianca demi memberinya kehidupan yang lebih baik. Dia bermimpi menikahinya—orang yang dia cintai sepenuh hati.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Pekerjaan yang menopang hidupnya runtuh ke dalam jurang, hanya menyisakan sedikit harapan.
"Aku pulang, sayang."
Kata Atlas saat dia melangkah masuk ke rumah. Tangannya sudah berada di gagang pintu dan bersiap membukanya ketika telinganya menangkap suara erangan milik Bianca.
"Ahh, sayang, itu enak sekali. Kau sangat hebat. Aku tidak bisa mengendalikan diri saat bersamamu!"
"Ya... Sayangku... Kau memang yang terbaik. Dua itu juga yang terbaik."
Terdengar suara tamparan keras di tempat yang tidak ingin diketahui Atlas. Disusul tawa kecil.
Bianca tidak sendirian, ada pria lain bersamanya.
Atlas menelan ludah. Otaknya benar-benar kosong.
"Kapan kita bisa bersama, sayang?" Itu suara lembut Bianca, yang kini hanya membuat Atlas muak.
"Segera. Rencana kita berhasil. Idemu untuk menjebak Atlas dengan video dewasa itu luar biasa, Bianca." Jawab pria itu.
"Apakah dia akan dipecat?"
"Sepertinya begitu," kata pria itu. "Kecuali ayahku benar-benar menyukainya. Hahaha. Aku sudah tidak tahan lagi melihat wajah bodohnya."
Atlas mengenali suara itu, itu adalah anak bosnya, Stevan!
"Aku juga sudah tidak tahan lagi hidup bersama Atlas," Atlas mendengar pacarnya berkata. "Aku berharap kau selalu ada di sisiku."
Amarah Atlas memuncak, tanpa membuang waktu, dia membuka pintu kamar Bianca. Yang menarik perhatiannya adalah pacarnya yang setengah berpakaian dan seorang pria yang juga hanya mengenakan...
"Atlass! Sejak kapan kau—AKKKKHHHH!"
Tanpa sepatah kata pun, Atlas melayangkan pukulan ke wajah pria itu.
"Hentikan, Atlas!"
Tangan Atlas terhenti ketika Bianca memaksa masuk ke tengah pertarungan. Dia memeluk Stevan erat-erat, membiarkan tubuhnya terbuka tanpa sehelai benang pun.
"Kenapa kau mengkhianatiku?! Kenapa kau menjebakku?! Aku tidak mengerti... apa salahku padamu?!"
"Karena aku sudah muak hidup denganmu, Atlas! Kita sudah 2 tahun bersama, kau tidak pernah membelikanku barang-barang mahal! Kau sampah miskin yang tidak berguna... Lihat wajahku, lihat tubuhku! Banyak pria meminta nomorku setiap kali aku di jalan. Kenapa aku harus bersama pria miskin sepertimu?!"
"Aku selalu menjagamu. Aku memberimu apa pun yang kau inginkan. Aku memberikan semua gajiku padamu!" Atlas menatap Bianca dengan tatapan kosong.
Stevan, masih kesakitan akibat pukulan di wajahnya, berdiri dan berkata. "Terima kasih, Atlas. Kau sudah tamat!"
Stevan membalas memukul Atlas. Atlas mencoba melawan, tetapi pikirannya terpecah antara amarah dan kekecewaan sehingga dia tidak bisa fokus. Lengah, sebuah pukulan ke perut membuat Atlas jatuh ke lantai.
"Berani-beraninya kau memukulku, kau pikir kau siapa, Atlas?!"
Stevan menarik tubuh Atlas ke belakang; ia mendorongnya ke arah dinding.
Namun Atlas melawan. Atlas membalas dengan pukulan ke wajah Stevan. Tepat saat ia hendak menambahkan satu pukulan lagi—
"ΑΚΗ!"
Atlas jatuh ke lantai dengan kepala berlumuran darah.
"Apakah dia pingsan?!" Bianca memegang sebuah vas di tangannya, melihat Atlas jatuh ke lantai.
Jika Atlas masih sadar, dia akan tahu bahwa vas itu adalah hadiah ulang tahun untuk pacarnya, dan kini digunakan untuk menghantam kepalanya.
Stevan tersenyum miring dan memeluk Bianca. "Bagus sekali, sayang. Dia pantas mendapatkannya.”
Stevan mengusap sepatunya pada tubuh Atlas yang pingsan sebelum mereka meninggalkan ruangan. Namun, sebuah cahaya muncul tanpa mereka sadari.
Cahaya itu berasal dari sesuatu yang dikenakan oleh Atlas, kalungnya.
Beberapa Jam Kemudian
"Ugh!"
Atlas tersentak, matanya langsung terbuka. Dia melihat sekeliling, dan noda darah di dinding mengingatkannya pada perkelahiannya dengan Stevan. Anehnya, Atlas tidak merasakan sakit apa pun di tubuhnya. Bahkan, dia merasa jauh lebih segar sekarang.
Tangannya menyentuh kepalanya, yang masih menyisakan bekas darah. Namun lukanya sudah sembuh. "Sial. Bagaimana ini bisa terjadi? Kukira aku terluka parah."
Seolah tidak percaya dengan situasi yang dialaminya, Atlas bangkit dan mendekati cermin di sudut ruangan.
"Aku baik-baik saja. Tapi... di mana kalungku?"
Atlas menyentuh lehernya, dan kalung yang telah bersamanya hampir 20 tahun itu sudah tidak ada. Dia tidak tahu bahwa kalung warisan keluarganya itulah yang memberinya kekuatan untuk terlahir kembali.
"Oh tidak, aku kehilangan kalung dari nenek buyutku. Argh! Semua yang kumiliki hilang!"
Namun, noda darah di dinding dan tubuhnya yang terasa begitu berbeda perlahan membawa Atlas pada kenangan puluhan tahun lalu, tepatnya sesaat sebelum kakeknya meninggal.
"Atlas, pakailah kalung ini. Jaga baik-baik dan jangan sampai hilang. Ini akan membantumu, saat waktunya tiba, tidak akan ada yang bisa mengalahkanmu."
Mata Atlas melebar, dia kembali menyentuh lehernya dan bergumam. "Apa semua ini karena kalung yang diberikan kakek padaku?"
Deru ponsel kemudian terdengar dan mengganggu lamunan Atlas. Dia segera mengambil ponselnya dan melihat panggilan dari wakil direktur perusahaan tempatnya bekerja.
"Halo, Tuan."
"Atlas, bisakah kau datang ke kantor sekarang? Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan.”
"Ya, Tuan. Aku akan segera ke sana."
"Bagus, aku akan menunggumu di kantor."
Atlas mengernyitkan dahi dan bergumam, "Mungkin aku harus mengatakan apa yang kudengar dari Stevan tadi. Aku tidak bisa diam dan membiarkan mereka menjebakku."
Dia melempar ponselnya ke atas tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Foto dirinya dan Bianca yang terpajang di dinding dekat dapur apartemennya tampak memberikan suasana yang berbeda.
"Kau adalah wanita terburuk dalam hidupku, Bianca," gumamnya.
…
Tiga puluh menit berlalu, dan Atlas tiba di lantai lima kantornya untuk menemui wakil direktur. Langkahnya tampak percaya diri, mengabaikan tatapan sinis dan merendahkan dari para karyawan lain.
"Selamat siang, Tuan," Atlas masuk ke kantor wakil direktur sambil menundukkan kepala.
Namun, rasa percaya dirinya terganggu saat dia melihat Stevan, yang ternyata juga berada di dalam ruangan itu.
"Ah, Atlas. Hai, pencuri!" sapa Stevan dengan nada sarkastik.
"Atlas, silahkan duduk."
Atlas berusaha tetap tenang dan fokus pada wakil direktur yang mempersilakannya duduk di samping Stevan. Namun, pikirannya mulai curiga terhadap tujuan pemanggilan ini.
"Tuan Baron, sebaiknya kau langsung saja bicara pada Atlas. Tidak baik membiarkan pencuri seperti dia tetap berada di perusahaan ini terlalu lama. Kau pasti tidak ingin dia berhasil mengambil semua data karyawan, bukan?"
Atlas menoleh ke arah Stevan, amarahnya sudah tidak bisa ditahan lagi, dan dia berkata, "Apa maksudmu, Stevan?!"
"Atlas, kau dipecat."
Mata Atlas membelalak saat kata-kata itu keluar dari mulut wakil direktur. Tatapannya beralih dari Stevan. Dia melihat wakil direktur berambut putih itu dan bertanya, "Maaf, Tuan, tapi apa yang terjadi? Apa yang kulakukan? Jika ini semua karena video dewasa yang ditemukan di presentasi tadi, itu semua kesalahpahaman. Aku tidak melakukannya, dan itu adalah jebakan yang dibuat oleh Stevan. Aku mendengar semua yang dia katakan untuk menjatuhkanku, Tuan!"
"Maaf, Atlas, tapi kami menemukan bukti bahwa kau mencuri data Tuan Stevan dan merusak identitasnya, menyebabkan kerugian bagi Stevan dan keluarganya. Ada cukup bukti untuk membuatmu keluar dari perusahaan ini," jawab wakil direktur.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Tuan! Jelas ini semua jebakan yang diatur oleh Stevan untuk menyingkirkanku! Bisakah kau jelaskan keuntungan apa yang akan kudapat dari merusak identitas dan file Stevan yang bahkan tidak kuketahui keberadaannya?"
"Cukup, Atlas! Kau hanya cemburu dan sakit hati karena Bianca tidak lagi ingin bersamamu lagi. Kau dengan sengaja meretas akun media sosialku, mengubah identitas yang ada, dan mengirim banyak portofolio memalukan kepada rekan-rekanku! Jangan menyangkalnya! Kau ingin menghancurkan keluargaku? Padahal, ayahku sangat menyukaimu dan ingin memberimu posisi yang lebih baik dari yang kau miliki sekarang."
Atlas berdiri dan menunjuk Stevan. "Aku tidak pernah melakukan semua itu, dan kau tahu itu!"
"Atlas, tenanglah! Melawan keputusan yang sudah ditetapkan hanya akan memperburuk keadaan. Keputusan kami sudah akhir dan tidak bisa diganggu gugat. Kau harus dipecat. Jika kau masih tidak percaya, biar kutunjukkan buktinya," kata wakil direktur. Dia menyerahkan beberapa lembar kertas yang penuh dengan foto.
Di sana, sebuah platform media sosial menampilkan pengguna dengan nama dan foto Atlas yang menawarkan sejumlah besar uang untuk data Stevan. Lembar berikutnya menunjukkan percakapan antara Atlas dan seorang pria yang diduga peretas yang disewa oleh Atlas untuk meretas dan merusak semua akun media sosial milik Stevan.
Stevan memasang senyum licik dan berkata, "Sepertinya dia ingin melihat lebih banyak bukti. Akan kubawakan untukmu, Atlas."
Pria dengan kemeja biru itu bangkit dari kursinya dan keluar dari ruangan. Sementara itu, Atlas kembali berbicara kepada wakil direktur, menangkupkan tangannya dan berkata, "Tuan, kau harus percaya padaku, ini semua jebakan Stevan. Dia marah karena ayahnya ingin memberiku gaji dan posisi yang baik. Selain itu, dia juga menyerangku. Luka di kepalaku bisa menjadi bukti kekejamannya tadi. Aku—."
Pintu kembali terbuka, dan Atlas menghentikan ucapannya saat melihat Bianca masuk bersama tiga pria lainnya.
"Baik, Atlas. Ini adalah bukti nyata dari semua kejahatanmu. Aku menyiapkan ini agar kau tidak bisa menyangkalnya dan mengakui kesalahanmu. Bianca mengetahui rencanamu, dan semuanya terekam dalam percakapan di ponsel Bianca.
Selain itu, tiga orang ini adalah kelompok peretas yang telah membobol dataku. Jadi, alasan apa lagi yang kau miliki, Atlas?"
Atlas menatap Bianca, wanita yang dicintainya, saat dia mengangkat kepalanya dan memasang ekspresi penuh hinaan. Atlas mengepalkan tangannya dan menoleh ke arah wakil direktur.
Pria berkumis tebal itu mengangkat bahu dan berkata, "Atlas, kau dipecat. Dan kau harus mengganti semua kerugian perusahaan. Total 500.000 dolar.”
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.
Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗