Gara-gara difitnah "impoten" oleh mantan istri, Kenzo sang CEO Mafia terpaksa menikahi Zia, dokter spesialis sekaligus pengacara yang mulutnya sepedas cabai.
Sialnya, Zia juga punya hobi latah yang bikin harga diri Kenzo jatuh di depan anak buahnya!
"EH COPOT-COPOT, MAFIA GANTENG PISTOLNYA KARATAN!"
Mantan istri? Kena mental lewat jalur medis dan hukum! Tapi bagi Kenzo, menghadapi musuh lebih mudah daripada menghadapi satu istri latah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Konser Mulut Pedas dan Mas Masako
Keheningan yang mencekam menyelimuti ballroom mewah itu setelah lagu "Pamer Bojo" akhirnya dimatikan paksa oleh panitia. Suara kendang yang tadinya menggelegar kini berganti dengan bisik-bisik tegang dari ratusan tamu undangan.
Hermawan Adiwangsa masih berdiri mematung di tengah karpet merah yang membentang luas. Wajahnya memerah padam, perpaduan antara amarah yang tertahan dan rasa malu karena kedatangannya disambut musik koplo yang ugal-ugalan.
Di sampingnya, Nadya Adiwangsa tampak sibuk memperbaiki tatanan rambut sanggulnya yang sempat sedikit berantakan. Ia terlihat syok sekaligus geram setelah dikejutkan oleh dentuman musik yang tidak selaras dengan suasana dramatis yang ingin ia ciptakan.
Zia, yang masih berdiri di samping Kenzo di atas pelaminan megah itu, mengerutkan kening dalam-dalam. Gaun pengantinnya yang mewah berkilauan di bawah lampu kristal, namun tatapannya justru terlihat sangat sinis.
Hermawan melangkah maju dengan langkah yang sengaja dibuat gemetar untuk mengundang simpati. "Benar, Nak. Aku ayah kandungmu, Hermawan Adiwangsa. Kami sudah mencarimu ke mana-mana, Zia! Bertahun-tahun kami menderita kehilanganmu!"
Zia bukannya terharu atau meneteskan air mata bahagia, ia justru menoleh ke arah Kenzo dengan wajah datar. "Mas, ini Bapaknya beneran, atau lagi ada syuting acara sulap sih? Kok tiba-tiba muncul pas acara makan-makan mau dimulai? Aneh banget, nggak logis!"
Ia menatap pria paruh baya di depannya itu dengan seksama. Bagi Zia, klaim pria itu terasa sangat tidak masuk akal, seolah ia sedang menghadapi pasien yang salah minum dosis obat hingga berhalusinasi.
"Bentar, bentar. Bapak tadi bilang apa? Putri yang hilang?" suara Zia akhirnya memecah keheningan. Suaranya terdengar sangat jernih dan lantang, menggema di seluruh penjuru ruangan yang kini senyap.
Nadya Adiwangsa menimpali dengan suara serak, seolah habis menangis hebat. "Zia, Sayang... ini Mama, Nak. Lihat wajah Mama. Maafkan kami yang baru bisa menemukanmu sekarang setelah pencarian yang melelahkan."
Zia langsung memasang mode defensif, naluri hukumnya sebagai pengacara langsung bangkit. "Maaf ya, Ibu siapa tadi? Nadya ya? Jadi Ibu Nadya Adiwangsa yang terhormat. Saya ini Dokter, jadi saya tahu anatomi wajah. Dan saya juga orang hukum, jadi saya tahu bagaimana cara kerja bukti."
Zia melangkah maju satu langkah, menatap tajam ke arah Nadya. "Ibu bilang baru bisa menemukan saya sekarang? Itu sangat tidak masuk akal untuk orang kaya sekalas kalian yang punya akses informasi tak terbatas. Nyari info itu mudah bagi kalian."
"Oh ya, satu hal lagi. Almarhum Ayah saya dulu cuma orang biasa, tapi dia punya harga diri tinggi. Dia bisa membesarkan saya sampai jadi Dokter tanpa bantuan siapa pun, apalagi dari kalian yang mendadak muncul ini," lanjut Zia dengan nada pedas.
"Kalau kalian beneran orang tua kandung saya, ke mana aja kalian selama ini? Di mana kalian saat Ayah saya susah payah banting tulang buat biaya sekolah dan hidup saya?!" cecar Zia tanpa ampun.
"Savage! Dokter Zia memang nggak bisa diajak main drama murahan kayak gini!" celetuk salah satu rekan dokter Zia dari meja tamu rumah sakit. Ucapan itu langsung disambut tawa riuh dari teman-teman sejawatnya.
Tiba-tiba, pintu besar ballroom kembali terbuka dengan suara dentuman pelan. Marco Adiwangsa masuk dengan napas terengah-engah. Wajahnya terlihat panik, namun masih tersirat keangkuhan yang menjadi ciri khasnya.
Ia langsung berlari kecil bergabung dengan kedua orang tuanya di tengah ruangan. Zia langsung memicingkan mata begitu melihat sosok yang sudah tidak asing lagi baginya itu.
"Lho? Mas Masako? Ngapain Mas ke sini? Mau ikutan nyanyi dangdut sama saya di atas panggung atau gimana?" celetuk Zia polos yang sukses membuat Marco nyaris tersedak ludahnya sendiri di depan semua orang.
"Zia! Adikku! Akhirnya aku menemukanmu! Papa, Mama, syukurlah kalian sudah di sini lebih dulu!" seru Marco dengan nada yang dibuat sangat dramatis, seolah mereka sedang berada di puncak adegan film.
Zia melongo hingga mulutnya terbuka lebar, tidak percaya dengan tontonan di depannya. Ia menatap Hermawan, lalu beralih kembali ke Marco dengan gelengan kepala heran.
"Hadeh, tambah lagi satu pemeran sirkusnya. Jadi Mas Masako ini ternyata satu paket sama keluarga Adiwangsa?" ucap Zia sambil menghela napas panjang.
"Begini ya Bapak, Ibu, dan Mas Masako yang tiba-tiba muncul kayak jailangkung. Di kantor hukum saya, klaim tanpa bukti sah itu namanya halusinasi berjamaah. Lagian Ayah kandung saya sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu!" tegas Zia.
"Beliau nggak pernah cerita kalau saya punya kembaran keluarga kaya raya kayak kalian! Jadi lebih baik kalian pergi saja sekarang sebelum saya panggil keamanan karena mengganggu acara saya!"
Kenzo kemudian melangkah maju satu langkah. Ia merangkul pinggang Zia dengan sangat posesif, menunjukkan pada dunia siapa pemilik wanita di sampingnya itu. Ia menatap Hermawan dengan mata sedingin es.
"Kau pikir dengan membawa seluruh keluargamu ke sini, aku akan langsung percaya begitu saja? Kau sedang berhadapan dengan klan Mahendra, Tuan Hermawan Adiwangsa. Jangan coba-coba bermain dengan identitas istriku," desis Kenzo rendah namun penuh ancaman.
Rico, asisten Raden yang berdiri tak jauh dari sana, ikut angkat bicara. Ia menyesuaikan letak kacamatanya dengan tenang sebelum memberikan argumen yang menusuk.
"Izin menambahkan, Tuan Kenzo. Sangat tidak lazim bagi keluarga terhormat seperti Adiwangsa membuat pengumuman besar di tengah keramaian tanpa dokumen legal. Tindakan ini secara hukum bisa dikategorikan sebagai pencemaran nama baik mempelai," ucap Rico tenang.
Papa Juan berdehem sangat keras hingga membuat suasana ruangan semakin terasa berat dan mengintimidasi. "Sudah cukup. Hermawan, Nadya, dan kau Marco. Urusan ini tidak enak didengar oleh tamu-tamu pentingku."
"Ini adalah pesta pernikahan yang sakral, bukan sidang perdata atau panggung acara gosip televisi murahan. Jika menantuku memang benar-benar putri kalian, itu adalah perkara yang bisa dibicarakan nanti, bukan sekarang," lanjut Papa Juan dengan wibawa penuh.
Mama Soraya mengangguk setuju sambil memegang lengan suaminya. "Benar, Sayang. Sangat memalukan dilihat rekan bisnis dan karyawan kalau kita harus berdebat soal silsilah di depan panggung resepsi yang indah ini."
Mendengar teguran itu, para karyawan dari kantor hukum Zia dan rekan-rekan dokternya mulai berbisik setuju. Suasana menjadi sangat canggung dan memojokkan bagi keluarga Adiwangsa yang berdiri di tengah ruangan.
"Cukup," potong Kenzo dengan nada tegas yang menandai berakhirnya perdebatan. "Aku tidak akan mengusir kalian sekarang demi menghormati para tamu yang ingin menikmati acara. Rico!"
"Saya, Bos," sahut Rico sigap sambil membungkuk kecil.
"Arahkan mereka ke meja VVIP paling pojok. Pastikan mereka duduk diam di sana sampai tamu terakhir pulang. Setelah itu, kita selesaikan masalah ini secara tertutup di ruangan pribadi," perintah Kenzo tanpa bantahan.
Rico langsung memberi jalan dengan sikap sopan namun tegas. "Silakan Pak Hermawan, Bu Nadya, dan Mas Masako... lewat sini. Mari nikmati pestanya dalam diam dan jangan mencoba mengacau lagi."
Zia melambai kecil ke arah Marco yang masih terlihat tegang dan kaku. "Selamat makan ya, Mas Masako! Awas jangan sampai keselek rendang, nanti saya repot harus nolongin!" pungkas Zia dengan senyum miringnya.
saat ni perjalanan menuju konflik sebenarny udh di mulai ,,
tentu saja di bumbui dg sifat dokter reog yg takk terduga ,,
knp ad barang2 Dari mafia Marco Dan kenzoo ,, siapa sebenarny ayah angkat Zia ini ,,
ayooo dtggu kelanjutan ny ,,
lanjuuut kak ,,
penasaran banget
tp yaaaa gx tau klo pas sarapan nnti ,, wibawa mafia ny msh ad gx🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
sx pun mereka mafia,, tp sikap solidaritas , sikap kerja sama Dan sikap persaudaraan mereka patut di acungi jempol ,,
krn bagaimana pun mereka ttap manusia yg memiliki hatii ,,
meski di beberapa waktu mereka bisa menghabisi musuh tanpa belas kasihan ,,
si kenzzo Dan jajaran ny udh kehilangan wibawa mafiany gara2 masakan dokter reog ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
dmna mafia gx da harga diri ny di depan zia klo udh ngereog 🤭🤭🤭🤭🤭
cosplay jd mafia ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
makhluk bodoh katanya ,,
makiin seruuuu cerita ny ,,