mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: warisan jiwa
Setelah mereka membuka Gerbang Kedua, dunia di baliknya ternyata bukanlah tempat yang gelap dan penuh teka-teki. Sebaliknya, di depan mereka terbentang sebuah hutan hijau lebat, penuh dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Suara gemerisik angin menyapu dedaunan yang tampak begitu hidup. Tak ada jejak naga atau makhluk mengerikan yang biasanya menjadi ciri khas tempat seperti ini. Yang ada justru kedamaian yang menipu.
Lin Xieng dan Chu Qingli berdiri di ambang pintu gerbang yang terbuka lebar, bingung sejenak dengan suasana yang begitu tenang. “Ini… bukan yang aku bayangkan,” ujar Lin Xieng, masih dengan tatapan bingung.
Chu Qingli mendekat, menyelidiki hutan itu. “Mungkin ini perangkap. Semua hutan yang damai selalu penuh bahaya. Itu cuma trik untuk membuat kita lengah.”
Lin Xieng memutar bola matanya, memikirkan kembali kata-kata Chu Qingli yang selalu membawa keheranan dan humor. "Kamu benar, pasti ada sesuatu yang lebih aneh lagi di sini. Tapi kenapa hutan ini terasa begitu... nyaman?"
“Jangan khawatir. Kalau ada naga atau monster raksasa, aku akan siap menolongmu,” jawab Chu Qingli dengan nada santai, mengangguk-anggukkan kepala. “Bahkan kalau cuma makhluk jelek yang menghalangi, aku akan buat mereka lari seperti ayam.”
Lin Xieng hanya bisa tertawa mendengar kata-kata nyeleneh dari Chu Qingli. “Aku tidak yakin mereka akan takut dengan ‘ayam’.”
“Ah, kamu tidak tahu. Ayam punya potensi yang besar kalau dikejar,” jawabnya sambil melangkah lebih jauh ke dalam hutan. “Ayo, jangan terlalu serius. Ini hutan bukanlah dunia kiamat.”
Namun, belum jauh mereka berjalan, tiba-tiba dari dalam hutan terdengar suara aneh—seperti raungan keras yang menggema di udara, seolah menantang kedatangan mereka. Lin Xieng langsung memasang sikap waspada, tangan menggenggam pedang dengan erat.
“Kelihatannya ini lebih dari sekadar ayam,” canda Chu Qingli, meskipun sedikit cemas.
Mereka berdua segera berlari menuju sumber suara itu, dengan Lin Xieng memimpin. Di depan mereka, sebuah makhluk besar dengan sisik emas yang bersinar muncul dari balik semak-semak. Wujudnya mirip naga, namun tubuhnya tampak lebih kecil dan lincah.
“Ini… naga muda?” Lin Xieng tercengang.
“Bukan naga. Ini hanya anak naga,” jawab Chu Qingli sambil mengangguk-angguk. “Tapi kita tetap harus berhati-hati. Naga muda ini bisa sangat nakal.”
Makhluk itu mendekat dengan mata besar penuh rasa ingin tahu, seperti anak kecil yang penasaran. Itu menghentikan langkahnya di depan mereka, menatap Lin Xieng dan Chu Qingli dengan kekaguman.
“Kalau begitu, bagaimana kita berurusan dengan anak naga ini?” tanya Lin Xieng.
Chu Qingli menatapnya dengan serius, namun tak bisa menahan senyum tipis di bibirnya. “Berikan dia sesuatu yang menarik—seperti cermin. Atau mungkin snack yang enak.”
“Makanan?” Lin Xieng bertanya heran.
“Tentu saja, naga muda juga punya selera,” jawab Chu Qingli, sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan sepotong daging kering dari dalam tasnya. “Ini mungkin tidak sebaik jagung rebus, tapi semoga cukup.”
Dengan hati-hati, Chu Qingli melemparkan potongan daging kering ke arah anak naga. Naga kecil itu dengan cepat menangkapnya, lalu mendengus puas.
“Ada-ada saja…” Lin Xieng menggelengkan kepala, tapi tetap merasa geli dengan situasi yang aneh ini.
Setelah anak naga itu makan, ia mendengus pelan, seolah merasa puas. Lalu, tanpa disangka, ia membungkuk sedikit ke arah mereka, seolah mengucapkan terima kasih sebelum berlari kembali ke hutan yang lebih dalam.
“Mungkin tidak semua hal di dunia ini harus penuh dengan kekuatan atau peperangan,” ujar Lin Xieng, sedikit tersenyum.
Chu Qingli tertawa kecil. “Betul, kadang-kadang, yang kita butuhkan cuma makanan yang enak. Lagipula, kita jadi bisa melewati rintangan tanpa banyak drama.”
Lin Xieng memandang Chu Qingli dengan tatapan lembut. “Aku tidak tahu kenapa, tapi… aku merasa lebih baik setiap kali kamu di sini.”
Chu Qingli tersenyum penuh arti. “Aku juga. Rasanya, dunia ini tidak terlalu berat kalau kita menghadapi semuanya bersama.”
Namun, sebelum mereka bisa melanjutkan percakapan itu lebih jauh, tiba-tiba langit di atas mereka menggelap. Sebuah bayangan besar muncul dari balik pohon, menutupi cahaya matahari—sebuah naga yang lebih besar muncul, kali ini, tidak ada rasa ingin tahu dalam matanya, hanya ancaman.
“Sepertinya waktu kita untuk bercanda sudah habis,” ujar Lin Xieng, siap bertarung. “Kali ini kita tidak bisa hanya menggunakan makanan.”
Chu Qingli menyeringai, matanya bersinar. “Aku lebih suka berhadapan langsung dengan masalah daripada menunggu. Ayo, Xieng, saatnya bertarung!”
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
narasi doang, membosankan