Cerita ini adalah fiktif belaka, semua yang terjadi adalah khayalan Author semata, nama pemeran dan lokasi hanyalah sebuah karangan Author.
Utari Candra Kirana bertemu kembali dengan orang yang selama ini dia benci. Selama mereka berpisah tidak pernah lagi mendengar bahkan bertemu dengan laki-laki yang sudah menyakiti hati nya begitu dalam. Disaat hidupnya mulai damai dan bahagia bersama sang putri, tiba-tiba harus berhadapan dengan laki-laki yang sudah menorehkan luka di hati Tari. Sialnya dia harus bertemu sepanjang hari dan berusaha berinteraksi dengan nya walaupun masih ada kebencian yang terpancar dari sorot mata nya.
Reksa Arya Nugraha laki-laki yang sudah menggores luka di hati seorang wanita yang dulu mencintai nya dengan tulus. Karena sebuah ide konyol para sahabatnya, dia melakukan sebuah tindakan yang fatal dan bahkan membuat perempuan itu membencinya.
" Kamu tahu, orang paling aku benci? jawabannya adalah KAMU, REKSA ARYA NUGRAHA !!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status Kartu Keluarga
"Kalian lihat nggak, mukanya pak Reksa. Muka babak belut gitu aja masih kelihatan ganteng, tapi..kenapa ya sampai babak belut gitu.."
"Jangan-jangan habis tanding MMA.."
" Masa tanding MMA sih, jangan-jangan habis rebutan cewek.'
"Sekelas pak Reksa yang punya pesona kuat gitu sampe rebutan cewek, nggak mungkin lah.."
Obrolan-obrolan para karyawan yang menebak-nebak apa yang terjadi pada Bos mereka. Wajah Reksa yang babak belur membuat para karyawan bergosip ria.
Brak..
Pintu ruangan Reksa di buka dengan sedikit kasar oleh Reno, dia terlalu muak mendengar suara-suara sumbang di luar sana yang menggosipkan sahabatnya itu.
Reksa menatap sekilas ke arah pintu yang menampilkan sosok Reno masuk keruangan nya lalu kembali memfokuskan pandangannya ke arah layar laptop nya.
"Aissttt...gile emang pesona Lo Sa, muka babak belur gitu saja masih kelihatan ganteng nya. Sampai-sampai para karyawan di kantor ini ngomongin muka bonyok Lo itu.."
Reksa yang fokus pada layar laptop beralih menatap ke arah Reno yang saat ini duduk di depannya.
"Bisa nggak kalau sekiranya nggak penting, lo nggak perlu masuk ke ruangan gue!"
"Sorry bos, bukan begitu, sepanjang hari ini...gue denger seisi kantor ngomong min muka bonyok lo. CK...kayak nggak ada gosip lain saja." Reksa hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Reno yang terlihat muak dengan pembahasan para karyawan yang selalu membicarakan bos nya itu.
Hari terus berlalu, malam pun kembali datang menggantikan siang. Reksa masih betah di dalam ruangan kerjanya.
"Bos, nggak balik?" Reno menyembulkan kepalanya di pintu masuk ruangan Reksa.
"Balik saja dulu, gue bentar lagi balik."
"Yakin nih, kalau gitu gue duluan..!" Reksa mengibaskan tangannya menandakan kalau dia meminta Reno pergi.
Jam sembilan malam, Reksa sampai di rumah nya. Rasa lelah dan sakit di wajahnya dan memar-memar di tubuhnya membuat suhu tubuh nya panas dan demam. Tapi, walaupun begitu dia tetap memaksa untuk tetap lembur.
Sampai di rumah, dia disambut oleh bi Marni. "Malam tuan muda."
"Malam bi, papa sama mama kemana?"
"Nyonya sama tuan ke rumah tuan sepuh, tuan muda mau saya siapkan sesuatu?"
"Nggak usah bi, bibi istirahat saja. Saya nanti bisa siapkan sendiri." bi Marni mengangguk tapi, dalam hatinya dia tak tega melihat sosok laki-laki yang sedari kecil dia rawat sekarang terlihat menyedihkan.
"Tuan muda yakin nggak mau bibi siapkan sesuatu?" bi Marni meyakinkan kalau tuan muda nya tidak berubah pikiran.
Reksa tersenyum tipis. " Bibi, tenang saja...Reksa bisa urus diri Reksa sendiri kok..bibi istirahat saja. Lagian sudah malam juga."
"Tuan muda baik-baik saja?' mendengar pertanyaan Marni, Reksa pun menatap orang kepercayaan keluarga nya itu.
"Bibi nggak percaya kalau Reksa baik-baik saja bukan? Reksa memang sekarang ini tidak baik-baik saja bi, rasa bersalah yang sekarang Reksa rasakan. Bahkan untuk membayar semua kesakitan dan segala kesedihan Tari di masalalu, rasanya Reksa nggak bisa membayarnya dengan waktu singkat. Mungkin butuh seumur hidup Reksa buat bayar itu semua bi.."Marni mengerti apa yang dirasakan Reksa saat ini. Rasa bersalah yang begitu besar pada Tari dan Sofia.
"Cobalah bicarakan baik-baik dengan Tari. Tuan muda harus benar-benar menunjukkan keseriusan tuan muda. Tari sudah banyak berjuang demi Sofia. Bahkan doa rela menikah dengan laki-laki yang dia tidak cintai hanya untuk memberikan sosok ayah untuk Sofia. Tapi sayang, laki-laki itu bahkan menyia-nyiakan Tari setelah bertemu dengan perempuan yang dia anggap lebih segalanya dari Tari." Reksa yang mendengar cerita itu dari bi Marni merasa marah dan bahkan tanpa di sadari kedua tangan Reksa mengepal kuat.
"Apa tuan muda tahu, sebelum menikah dengan laki-laki itu, Sofia begitu di manja, perhatian pun tak kurang-kurang. Laki-laki itu gencar mengejar Tari dan selalu bilang akan menerima Tari dan Sofia dengan sepenuh hati. Tapi kenyataan nya, setelah Tari membantunya untuk meraih semua, dia lupa diri. Bahkan Sofia tak pernah mendapatkan kasih sayang yang dia janjikan itu. Tari kira, semua itu karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya,tapi ternyata dia sibuk dengan perempuan lain."
" Siapa laki-laki breng*ek itu, aku harus mencarinya.." Reksa bertekad untuk mencari laki-laki itu.
"Sudah malam tuan, tuan muda harus istirahat. Semua yang saya ceritakan hanyalah sebagian kecil cerita tentang Tari dan Sofia. Cobalah perlahan dekati Sofia, dia anak baik...dia butuh sosok ayah. Tentu tuan mengerti apa yang harus tuan lakukan bukan?"
Reksa mengangguk. "Terimakasih bi, Reksa bersyukur karena ada bibi dan mau menceritakan semua itu pada Reksa." Marni menepuk bahu Reksa.
Marni menceritakan semuanya pada Reksa untuk laki-laki itu mengambil langkah untuk Reksa mulai melakukan apa yang seharusnya dia lakukan pada Tari dan Sofia.
Malam semakin larut dan matahari pagi pun kembali menampakkan sinarnya. Reksa yang masih tergulung dalam selimut merasakan demam dari semalam tanpa orang tahu.
Tari yang dari kemarin tidak melakukan apa-apa, kini mulai mengerjakan pekerjaan nya di mansion Nugraha. Cerita Tari di masalalu semua penghuni mansion sudah tahu. Tapi, semua bungkam tak berani bergosip tentang apa yang terjadi kemarin.
Mereka pun bersikap biasa pada Tari dan Sofia. " Tari, coba kamu lihat keadaan tuan muda. Semalam dia pulang lumayan malam habis lembur. Sudah begitu, semalam kelihatan nya tuan muda kurang sehat. Tolong kamu lihat ke kamarnya yaa..." Marni meminta Tari melihat keadaan Reksa yang semalam dia lihat tidak baik-baik saja.
"Tapi bi___
"Tari, bibi tahu masalah kamu sama tuan muda. Nggak akan selamanya kamu menghindari dia. Selesaikan masalah kalian dengan dewasa. Diantara kalian ada Sofia, dia__
"Sofia anak Tari bi, hanya anak Tari!!" Tari memotong ucapan bi Marni dan dengan tegas mengatakan jika Sofia hanya anaknya.
"Iya, bibi tahu. Sofia selama nya nasabnya ada padamu. Tapi jangan lupa, dalam darah Sofia ada darah tuan muda. Apa kamu mau melihat Sofia sedih terus, dia butuh sosok ayah. Coba kamu pikirkan lagi. Berikan Tuan muda kesempatan untuk memberikan kasih sayang pada putrinya. Kalau pun akhirnya kamu dan tuan muda nggak bisa sama-sama, setidaknya Sofia merasakan kebahagiaan bersama ayah biologisnya. Bukan hanya pengakuan di Kartu Keluarga saja." Bi Marni mengusap bahu Tari dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Tari yang masih terdiam di tempatnya. Tari menarik nafas dalam-dalam, dia mengingat bagaimana Sofia menangis karena tak punya ayah bahkan yang selama ini punya status ayah di kartu keluarga kini sudah tak ada wujudnya.
Bersambung.
like + 🌹✍️😉