Genre: Romance, Angst.
Warning: Novel ini mengandung tema
dan muatan dewasa (21+). Juga
mengandung cerita yang
menyesakkan dada. Bagi
pembaca yang belum cukup umur
atau tidak nyaman dengan
konten tersebut,
dianjurkan tidak membacanya.
Follow ⬇️
ig : @aegiyaa5
wattp@d : @aegiyaa
***
"Bukankah ini yang kau inginkan, Yoon Ji? "
Sehun memiringkan kepala sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas. Matanya sudah dipenuhi kabut gairah yang disertai emosi menggelora. Area sensitifnya sudah menegang hingga dia butuh pelampiasan dengan segera. Entakan keras menusuk dari daging tak bertulang yang sudah berdiri menantang sejak tadi, akhirnya menjadi wujud nyata dari semua ancaman Sehun yang tak pernah main-main pada istrinya yang kini sudah mulai kurang ajar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aegiyaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRIANGLE
Sehun, Yoon Ji, dan Sejeong harus memulai kehidupan baru mereka. Sehun harus bertanggung jawab dengan seorang permaisurinya dan seorang selirnya. Yoon Ji yang harus tabah hati dengan seorang madunya. Dan Sejeong yang harus menerima bahwa dirinya berada di posisi kedua.
Dua hari sudah Yoon Ji diperbolehkan pulang ke rumahnya walaupun tetap harus rutin memeriksakan kondisinya ke rumah sakit dikarenakan keadaannya yang masih lemah dan juga dia memang belum sepenuhnya pulih. Selama Yoon Ji masih di rumah sakit, Sejeong tinggal satu atap dengan Sehun. Sejun menjadi alasan Sejeong untuk bertahan disana.
Dia berdalih anak itu tak ada yang merawat. Ibunya sedang sakit dan ayahnya sibuk menjaga ibunya di rumah sakit. Bibi Jung juga sering bolak-balik ke sana untuk mengantarkan pakaian maupun makanan untuk Sehun. Bibi Jung hanya membawa Sejun ke rumah sakit sekali-kali karena takut Sejun kelelahan. Mempercayakan Sejun kepada asisten rumah tangga yang lain bukan ide yang bagus.
Selama dua hari ini, Yoon Ji terus mengurung diri di kamar. Ia tak berniat untuk pergi meninggalkan kamar sedikitpun. Perasaannya berkecamuk. Melihat wajah Sejeong adalah hal yang paling tak ia inginkan sekarang. Dia berpikir... Membagi haknya sebagai seorang istri kepada wanita lain itu memang sangat sulit. Karena pada dasarnya manusia itu egois. Manusia itu kikir.
Apalagi kalau yang harus dibagi itu adalah cinta dari seseorang yang sangat ia cintai. Tapi... Kalau ia tak mau berbagi, ia akan kehilangan sama sekali. Jadi mungkin saat ini berbagi masih lebih baik ketimbang harus melepas Sehun. Dan ini adalah pilihan yang sangat menyayat hati.
Yoon Ji bukan mau sok berbaik hati mengalah demi wanita lain. Dia bukan peri yang kebaikannya tak tertandingi meski harus tersakiti. Yoon Ji adalah Yoon Ji. Dia seorang wanita biasa. Yang meski bibirnya bilang ia izinkan Sehun untuk berbagi, tapi hati tak bisa bohong. Masih ada rasa tidak rela menderanya disana.
Anggaplah dia munafik. Karena dia pun tak menampik kalau dia bersikap curang dengan membohongi dirinya sendiri. Hanya untuk mempertahankan rumah tangganya bersama Sehun. Dia adalah masa depan Sehun, dan Sejeong adalah masa lalunya. Itu yang ia jadikan pegangan. Yoon Ji larut dalam pikirannya hingga ia tak mendengar sama sekali suara ketukan di pintu kamarnya yang tak terkunci.
Tak ada jawaban dari si empunya kamar, Sejeong memberanikan diri untuk masuk. Orang yang ingin ia temui sedang duduk di tepian ranjang menghadap ke jendela yang sengaja di buka.
" Yoon Ji ssi... "
Sapa Sejeong lembut. Yoon Ji yang terpanggil hanya melirik sekilas ke samping. Dari sudut matanya dia tahu bahwa yang datang itu Sejeong. Yoon Ji tak peduli. Dia arahkan lagi kepalanya ke arah luar jendela. Menyibukkan matanya melihat pemandangan masih lebih baik ketimbang dia harus menengok ke belakang.
Sejeong mendekat. Ia sengaja berdiri tepat di depan objek yang menjadi arah pandang Yoon Ji. Membuat penglihatan Yoon Ji terhalang dan mau tak mau ikut beradu pandang dengannya. Sejeong tersenyum yang tak dibalas senyuman juga oleh Yoon Ji seperti biasanya. Ia maklum. Posisinya sekarang tak ubahnya seperti perebut suami orang. Dan sangat wajar kalau Yoon Ji bersikap dingin padanya.
Sejeong bersimpuh dihadapan Yoon Ji. Sejeong menggenggam tangan Yoon Ji dan memandangnya dengan tatapan memelas. Yoon Ji sangat ingin menepis tangan Sejeong yang mendarat di tangannya, dia merasa jijik. Tapi Sejeong berusaha keras menahannya. Ya sudahlah... Yoon Ji tak mau marah karena ia sudah merasa cukup lelah.
" Yoon Ji ssi... Aku tahu permintaan maafku tak bisa mengobati perasaan terlukamu. "
Yoon Ji diam seribu bahasa. Tak tersentuh.
" Aku minta maaf Yoon Ji... Salahkan aku karena sudah bertahun-tahun aku coba melupakan rasa cintaku pada Sehun, tapi tetap tak bisa. Aku juga tersiksa, Yoon Ji. Mencintai suamimu itu tidak mudah. Bagaimanapun, dia sudah memiliki wanita yang ia cintai di hatinya. Kau orangnya Yoon Ji. Tapi pergi meninggalkannya itu seperti bunuh diri bagiku. "
" Sehun sangat mencintaimu, Yoon Ji. Seperti yang telah ia katakan padaku maupun pada ayah sebelumnya. Kau itu masa depannya dan aku hanya masa lalunya. Siapapun tahu kita itu hidup di masa depan, bukan di masa lalu. Tapi bagiku... Dia adalah masa lalu dan masa depan. Aku tak bisa menolak perasaan ini walaupun aku sangat ingin. "
Yoon Ji menutup matanya. Benar sekali apa yang madunya katakan. Mencintai Sehun itu tak mudah. Begitu pun dirinya. Dan ia setuju jika meninggalkan suaminya itu seperti bunuh diri. Karena Yoon Ji tahu, dia sudah jatuh begitu dalam untuk mencintai Sehun. Yoon Ji menarik napas dalam.
" Aku minta maaf. Tapi aku mohon padamu, Yoon Ji. Hidup ku tak lama lagi. Aku mohon padamu agar tetap membiarkan aku menyandang status sebagai istri dari Sehun. Sama sepertimu... Walau hanya sementara. Tolong aku... Tolong... Aku hanya ingin Sehun ada di sisiku sebelum aku tiada. "
" . . . . . "
Yoon Ji tak menjawab dengan suara. Ia hanya menangis sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya. Sejeong memeluk paksa tubuh Yoon Ji. Tadinya Yoon Ji tetap berusaha menolak pelukan madunya. Tapi akhirnya ia mengalah juga. Ia mencoba menjadi seorang yang baik hati meski ia merasa ini mungkin di luar batas mampunya untuk baik pada seseorang. Sudah terlanjur. Ia hanya bisa berharap kehidupan mereka akan tetap baik-baik saja meski tak akan sama seperti sebelumnya.
" Sudah terlanjur. Suamiku sudah menikahimu. Kau sudah menjadi istri sahnya. Kita mencintai orang yang sama. Dan... Bukan ide yang bagus kalau aku harus meminta Sehun atau meminta diriku sendiri untuk berpisah. Aku... Meski berat... Aku coba bersabar. "
Akhirnya atas nama cinta... Dia mengulurkan tangannya untuk memeluk luka. Dia sangat sadar, akan ada banyak rasa cemburu yang akan menghiasi hari-harinya mulai sekarang. Yang mana biasanya ia terbiasa menjadi 'hanya' bagi Sehun. Sekarang sudah tak bisa seperti itu lagi.
" Terima kasih. Terima kasih banyak Yoon Ji. Aku minta maaf."
Sejeong melepas pelukannya.
" Apakah aku boleh memanggilmu, kakak? Biarkan aku memanggil mu kakak... "
...My Regret...
Sehun terheran-heran dengan apa yang ia lihat sekarang. Kedua istrinya tampak akur. Dilihat secara kasat mata, mereka tampak sangat baik-baik saja. Semenjak ia menginjakkan kaki di rumahnya setelah pulang dari kantor, ia sudah disambut oleh Yoon Ji yang tersenyum cerah. Seperti biasanya, Yoon Ji mengecup pipi Sehun sebagai ucapan selamat datang di rumah. Mengambil alih tas kerja Sehun serta membukakan jas yang pria itu kenakan.
Dari arah dapur, dia melihat Sejeong membawa nampan berisi makanan dan menatanya di atas meja makan. Ini agak aneh menurutnya. Karena biasanya ketika dia pulang, keadaan rumah sepi. Yoon Ji sedang mengurung diri di kamar dan Sejeong... Gadis itu selama dua hari ini memang selalu menyiapkan makan malam untuknya tapi tak pernah sekalipun ia jamah.
" Nah Sehun... Kau belum makan malam, kan? Aku ke atas sebentar merapikan tas dan jasmu setelah itu kita makan bersama, ya..."
Ajak Yoon Ji. Sebelum naik ke atas, ia sempat tersenyum sekilas ke arah Sejeong yang dibalasnya serupa. Sehun yang melihatnya hanya bisa menyimpan ribuan rasa penasaran di dalam benaknya. Biarlah... Selama kondisinya sekondusif ini, ia rasa tak perlu ada yang dikhawatirkan.
" Bagaimana pekerjaanmu di kantor, Sehun?"
Tanya Sejeong sambil menuangkan air ke gelas Sehun.
" Baik. "
Yoon Ji yang sudah kembali ke meja makan langsung mengambil piring lalu meladeni Sehun makan seperti biasa.
" Semuanya Sejeong yang masak. Kau suka makanan ini, kan? Aku sudah membagi tugas dengan Sejeong. Hari ini dia yang memasak, baru besok aku yang memasak. "
Yoon Ji tersenyum manis sekali. Mereka bersikap seperti tak ada masalah serius di rumah ini padahal ada. Dan bagi Yoon Ji sendiri, ia bertekad untuk menjalankan dan mengkondisikan hari-harinya seperti sebelumnya. Makanya daritadi ia berperilaku seperti dirinya yang biasanya sebelum kehadiran Sejeong. Baik Yoon Ji maupun Sejeong sadar, mereka harus meningkatkan rasa toleransi mereka sebagai sesama istri dari seorang pria yang mereka cintai. Mereka berdua sudah berusaha menekan ego mereka masing-masing.
" Itu... Itu pengaturan yang bagus. "
Yoon Ji dan Sejeong tersenyum mendengarnya.
" Apa... Kalian baik-baik saja? "
Sehun bertanya tanpa menatap salah satunya.
Deg...
Kau harus tahu Sehun! Pertanyaan sederhana itu cukup menusuk hati mereka. Karena semuanya butuh waktu.
Tidak baik, Sehun. Sekarang aku sedang berakting menjadi seseorang yang baik hati seperti malaikat. Apakah aktingku sempurna?
Bisik hati Yoon Ji disertai senyum miris. Tak semua yang terlihat baik secara nyata itu memang baik. Ini adalah kompromi terbesar yang tengah mereka jalani.
. . . . .