NovelToon NovelToon
Marwah Yang Ternoda

Marwah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:15.2k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--

"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--

Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.

Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.

Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.

Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7 Denting Kemenangan

Pukul dua belas malam, Raditya dan Raina berpamitan, disusul Ryuga, Aluna, dan ketiga anggota inti BEM. Mereka memercayakan Sukma kepada Bi Jayanti yang kebetulan baru tiba dari desa.

"Sukma, kami pulang dulu, ya. Insya Allah besok pagi kami ke sini lagi," pamit Aluna sambil memeluk singkat tubuh Sukma.

"Iya, Lun. Makasih banyak, ya." Sukma balas memeluk. Ia berusaha tegar, walau hatinya masih remuk redam.

Setelah rombongan Ryuga pergi dan para tetangga pulang ke rumah masing-masing, sunyi langsung menyelimuti rumah. Tidak ada lagi kasak-kusuk atau bisik-bisik yang sempat membuat ulu hatinya nyeri.

Sukma duduk di sudut ruang tamu ditemani Bi Jayanti. Sementara itu, Ustaz Reinan dan beberapa remaja putra berjaga di teras luar.

"Non, Bibi minta maaf. Seharusnya Bibi tidak pulang ke desa dan meninggalkan Non Sukma sendirian," ucap Bi Jayanti penuh rasa sesal. Hatinya luluh lantak setelah mendengar kebiadaban Xavier malam itu.

Sukma memaksa bibirnya tersenyum getir. Ia menatap mata Bi Jayanti yang mulai berkaca-kaca.

"Bibi nggak salah, jadi nggak perlu minta maaf. Yang salah itu aku," sahutnya lirih. "Aku teledor nggak mengunci pintu dan membiarkan lelaki bejat itu masuk."

"Non ...."

"Bi, semua udah terjadi. Sekarang aku cuma bisa pasrah. Kalau Tuhan mau jalanku seperti ini, aku akan coba bertahan sebisa mungkin. Tapi kalau kakiku udah nggak kuat melangkah dan jiwaku sangat lelah ... relakan aku menyusul Kak Hamdan, Ayah, dan Bunda."

"Non, jangan bicara begitu! Bibi nggak kuat melihat Non Sukma putus asa seperti ini..."

Pertahanan Bi Jayanti runtuh. Tangisnya pecah, menumpahkan segala rasa sesak dan sedih yang sedari tadi menyumbat dadanya.

Di kediaman Aditama ...

Begitu tiba di rumah, Raditya langsung memanggil Xavier. Ia memerintahkan putra sulungnya itu untuk segera ke ruang keluarga.

Tidak ada penolakan. Dengan langkah gontai, Xavier memenuhi perintah papanya, berjalan menuju ruangan yang kini diselimuti aura menegangkan.

"Duduk!" perintah Raditya dengan nada rendah, namun sarat ketegasan dan kewibawaan seorang kepala keluarga.

Xavier mengangguk pasrah, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa, tepat di hadapan kedua orang tuanya.

Keheningan turun sejenak sebelum Raditya kembali membuka suara.

"Vier, Papa perhatikan ketika di rumah duka tadi, sikap Sukma sangat dingin padamu. Dia bahkan melihatmu seolah penuh kebencian," selidik Raditya, matanya menatap lekat netra sang putra. "Katakan pada Papa, ada masalah apa kamu dengan gadis itu?"

Xavier menunduk dalam, mencoba menyembunyikan kilat kepanikan di matanya. Otaknya berputar cepat menyusun jawaban dusta.

"Sukma itu... sama seperti gadis-gadis lain di kampus, Pa," jawab Xavier. Ia mengangkat wajahnya perlahan, memberanikan diri membalas tatapan papanya. "Dia sempat menaruh hati, tapi Xavier selalu bersikap acuh tak acuh. Dia cuma kesal karena merasa diabaikan selama ini. Makanya sikapnya begitu."

"Xavier, apa benar hanya karena itu?" Raina yang sedari tadi diam, kini turut bersuara dan menuntut penegasan.

Xavier mengangguk pelan, berusaha meyakinkan mamanya.

Namun, Raditya tidak sebodoh itu. Rahangnya mengeras, atensinya tak beralih sedikit pun dari Xavier. "Jangan berbohong, Xavier. Kalau hanya karena masalah asmara picisan, tatapan mata Sukma tidak akan semurka itu," ujarnya, lalu memajukan tubuhnya. "Tadi, Papa mendengar informasi dari polisi yang mengantarkan jenazah Hamdan. Sebelum bunuh diri di sel, ada seorang 'teman' yang datang menemuinya. Apa jangan-jangan, orang itu adalah kamu?"

Skakmat. Mental Xavier seketika rontok. Jemarinya saling bertaut erat di bawah meja, berusaha keras menyembunyikan tangannya yang mulai gemetar.

"Vier ...." panggil Raina lagi, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Jawab pertanyaan Papa."

Xavier meraup udara dalam-dalam. Tidak ada pilihan selain memberi jawaban setengah jujur untuk menyelamatkan dirinya dari kemurkaan papa dan mamanya.

"Iya, Pa, Ma. Xavier memang datang menemui Hamdan," aku Xavier dengan nada rendah yang dipaksakan tenang. "Tapi Xavier cuma mengancam dia. Biar dia jera dan sadar, apa yang dilakuinnya ke Aluna bisa berimbas ke adiknya sendiri. Xavier bilang... Sukma bisa aja mengalami hal serupa, bahkan lebih."

Raditya dan Raina saling menatap, lalu mengembuskan napas berat. Mereka tidak menyangka Xavier akan bertindak segegabah dan sebodoh itu hingga membuat Hamdan nekat mengakhiri hidupnya karena frustrasi.

Tak terbayang jika rahasia besar yang sebenarnya terungkap--bahwa perbuatan bejat Xavier terhadap Sukma-lah yang menjadi penyebab utama Hamdan bunuh diri--bisa dipastikan dunia mereka akan runtuh. Raditya tidak hanya akan naik pitam, tetapi juga akan menyeret Xavier untuk bertanggung jawab: menikahi Sukma.

Usai disidang oleh kedua orang tuanya, Xavier kembali ke kamar. Ia menutup pintu rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam, seolah dengan begitu ia bisa mengunci rapat rahasia busuk yang kini menggelayuti pundaknya.

Lelaki bermata elang itu berjalan lunglai mendekati tempat tidur, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Ia duduk termenung, menatap langit-langit kamar yang terasa kian menyempit dan menghimpit dadanya.

Di dalam keheningan, ia berulang kali merapalkan kata maaf yang tertahan di tenggorokan.

"Maaf... Kinan. Maaf ...." ucapnya lirih, berharap sang bayu membisikkan kata itu di telinga Sukma Kinanti Putri.

Xavier mencengkeram rambutnya frustrasi, merutuki kebodohannya.

Malam kelam itu, ia benar-benar buta. Ia membiarkan akal sehatnya hilang karena menuruti ide gila yang dicetuskan oleh Edo, wakil jenderal Geng Bima Sakti yang dipimpinnya.

Hasutan Edo untuk memberi pelajaran pada Hamdan lewat adiknya justru berujung pada bencana terbesar dalam hidup Xavier dan mungkin akan menjadi neraka terpanjang seperti yang pernah dicetuskan oleh Sukma.

Xavier tahu ia pengecut. Ia terpaksa berbohong dan mengutarakan narasi palsu di depan papanya karena ia belum siap. Sama sekali belum siap jika harus bertanggung jawab dengan cara menikahi Sukma.

Bukan hanya karena ego status sosial, melainkan karena ada satu nama yang mengunci hatinya: Gea Anindita. Kekasih yang sangat ia cintai.

Bagaimana nasib Gea jika rahasia ini terbongkar? Xavier tidak sanggup membayangkan harus kehilangan Gea dan mengorbankan hubungan mereka demi sebuah tanggung jawab atas kesalahan yang ia sesali setengah mati.

Xavier memejamkan mata erat-erat. Namun, begitu netranya terpejam, bayangan tangis Sukma dan senyum Gea berkelebat bergantian, merobek batinnya tanpa ampun.

Kebohongannya malam ini di depan orang tuanya mungkin menyelamatkannya untuk sementara, tetapi ia tahu, ia baru saja melangkah masuk ke dalam labirin rumit yang bersiap menelan hidupnya: seumur hidup dibenci Sukma, dan mungkin akan kehilangan Gea, jika tiba-tiba ada seseorang yang membongkar kebejatannya.

"Arghhhh!" Xavier berteriak. Ia melempar bantalnya ke sembarang arah, seakan ingin menghempas beban dan masalah yang terasa kian rumit.

Sungguh ironis dan miris. Di saat malamnya hancur lebur karena perbuatan bejatnya sendiri, di sudut kota lain, justru ada dua orang yang sedang tertawa puas di atas penderitaannya.

Mereka adalah Edo--sang wakil jenderal Geng Bima Sakti, dan Raka--ketua Geng Black Shadow.

Di dalam gedung tua yang remang dan dipenuhi asap rokok, keduanya mendentingkan gelas berisi minuman, merayakan keberhasilan rencana gila mereka.

Raka, yang sudah lama menanti momentum untuk menggulingkan rival terberatnya--Xavier Narendra Aditama--tersenyum sinis. Baginya, menghancurkan Xavier tidak perlu menggunakan otot, cukup dengan memanfaatkan kebodohan Sang Narendra yang mudah dihasut.

Xavier tidak pernah tahu, bahwa umpan yang dilemparkan Edo malam itu adalah awal dari skenario besar untuk menyeret sang jenderal Geng Bima Sakti masuk ke dalam jurang kehancuran yang paling dalam.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Nofi Kahza
Cieeeh... tambah romantis nih. lanjut, Pir..🤭
Ayuwidia: Uhukkkk
total 1 replies
Nofi Kahza
mungkin sebenernya Sukma itu sudah memaafkan Sapir, hanya saja masih terbelenggu dalam trauma. Lagian, Sukma kan harus jual mahal dulu😆 kalau nggak gt keenakan di Sapir.😆😆
Ayuwidia: Nah, bener. Meski alurnya harus dipercepat, tapi luluhnya nggak bisa instan 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
Ryuga ini punya asam lambung kah? Minumnya Vanilla latte, nggak berani minum kopi😆🤭🤭
Ayuwidia: Hiyaaa, dia asam lambung gara2 stres kangen Aluna 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
Ya... untung kamu sadar diri, Dit.😒
Nofi Kahza
Raina.. sebaik itu lho kamu... Masya Allah..🥹
Nofi Kahza
aku jadi teringat dengan Wisnu gara2 mabuk merudal paksa Sasmita. tapi kalau nggak gt nggak ada mas damker ganteng, Langit😆😆
Ayuwidia: Jiahhh, dosa membawa berkah 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
Kasusnya sama dengan Sukma. Sama2 dirudal paksa. Tapi aku yakin kalau Sukma berbeda dengan Mayang. Mana mungkin Sukma yg selembut itu membuang darah dagingnya sendiri😌😌
Ayuwidia: Dia orangnya penyayang. Nggak tega membuang, apalagi menyia-nyiakan bayi yang nggak berdosa
total 1 replies
Najwa Aini
sini..aku peluk..mbak Raina...
Ayuwidia: Peluk jauh 🥺
total 1 replies
Najwa Aini
Dan putranya mengulang dosa yg sama. Tapi untungnya..sapir punya inisiatif utk bertanggung jawab lbh awal
Najwa Aini
Jangan sampai Sukma nanti seperti Larasati..
Najwa Aini: ohh percaya banget aku
total 2 replies
Najwa Aini
Sukma kekeuh ingin melupakan. ia juga bertahan agar tdak merasa iba, apalagi tersentuh dengn ketulusan sapir..

intinya..Sukma itu sebenarnya sdah tidak marah. sudah memaafkan. hanya belum disadari. belum dirasakan. atau justru sdah disadari, tapi ditolak..

pertanyaannya, dgn itu, dia lagi menghukum sapir, atau menghukum dirinya sendiri...
Najwa Aini
Yahh..aku mikir gimana cara nyampein salamnya ya...
apa nyampek beringharjo..diam bentar. trus ngomong gitu..aja..ya udah terserahlah..
Ayuwidia: Sebelum ngomong, mampir dulu ke warung soto Pak Muh, Kak. Habis itu baru nyampein salamnya si comel
total 1 replies
Najwa Aini
Nahhh...👍👍👍...
Aku suka ini Sapirr
Nofi Kahza
Woah..teges banget Lo, Pir. tapi gpp. gue dukung. semakin cepat semakin bagus😌😌
Nofi Kahza
omelete plus mayones. Ya Ampun laper aku jadinua/Hunger//Hunger/
Ayuwidia: Gassss bikin 😀
total 1 replies
Nofi Kahza
ish! si Nofi, Lo usil banget jadi cewek. Anak siapa sih?🫣🫣
Ayuwidia: Anak mami 😆
total 1 replies
Queen tie
namanya jg novel,,, kalau direal kehdpnan, sdh pasti Suksma mau dinikahi, lagian jg semua dr awal kesalahan dr kakaknya berimbas keadik, kita ikuti terus pantenginnnnn, semangat2 buat vier sj dah,, si Nyai mah bnrnya nau, cuma trs inget diperkaos,, lagian si ustaz kyk nda ada wanita baik saliha lain🤭😄
Ayuwidia: Woah, makasih Kak 😄
total 1 replies
Nofi Kahza
jaga hati agar tak berpaling dari Sapir kan maksudnya??🤭🤭
Nofi Kahza
kayak nggak rela kalau Xavier harus pulang. kan jadi jauh dengan Sukma..🥹
Najwa Aini
loh..kok disuruh baca istighfar.
sukma itu lagi menemukan salah satu tanda kebesaran Allah..harusnya bertasbih dia, bukan disuruh baca istighfar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!